Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar, namun tak sedikit pun mampu menghangatkan hati Karina yang sudah membeku.

Irfan berdiri di depan cermin, menyemprotkan parfum merek ternama ke pergelangan tangan dan lehernya. Aroma maskulin yang elegan menguar memenuhi ruangan. Pria itu bersiul kecil, mematut dirinya yang mengenakan kemeja biru dongker pas badan dan celana bahan yang disetrika rapi oleh Karina subuh tadi.

"Sayang, dasi aku yang garis-garis merah mana ya?" tanya Irfan santai, seolah pertengkaran hebat yang menghancurkan piring tadi malam tidak pernah terjadi.

Karina yang sedang melipat selimut di atas kasur, tidak menoleh. Gerakannya mekanis. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

"Di laci kedua sebelah kiri, Mas," jawab Karina singkat.

Irfan membuka laci yang disebutkan, menemukan dasinya, lalu melingkarkannya ke kerah kemejanya. Ia menatap Karina dari pantulan cermin. Ada sedikit raut bersalah yang ia buat-buat di wajahnya.

"Dek, masih marah soal semalam?" Irfan membalikkan badan, berjalan mendekati Karina. Ia mencoba meraih tangan istrinya, namun Karina dengan halus memindahkan bantal, menghindari sentuhan itu.

"Nggak," jawab Karina pendek.

"Masih marah pasti." Irfan menghela napas panjang, memasang wajah melas andalannya. "Maafin Mas ya. Semalam Mas bener-bener pusing, tekanan dari Pak Surya gila-gilaan. Ditambah kamu nuduh yang aneh-aneh soal transferan proyek itu, Mas jadi kepancing emosinya. Piring yang pecah udah kamu sapu? Nanti pulang kerja Mas beliin piring set yang baru yang lebih bagus, ya?"

Piring set yang baru? Karina menjerit dalam hati. Kamu pikir menghancurkan hati istrimu bisa diganti dengan piring set, Mas?!

Namun Karina menahan diri. Ia memaksa seulas senyum tipis di bibirnya. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Udah aku bersihin, Mas. Nggak apa-apa. Aku ngerti kamu capek. Lain kali aku nggak akan nanya-nanya urusan kantor lagi," ucap Karina dengan nada yang dibuat selembut mungkin.

Irfan tampak lega luar biasa. Senyum kemenangannya kembali merekah. Pria itu mengelus puncak kepala Karina dengan sayang. "Nah, gitu dong. Ini baru istri Mas yang paling pengertian. Ya udah, Mas jalan sekarang ya. Hari ini ada tender penting sama dinas, doain gol biar komisi cair."

"Iya, Mas. Hati-hati."

Irfan mencium kening Karina—ciuman yang kini terasa seperti racun mematikan—lalu melangkah keluar kamar. Tak lama, terdengar suara mesin CR-V dihidupkan, dan mobil itu pun melaju meninggalkan pekarangan rumah.

Begitu deru mobil itu hilang dari pendengaran, topeng Karina luruh sepenuhnya.

Matanya menyala tajam. Dadanya bergemuruh hebat. Tendernya gol? Komisi cair? Omong kosong macam apa lagi yang pria itu karang hari ini?

Karina segera bergegas menuju lemari pakaiannya. Hari ini, ia tidak akan memakai daster kusam atau kaus oblong pudar. Ia mengeluarkan sebuah tunik berwarna maroon berbahan sutra yang dibelinya saat awal pernikahan dulu, dipadukan dengan celana kulot hitam yang elegan. Ia duduk di depan meja rias, memulaskan alas bedak untuk menutupi mata pandanya, dan mengoleskan lipstik merah bata di bibirnya yang pucat.

Ia menatap bayangannya sendiri di cermin.

Istri yang hancur itu masih ada di sana, tapi hari ini, ia akan menjelma menjadi mimpi buruk bagi wanita yang telah merebut suaminya.

"Sasa, ayo sayang, Mama antar ke sekolah sekarang!" panggil Karina.

Setelah menitipkan Sasa di TK dan memastikan putrinya aman bersama para guru, Karina memesan taksi online. Tujuannya hanya satu.

Jalan Sudirman Kavling 45. Apartemen Emerald Tower.

Sepanjang perjalanan di dalam taksi online, jantung Karina terus berdetak tak karuan. Ia meremas tali tas tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin sesekali merembes di pelipisnya.

Ia akan mendatangi sarang ular itu. Ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri, seperti apa istana yang dibangun suaminya untuk wanita lain.

"Maaf, Ibu. Tujuannya bener ke Emerald Tower ya?" tanya sopir taksi online memecah keheningan.

Karina tersentak dari lamunannya. "Iya, Pak. Bener."

Sopir itu melirik dari kaca spion tengah sambil tersenyum kagum. "Wah, apartemen sultan itu, Bu. Orang biasa mah boro-boro bisa masuk ke sana, parkirnya aja mahal minta ampun. Ibu tinggal di sana atau mau ketemu kerabat?"

Pertanyaan sederhana itu bagaikan jarum yang menusuk tepat di ulu hati Karina.

Apartemen sultan.

"Ketemu... kerabat, Pak," jawab Karina pelan, menelan ludah yang terasa sepahit empedu.

Kerabat? Ya, suaminya sendiri yang membiayai kemewahan di balik gedung pencakar langit itu, sementara Karina di rumah harus menakar sabun cuci piring agar cukup sampai akhir bulan.

Empat puluh menit kemudian, taksi berhenti di lobi sebuah gedung yang menjulang megah menantang langit Jakarta. Kaca-kacanya berkilau tertimpa sinar matahari. Pilar-pilar marmer besar menyambut siapa saja yang datang.

Karina turun dari taksi. Kakinya sempat gemetar saat menginjak pelataran lobi yang dilapisi granit mahal. Udara sejuk dari AC sentral langsung menerpa wajahnya.

Ia melangkah masuk. Interior lobi itu sangat mewah, dihiasi lampu gantung kristal raksasa dan sofa-sofa kulit premium. Beberapa orang asing berjas rapi berlalu-lalang, dan ibu-ibu sosialita menenteng tas Hermes berjalan sambil tertawa bersama anjing pudel mereka.

Dada Karina terasa sesak. Kontrasnya kehidupan ini dengan kehidupan rumah tangganya sangat menyayat hati. Ia ingat, bulan lalu atap dapur rumahnya bocor. Irfan beralasan tidak punya uang untuk membeli genteng baru dan menyuruh Karina menampung air hujan dengan ember.

Sementara di sini... di gedung miliaran rupiah ini... suaminya menjadi 'raja' bagi keluarga yang lain.

Karina menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan membusungkan dadanya. Ia tidak boleh terlihat seperti orang miskin yang kebingungan. Ia istri sah. Ia berhak berada di sini lebih dari pelacur itu.

Ia berjalan dengan langkah mantap melewati meja resepsionis. Kebetulan, seorang kurir paket yang membawa troli besar sedang menuju ke arah deretan lift khusus penghuni. Karina mempercepat langkahnya, menempel ketat di belakang kurir itu.

Saat kurir itu menempelkan kartu aksesnya ( tap-card ) di sensor pintu kaca menuju lorong lift, pintu terbuka otomatis. Karina dengan cekatan menyelinap masuk bersama troli tersebut sebelum pintu kembali tertutup. Berhasil. Sistem keamanan ketat ini nyatanya bisa ditembus oleh amarah seorang istri.

Ia berdiri di depan deretan lift. Saat pintu lift terbuka, Karina masuk dan menekan angka 18.

Jantungnya kini berdentum sangat keras, nyaris seperti beduk masjid di telinganya sendiri. Setiap kali angka digital di layar lift menunjukkan kenaikan lantai, napas Karina semakin memburu.

15... 16... 17... 18.

Ting.

Pintu lift terbuka. Lorong lantai 18 terbentang di depannya.

Karina melangkah keluar. Kakinya tenggelam di atas karpet tebal berwarna merah marun yang melapisi sepanjang lorong. Sepi. Sunyi. Pencahayaannya temaram dan hangat, menciptakan kesan eksklusif dan privat.

Mata Karina menyisir nomor-nomor yang tertera di pintu kayu jati kokoh setiap unit.

1801... 1802... 1803...

Dan akhirnya, langkah Karina terhenti. Tubuhnya kaku bak patung es.

Di hadapannya kini, berdiri sebuah pintu besar dengan angka emas mengkilap tertempel di tengahnya: 1804.

Ini dia. Sarang perselingkuhan itu. Tempat suaminya membagi cinta, tubuh, dan hartanya.

Tangan kanan Karina terangkat perlahan. Jari-jarinya bergetar hebat di udara. Ia ingin memencet bel. Ia ingin menggedor pintu itu dan berteriak memanggil nama suaminya. Ia ingin menyeret wanita bernama Maya itu keluar dan menjambak rambutnya hingga rontok.

Tapi keraguan tiba-tiba menyelinap. Jika ia melabrak sekarang tanpa persiapan, jika Maya berteriak memanggil sekuriti, Karina bisa diseret keluar dengan tuduhan masuk tanpa izin. Ia tidak punya bukti kuat selain foto kuitansi di ponselnya.

Karina menurunkan tangannya. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya yang putus-putus. Air matanya nyaris menetes, namun ia dengan cepat mendongak, menahan cairan bening itu agar tidak merusak makeup-nya.

"Nggak... aku harus lihat wajahnya. Aku harus tahu perempuan seperti apa yang membuat Mas Irfan tega mengkhianatiku," bisiknya pada diri sendiri.

Karina kembali mengangkat tangannya, mengepalkan tinjunya, bersiap untuk mengetuk pintu dengan keras.

Namun, sebelum buku-buku jarinya menyentuh permukaan kayu...

Ceklek.

Terdengar suara kenop pintu diputar dari dalam. Kunci otomatis terbuka.

Karina tersentak mundur satu langkah. Jantungnya seakan melompat keluar dari kerongkongannya. Napasnya tertahan seketika.

Pintu kayu jati itu perlahan terbuka ke dalam, mengeluarkan hembusan udara dingin dari AC ruangan yang membawa aroma floral manis—aroma parfum yang sama persis dengan yang menempel di baju Irfan semalam.

Karina mematung. Matanya melebar, bersiap menghadapi sosok pelakor yang akan muncul dari balik pintu itu.

Namun, yang berdiri di ambang pintu bukanlah seorang wanita cantik bergaun mewah.

Yang berdiri di sana... adalah seorang anak laki-laki.

Anak itu mengenakan kemeja seragam sekolah dasar berwarna putih dan celana merah. Tas ransel bergambar Spiderman tersampir di bahu kanannya. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah kotak bekal berwarna biru.

Karina membeku. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis.

Itu dia. Anak dari gerobak es doger kemarin siang. Anak yang melompat ke pelukan suaminya.

Rafa.

Anak laki-laki itu mendongak, menatap Karina dengan mata bulatnya yang jernih. Mata yang sama persis dengan mata Sasa. Alis yang tebal menukik tajam, hidung yang mancung, bentuk rahangnya... Tuhan, dari jarak sedekat ini, kemiripan anak itu dengan Irfan benar-benar tidak bisa dibantah lagi.

Bagaikan melihat Irfan dalam versi miniatur. Rasa ngilu yang luar biasa tajam menghujam dada Karina hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan.

Rafa mengerjap-ngerjapkan matanya yang polos. Ia memandang Karina dari atas sampai bawah, raut wajahnya menyiratkan kebingungan namun tidak ada ketakutan sama sekali. Anak ini terlihat sangat terawat dan terbiasa berhadapan dengan orang dewasa.

"Tante siapa?" Suara Rafa terdengar nyaring dan jernih, memecah keheningan lorong apartemen. "Tante cari siapa ya?"

Mulut Karina terbuka sedikit, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Tenggorokannya terkunci rapat oleh rasa sakit yang mencekik.

Ia menatap anak haram suaminya itu. Anak yang keberadaannya memakan uang sekolah Sasa. Anak yang kasih sayangnya dicuri dari Sasa. Karina ingin membenci anak ini. Ia sangat ingin meneriakinya.

Tapi saat menatap mata polos itu, Karina sadar, anak ini tidak tahu apa-apa. Anak ini juga korban dari kebohongan luar biasa yang diciptakan oleh ayahnya sendiri.

"Rafa, Sayang? Kok diam aja di pintu? Tas bekalnya udah masuk belum?"

Sebuah suara lembut nan manja terdengar dari dalam apartemen. Suara wanita yang kemarin Karina dengar memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas'.

Mendengar suara itu, darah Karina yang tadinya membeku kini mendidih hebat. Kepalanya terasa mau meledak. Tangannya otomatis mengepal kuat di sisi tubuhnya.

Dari balik tubuh mungil Rafa, perlahan muncul sosok wanita itu.

Maya.

Wanita itu melangkah mendekati pintu sambil mengikat rambut panjang bergelombangnya ke atas dengan asal, namun tetap terlihat anggun. Ia mengenakan slip dress sutra berwarna champagne yang jatuh pas memeluk lekuk tubuhnya yang langsing, dilapisi cardigan rajut tipis yang dibiarkan melorot di salah satu bahunya. Penampilannya sangat elegan, wangi, dan... mahal.

Maya menunduk menatap Rafa dengan senyum keibuan. "Siapa, Sayang? Kurir paket ya? Kok pintunya nggak ditutup la—"

Kalimat Maya terpotong di udara.

Matanya akhirnya beralih menatap ke depan, melewati tubuh Rafa, dan bertabrakan langsung dengan tatapan Karina.

Senyum di bibir Maya lenyap seketika bagai ditiup angin badai.

Langkah wanita itu terhenti secara mendadak. Tubuhnya menegang kaku. Mata cantiknya membelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu pencabut nyawa berdiri di depan pintunya.

Dunia seakan berhenti berputar selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Dua wanita itu saling menatap tajam di ambang pintu, diantarai oleh seorang anak kecil yang tak berdosa.

Wajah Maya yang tadinya merona kemerahan, kini berubah pucat pasi, sepucat kapas. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya tertahan. Ia tampak sangat shock, terkejut luar biasa hingga tubuhnya mulai gemetar samar.

Karina menatap lekat-lekat wanita itu. Tatapannya dingin, menusuk, dan penuh dengan aura intimidasi yang belum pernah ia keluarkan seumur hidupnya.

"Kamu..." Karina membuka suara. Suaranya rendah, serak, namun bergema di lorong yang sunyi itu dengan ancaman yang sangat pekat. "...terkejut melihatku?"

Maya menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak gelisah, menatap Karina lalu melirik sekilas ke arah lorong apartemen, seolah mencari jalan keluar dari mimpi buruk ini. Tangannya yang tadinya memegang kenop pintu kini mencengkeramnya dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.

"A-anda..." Suara Maya bergetar parah. "Anda... siapa?"

Karina tersenyum miring. Senyum yang sangat mengerikan dan penuh penderitaan. Ia mengambil satu langkah maju, memaksa Maya untuk mundur sedikit.

"Siapa aku?" ulang Karina sinis. Ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku Karina. Istri sah dari laki-laki yang semalam tidur di ranjangmu. Istri dari pria yang kamu sebut 'suamiku sayang' di chat malam-malam."

Mendengar rentetan kalimat itu, kaki Maya seolah kehilangan tulang. Ia mundur satu langkah lagi, tubuhnya nyaris limbung dan membentur meja konsol di dekat pintu masuk. Matanya memancarkan ketakutan yang teramat sangat.

"M-mbak Karin..." desis Maya nyaris tak terdengar. Ia rupanya tahu nama itu. Tentu saja dia tahu.

"Mama kenal sama Tante ini?" Rafa yang sedari tadi bingung melihat ketegangan dua orang dewasa di atasnya, akhirnya angkat bicara sambil menarik-narik cardigan ibunya. "Tante ini teman Mama ya?"

Maya buru-buru menarik Rafa ke belakang tubuhnya, menyembunyikan anak itu dari pandangan Karina seolah Karina adalah monster yang akan menerkamnya.

"Mbak... kita... kita bisa bicara di luar," bisik Maya panik, suaranya sangat lirih, menjaga agar tak terdengar jelas oleh anaknya. Ia setengah memohon. "Tolong, Mbak. Jangan di sini. Jangan di depan Rafa."

"Jangan di sini?" Karina tertawa sumbang, tawanya menggema di lorong apartemen. "Kenapa? Kamu takut anakmu tahu kalau ibunya adalah pelakor? Kamu takut anakmu tahu kalau laki-laki yang dia panggil Papa adalah suami orang yang mencuri uang sekolah anak perempuanku demi membiayai hidup mewah kalian?!"

"Mbak Karin, aku mohon... pelankan suara Mbak..." Maya mulai terisak ketakutan. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia melirik ke dalam apartemen dengan panik.

Karina tidak peduli. Emosinya sudah meledak. Penderitaan bertahun-tahun yang ia rasakan akhirnya menemukan sasaran tembaknya.

"Pelankan suaraku?!" bentak Karina keras. Ia maju satu langkah lagi, kini ujung sepatunya sudah melewati ambang pintu apartemen. "KAMU YANG MENGHANCURKAN RUMAH TANGGAKU! Kamu yang merampok hak anakku! Dan sekarang kamu menyuruhku memelankan suaraku di depan pintu hasil uang haram suamiku?!"

Rafa yang bersembunyi di balik kaki ibunya mulai ketakutan melihat Karina yang mengamuk. Anak itu memeluk kaki Maya erat-erat. "Mama... Tante itu kenapa marah-marah..."

Karina menatap Maya dengan rahang mengeras. Tangannya terangkat, jari telunjuknya menuding tepat ke depan wajah Maya yang kini menunduk menangis.

"Suruh laki-laki pengecut itu keluar," desis Karina tajam, tiap kata diucapkannya dengan penuh penekanan. "Suruh Irfan keluar sekarang juga! Aku tahu dia sering ke sini! Aku punya semua bukti mutasi rekeningnya, kuitansi apartemen ini, dan pesan menjijikkan kalian berdua!"

Maya menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tangisnya pecah. "Mbak... tolong Mbak... jangan sekarang... Mbak salah paham... aku... aku bukan..."

"Bukan apa?! BUKAN PELAKOR?!" teriak Karina histeris. Ia nyaris menerjang maju untuk menjambak rambut wanita itu, saat tiba-tiba...

Sebuah suara bariton yang berat dan sangat familiar terdengar menggema dari arah dalam apartemen. Dari arah kamar utama.

Suara yang membuat darah di sekujur tubuh Karina berhenti mengalir seketika.

"Yang? Kok lama banget di depan? Itu paketnya COD ya? Minta uangnya di dompet aku aja di atas meja TV."

Suara Irfan.

Istri mana pun tidak akan pernah salah mengenali suara suaminya.

Karina membeku. Matanya melebar sempurna menatap ke dalam lorong apartemen yang terang benderang itu.

Irfan ada di dalam.

Suami yang subuh tadi meminta dipasangkan dasi kepadanya. Suami yang berpamitan dengan penuh senyum mengatakan akan pergi meeting tender penting dengan dinas pemerintahan. Suami yang berjanji akan membelikannya piring baru pulang kerja nanti.

Ternyata... dia tidak pernah pergi ke kantor.

Begitu mobil CR-V hitam itu keluar dari pekarangan rumah, pria itu langsung meluncur ke sini. Ke pelukan wanita ini. Di jam kerja.

"Papa!"

Sebelum Maya sempat membungkam mulut anaknya, Rafa sudah lebih dulu berteriak nyaring memanggil ke arah dalam apartemen.

"Papa! Sini Pa! Ada Tante cantik marah-marah nangisin Mama di depan pintu!" teriak Rafa memanggil ayahnya.

Wajah Maya berubah menjadi seputih kertas. Ia memejamkan matanya, seakan bersiap menerima kiamat yang baru saja tiba.

Dari arah ruang tengah apartemen, terdengar suara derap langkah kaki kaki pria yang berjalan tergesa-gesa mendekat.

"Marah-marah? Siapa yang berani marah-marah sama Mama—"

Langkah kaki itu tiba-tiba terhenti secara mendadak.

Tepat di ujung lorong apartemen, Irfan berdiri kaku. Pria itu masih mengenakan kemeja biru dongker dan dasi garis merah yang dipakaikan Karina tadi pagi. Namun, kemeja itu kini sudah keluar dari celananya, dan dua kancing teratasnya terbuka lebar.

Mata Irfan bertabrakan langsung dengan mata Karina yang berdiri di ambang pintu.

Tidak ada lagi senyum manipulatif. Tidak ada lagi alibi bos galak. Tidak ada lagi meeting palsu.

Di apartemen lantai 18 ini, sang suami teladan akhirnya tertangkap basah dalam kebohongannya yang paling telanjang.