Mereka semua datang tepat waktu.

Itu hal pertama yang kuperhatikan.

Tiga puluh tahun yang lalu, saat Hendra meninggal, tidak ada yang datang tepat waktu ke pemakamannya. Saudara-saudara Hendra terlambat. Mertuaku Mak Inah datang setelah jenazah hampir dikubur — itupun untuk meneriakiku di depan makam. Tetangga datang seenaknya. Tidak ada yang menganggap kematian seorang lelaki muda bernama Hendra sebagai sesuatu yang cukup penting untuk hadir tepat waktu.

Tapi hari ini, hari di mana anak-anakku akan rapat membuang ibu mereka — semua datang sebelum jam sepuluh.

Bima sudah pulang dari kantor pukul setengah sembilan. Bercukur. Memakai polo shirt biru yang baru. Bahkan menyemprotkan parfum. Seperti mau ke pesta.

Sari muncul jam sembilan lewat empat puluh. Tas Hermes-nya kupandang dari kursi belakang. Hermes asli, bukan yang seperti kupakai dulu — tas pasar tiruan yang aku jaga seperti benda berharga selama lima belas tahun.

Rio adalah yang terakhir. Datang dengan jas dokter masih melekat. "Aku cuma punya waktu satu jam, ya. Ada rapat staf jam sebelas," katanya, tanpa memandangku. Tanpa menyapaku. Tanpa bertanya apakah aku sudah makan pagi atau kepalaku masih sakit.

Mereka semua duduk di meja makan utama.

Dan aku — perempuan yang dulu menyusui tiga anak ini dengan air susu yang kupertahankan agar tetap mengalir meski aku sehari makan satu kali — duduk di antara mereka seperti tertuduh.

"Ma, duduk sini, Ma," kata Sari sambil menarik kursi paling ujung. Bukan kursi tuan rumah. Kursi yang biasa untuk tamu yang tidak penting.

Aku duduk.

Vania menuangkan kopi untuk semua. Untukku, ia menuangkan teh manis hangat. Manis. Hangat. Seperti yang biasa diberikan kepada orang tua yang akan dibujuk masuk ke ambulans.

"Jadi gini," Bima memulai. "Aku langsung aja ya, Ma."

Aku mengangguk.

"Vania capek, Ma. Aurel juga butuh perhatian, Vania sendiri lagi banyak kerjaan sosialnya. Sementara Mama makin sering jatuh. Tadi pagi kan jatuh. Bulan lalu juga di tangga. Kita semua khawatir, Ma."

Sari menyahut, suaranya manis seperti madu yang sudah diaduk berkali-kali. "Iya Ma, kita sayang Mama. Kita gak mau Mama kenapa-kenapa. Bayangin kalau Mama jatuh pas gak ada orang. Mama bisa sendirian sampai sore."

Aku menatap Sari.

Anak perempuanku.

Anak yang dulu kugendong di pinggangku saat berjualan nasi uduk. Anak yang dulu tertidur di pangkuanku di gerobak saat aku menunggu pembeli sampai tengah malam. Anak yang dulu bilang, "Ma, kalau Sari besar nanti, Sari beliin Mama berlian."

Sekarang anak itu duduk di hadapanku — memakai berlian, tapi bukan untuk ibunya — sambil mengatakan dengan nada manis bahwa ibunya akan sendirian sampai sore tanpa ada yang peduli.

"Rio?" Aku memutar mata ke arah anak bungsuku.

Rio menarik napas. Ia tidak memandangku. Ia memandang permukaan meja.

"Aku jam kerja sampai malam, Ma. Apartemenku kecil. Lila juga shift, sering nggak ada di rumah. Mama tinggal sendirian di sana, sama aja kayak sendirian di rumah Bima atau Sari. Mendingan Mama di tempat yang ada perawat profesional."

"Tempat yang ada perawat profesional?" suaraku keluar pelan.

Sari mengeluarkan brosur dari tasnya. Kertas glossy. Foto-foto taman hijau, kursi roda dengan perawat tersenyum, lansia bermain catur di teras.

"Ma, lihat. Ini namanya Pondok Kasih Senja. Mama pasti suka. Ada kebun, ada kolam ikan, ada tempat ibadah. Kayak hotel. Kasur empuk, makan tiga kali sehari, ada dokter on call dua puluh empat jam. Mama bakal nyaman banget di sana."

Aku memegang brosur itu.

Tanganku tidak gemetar.

Sebelum hari ini, aku akan gemetar. Mungkin aku akan menangis. Mungkin aku akan memohon. Jangan, Nak. Mama masih kuat. Mama bisa ngurus diri sendiri. Jangan kirim Mama ke tempat begitu.

Tapi semalam aku sudah tidur dengan obat penenang yang Vania berikan. Dan aku tidak tertidur. Aku berbaring dengan mata setengah terbuka, mendengarkan suara Vania menelepon Sari, mendengarkan Bima berkata "iya, aku tahu, sudah waktunya" — dan saat fajar tiba, aku sudah selesai menangis. Air mataku habis sebelum mereka semua bangun.

Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan terakhir.

"Apakah ini keputusan kalian bertiga?" Aku bertanya.

Hening.

Bima yang pertama mengangguk.

Sari menyusul.

Rio yang terlama — tapi akhirnya juga mengangguk.

Tidak ada yang berani membalas tatapanku.

Aku menarik napas pelan.

"Vania?"

Vania tersentak. Ia tidak menyangka aku akan menyebut namanya.

"Iya, Ma?"

"Kamu yang nelpon Sari semalam, kan?"

Vania pucat sebentar. Lalu memasang senyum cepat. "Mama denger, Ma? Iya, aku khawatir aja, Ma. Karena tadi pagi kan Mama kepleset, takut—"

"Tidak apa-apa," potongku. "Mama cuma tanya."

Mereka semua menatapku.

Aku bisa melihat di mata Bima — rasa lega yang sudah lama tertahan. Di mata Sari — kepuasan bahwa keputusan ini tidak menemukan perlawanan. Di mata Rio — sesuatu yang lebih sulit. Sesuatu yang mungkin... penyesalan? Atau hanya keterasingan?

Aku tidak mau menebak lagi.

Aku berdiri dari kursi.

Pelan. Tegak. Punggungku tidak membungkuk meski leherku masih nyeri dari jatuh kemarin.

"Mama setuju."

Tiga anakku tertegun. Mereka mengira akan ada drama. Mengira akan ada tangisan. Mengira akan ada permohonan yang harus mereka tolak dengan nada manis — sebuah pertunjukan yang mereka sudah persiapkan jawabannya sejak semalam.

Yang tidak mereka siapkan adalah ibu yang berdiri tegak dan berkata "setuju" dengan tatapan tenang.

"Tapi ada satu syarat," tambahku.

Bima memucat. "Syarat apa, Ma?"

"Mama mau bawa satu kotak kecil. Itu saja. Tidak boleh ada yang menyentuhnya. Tidak boleh ada yang membukanya. Tidak boleh ada yang bertanya apa isinya. Mama akan pergi besok pagi."

Sari mengernyit. "Kotak? Kotak apa, Ma?"

"Tidak penting, Sari. Itu yang Mama bawa. Itu saja."

Aku tidak menunggu jawaban. Aku berbalik. Berjalan menuju kamar belakang — kamar pembantu yang sudah tujuh tahun menjadi tempatku.

Di belakangku, aku mendengar bisikan Vania.

"Apa isi kotak itu?"

Bima mengangkat bahu. "Barang nenek-nenek. Apa pentingnya."

Aku menutup pintu kamar belakang pelan. Kuncinya tidak bisa kuputar — kunci kamar pembantu memang tidak pernah diberi padaku. Tapi aku tetap mendorongnya sampai daun pintu menempel rapat.

Aku berlutut di depan tempat tidur. Menarik kotak kayu tua dari kolong. Kotak yang sudah berusia dua puluh lima tahun. Kotak yang dulu kubeli di pasar Wage seharga lima ribu rupiah, sebelum aku tahu apa yang akan kusimpan di dalamnya.

Aku meletakkan tangan di atasnya.

Tanganku akhirnya gemetar.

Karena aku tahu — di dalam kotak ini, ada sesuatu yang sudah dua puluh lima tahun aku tidak berani buka. Surat dari Hendra. Surat yang ditemukan Bima saat ia berusia delapan tahun, di tas kerja ayahnya yang baru meninggal. Surat yang langsung kusembunyikan di laci karena saat itu — Rio sedang kejang demam, Bu Sumi tetangga jatuh sakit, hidupku terlalu kacau untuk membaca apapun.

Aku tidak pernah membukanya.

Selama dua puluh lima tahun, aku tidak berani.

Karena aku tahu — aku tahu — surat dari suami yang ditulis sebelum kematiannya, dititipkan di tas kerja, tidak diberi langsung — pasti berisi rahasia. Dan aku, ibu tunggal dengan tiga anak yang menggantungkan hidupnya padaku, tidak punya kemewahan untuk hancur karena rahasia.

Tapi sekarang anak-anakku akan membuangku.

Tidak ada lagi yang perlu kulindungi.

Tidak ada lagi yang perlu kupertahankan.

Yang tersisa sekarang hanyalah aku — dan satu amplop yang sudah menunggu dua puluh lima tahun untuk dibaca.

Aku mengangkat tutup kotak.

Di dasarnya, di antara foto-foto pernikahan yang sudah kuning dan sertifikat tanah yang tidak pernah kupahami, terselip amplop tua dengan tulisan tangan Hendra di permukaannya.

Untuk Maryam-ku. Buka jika kau sudah cukup kuat.

Aku tertawa pelan.

Hendra sayang. Aku tidak pernah cukup kuat. Tapi aku akan tetap membukanya.

Besok. Di panti jompo. Di kasur tipis yang akan menjadi tempat tinggalku.