π Flashback β Malam Hari Hendra Meninggal
Aku berlutut di teras rumah ibuku sendiri.
Hujan turun deras. Tiga anakku basah kuyup di belakangku. Sari mulai menggigil hebat. Rio batuk-batuk dengan suara yang tidak normal. Bima berdiri di belakangku, telapak tangannya menempel di punggungku β tapi aku tidak bisa membalik untuk memeluknya. Aku terlalu sibuk berlutut.
"Mak..." aku memanggil pelan, lalu lebih keras. "Mak, ini Maryam. Mak, tolong buka."
Pintu kayu tua di depanku tetap tertutup.
"Mak, anak-anak basah, Mak. Mereka kedinginan. Sari demam. Mak, tolong."
Lampu di dalam rumah menyala. Aku bisa melihat bayangan ibuku β Mak Saripah β di balik jendela kaca. Aku tahu ia mendengar. Aku tahu ia melihat.
Tapi pintu tetap tertutup.
Dari dalam, terdengar suara. Suara ibuku.
"Siapa di luar?"
"Mak, ini Maryam, Mak."
Hening. Lalu jawaban.
"Anak janda gak boleh masuk lagi. Bawa sial."
Kalimat itu menusuk dadaku seperti pisau di kamar mandi.
"Mak..." suaraku pecah. "Mak, Hendra meninggal, Mak. Tadi malam. Aku gak punya tempat. Mak tolong, satu malam aja. Anak-anak demamβ"
"Pulang sana ke mertuamu."
"Mertua aku yang ngusir, Mak. Mak tolongβ"
Suara kunci dari dalam.
Klik.
Pintu dikunci. Dari dalam.
Aku menatap pintu itu. Pintu rumah masa kecilku. Pintu yang dulu kubuka setiap pulang sekolah dengan tas yang berat oleh buku-buku pinjaman. Pintu yang dulu kubuka sambil berteriak "Mak, Maryam pulang!" setiap hari selama tujuh belas tahun sebelum aku menikah dengan Hendra.
Pintu yang sekarang dikunci dari dalam saat anaknya berlutut di luar dengan tiga cucu yang menggigil di hujan.
Aku berdiri.
Pelan.
Bima melihatku berdiri. Ia tidak bertanya. Ia tidak menangis. Ia hanya memegang tanganku erat dan menunggu apa yang akan terjadi.
"Bima," aku berkata pelan. "Kita pergi."
"Pergi ke mana, Ma?"
Aku tidak menjawab.
Aku tidak punya jawaban.
Aku berjalan keluar dari halaman rumah ibuku, dengan Rio masih di gendonganku dan Sari menarik gaunku dan Bima di sebelahku. Kami berjalan kembali ke jalan kampung. Hujan masih turun. Lampu rumah-rumah tetangga padam β orang-orang sudah tidur, atau sengaja mematikan lampu, atau pura-pura tidak ada di rumah.
Tidak ada yang membuka pintu untuk perempuan janda dengan tiga anak.
Itu pelajaran pertama yang kupelajari malam itu β bahwa kemiskinan, kesedihan, dan kemalangan adalah hal yang dihindari orang. Bukan disayangi. Bukan dipeluk. Tapi dihindari, seperti penyakit menular.
Aku berjalan tanpa tujuan selama mungkin dua puluh menit. Kakiku mulai berat. Rio tertidur lagi di gendonganku. Sari sudah berhenti menangis β bukan karena tenang, tapi karena lelah. Bima tetap memegang tanganku, tidak bicara sepatah katapun, hanya berjalan.
Lalu aku mendengar suara.
"Maryam?"
Aku berbalik.
Di seberang jalan, di teras kontrakan kecil dengan lampu kuning yang remang β berdiri seorang perempuan dengan payung kecil. Rambut putih. Daster bunga-bunga.
Bu Sumi.
Bu Sumi, tetangga lama waktu aku masih kecil. Tukang nasi uduk di pasar Wage. Janda. Anak-anaknya sudah dewasa dan merantau. Tinggal sendirian di kontrakan satu kamar di gang sempit.
"Maryam, kamu... kamu ngapain di luar hujan-hujan gini? Sama anak-anak?"
Aku tidak menjawab.
Aku tidak bisa menjawab.
Bu Sumi menyeberang jalan dengan payung kecilnya. Sampai di depanku, ia menatap wajahku, lalu wajah anak-anakku, lalu wajahku lagi.
"Hendra?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk. Air mata akhirnya turun. Tapi mungkin bukan air mata β mungkin hanya hujan yang menempel di pipiku, mungkin keringat, mungkin entah apa.
"Ya Allah, Maryam..." Bu Sumi memeluk pundakku. "Ya Allah, Nak."
"Bu, saya gak punya tempat," kataku. Suaraku pecah. "Ibu saya ngusir. Mertua saya ngusir. Bu, saya gak punya tempat."
"Sini," kata Bu Sumi pendek. "Sini, ke kontrakanku. Sekarang. Anak-anak demam tuh."
Kontrakan Bu Sumi kecil. Satu kamar tidur, satu ruang tengah merangkap dapur, satu kamar mandi kecil di belakang. Tapi pada malam itu β di tengah hujan yang tidak mau berhenti β kontrakan kecil itu adalah istana yang paling kuingat seumur hidupku.
Bu Sumi menyalakan kompor. Memasak teh manis hangat. Mengeluarkan handuk-handuk kering dari lemari. Memandikan Sari dan Rio dengan air panas yang ia rebus sendiri. Mengganti baju mereka dengan kaus tua milik anak-anaknya yang sudah lama tidak dipakai.
Aku duduk di kursi rotan di ruang tengah, masih basah, masih dengan kerudung yang menetes air ke lantai.
"Maryam, ganti baju," kata Bu Sumi. "Aku ada daster di lemari, pakai aja."
"Bu, sayaβ"
"Maryam." Bu Sumi memandangku tegas. "Ini bukan saatnya kamu sungkan. Anak-anakmu butuh ibu yang gak masuk angin. Ganti baju. Sekarang."
Aku menurut.
Saat aku keluar dari kamar mandi dengan daster pinjaman, Bu Sumi sudah membuatkan tempat tidur darurat di lantai ruang tengah β tiga kasur tipis yang ia ambil dari kamar tidurnya, ditata berdampingan, dengan selimut tebal.
"Anak-anak tidur di sini ya, Maryam. Kamu juga. Aku tidur di dipan. Besok kita pikirin."
"Bu Sumi, sayaβ"
"Maryam, tidur."
Aku berbaring di kasur tipis itu. Sari sudah tertidur di sebelahku. Rio tertidur di sisi lain, suaranya masih sesak karena batuk. Bima... Bima masih duduk, memandang langit-langit kontrakan, tidak tidur.
"Bima, tidur, Nak."
"Aku gak ngantuk, Ma."
"Bima, tidur."
Bima berbaring. Tapi matanya terbuka, menatap langit-langit. Pelan-pelan, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya β yang tadi sempat basah, tapi sekarang sudah kering oleh suhu kamar.
Amplop.
Amplop coklat kecil. Tidak besar. Sudah agak kusut.
"Ma," Bima berkata pelan, tidak ingin membangunkan adik-adiknya. "Ini buat Mama."
"Apa itu?"
"Ini dari Papa. Aku nemu di tas kerja Papa pas Mama lagi di rumah sakit tadi pagi. Pas Mak bilang kita keluar dari rumah, aku ambil. Aku takut nanti dibuang sama Mak."
Aku duduk dari kasur.
Aku menerima amplop itu.
Tulisan tangan Hendra di permukaan. Tinta biru.
Untuk Maryam-ku. Buka jika kau sudah cukup kuat.
Jantungku berdebar.
Aku tidak tahu Hendra menulis surat ini. Aku tidak tahu kapan. Tapi tulisan tangannya β tulisan yang sudah delapan tahun aku kenal dari catatan-catatan kecil di dapur, dari daftar belanja, dari surat-surat cinta saat kami baru pacaran β tulisan itu di amplop ini.
Aku akan membukanya.
Tapi sebelum jariku menyentuh lemnya β terdengar suara kejang dari dapur.
"Cukβcukβcukkkβ"
Bu Sumi.
Aku berlari ke dapur. Bu Sumi tergeletak di lantai dapur, tubuhnya kejang, mulutnya berbusa.
"Ya Allah, Bu Sumi!"
Aku berlutut. Aku meletakkan amplop di atas lemari β di laci paling atas, di tempat yang kuingat untuk kuambil nanti. Aku membalikkan tubuh Bu Sumi miring, menahan kepalanya, memanggil-manggil namanya. Bima berlari ke pintu, "AKU PANGGIL TETANGGA, MA!"
Sari menangis di kasur. Rio terbangun batuk-batuk.
Malam itu berubah lagi β dari malam aku kehilangan suami, jadi malam aku hampir kehilangan satu-satunya orang yang menolongku.
Bu Sumi selamat. Tetangga datang. Tukang ojek dipanggil. Bu Sumi dibawa ke puskesmas malam itu. Aku ikut menemani sampai subuh.
Saat aku pulang ke kontrakan dengan Bu Sumi yang sudah dirawat infus, matahari sudah hampir terbit. Anak-anakku tertidur lelap di kasur tipis. Aku terlalu lelah untuk apapun. Aku merebahkan diri di sebelah Sari, menutup mata.
Aku lupa.
Aku lupa amplop di laci paling atas lemari Bu Sumi.
Aku lupa.
Selama dua puluh lima tahun.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar