π Flashback β 25 Tahun Lalu
Hendra mati pada jam 03.17 dini hari.
Aku mengetahuinya saat dua polisi mengetuk pintu kontrakan kami yang reyot.
Hujan turun deras. Suara air di atap seng terdengar seperti batu yang dilempar terus-menerus. Aku baru saja menidurkan Rio β yang baru dua tahun β di pangkuanku. Sari (5) tertidur di kasur, kakinya menendang-nendang dalam mimpi. Bima (8) duduk di meja makan, masih menyelesaikan PR matematika dengan lampu petromaks yang nyaringnya hampir habis.
Suara ketukan itu pelan. Sopan. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ketukan yang bukan tetangga. Bukan tukang ronda. Ketukan orang yang sedang berusaha tidak menakut-nakuti pemilik rumah, padahal mereka akan menyampaikan berita yang akan menakuti pemilik rumah seumur hidupnya.
Aku tahu sebelum aku membuka pintu.
Setiap istri yang menikah dengan lelaki pekerja pabrik tahu β ada satu jenis ketukan yang tidak pernah ingin mereka dengar.
Aku meletakkan Rio pelan di kasur. Mengusap rambutnya. Lalu berjalan ke pintu dengan kaki yang sudah mulai bergetar sebelum aku sempat menyadarinya.
"Bu Maryam?"
Dua polisi muda. Yang lebih tua berusia mungkin tiga puluhan. Yang lebih muda terlihat seperti baru lulus pendidikan, kulitnya basah karena hujan, topinya dilepas di dada.
"Saya."
"Suami Ibu... Bapak Hendra, ya?"
Aku mengangguk.
"Bu, kami minta maaf. Suami Ibu telah meninggal dunia pukul 03.17 dini hari di pabrik tempat ia bekerja. Kecelakaan kerja. Mesin pers terjepit."
Aku tidak roboh.
Aku tidak menjerit.
Aku hanya berdiri di pintu, dengan hujan yang turun di belakang dua polisi itu, dan aku merasa udara di paru-paruku menghilang. Bukan secara dramatis. Bukan seperti di film. Tapi seperti seseorang yang baru saja kehilangan tas kerjanya β udara itu hilang, dan aku berdiri di sana mencari-carinya, tahu bahwa udara tidak akan kembali, tapi belum tahu apa artinya hidup tanpa udara.
"Ibu... mau ikut ke rumah sakit?" tanya polisi muda. Suaranya bergetar.
"Iya."
Aku berbalik. Bima sudah berdiri di belakangku. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri dengan PR matematika di tangan, memandangku, mata anak delapan tahun yang sudah cukup pintar untuk membaca wajah ibunya tapi belum cukup tua untuk memahami apa yang sedang terjadi.
"Mama?" tanyanya pelan.
"Bima," aku duduk di lantai supaya tingginya sama denganku. "Papa kecelakaan, Nak. Mama harus ke rumah sakit sekarang. Kamu jagain adik-adik, ya. Mama titip sama kamu. Bisa?"
Bima menatap mataku.
Anakku yang baru delapan tahun.
Anak yang seharusnya masih mengkhawatirkan ulangan IPS, mainan yang hilang, dan apakah besok ada nasi uduk untuk sarapan.
Tapi malam itu, di ketinggian mataku di lantai kontrakan reyot, aku menyaksikan sesuatu yang akan kuingat seumur hidupku β wajah Bima berubah.
Bukan dengan dramatis. Bukan dengan jeritan. Tapi pelan, seperti air yang berubah jadi es β ada saat di mana ia tampak sama, lalu detik berikutnya ia sudah keras dan dingin dan tidak bisa kembali seperti dulu.
"Bisa, Ma," jawabnya.
Aku mencium keningnya. Aku menarik kerudung di gantungan. Aku mengikuti dua polisi itu keluar ke hujan, ke mobil patroli yang lampunya menyala biru-merah memantul di genangan air.
Aku tidak pernah tahu β pada momen itu, saat aku menutup pintu kontrakan di belakangku β bahwa kehidupanku yang aku kenal baru saja berakhir untuk selamanya.
Di rumah sakit, mereka membawaku ke ruang yang mereka sebut "kamar mati."
Aku belum pernah dengar istilah itu sebelumnya. Tapi saat aku masuk, aku mengerti β ini bukan kamar pasien. Ini kamar untuk jenazah yang belum sempat dipindahkan ke kamar jenazah utama. Bau formalin. Lampu putih dingin. Meja stainless steel di tengah ruangan.
Di atas meja itu, ditutupi kain putih sampai sebatas dada β Hendra-ku.
Aku berjalan pelan. Kakiku tidak gemetar lagi. Mungkin karena tubuhku sudah berhenti merasakan apa-apa. Mungkin karena otakku belum sanggup memproses bahwa lelaki di atas meja itu adalah lelaki yang dua belas jam lalu meninggalkan pagi kami dengan ciuman di kening.
Aku mengangkat kain putih.
Hendra terbaring di sana. Wajahnya tidak rusak β itu hal pertama yang kusyukuri secara aneh. Wajahnya masih wajah Hendra. Hanya saja kulitnya pucat. Bibirnya biru. Dan di leher kirinya, ada lebam besar yang membentuk jejak mesin.
Aku mencium keningnya.
Dingin.
Bibir lelaki yang dua belas jam lalu masih hangat. Bibir yang dua belas jam lalu masih bisa berbisik di telingaku, "Mar, malam ini aku pulang agak telat ya. Lembur. Bilang anak-anak Papa cinta."
Aku tidak menangis di rumah sakit.
Bukan karena kuat.
Tapi karena ada perempuan di ujung lorong yang menyerukan namaku dengan suara yang lebih keras dari hujan.
"MARYAAAAM!"
Mak Inah.
Mertuaku.
Ia datang dengan baju daster basah, rambut acak-acakan, dan mata yang merah bukan karena menangis. Merah karena marah.
"Mana anakku!" ia memekik. "Mana Hendra-ku! Maryam, kau yang membunuh anakku!"
Aku berdiri di samping meja stainless steel. Tubuh Hendra masih di belakangku. Mak Inah berjalan masuk ke kamar mati dengan langkah-langkah yang seperti badai β perawat dan polisi mencoba menahannya, ia mendorong mereka semua, ia tidak peduli aturan, ia tidak peduli kesopanan.
"Mak..." aku mencoba.
"DIAM!" Mak Inah menampar pipiku.
Suara tamparan itu bergema di kamar mati. Aku tidak balas. Aku tidak menutupi pipi. Aku hanya berdiri di sana, dengan pipi yang panas, sambil menatap mertuaku yang baru saja kehilangan satu-satunya anak laki-lakinya.
"Kau!" Mak Inah menunjuk dengan tangan gemetar. "Kau pembawa sial! Anakku selamat tiga puluh lima tahun, baru kena setelah nikah denganmu! Kau! Kau yang bawa sial ke keluarga kami!"
Aku menutup mata.
Mak Inah berlutut di samping tubuh Hendra. Akhirnya ia menangis β tangisan ibu yang kehilangan anak laki-laki satu-satunya, tangisan yang membuat semua perawat di lorong terdiam. Aku berdiri di sebelahnya, ingin meletakkan tangan di punggungnya, ingin memberi tahu bahwa aku juga kehilangan, bahwa aku juga sakit, bahwa kami sama-sama perempuan yang sedang ditinggalkan oleh lelaki yang kami cintai.
Tapi aku tidak melakukannya.
Karena aku tahu β kalau aku menyentuh Mak Inah, ia akan memekik. Ia akan berkata aku menyebarkan sial padanya. Ia akan menjauhkan tubuhnya seperti aku adalah penyakit.
Jadi aku hanya berdiri.
Lalu seorang polisi mendekat. "Bu, ini ada surat dari pabrik. Bapak Hendra sudah punya beberapa tunggakan. Kami harus serahkan ke Ibu sebagai ahli waris."
Aku menerima amplop coklat itu.
Di dalamnya: rincian utang Hendra di koperasi pabrik. Empat puluh tujuh juta rupiah.
Aku tertawa.
Bukan tawa bahagia. Tawa kering yang keluar dari kerongkongan yang sudah hancur. Empat puluh tujuh juta. Untuk wanita yang punya tabungan tujuh ratus ribu di celengan kaleng biskuit.
Mak Inah mendengar tawaku.
"Apa? Kamu tertawa? Anakku baru mati dan kamu tertawa?"
"Mak, iniβ" aku menyerahkan amplop coklat itu. "Ini utang Hendra di pabrik. Empat puluh tujuh juta."
Mak Inah menyambar amplop. Membacanya. Wajahnya berubah dari merah ke pucat ke merah lagi.
"Ini... ini utang siapa?" suaranya pelan.
"Hendra. Atas nama Hendra. Di pabrik."
Mak Inah menatapku. Aku bisa melihat di matanya β perhitungan. Perhitungan seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya, dan dalam tiga puluh detik berikutnya, sudah memutuskan bahwa kehilangan itu bukan tanggung jawabnya, melainkan tanggung jawab menantunya.
"Itu urusanmu, Maryam," katanya dingin. "Kamu yang nikah sama dia. Kamu yang ngabisin duitnya. Kamu yang bayar."
Aku tidak menjawab.
Aku hanya berdiri di sebelah meja stainless steel, dengan amplop empat puluh tujuh juta di tanganku, dan tubuh suamiku yang sudah dingin di belakangku, dan ibu mertua yang baru saja memutuskan bahwa aku adalah musuh.
Dan di luar, hujan masih turun.
Malam itu juga, sebelum jenazah Hendra dikubur, Mak Inah datang ke kontrakan kami.
Bersama dua adik laki-laki Hendra.
Mereka tidak datang untuk berduka.
Mereka datang untuk mengusir.
"Maryam, rumah ini kontrak dari pabrik tempat Hendra kerja. Kontraknya habis tiga hari lagi. Kamu harus keluar."
"Tapi Makβ"
"Tidak ada tapi. Aku sudah bicara sama HRD pabrik tadi. Mereka bilang kalau Hendra meninggal, kontrak rumah harus dilepas."
Aku menggendong Rio. Sari memeluk kakiku, ketakutan. Bima berdiri di belakangku, menatap neneknya dengan mata yang aku tidak pernah lihat sebelumnya.
"Mak, biarkan saya cari tempat duluβ"
"Tidak ada waktu, Maryam. Kemasi barangmu sekarang. Aku tidak mau cucu-cucuku tinggal di rumah perempuan pembawa sial."
"Cucu-cucu Mak juga butuh tempat tinggal."
"Cucu-cucu aku akan ikut aku ke kampung. Aku yang akan asuh mereka. Kau? Kau pulang ke ibumu sendiri."
Aku menggeleng. "Mak, anak-anak ikut saya."
Mak Inah tertawa. Tawa yang dingin. "Maryam, kau gak punya rumah, gak punya kerja, gak punya tabungan. Kau mau kasih makan anak-anak pakai apa? Air ludah?"
Bima maju ke depan. Anak delapan tahunku, berdiri di antara aku dan neneknya.
"Aku mau sama Mama."
Mak Inah menatap cucunya. "Bima, kamu gak tahu apa-apa. Kamu ikut Nenek aja, hidup enak, makan banyak, sekolah di kampung."
"Aku mau sama Mama."
Tiga kata.
Bima β anak delapan tahun yang dua jam lalu masih mengerjakan PR matematika dengan lampu petromaks β mengucapkan tiga kata itu dengan suara yang tidak gemetar.
Mak Inah memandang Bima lama sekali.
Ada sesuatu di matanya yang aku tidak mengerti saat itu. Sesuatu yang baru kumengerti dua puluh lima tahun kemudian, saat surat Hendra akhirnya kubuka di kamar panti jompo.
"Baik," katanya akhirnya. "Bawa anak-anakmu. Tapi keluar dari rumah ini hari ini juga."
Hujan masih turun.
Aku mengemasi pakaian anak-anak ke dua tas tenteng. Aku tidak punya koper. Tidak punya tas besar. Aku hanya punya dua tas pasar yang biasa kupakai untuk belanja sayuran di pasar Wage.
Aku menggendong Rio dengan kain panjang di pinggangku. Aku memegang tangan Sari di kanan, Bima di kiri.
Kami berjalan keluar rumah kontrakan reyot itu, ke jalan kampung yang becek.
Hujan langsung membasahi kami.
Sari menangis. Rio yang baru bangun ikut menangis di gendonganku. Bima tidak menangis β tapi tangannya yang kecil menggenggam tanganku erat sekali, seperti takut aku akan menghilang juga.
Di tengah jalan, gerobak ojek lewat. Sopirnya β seorang lelaki tua dengan jas hujan robek β berhenti di samping kami.
"Bu, mau ke mana, Bu? Hujan deras gini, anaknya tiga."
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun pernikahanku, aku menyadari sesuatu yang sangat sederhana, sangat menakutkan, dan sangat permanen.
Aku tidak punya tempat tujuan.
"Bu?" tanya tukang ojek lagi.
Aku membuka mulut. Aku mau menjawab. Tapi tidak ada nama yang keluar. Tidak ada alamat. Tidak ada rumah saudara. Tidak ada teman dekat. Hendra adalah duniaku. Hendra adalah penghubungku ke dunia. Dan sekarang Hendra terbaring di kamar mati dengan kulit pucat dan lebam di leher, dan aku berdiri di tengah hujan, dengan tiga anak, tanpa tujuan.
Sari menggigil. Rio batuk. Bima menarik tanganku.
"Ma, kita pulang ke mana?"
Aku menatap anak sulungku.
Aku tidak punya jawaban.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar