Kepalaku berdarah.
Aku tahu itu sebelum aku membuka mata. Bau besi. Lengket di pipi kiriku. Lantai keramik dingin menempel di tulang pinggulku yang sudah lama tidak punya daging. Di telingaku, suara air keran yang lupa kumatikan menetes pelan — tek, tek, tek — seperti detak jantung yang menertawakan tubuhku sendiri.
Aku terjatuh dari kursi mandi.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini. Mungkin satu jam. Mungkin dua. Yang aku tahu, aku sudah memanggil. Sudah berteriak. Tapi suaraku — suara perempuan lima puluh tujuh tahun yang tubuhnya hanya tinggal tulang dan kelelahan — tidak akan sampai sejauh ruang makan utama, tempat menantuku sedang sarapan dengan cucuku Aurel.
"Vania..." panggilku lagi. Suaraku parau. "Tolong..."
Tidak ada jawaban.
Ada suara. Suara tawa Aurel dari ruang sebelah. Cucuku yang baru lima tahun. Aurel sayang nenek. Aurel selalu lari ke kamarku setiap pagi minta dibacakan cerita. Tapi pagi ini, Aurel tertawa karena hal lain. Karena pancake bentuk hati buatan Vania. Karena cerita kartun di tablet. Karena hidup yang baru lima tahun, yang belum tahu bahwa neneknya sedang sekarat di lantai kamar mandi tiga meter dari pintu sarapan mereka.
"Mam, Aurel tadi pengen lihat Nenek lagi mandi, lucu," kudengar suara Aurel.
"Jangan dekat-dekat Nenek, Sayang. Nenek lagi mandi. Mama udah bilang kan, kalau Nenek lagi di kamar mandi, jangan ketuk pintunya. Nenek udah tua. Tuh kan, jadinya kepleset."
Aku mendengarnya.
Aku mendengar Vania mendengar suara aku jatuh — dan tetap memilih melanjutkan sarapan.
Dadaku sesak. Bukan karena luka di kepala. Tapi karena suara menantuku barusan terdengar... tenang. Seperti tahu. Seperti membiarkan.
Aku mencoba menggerakkan tangan kanan. Pergelangan kananku nyeri seperti ada paku menancap. Tapi aku menarik napas — pelan, dalam — lalu mendorong tubuhku ke samping. Kepalaku berputar. Mataku melihat noda merah di lantai keramik putih. Tidak banyak. Tapi cukup untuk kuingat: di usiaku ini, darah tidak segera berhenti.
"Vania!" Aku berteriak lagi, kali ini dengan sisa tenaga.
Pintu kamar mandi tetap tertutup.
Aku menatap langit-langit. Lampu LED putih menyilaukan. Mataku basah, tapi aku tidak menangis. Aku sudah lupa cara menangis untuk diriku sendiri. Selama tiga puluh tahun, air mataku hanya keluar untuk anak-anakku. Untuk Bima yang demam. Untuk Sari yang dirundung di sekolah. Untuk Rio yang tifus dan hampir mati. Tidak pernah untukku.
Bahkan sekarang pun, di lantai kamar mandi yang dingin, aku tidak menangis. Aku hanya menatap langit-langit dan mencoba mengingat — apakah hidupku selama ini cukup untuk membuat anak-anak datang menolong ibunya yang berdarah di kamar mandi?
Pertanyaan itu tidak pernah seharusnya ditanyakan oleh seorang ibu.
Tapi pagi ini, aku menanyakannya.
Pintu kamar mandi diketuk.
Tok tok.
"Bu Maryam?" Suara Mbak Inem, asisten rumah tangga. "Bu Maryam, di dalam ya?"
"Inem..." Aku mencoba mengeraskan suara. "Inem, tolong..."
Pintu terbuka. Mbak Inem tertegun. Lalu ia menjerit.
"YA ALLAH, BU MARYAM!"
Suara Mbak Inem yang akhirnya memanggil. Bukan suara Vania. Bukan suara Bima. Mbak Inem yang berlari ke arahku, lupa pintu kamar mandi terbuka, berlutut di samping tubuhku, dan mulai menangis. "Bu, kepala Ibu berdarah! Saya panggil Bu Vania, ya, Bu? Saya panggil Bu Vania!"
"Jangan," kataku pelan. Sangat pelan.
Mbak Inem tertegun.
"Tolong... bantu saya berdiri saja. Saya tidak mau Vania panik."
Aku berbohong, Mbak Inem. Aku tidak peduli kalau Vania panik. Aku tidak ingin Vania melihatku seperti ini — tidak karena aku malu, tapi karena aku tahu, melihat aku seperti ini hanya akan membuat Vania bilang dengan nada manis dan tatapan dingin: "Aduh, Mama. Sudah dibilang hati-hati. Lain kali jangan mandi sendiri. Bikin repot."
Aku tidak mau lagi dengar kalimat itu.
Tidak pagi ini. Tidak setelah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mbak Inem mengangkatku perlahan. Kakinya gemetar. Aku lebih tinggi dari Mbak Inem, tapi tubuhku — yang dulu mengangkat tiga karung beras dari pasar tiap pagi — sekarang ringan seperti pakaian basah.
"Bu, kepala Ibu masih berdarah..."
"Ambilkan saja handuk."
Mbak Inem menempelkan handuk ke dahiku. Darahnya merembes. Tapi sudah mulai berhenti. Aku duduk di kursi mandi yang menjadi sumber petakaku, sambil memandang cermin.
Cermin itu memantulkan wajah seorang perempuan yang aku hampir tidak kenali.
Rambut putih di pelipis. Pipi cekung. Mata yang dulu Hendra bilang "indah seperti senja di kampung kita" — sekarang hanya garis tipis dengan kantung gelap. Bibir kering. Dan di dahi, luka yang masih merembes pelan.
Tapi yang paling menyakitkan bukan wajah itu.
Yang paling menyakitkan adalah pertanyaan di dalam wajah itu.
Bagaimana kau bisa sampai di sini, Maryam?
Pintu rumah utama terbuka. Suara Bima.
"Aku pulang. Bawa kabar." Suaranya tidak mengarah ke kamarku. Tidak mengarah ke siapa pun. Suara seorang lelaki yang sudah lupa caranya pulang dengan rindu.
"Bim, telat. Tadi ada drama lagi," kudengar Vania.
"Drama apa?"
"Mama lo. Jatuh di kamar mandi."
Suara dengkus pendek dari Bima. Mungkin tertawa. Mungkin bukan.
"Parah?"
"Inem yang nemu. Kayaknya jidat doang. Drama deh, mau perhatian. Tadi malam pas aku arisan dia juga ngeluh kepala pusing. Ya gimana, kalau emang tua kan tinggal di tempat yang aman. Bukan di rumah kita yang ada Aurel, lantainya licin semua."
Aku menutup mata.
Bukan di rumah kita yang ada Aurel.
Tujuh tahun aku tinggal di rumah ini. Tujuh tahun aku menjadi bayangan di kamar belakang. Tujuh tahun aku makan setelah mereka makan, tidur setelah mereka tidur, menonton TV dengan volume kecil supaya tidak mengganggu. Dan kalimat yang kudengar pagi ini adalah jawaban dari pertanyaan yang aku tidak pernah berani tanyakan: apakah aku masih dianggap rumah ini?
"Bim, kita harus serius bicarain ini."
Hening sebentar.
"Iya. Aku tahu."
"Sudah waktunya."
Aku membuka mata. Menatap cermin. Memandang perempuan tua dengan luka di dahi yang darahnya sudah berhenti, tapi luka yang lain — yang lebih dalam — baru saja terbuka.
Mbak Inem membantuku ke kamar. Vania muncul di lorong, kebaya santainya seharga sebulan jualan nasi uduk lamaku. Ia menjepit dahiku dengan pandangan datar.
"Aduh Ma, gimana sih. Lain kali kalau mandi pakai kursi yang bener ya. Lantai jadi licin, bisa-bisa Aurel kepleset besoknya."
Aku tidak menjawab.
"Mama mau obat? Aku ada obat penenang dari psikiaterku. Sekalian buat tidur. Pagi ini kayaknya Mama syok ya."
Aku menggeleng.
Tapi Vania sudah masuk kamarku, mengambil gelas, menuangkan air, memecah tablet putih, menyodorkannya ke tanganku dengan senyum manis.
"Minum aja, Ma. Nanti Aurel ribut kalau Mama keliatan pucet."
Aku menatapnya. Mata Vania tidak berkedip.
Aku menelan tablet itu.
Bukan karena percaya. Tapi karena aku sudah lelah berdebat dengan menantu yang menatapku seperti aku adalah benda yang harus segera dibuang dari ruangan supaya tamu tidak melihat.
Vania tersenyum. "Tidur ya, Ma. Nanti malam aku ada arisan di sini. Banyak teman dateng. Mama istirahat aja di kamar, biar gak repot."
Ia menutup pintu.
Aku berbaring di kasur. Obat itu mulai bekerja perlahan. Mataku berat. Pikiranku berputar pelan. Tapi aku belum tertidur. Belum sepenuhnya.
Lewat dinding tipis kamar, aku mendengar Vania menelepon.
"Halo, Sar?"
Hening. Vania mendengarkan.
"Iya, beneran. Pagi tadi jatuh lagi. Ini yang ketiga kali bulan ini. Sar, sudah waktunya. Kakak iparmu sama aku udah gak tahan."
Hening lagi.
"Besok kita rapat ya. Semuanya. Bima, kamu, Rio. Soal Mama. Harus dikirim ke tempat itu."
Hening.
"Bayu setuju kan?"
Hening.
"Oke. Besok jam sepuluh. Di sini."
Telepon ditutup.
Aku tidak tidur.
Aku berbaring dengan obat penenang menggerogoti otakku. Tapi telingaku — telinga seorang ibu yang sudah berlatih tiga puluh tahun mendengar napas bayi di malam yang kelam — masih terbuka.
Aku mendengar semuanya.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, di lantai kamar mandi yang dingin, di cermin yang tidak kukenali, di kasur dengan obat di darahku — aku merasa sesuatu yang belum pernah aku rasakan selama tiga puluh tahun.
Bukan sedih.
Bukan kecewa.
Sesuatu yang asing. Sesuatu yang tajam. Sesuatu yang terasa seperti... kebenaran.
Anak-anakku akan membuangku.
Besok.
Jam sepuluh.
Dan aku — Maryam, ibu tunggal yang dulu bersumpah apapun yang terjadi asal anak-anak sukses — punya satu malam untuk memutuskan apakah aku akan diam... atau melawan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar