"Selamat datang di tempat di mana anak-anak menyimpan ibu mereka, Bu."
Itu kalimat pertama yang menyambutku di Pondok Kasih Senja.
Lelaki tua berkaus oblong putih dan sarung kotak-kotak berdiri di pintu kamar enam tempat tidur yang menjadi rumahku yang baru. Rambutnya putih, dipotong pendek. Wajahnya berkerut tapi matanya tajam. Tajam seperti mata seseorang yang dulu pernah punya pekerjaan yang membuatnya harus melihat hal-hal yang tidak ingin orang lain lihat.
"Saya Darto," katanya. "Sudah empat tahun di sini. Datang sendiri, bukan dibuang. Tapi anak-anak saya juga tidak pernah datang menjenguk. Jadi sama saja, ya."
Ia tertawa kecil. Tawa yang kering. Aku menggeleng. Aku tidak bisa tertawa pagi ini.
Bima yang mengantarku. Bersama Sari. Rio tidak datang — "ada operasi mendadak, Ma, maaf banget" — alasan yang sudah kudengar sepuluh tahun terakhir setiap kali ia tidak mau hadir di acara penting.
Sari membawa koper rodaku. Bima membawa kotak kayu — yang aku peluk erat sepanjang perjalanan tadi pagi, sampai akhirnya kuserahkan padanya saat mau turun dari mobil karena tanganku sudah pegal.
"Ma, kamarnya bagus, kan?" Sari berkata sambil menatap sekeliling. Suaranya berusaha riang. "Ada AC. Bersih kok."
Aku menatap kamar itu.
Enam tempat tidur. Lima sudah berpenghuni — perempuan-perempuan tua yang menatapku dengan mata kosong. Satu kosong, tempat tidur paling pojok, dekat jendela yang sebagian kacanya retak. Itu untukku.
AC menyala. Tapi suaranya berdengung seperti motor butut. Bau kamar adalah campuran disinfektan, balsem, dan sesuatu yang asam yang aku tidak ingin tahu apa.
"Bagus, Sari," aku menjawab. Bukan untuk Sari. Untuk diriku sendiri. Untuk memastikan suaraku masih bisa keluar.
Bima meletakkan kotak kayu di atas tempat tidurku. "Ma, jangan tinggalkan kotak ini sembarangan ya. Tar diambil orang."
"Iya," aku menjawab.
"Kita pulang dulu ya, Ma," kata Sari. Ia memeluk pundakku — pelukan singkat, dingin, ritual. "Nanti kita jenguk."
Aku tidak menjawab.
Sebelum mereka keluar, Sari mengeluarkan ponselnya. "Eh, Ma. Foto dulu sebentar. Buat dokumentasi. Aku mau update grup keluarga, kasih tahu Mama sudah baik-baik di sini."
Aku tidak protes. Aku hanya berdiri di samping Bima. Sari memutar kamera depan, merentangkan tangannya. Klik.
"Cakep deh fotonya, Ma. Senyum dikit dong tadi."
Aku tidak menjawab. Foto itu untuk grup keluarga. Untuk membuktikan ke siapa entah ke siapa — bahwa anak-anakku bukan anak durhaka, mereka memastikan ibu mereka mendapat tempat layak. Foto itu untuk mereka. Bukan untukku.
Mereka pergi.
Pintu kamar tertutup. Suara langkah sepatu Sari yang berderap pelan di lorong. Suara mobil yang menyala di parkiran. Lalu suara mobil yang pergi.
Aku berdiri sendirian.
Lima perempuan tua di tempat tidur lain memandangku dalam diam. Pak Darto melongok dari pintu. "Bu, kalau mau menangis, sekarang waktunya. Sebelum nanti dianggap lemah sama tetangga sekamar."
Aku menggeleng.
"Saya tidak akan menangis, Pak."
Pak Darto tersenyum tipis. "Bagus. Itu yang saya suka. Tipe yang akan bertahan." Ia menutup pintu pelan.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Kasur tipis. Sprei kasar. Bau apek. Persis seperti kontrakan pertama aku setelah Hendra meninggal — kamar tiga kali tiga di belakang rumah Bu Sumi, dengan kasur kapuk yang berbau matahari dan keringat.
Hidupku melingkar. Aku kembali ke awal.
Aku menarik kotak kayu ke pangkuan.
Tutupnya kubuka pelan. Bau kertas tua langsung naik. Aku mengeluarkan isi kotak satu per satu. Foto pernikahan — Hendra tertawa, aku tersipu, gerobak nasi uduk di belakang sebagai latar. Sertifikat tanah lama atas nama Hendra — aku tidak pernah mengerti apa isinya, aku hanya menyimpan karena Hendra dulu bilang "ini titip ya, Mar." Lalu kartu nama yang sudah kuning. Pak Hadi, sahabat Hendra. Diberikan padaku di pernikahan Sari belasan tahun lalu. Pak Hadi pernah bilang ada sesuatu yang harus dibicarakan denganku. Aku tidak pernah menghubungi.
Dan di dasar kotak — amplop itu.
Aku mengambilnya.
Kertasnya tipis. Pinggirannya sudah robek di beberapa tempat. Tinta tulisan tangan Hendra di permukaan sudah memudar, tapi masih terbaca.
Untuk Maryam-ku. Buka jika kau sudah cukup kuat.
Hendra sayang, aku akhirnya cukup kuat.
Atau mungkin lebih tepat — aku tidak punya apa-apa lagi yang harus dilindungi.
Tanganku gemetar saat aku merobek lem amplop yang sudah hampir terlepas sendiri karena usia. Lipatan kertas di dalamnya kering, hampir patah saat kubuka. Aku membentangkannya pelan di pangkuanku.
Tulisan tangan Hendra. Tinta biru yang sudah memudar jadi abu-abu.
Aku mulai membaca.
"Maryam sayang,
Kalau kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Mungkin aku mati di pabrik. Mungkin di jalan. Mungkin di rumah. Apapun caranya, aku minta maaf — karena kepergianku akan meninggalkan beban yang sangat berat untukmu. Aku tahu itu. Aku tidak punya pilihan lain selain meninggalkan surat ini.
Ada hal yang harus aku ungkapkan padamu — tentang Bima."
Aku berhenti.
Napasku tertahan.
Mataku terpaku di empat kata terakhir.
Tentang Bima.
Bima. Anak sulungku. Bima yang berusia delapan tahun saat ayahnya meninggal. Bima yang memungut nasi tumpah di lumpur pasar dengan tangan kecilnya yang masih hangat. Bima yang berlari tujuh kilometer dari rumah neneknya hanya untuk pulang ke pelukanku. Bima yang sekarang berusia tiga puluh tiga tahun, direktur perusahaan, suami Vania, ayah Aurel — dan orang yang baru saja mengantarku ke panti jompo ini dengan koper roda dan kotak kayu.
Tentang Bima.
Aku menatap surat itu.
Jariku menahan ujung kertas.
Aku tidak melanjutkan baca.
Karena dadaku berdebar terlalu keras. Karena pikiranku tiba-tiba melayang — melayang ke dua puluh lima tahun lalu. Ke malam aku berdiri di teras kontrakan Bu Sumi. Ke pagi aku menggoreng tempe jam dua subuh. Ke hari Bima menemukan amplop ini di tas kerja Hendra dan menyerahkannya padaku dengan wajah polos: "Ma, ini buat Mama dari Papa."
Aku tidak pernah membaca surat ini.
Selama dua puluh lima tahun, aku menyimpannya seperti racun yang mungkin akan kuminum kalau aku tidak punya pilihan lain.
Sekarang aku tidak punya pilihan lain.
Aku menarik napas. Pelan. Dalam. Seperti yang dulu kulakukan setiap subuh saat aku menyalakan api kompor pertama, sebelum anak-anakku bangun, sebelum dunia bangun, sebelum aku harus menjadi seorang ibu lagi.
Lalu aku kembali ke surat.
Tapi tanganku bergetar terlalu hebat. Mataku terlalu kabur. Hurufnya bergerak-gerak di kertas seperti semut yang lari ketakutan.
Aku tidak bisa membaca lebih jauh.
Aku menyandarkan punggungku ke tembok di belakang tempat tidur. Surat itu masih di pangkuanku. Mataku tertutup. Dan dari balik kelopak mata yang lelah, ingatan-ingatan lama mulai berhamburan.
Hujan.
Aku ingat hujan.
Hujan yang turun deras di malam tanggal tujuh belas — malam saat dua polisi muda mengetuk pintu kontrakan kami yang reyot. Hujan yang membuat seragam mereka basah. Hujan yang membuat suara mereka redup saat mengatakan kalimat yang akan menjadi kalimat paling diingat seumur hidupku:
"Bu Maryam, kami minta maaf. Suami Ibu — Bapak Hendra — telah meninggal dunia pukul 03.17 dini hari di pabrik tempat ia bekerja."
Bima berusia delapan tahun saat itu. Ia menggigit bibirnya untuk tidak menangis.
Sari berusia lima tahun. Ia menarik gaunku terus-menerus.
Rio berusia dua tahun. Tertidur di gendonganku.
Dan aku — Maryam, dua puluh lima tahun lebih muda, masih punya rambut hitam tebal dan mata yang masih bisa menangis untuk diriku sendiri — berdiri di pintu kontrakan reyot itu, dengan tiga anak yang belum mengerti apa arti kata "meninggal dunia," sambil mendengar hujan yang turun terus.
Hujan yang akan terus turun di mimpiku selama dua puluh lima tahun ke depan.
Hujan yang akan menjadi suara latar dari setiap kesedihan, setiap perjuangan, setiap kemenangan kecilku.
Hujan yang akhirnya membawaku kembali — dua puluh lima tahun kemudian — ke kamar enam tempat tidur di panti jompo, memegang surat yang baru kubuka, sambil menutup mata dan kembali ke malam itu...
Malam pertama hidupku runtuh.
Bersambung ke Bab 4: "Mayat di Kamar Mati" — 25 Tahun Lalu
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar