Jam sembilan pagi, aku resmi tidak punya pekerjaan.

Zoom meeting-nya berlangsung enam belas menit. HRD bernama Feby — dengan Y, ia selalu koreksi orang — membacakan surat PHK dengan nada yang sama seperti orang membacakan resep kue. Kamera Feby mati. Microphone Feby mati setelah kalimat terakhir. Yang tersisa di layar laptopku hanyalah nama "Feby Andriani (HR)" dan foto profilnya yang diambil di pantai Bali tiga tahun lalu.

Aku duduk di depan laptop selama dua menit setelah itu.

Tidak menangis. Tidak marah. Hanya duduk.

*Ini pasti salah. Pasti ada meeting lanjutan. Feby pasti akan reconnect dan bilang ini latihan simulasi krisis perusahaan.*

Tidak ada yang reconnect.

---

Aku memutuskan menangis di helm adalah pilihan yang lebih bermartabat dibanding menangis di depan laptop yang layarnya masih menampilkan logo startup tempat aku bekerja tiga tahun. Jadi aku memesan ojol, mengenakan helm yang kupinjam dari balik pintu kamar kos, dan duduk di belakang motor Pak Agus yang berkendara sambil menyanyikan lagu dangdut dengan suara penuh penghayatan.

*Pros menangis di helm:* tidak ada yang lihat mukaku.

*Cons menangis di helm:* helm ini milik Pak Agus.

Aku tidak jadi menangis.

Kami sudah melewati setengah perjalanan ketika HPku bergetar. Nama yang muncul di layar: *Ibu.*

Aku angkat. "Halo, Bu—"

"Nadia." Suara Ibu datar. Bukan datar yang biasa — datar yang berbeda. Seperti seseorang yang sudah menghabiskan energinya untuk menahan sesuatu sejak tadi pagi. "Bapak sudah tidak ada."

Pak Agus masih menyanyikan lagu dangdut.

Angin Jakarta meniup kencang dari kanan.

"Ibu bilang apa?"

"Bapak. Sudah tidak ada. Tadi subuh, di rumah sakit." Lalu, dengan nada yang persis sama seperti ia menjelaskan kenapa tidak beli mangga hari ini: "Ibu nggak mau ganggu kamu. Tahu kamu ada kerjaan pagi."

Aku tidak ingat sisa percakapan itu.

Yang kuingat: Pak Agus bertanya apakah aku baik-baik saja karena ia lihat dari spion aku kelihatan pucat. Aku bilang ya. Pak Agus manggut-manggut dan melanjutkan lagu dangdutnya, tapi kali ini lebih pelan. Mungkin ia tahu. Mungkin tidak. Tapi aku berterima kasih untuk itu.

---

Bapak meninggal jam enam kurang dua puluh pagi.

Aku baru tahu jam sembilan lebih empat puluh menit, setelah sebelumnya duduk di depan Zoom meeting mendengarkan HRD membacakan surat PHK.

Dalam waktu satu jam, aku kehilangan dua hal.

Aku tidak tahu mana yang seharusnya kurasakan lebih dulu. Otakku yang selalu over-analitis malah sibuk memproses urutan kejadian itu seperti sedang debugging — *event pertama: PHK, event kedua: kematian Bapak, apakah keduanya berkaitan? Tidak. Apakah ini ironi? Ya. Apakah ini karma? Tidak mungkin, aku tidak pernah berbuat buruk yang sepadan—*

Dan di tengah semua logika itu, tiba-tiba dadaku sesak.

Bukan sesak yang bisa kujelaskan dengan pros-dan-cons.

Sesak yang datang karena aku ingat bahwa Bapak tidak pernah absen menelepon setiap Minggu pagi. Bahwa suaranya selalu ada di ujung telepon, menanyakan apakah aku sudah makan, apakah kerjaan baik-baik saja, apakah Jakarta tidak terlalu menyiksa. Bahwa minggu depan — dan semua minggu setelahnya — tidak akan ada telepon itu lagi.

Aku menyandarkan kepala ke dinding MRT.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku menangis.

Tidak keras. Tidak dramatis.

Hanya air mata yang mengalir pelan, sementara kereta membawa aku menuju Bekasi, dan tidak ada satu pun penumpang di sekelilingku yang tahu bahwa hari ini adalah hari paling remuk dalam hidupku.

---

Rumah keluargaku di Bekasi kelihatan seperti biasa dari luar.

Yang tidak biasa: Dito menyambutku di depan pintu dengan wajah orang baru menemukan harta karun.

"Nad, aku udah research." Ia melambai-lambaikan HPnya. "Ada video YouTube tentang cara bagi warisan yang fair. Empat puluh dua menit, tapi aku udah skip ke bagian penting—"

"Dito." Aku menatapnya. "Bapak baru meninggal."

"Iya, makanya aku research sekarang. Supaya nggak salah langkah nanti." Ia berkata itu dengan keyakinan penuh seorang konsultan keuangan berpengalaman, padahal IPK-nya terakhir kudengar masih di angka dua-koma-entah.

Dari dalam rumah, terdengar suara Shinta: "Kak Nadia! Aku lagi bikin caption, kira-kira 'era baru dimulai dari kehilangan' terlalu dramatis nggak?"

Aku berdiri di depan pintu rumah selama tiga detik.

*Pros masuk ke dalam rumah:* ada Ibu, ada tempat duduk, mungkin ada makanan.

*Cons masuk ke dalam rumah:* dua adikku ada di sana.

Aku masuk.

---

Ibu ada di dapur.

Tentu saja.

Ia berdiri di depan kompor dengan celemek biru motif bunga yang sudah pudar, membalik tempe di wajan dengan spatula kayu yang gagangnya sudah retak sejak aku SMP. Suara minyak mendesis mengisi dapur. Bau tempe goreng menguar ke seluruh ruangan — bau yang paling tidak berubah dari seluruh hidupku, bau yang selalu ada di setiap kepulangan, bau yang sekarang entah kenapa membuatku ingin menangis lagi.

"Ibu."

"Duduk dulu." Ibu tidak menoleh. "Makan dulu."

"Ibu baik-baik saja?"

Bahu Ibu naik sedikit. Turun lagi.

"Ibu baik." Satu jeda panjang. Spatula membalik tempe. "Orang tetap harus makan, Nad. Mau sedih juga harus ada tenaganya."

Itu cara Ibu. Bukan tidak sedih — tapi sedihnya disimpan di tempat yang rapi, di laci yang tidak dibuka sembarangan, sementara tangannya terus bergerak karena bergerak adalah caranya bertahan. Aku mengenal Ibu cukup lama untuk tahu itu.

Aku duduk di kursi dapur dan tidak berkata apa-apa.

Untuk beberapa menit, kami hanya diam bersama — Ibu dengan tempenya, aku dengan semua yang belum bisa kuucapkan.

Dan entah kenapa, itu cukup.

---

Amplop itu datang jam dua siang.

Kurir berseragam mengantarnya ke pintu dengan ekspresi orang yang sedang mengantar dokumen sangat penting dan sangat ingin cepat pergi. Amplop cokelat tebal. Stempel merah. Nama di pojok kiri atas: *Wirawan & Associates, Kantor Notaris dan Pejabat Pembuat Akta.*

Dito yang menerima.

"Ini kayaknya serius," katanya, mengamati amplop dari berbagai sudut seperti sedang menilai keaslian barang antik.

Aku membukanya.

Ada dua lembar surat di dalamnya. Bahasa hukum yang rapi, kop surat formal, tanda tangan dan materai di bawah. Aku membacanya satu kali.

Lalu membacanya lagi.

Lalu satu kali lagi, lebih pelan, karena otakku menolak memproses kalimat-kalimat ini dengan kecepatan normal.

*...dengan ini diberitahukan bahwa almarhum Bapak Rendra Soemarto tercatat sebagai pemegang 40% saham PT Wirawan Nusantara Group...*

*...seluruh ahli waris diwajibkan hadir dalam pembacaan dokumen resmi yang akan diselenggarakan...*

*...PT Wirawan Nusantara Group...*

Aku berdiri di dapur.

Ibu masih menggoreng tempe.

Wirawan Nusantara Group adalah nama yang bahkan aku — dengan tiga tahun pengalaman di startup konten — kenal tanpa perlu Google. Konglomerat. Properti, logistik, media. Masuk daftar sepuluh besar perusahaan swasta terbesar Indonesia dua tahun berturut-turut.

Dan Bapak — Bapak yang seluruh hidupnya bekerja sebagai pegawai biasa, yang tidak pernah punya mobil lebih dari satu, yang setiap lebaran mentraktir kami makan di restoran padang dan menyebutnya "mewah" — Bapak tercatat sebagai pemegang empat puluh persen sahamnya.

"Bu." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Ini apa?"

Ibu tidak menoleh.

Spatula membalik tempe terakhir.

"Oh iya," kata Ibu, dalam nada yang sama persis seperti ia mengingat bahwa gula di toples hampir habis. "Soal Bapak dan Pak Wirawan itu."

Ia mematikan kompor.

Mengelap tangan di celemek.

Baru kemudian menoleh ke arahku — dengan tatapan yang tenang, terlalu tenang, tenang yang menyimpan sesuatu sangat lama di dalamnya.

"Ibu sebenarnya sudah lama tahu."