"Mas, kamu beneran masih di kantor?"
Suara Karina bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan sesak yang tiba-tiba mengurung rongga dadanya. Matanya tak berkedip menatap tajam ke seberang jalan.
"Iya, Sayang. Ini Pak Surya baru aja masuk ruangan. Sebentar lagi meeting besar mulai. Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Anak-anak aman kan di rumah?"
Suara Irfan di seberang telepon terdengar begitu tenang. Begitu hangat. Begitu meyakinkan. Sama persis seperti suara suami sempurna yang selama tujuh tahun ini menemani tidur Karina.
Karina mencengkeram kemudi mobilnya. Buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
"Lembur sampai jam berapa hari ini, Mas?" tanya Karina lagi. Ia sengaja memancing. Nada suaranya diusahakan sedatar mungkin, meski tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat.
"Mungkin sampai malam, Sayang. Jangan tunggu aku makan malam, ya. Kasihan kamu nanti masuk angin. Udah ya, aku tutup dulu, Pak Surya udah manggil-manggil itu. Love you."
Klik. Sambungan terputus.
Dada Karina serasa dihantam godam raksasa. Nafasnya memburu.
Matanya tak lepas dari sebuah mobil Honda CR-V hitam dengan pelat nomor B 174 FAN yang terparkir rapi di bawah pohon rindang. Itu tepat di depan gerbang Sekolah Dasar Pelita.
Itu mobil suaminya. Mobil yang dicicil dari uang tabungan bersama. Mobil yang pagi tadi dikendarai Irfan dengan alasan, "Mas ada meeting penting di Sudirman, doain gol ya proyeknya."
Tapi nyatanya, mobil itu ada di sini. Di kawasan perumahan elit yang jaraknya dua puluh kilometer dari kantor Irfan.
Karina menunduk menatap kotak makan berisi udang saus padang kesukaan Irfan yang tergeletak di kursi penumpang. Niat awalnya siang ini sangat manis: memberikan kejutan makan siang untuk suaminya di kantor. Tapi saat melewati jalan ini, matanya tak sengaja menangkap pelat nomor yang sangat ia kenal.
Ia pikir mobil suaminya dicuri. Ia pikir Irfan sedang mampir ke klien.
Tapi insting seorang istri tidak pernah bisa dibohongi.
Dengan tangan gemetar, Karina mematikan mesin mobilnya. Ia mengambil kacamata hitam dari dalam tas, memakainya untuk menutupi matanya yang mulai memerah, lalu melangkah turun dari mobil.
Udara panas Jakarta siang itu terasa membakar kulit, tapi Karina merasa tubuhnya membeku. Langkahnya gontai, seperti orang linglung. Ia menyeberang jalan, bersembunyi di balik gerobak penjual es doger yang mangkal tak jauh dari mobil Irfan.
"Siang, Mbak. Mau beli es dogernya?" sapa tukang es doger itu ramah.
Karina hanya menggeleng pelan. Ia mengangkat jari telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat agar bapak itu diam. Pandangannya terus terkunci pada kursi kemudi CR-V hitam itu.
Dari kaca jendela mobil yang sedikit terbuka, Karina bisa melihat siluet pria yang sangat dicintainya. Pria yang memeluknya tadi pagi. Irfan sedang menyisir rambutnya di kaca spion dalam, merapikan kerah kemejanya. Ia terlihat... tampan. Dan sangat bersiap-siap.
Teng! Teng! Teng!
Bel sekolah berbunyi nyaring. Pintu gerbang SD Pelita terbuka lebar. Ratusan anak berseragam merah putih berhamburan keluar.
Jantung Karina berdetak dua kali lebih cepat. Untuk apa Irfan ada di sekolah dasar? Sasa, anak mereka, masih duduk di bangku TK dan sekolahnya ada di dekat rumah mereka, bukan di sini!
Tiba-tiba, pintu kemudi CR-V itu terbuka.
Irfan melangkah turun. Ia mengenakan kemeja biru muda kesukaannya. Kemeja yang disetrika oleh Karina semalam. Pria itu berdiri dengan gagah bersandar di pintu mobil, tersenyum lebar menatap ke arah gerbang sekolah.
Dari kerumunan anak-anak, seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun berlari kencang. Ia memakai tas ransel bergambar Spiderman.
"PAPA!"
Bocah itu berteriak nyaring. Suaranya mengalahkan bisingnya jalanan siang itu.
Karina berhenti bernapas.
Dunia di sekitarnya terasa berhenti berputar. Suara klakson motor, tawa anak-anak, teriakan pedagang asongan, semuanya mendadak senyap. Yang terdengar di telinga Karina hanyalah satu kata itu.
Papa.
Anak laki-laki itu melompat ke dalam pelukan Irfan.
Dan yang membuat hati Karina hancur berkeping-keping... Irfan menangkap anak itu dengan tawa lepas. Tawa bahagia yang sangat jarang ia perlihatkan di rumah akhir-akhir ini karena alasan 'lelah bekerja'.
Irfan mengangkat tubuh bocah itu tinggi-tinggi, lalu mencium kedua pipinya dengan gemas.
"Anak jagoan Papa! Gimana sekolahnya hari ini, jagoan?" Suara Irfan menggelegar penuh kebanggaan.
"Rafa dapat nilai seratus, Pa! Bu Guru bilang lukisan Rafa paling bagus!" jawab anak bernama Rafa itu dengan mata berbinar.
"Wah, hebat banget anak Papa! Nanti kita beli es krim yang paling besar ya buat ngerayain!"
Lutut Karina lemas. Ia berpegangan erat pada ujung gerobak es doger hingga buku-buku jarinya memerah. Perutnya mual luar biasa.
Rafa? Papa?
Siapa anak ini?! Kenapa dia memanggil suami Karina dengan sebutan Papa?! Dan kenapa Irfan membalasnya dengan sebutan 'anak Papa'?!
Pikiran Karina berkecamuk hebat. Ribuan pertanyaan menyerang kepalanya bagai peluru tajam.
Apakah Irfan punya keponakan yang tidak ia ketahui? Tidak. Irfan anak tunggal. Apakah ini anak dari teman kantornya? Tapi kenapa panggilannya Papa?
Karina berniat melangkah maju. Ia ingin melabrak suaminya saat itu juga. Ia ingin berteriak di depan wajah Irfan dan menamparnya. Kakinya baru saja bergeser satu langkah, saat tiba-tiba sebuah suara lembut nan manja terdengar.
"Mas! Maaf aku telat turunnya!"
Karina mematung. Matanya melebar sempurna.
Dari arah pintu gerbang sekolah, seorang wanita berjalan tergesa-gesa menghampiri Irfan dan Rafa.
Wanita itu... sangat cantik. Kulitnya putih bersih, rambutnya panjang bergelombang diikat setengah, mengenakan dress selutut berwarna peach yang membuatnya terlihat anggun namun tetap kasual.
Dia bukan ibu-ibu biasa. Dia terlihat seperti istri dari keluarga sangat terpandang.
Wanita itu mendekati Irfan dengan senyum manis yang merekah. Tanpa ragu, tanpa canggung, wanita itu meraih tangan kanan Irfan dan mencium punggung tangan suaminya itu.
Dia salim pada Irfan. Layaknya seorang istri yang berbakti pada suaminya.
"Jalanan macet banget tadi, Mas. Kamu udah lama nunggu?" tanya wanita itu dengan nada manja.
Irfan membalas senyuman itu. Tangan kirinya yang bebas terangkat, menyelipkan anak rambut wanita itu ke belakang telinganya. Sebuah sentuhan intim yang membuat dada Karina seolah disayat sembilu.
"Nggak kok, Yang. Aku juga baru sampai. Kebetulan tadi meeting di Sudirman selesai lebih cepat, jadi aku langsung ngebut ke sini buat jemput jagoan kita," jawab Irfan lembut.
Yang.
Jagoan kita.
Air mata Karina akhirnya tumpah. Pertahanannya hancur lebur. Ia menangis tanpa suara di balik kacamata hitamnya. Tangannya meremas dadanya sendiri yang terasa begitu sakit hingga ia kesulitan menarik napas.
"Mama! Rafa dapet nilai seratus!" Rafa menarik-narik ujung dress wanita itu.
"Oh ya? Pinter banget anak Mama! Nanti kita pamerin ke Oma ya. Sekarang Rafa masuk mobil dulu, di luar panas banget," ujar wanita itu sambil membukakan pintu belakang mobil untuk Rafa.
Karina masih berdiri mematung di balik gerobak. Ia seperti sedang menonton sebuah film keluarga bahagia, dan tragisnya, pemeran utama pria di film itu adalah suaminya sendiri.
Tangan Karina gemetar hebat saat ia merogoh tasnya. Ia mengeluarkan ponsel. Dengan susah payah menahan ibu jarinya yang bergetar, ia membuka aplikasi kamera dan mulai merekam semuanya.
Ini bukti. Ia tidak boleh gegabah. Ia tidak boleh maju sekarang tanpa pegangan. Ia tahu betapa licinnya mulut Irfan. Jika ia melabrak tanpa bukti, Irfan pasti akan memutarbalikkan fakta dan mengatainya gila.
Sambil merekam, isak tangis Karina mulai terdengar lirih.
Seorang ibu-ibu berhijab yang baru saja menjemput anaknya kebetulan berdiri di sebelah Karina. Ibu itu menatap Karina dengan dahi berkerut bingung.
"Mbak? Mbak nggak apa-apa? Kok nangis pucat begitu? Sakit ya?" sapa ibu itu penuh empati.
Karina gelagapan. Ia buru-buru menyeka air matanya dan menunjuk ke arah mobil Irfan dengan jari gemetar.
"Bu... maaf... Ibu kenal sama yang di mobil hitam itu?" tanya Karina dengan suara parau yang tertahan.
Ibu berhijab itu menoleh ke arah yang ditunjuk Karina, lalu tersenyum sumringah.
"Oh! Papanya Rafa? Mas Irfan dan Mbak Maya?" Ibu itu tertawa kecil. "Kenapa, Mbak? Mbak saudaranya ya?"
Maya.
Jadi nama pelacur itu Maya.
"Bukan... saya temannya," bohong Karina, menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Mereka... sering jemput anak ke sini, Bu?"
"Sering banget, Mbak!" jawab ibu itu antusias, tanpa sadar sedang menancapkan belati berkali-kali ke jantung Karina. "Itu keluarga idaman banget di sekolah ini, Mbak. Suaminya kerja kantoran sibuk, tapi selalu nyempetin jemput anaknya tiap siang. Kalau nggak bisa jemput, istrinya yang datang. Tapi seringnya datang berdua gitu."
Tiap siang.
Dada Karina terasa mau pecah.
Tiap siang? Selama ini Irfan selalu mengeluh tidak bisa makan siang di rumah karena jadwal kantor yang padat. Selama ini Irfan selalu menyuruh Karina mengurus Sasa sendirian dengan alasan 'Mas banting tulang buat keluarga kita, Dek'.
Tapi nyatanya? Dia ada di sini. Membanting tulang untuk keluarga yang lain!
"Bikin iri ibu-ibu di sini, Mbak," lanjut wanita berhijab itu, masih asyik bergosip. "Apalagi kemarin pas hari pembagian rapor bulan lalu. Ya ampun, Mas Irfan sama Mbak Maya datang berdua pakai baju batik couple. Serasi banget! Anaknya juga ganteng, pinter lagi."
Batik couple?
Karina merasa kepalanya berputar hebat.
Bulan lalu, ia membelikan kemeja batik mahal untuk Irfan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka. Ia membelinya dari uang arisan yang ia tabung berbulan-bulan. Tapi selang beberapa hari, Irfan bilang kemeja batiknya hilang di laundry. Irfan bahkan memarahi Karina karena dianggap memilih tempat laundry yang sembarangan.
Ternyata... batiknya tidak hilang. Batiknya dipakai untuk kembaran dengan wanita sundal ini ke sekolah anak haramnya!
Karina tak sanggup lagi mendengarkan. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. "Makasih infonya, Bu..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Ibu berhijab itu mengangguk dan berlalu pergi, tak menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan dunia seorang istri.
Di seberang sana, interaksi keluarga palsu itu masih berlanjut.
Karina menatap layar ponselnya yang masih merekam. Ia melihat Maya mengambil saputangan dari dalam tasnya, lalu dengan telaten mengelap keringat di dahi Irfan.
"Kamu capek banget ya, Mas? Tuh keringetan begini," ucap Maya dengan nada khawatir yang dibuat-buat.
"Nggak capek kalau lihat kamu sama Rafa," goda Irfan, mencubit hidung Maya dengan gemas.
Maya tertawa tersipu. Tawanya begitu renyah. Begitu bahagia. Di atas penderitaan Karina yang bahkan kini harus menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke aspal.
Karina tidak tahan lagi. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Kepalanya terasa mau meledak. Ia ingin membuktikan seberapa busuk suaminya hari ini.
Dengan tangan yang masih merekam menggunakan ponsel kanannya, Karina mengambil ponsel satu lagi dari dalam tasnya. Ponsel khusus untuk bekerja. Ia mencari nomor Irfan di kontak darurat, lalu menekan tombol panggil.
Ia menatap lurus ke arah suaminya di seberang jalan.
Di sana, ia melihat Irfan tiba-tiba berhenti tertawa. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang bergetar.
Irfan menatap layar ponselnya. Wajahnya berubah sedikit kaku.
"Siapa, Mas?" tanya Maya penasaran, mencoba mengintip layar ponsel Irfan.
Karina menahan napas. Ia menatap suaminya. Ayo angkat, Mas. Angkat dan jelaskan padaku apa yang sedang kamu lakukan.
Namun, apa yang dilakukan Irfan detik berikutnya membuat Karina benar-benar mati rasa.
Irfan tersenyum tipis pada Maya, lalu dengan santai menekan tombol reject di layar ponselnya.
"Orang kantor, Yang. Orang marketing nawarin asuransi kayaknya. Biarin aja, ganggu waktu kita aja." Irfan berbohong dengan sangat fasih. Sangat lancar. Tanpa jeda, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Di telinga Karina, suara operator terdengar monoton.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi."
Irfan menolak panggilannya. Suami yang berjanji di depan penghulu tujuh tahun lalu untuk menjaganya seumur hidup, baru saja menolak teleponnya dan menyebutnya 'orang marketing' di depan selingkuhannya.
Air mata Karina jatuh berderai, membasahi masker yang ia pakai. Ia menggigit jari telunjuknya kuat-kuat hingga berdarah, berusaha agar isakannya tidak meledak menjadi teriakan histeris.
Kamu iblis, Mas. Kamu benar-benar iblis.
Tiba-tiba, seorang guru wanita berseragam PNS keluar dari gerbang dan menghampiri mobil Irfan.
"Bapak Irfan! Ibu Maya! Sebentar, Pak, Bu!" panggil guru itu.
Irfan dan Maya menoleh serempak. "Eh, iya, Bu Guru. Ada apa ya?" sapa Irfan sangat sopan.
"Ini, Pak. Saya mau kasih surat edaran untuk study tour kelas satu bulan depan. Formulirnya harus ditandatangani oleh kedua orang tua, ya. Sama rincian biayanya ada di lembar kedua." Guru itu menyodorkan sebuah map plastik.
Irfan menerima map itu dengan senyum kebapakan yang memuakkan. "Oh, siap, Bu Guru. Biayanya berapa ya kalau boleh tahu?"
"Satu setengah juta, Pak. Nanti transfer ke rekening sekolah saja."
"Baik, Bu. Malam ini langsung saya transfer ya. Tolong dijaga Rafa-nya selama study tour nanti ya, Bu." Irfan merogoh dompetnya, bahkan sempat-sempatnya memberikan selembar uang seratus ribuan kepada guru tersebut. "Ini buat beli minum, Bu. Terima kasih sudah mengajar jagoan saya."
Guru itu tersenyum lebar. "Wah, makasih banyak, Pak Irfan. Rafa beruntung sekali punya Papa yang sangat perhatian. Mari, Pak, Bu."
Karina mendengus getir di balik air matanya. Satu setengah juta. Malam ini langsung ditransfer.
Padahal semalam, saat Karina meminta uang lima ratus ribu untuk membayar imunisasi Sasa, Irfan beralasan uang bulanannya sudah menipis dan menyuruh Karina memakai uang tabungan Karina sendiri.
Bajingan. Umpat Karina dalam hati. Seluruh urat nadinya berdenyut penuh kebencian.
Rasa cinta yang selama tujuh tahun ia bangun dengan susah payah, hancur lebur tak bersisa di siang yang terik ini. Digantikan oleh rasa jijik yang membuat perutnya kembali bergejolak hebat.
"Ayo masuk, Mas. Rafa udah kepanasan di dalam," ajak Maya sambil merangkul lengan Irfan dengan manja.
Mereka berdua berjalan mengitari mobil. Saat hampir mendekati pintu kemudi, langkah Irfan tiba-tiba berhenti. Ia membalikkan badan, menghadap Maya sepenuhnya.
Karina menajamkan fokus rekaman kameranya. Jantungnya berdebar liar. Apa yang akan dia lakukan?
Irfan menatap wajah Maya dengan tatapan yang sangat dalam. Tatapan penuh damba yang dulu hanya milik Karina. Tangan kanan Irfan terangkat, melingkar di pinggang ramping Maya, menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya.
Di depan gerbang sekolah, di bawah terik matahari, di saksikan oleh beberapa orang tua murid yang masih lalu lalang...
Irfan menundukkan kepalanya, lalu mendaratkan sebuah kecupan panjang di kening Maya.
Sebuah ciuman yang sangat lembut. Sangat penuh cinta. Sangat mengklaim bahwa wanita itu adalah miliknya seutuhnya.
"Terima kasih ya sudah kasih aku anak yang sepintar Rafa," bisik Irfan pelan, tapi gerak bibirnya bisa dibaca dengan jelas oleh Karina.
Maya tersenyum malu-malu, menepuk dada Irfan pelan. "Udah ah, Mas. Malu dilihatin orang."
Mereka berdua lalu tertawa bersama, masuk ke dalam mobil, dan tak lama kemudian CR-V hitam itu melaju membelah jalanan, meninggalkan kepulan asap tipis.
Meninggalkan Karina yang kini berdiri mematung. Hancur. Remuk redam.
Ponsel di tangannya merosot jatuh ke aspal. Kaki Karina tak lagi mampu menopang berat badannya. Ia jatuh terduduk di aspal jalan yang panas, bersembunyi di balik gerobak es doger.
Rasa mual yang sejak tadi ditahannya akhirnya tak terbendung lagi.
Karina memuntahkan seluruh isi perutnya di pinggir jalan. Ia muntah bukan karena sakit, tapi karena jijik. Sangat jijik menyadari bahwa tubuh suaminya yang memeluknya semalam, mulut yang menciumnya tadi pagi, adalah tubuh dan mulut yang sama yang dinikmati oleh wanita lain.
Suaminya bukan hanya berselingkuh.
Suaminya telah membangun hidup yang baru, keluarga yang baru, dan anak yang memanggilnya 'Papa'.
Saat Karina mengusap bibirnya yang gemetar, matanya menatap tajam ke arah hilangnya mobil Irfan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sorot mata yang menyala penuh dendam.
Hari ini, Irfan telah membangunkan iblis di dalam diri seorang istri yang terluka.
Kamu pikir kamu bisa bahagia di atas penderitaanku dan anakku, Mas? desis Karina dalam hati. Tinjunya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.
Tiba-tiba, layar ponsel Karina yang tergeletak di aspal menyala. Ada satu pesan masuk dari Irfan.
[Mas: Sayang, aku meeting dulu ya. Nanti malam aku pulangnya agak telat. Mau mampir cari mainan buat Sasa. Love you.]
Karina tertawa pelan. Tawanya terdengar sumbang dan mengerikan.
Mainan buat Sasa? Atau merayakan nilai seratus untuk anak harammu, Mas?
Mata Karina menyipit, menyimpan senyum seringai yang menakutkan.
Baiklah, Mas Irfan. Mari kita bermain.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar