Air dari shower mengguyur tubuh Karina dengan deras, tapi tak sedikit pun mampu melunturkan rasa jijik yang menempel di kulitnya.

Ia menggosok lehernya dengan sabun berkali-kali. Menggosok lengannya. Menggosok bahunya. Terus menggosok hingga kulitnya memerah dan terasa perih. Ia merasa kotor. Sangat kotor.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan bibir Irfan yang mengecup kening wanita bernama Maya itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Tangan yang mengelus rambut wanita itu, adalah tangan yang sama yang menyuapkan makanan ke mulut Karina tadi malam.

"Pembohong... bajingan..." desis Karina di sela gemeretak giginya.

Air matanya ikut luruh bersama aliran air shower, menyamarkan tangisnya yang tertahan. Dadanya sesak. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Ia ingin membanting seluruh barang di rumah ini. Ia ingin menelepon ibunya dan menangis mengadu.

Tapi ia tidak bisa. Belum bisa.

Karina mematikan keran air. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berembun. Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak, dan tatapannya kosong.

"Kamu nggak boleh lemah, Karin," bisiknya pada bayangannya sendiri. Tangannya yang gemetar menyentuh cermin. "Kalau kamu hancur sekarang, dia yang menang. Pelacur itu yang menang. Kamu harus kumpulkan bukti. Bikin dia hancur pelan-pelan."

Karina menarik napas panjang, menelan kembali bongkahan batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Ia harus memakai topengnya malam ini. Topeng seorang istri bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Pukul setengah sembilan malam.

Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar memasuki pelataran rumah. Disusul suara gerbang besi yang ditutup.

Jantung Karina langsung berdegup kencang. Tangannya yang sedang melipat baju Sasa di ruang tengah mendadak dingin. Itu dia. Sang kepala keluarga palsu sudah pulang.

Pintu depan terbuka. Sosok Irfan melangkah masuk, membuang napas panjang seolah ia memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Ia melepas sepatu pantofelnya dengan gerakan gontai. Kemeja birunyaβ€”kemeja yang ia pakai saat mencium Maya siang tadiβ€”sudah dilipat lengannya hingga siku. Dasi yang tadi pagi melingkar rapi, kini sudah longgar.

Sempurna. Akting seorang suami pekerja keras yang kelelahan.

"Papa pulang!" seru Irfan dengan suara serak.

Sasa, putri kecil mereka yang baru berusia lima tahun, berlari kegirangan dari arah kamar. "Paaaapaaa!"

Irfan berlutut, merentangkan tangannya lebar-lebar, dan menangkap tubuh mungil Sasa. Ia memeluk Sasa erat, mengangkatnya dan memutar tubuh anak itu hingga Sasa tertawa kegirangan.

Pemandangan yang seharusnya menghangatkan hati Karina, kini justru membuat perutnya mual bukan main. Bayangan Irfan melakukan hal yang persis sama kepada Rafa siang tadi menampar batin Karina.

Apakah pelukan itu terasa sama untuk anak harammu, Mas? batin Karina, mencengkeram kuat kaus Sasa yang sedang dilipatnya.

"Papa bawa mainan buat Sasa nggak?" tagih gadis kecil itu dengan mata berbinar polos.

Irfan tersenyum lebar. Ia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. "Tentu dong! Nih, Papa beliin puzzle Princess Elsa buat anak Papa yang paling cantik."

Sasa bersorak girang menerima kotak puzzle murahan yang biasanya dijual di minimarket seharga tiga puluh ribu rupiah.

Karina menatap nanar. Tiga puluh ribu untuk putri kandungnya sendiri. Tapi untuk study tour anak dari pelacurnya, pria ini tanpa ragu merogoh satu setengah juta rupiah tunai siang tadi, ditambah uang tip untuk gurunya.

"Sayang?" tegur Irfan.

Karina tersentak. Irfan sudah berdiri di depannya. Pria itu menatap Karina dengan dahi berkerut, seolah heran melihat istrinya hanya mematung tanpa menyambutnya seperti biasa.

"Eh, Mas. Udah pulang?" Karina memaksa sudut bibirnya naik. Ia berdiri, mengambil tangan kanan Irfan, lalu mencium punggung tangannya. Persis seperti yang dilakukan Maya.

Demi Tuhan, Karina menahan napas saat hidungnya menyentuh kulit tangan itu. Ia bisa mencium aroma parfum wanita lain samar-samar menempel di kerah kemeja suaminya. Aroma floral yang manis dan mahal. Bukan aroma pewangi pakaian murahan yang selalu Karina pakai.

"Kamu sakit, Dek? Kok pucat banget?" Irfan menyentuh dahi Karina dengan punggung tangannya. Wajahnya menyorotkan kekhawatiran yang terlihat begitu nyata.

Karina mundur selangkah, menghindari sentuhan itu secara halus dengan dalih mengambil tas kerja Irfan.

"Nggak apa-apa, Mas. Cuma agak pusing dikit tadi siang, gara-gara belum makan. Mas mandi gih, air hangatnya udah aku siapin. Habis itu kita makan, ya. Aku panasin dulu udang saus padangnya."

Irfan tersenyum lembut. Ia mengusap rambut Karina. "Makasih ya, Istriku. Maaf aku pulangnya telat banget. Tadi di kantor bener-bener gila hectic-nya. Pak Surya marah-marah gara-gara laporan sales bulan ini turun. Aku sampai nggak sempat napas."

Karina menghentikan langkahnya menuju dapur. Ia membelakangi Irfan, matanya terpejam menahan amarah yang nyaris meledak.

Laporan sales? Nggak sempat napas?

"Oh ya?" pancing Karina tanpa menoleh. Nada suaranya diusahakan setenang air danau. "Terus tadi siang makan di mana, Mas? Kamu kan punya maghrib, jangan sampai telat makan lho."

"Ah, itu." Terdengar suara Irfan membuka kancing kemejanya santai. "Tadi siang aku go-food nasi padang aja, Dek. Makan di meja kerja sambil ngerevisi materi presentasi. Makanya aku minta maaf tadi siang telepon kamu nggak keangkat. Lagi dipanggil bos ke ruangannya."

Bohong. Bohong. Bohong.

Karina memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap lurus tepat di manik mata suaminya.

"Nasi padang? Sama Pak Surya?" tanya Karina tajam.

"Iya, Sayang. Lauk ayam pop, kesukaan aku." Irfan membalas tatapan Karina tanpa berkedip. Tidak ada keraguan. Tidak ada salah tingkah. Sorot matanya lurus, stabil, dan penuh keyakinan.

Karina bergidik ngeri.

Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa berbohong semulus itu? Irfan menatap langsung ke mata istrinya dan merangkai cerita palsu tanpa satu pun otot wajah yang berkedut gugup. Pembohong kelas kakap. Psikopat.

"Ya udah, mandi sana," ucap Karina singkat, berbalik kembali menuju dapur sebelum pertahanannya runtuh dan ia melempar panci ke wajah pria itu.

Di meja makan, suasana terasa mencekam. Setidaknya bagi Karina.

Irfan makan dengan sangat lahap. Ia menambah nasi dua kali, memuji masakan Karina setinggi langit seperti biasa.

"Udang buatan kamu memang nggak ada lawan, Dek. Kalau disuruh milih makan di restoran bintang lima atau masakan kamu, aku pasti milih masakan istri aku," rayu Irfan dengan mulut penuh.

Karina yang duduk di seberangnya hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa selera. Kata-kata manis Irfan yang dulu selalu membuatnya melayang, kini terdengar seperti suara lalat bangkai di telinganya.

"Mas..." panggil Karina pelan.

"Hm?" Irfan menoleh dengan pipi menggembung.

"Sasa bulan depan harus bayar daftar ulang TK. Sama uang seragamnya mulai sempit. Aku butuh sekitar satu juta. Ada uangnya?"

Karina sengaja mengetes. Ia tahu betul uang satu setengah juta melayang dengan mudah dari dompet Irfan siang tadi.

Gerakan mengunyah Irfan melambat. Ia meletakkan sendoknya, lalu meminum air putih di gelasnya cukup panjang. Sebuah gesture mengulur waktu.

"Aduh, Dek..." Irfan menghela napas berat, memasang wajah melas yang sangat meyakinkan. "Bulan ini pengeluaran kantor lagi macet. Reimburse bensin sama entertain klien aku belum cair dari finance. Tabungan kita kan kemarin habis buat bayar pajak motor. Kamu talangin dulu pakai uang arisan kamu, bisa nggak? Janji deh, bulan depan pas bonus turun, Mas ganti dua kali lipat."

Tangan Karina di bawah meja mengepal kuat hingga kukunya melukai telapak tangan.

Kamu talangin dulu.

Itulah mantra andalan Irfan setiap kali Karina meminta uang untuk kebutuhan Sasa atau rumah. Uang arisan Karina, uang hasil jerih payahnya berjualan kue online, selalu habis tersedot untuk menutupi kekurangan rumah tangga. Irfan selalu beralasan gajinya habis untuk cicilan rumah, mobil, dan biaya operasional kerjanya.

Dan selama ini, dengan bodohnya Karina percaya. Ia rela menahan lapar, rela tidak membeli skincare berbulan-bulan, demi membantu perekonomian suami yang katanya sedang berjuang.

Namun kenyataannya, suaminya 'berjuang' untuk membiayai apartemen mewah dan gaya hidup istri barunya.

"Uang arisanku udah habis, Mas," jawab Karina dingin. "Kemarin buat beli susu Sasa sama bayar listrik."

Wajah Irfan sedikit menegang. "Lho, kok cepat banget habisnya? Kamu ini harus belajar hemat dong, Dek. Jangan boros-boros. Kita kan lagi banyak kebutuhan. Masa uang segitu aja cepat habisnya?"

Boros? Dia bilang aku boros?

Darah Karina mendidih hingga ke ubun-ubun. Dia yang memakai daster bolong di bagian ketiaknya karena tak tega membeli baju baru, dituduh boros oleh pria yang baru saja menyawer guru sekolah dasar dengan lembaran uang merah?

"Aku nggak boros, Mas," desis Karina. Suaranya mulai bergetar. "Aku catat semua pengeluaran. Seribu perak pun aku catat. Kamu mau lihat bukunya?"

Melihat mata Karina yang menajam dan suaranya yang berubah sinis, Irfan buru-buru mengubah taktik. Ia tersenyum menenangkan, lalu mengulurkan tangannya dari seberang meja untuk menggenggam tangan Karina.

Karina menarik tangannya cepat-cepat sebelum disentuh.

Irfan terlihat terkejut, tapi dengan cepat menyembunyikannya. "Ya udah, ya udah. Nggak usah emosi gitu dong, Sayang. Besok Mas coba pinjam ke Koperasi kantor ya buat bayar daftar ulang Sasa. Kamu jangan pusing, biar urusan cari uang itu urusan suami. Istri Mas yang cantik ini tugasnya di rumah aja ngurusin Sasa, ya?"

Kalimat manipulatif yang begitu sempurna. Membuat Karina seolah-olah menjadi pihak yang bersalah karena mudah emosi, dan Irfan muncul sebagai pahlawan yang siap berkorban meminjam uang di koperasi.

"Makasih, Mas," jawab Karina singkat, bangkit dari kursi dan membawa piring kotornya ke tempat cuci. Ia harus menjauh sebelum tangannya refleks meraih pisau daging di dekat kompor.

Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit.

Sasa sudah tertidur pulas di kamarnya.

Karina berbaring menyamping di ranjang mereka, memunggungi sisi tempat Irfan biasa tidur. Matanya nyalang menatap gorden jendela yang berbayang. Ia tidak bisa tidur. Otaknya terus berputar menyusun kepingan-kepingan puzzle yang hancur berantakan hari ini.

Terdengar suara kenop pintu kamar mandi diputar. Irfan keluar setelah menggosok gigi, membawa aroma pasta gigi mint yang segar.

Kasur berderit saat Irfan naik ke atasnya.

Karina menahan napas saat merasakan pergerakan di kasur. Tubuh Irfan bergeser mendekatinya. Tangan kekar pria itu tiba-tiba melingkar di pinggang Karina dari belakang. Hembusan napas hangat Irfan menerpa tengkuknya.

"Udah tidur, Dek?" bisik Irfan serak. Nada suaranya rendah, manja, dan sarat akan kode.

Jari-jari Irfan mulai menyusuri perut Karina, bergerak pelan ke atas menuju dadanya. Bibir Irfan mencium pundak Karina yang hanya tertutup daster tipis.

Rasa jijik yang luar biasa hebat menyergap Karina bak gelombang tsunami. Perutnya kembali bergejolak. Sentuhan Irfan kini terasa seperti lumuran kotoran yang menempel di tubuhnya. Ia teringat ciuman pria ini di kening Maya siang tadi.

"Mas, jangan..." Karina menepis tangan Irfan dengan kasar. Ia beringsut maju, menjauhkan tubuhnya.

Irfan terdiam. "Kenapa, Yang? Kamu dari tadi sore kok ketus banget sama Mas? Mas ada salah?"

"Aku capek, Mas. Pusing banget dari siang belum hilang. Besok pagi aku ada pesanan dua puluh kotak bolu kukus yang harus dikerjain subuh-subuh." Karina memberikan alasan yang paling masuk akal tanpa harus menatap wajah suaminya.

Hening sejenak.

"Oh... ya udah. Kamu istirahat aja. Maaf ya Mas ganggu," ucap Irfan akhirnya, menarik tangannya kembali. Nadanya terdengar sedikit kecewa, tapi tidak memaksa.

Irfan lalu membalikkan tubuhnya, memunggungi Karina. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di sebelahnya.

Karina mengintip dari sudut matanya. Dalam keremangan lampu tidur, cahaya dari layar ponsel Irfan memantul jelas di wajah pria itu. Irfan tampak mengetikkan sesuatu dengan cepat, ibu jarinya bergerak lincah. Ada senyum kecilβ€”sangat kecilβ€”yang terukir di sudut bibirnya.

Senyum yang tidak pernah Karina lihat lagi selama bertahun-tahun saat pria itu membalas pesannya.

Setelah beberapa menit, Irfan meletakkan ponselnya kembali di atas nakas dalam posisi tertelungkup. Ia menarik selimut sebatas dada.

"Met tidur, Sayang," gumam Irfan pelan, sebelum tak lama kemudian suara dengkuran halusnya mulai terdengar.

Karina masih terdiam kaku. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Dengkuran Irfan semakin stabil, menandakan pria itu sudah benar-benar masuk ke alam bawah sadar akibat kelelahan (entah kelelahan bekerja atau kelelahan berselingkuh).

Namun, mata Karina masih terbuka lebar. Atensinya sepenuhnya tertuju pada benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di atas nakas di sisi Irfan.

Apa yang dia ketik tadi sebelum tidur?

Rasa penasaran menggerogoti akal sehat Karina. Ia tahu ini berisiko. Irfan sangat protektif terhadap ponselnya. Ponsel itu selalu dikunci dengan password yang diganti secara berkala. Irfan bahkan membawanya ke dalam kamar mandi saat buang air besar dengan alasan 'nonton YouTube biar nggak bosan'.

Tapi malam ini, Irfan terlalu lelah. Atau mungkin terlalu meremehkan Karina.

Perlahan, sangat perlahan hingga nyaris tak bersuara, Karina menyingkap selimutnya. Ia bangkit dari posisinya, bertumpu pada kedua lututnya di atas kasur. Tubuhnya mencondong melewati tubuh Irfan yang tertidur pulas.

Karina menahan napasnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah suaminya. Jika Irfan membuka mata sekarang, Karina tidak akan punya alasan untuk menghindar.

Dengan ujung jari yang bergetar dingin, Karina meraih ponsel Irfan.

Bzzzt.

Tepat saat kulit jari Karina menyentuh ponsel itu, benda tersebut bergetar pendek satu kali. Layarnya menyala, menerangi kamar yang remang.

Karina tersentak mundur, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Ia refleks melirik wajah Irfan. Pria itu menggeliat kecil, menggumamkan sesuatu yang tak jelas, lalu kembali terlelap.

Karina menghela napas lega yang putus-putus. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ia kembali menunduk, menatap layar ponsel Irfan yang kini menyala terang. Ponsel itu memang terkunci, tapi ada satu notifikasi pop-up yang muncul di layar utama. Notifikasi pesan WhatsApp.

Nama kontak yang tertera di sana bukan 'Maya', melainkan: Pak Surya (Bos).

Namun, isi pesan yang muncul di layar bawahnya sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Rentetan kalimat itu membuat darah Karina serasa berhenti mengalir. Kata demi kata yang terpampang di layar itu seolah menampar wajahnya berulang kali.

Pak Surya (Bos) :

"Rafa sudah tidur, Mas. Dia seneng banget hari ini bisa dijemput papanya ke sekolah. Makasih ya udah sempetin waktu. Good night, suamiku sayang."

Suamiku. Sayang.

Napas Karina memburu cepat. Matanya memanas seketika.

Jadi selama ini... setiap kali Irfan tersenyum melihat pesan dari 'Pak Surya', setiap kali Irfan beralasan ada meeting mendadak dengan 'Pak Surya' di akhir pekan, setiap kali Irfan menerima telepon berjam-jam dari 'Pak Surya' di teras depan...

Itu semua adalah wanita jalang itu.

Irfan menggunakan nama bosnya sendiri untuk menyimpan kontak selingkuhannya demi mengelabui Karina. Betapa rapi, betapa busuk, dan betapa liciknya taktik itu.

Karina tidak boleh menangis sekarang. Ia menggigit bibirnya keras-keras hingga mengecap rasa amis darah.

Ia harus bergerak cepat. Layar ponsel Irfan akan mati dalam beberapa detik.

Dengan gerakan panik namun tertahan, Karina merogoh bagian bawah bantalnya sendiri, menarik ponsel miliknya keluar. Ia segera membuka aplikasi kamera.

Tangannya bergetar sangat hebat hingga ponselnya nyaris terlepas.

Fokus, Karin. Fokus! rutuknya dalam hati.

Ia mengarahkan lensa kameranya ke arah layar ponsel Irfan yang menyala. Memastikan fokusnya menangkap jelas nama kontak 'Pak Surya' dan isi pesan menjijikkan di bawahnya. Ia mengecek ulang untuk memastikan flash kameranya dalam keadaan mati.

Cekrek.

Satu foto berhasil diambil dengan mode silent. Gambar itu menyimpan bukti kebohongan pertama yang akhirnya terekam secara nyata. Bukti kuat yang kelak akan Karina gunakan untuk menghancurkan mereka berdua.

Karina baru saja hendak menarik tangannya mundur dan meletakkan kembali ponsel Irfan ke tempat semula.

Namun tiba-tiba...

Tangan besar nan kasar yang sejak tadi terlelap di bawah selimut, bergerak dengan cepat bagai kilat.

Sebelum Karina sempat menarik napas, tangan itu mencengkeram pergelangan tangan Karina yang sedang memegang ponsel dengan sangat kuat. Sangat keras hingga tulang Karina terasa mau patah.

Tubuh Irfan bangkit duduk di atas kasur. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka lebar. Tak ada lagi sisa rasa kantuk di sana. Yang ada hanyalah sorot mata gelap, dingin, dan mematikan.

Di tengah kamar yang remang, wajah Irfan menatap lurus ke arah Karina yang membeku ketakutan.

"Kamu lagi ngapain sama HP aku, Dek?" Suara Irfan rendah. Sangat pelan, namun terdengar lebih menakutkan dari pada teriakan kemarahan.

Cengkeraman Irfan di pergelangan tangan Karina semakin menguat, mengancam untuk meremukkan tulang rawan di sana.

"Mas... a-aku..." Suara Karina tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdetak liar seperti genderang perang.

Irfan melirik ponselnya yang menyala di tangan Karina, lalu kembali menatap tajam ke dalam mata istrinya. Senyum tipis yang mematikan perlahan terbentuk di sudut bibirnya.

"Kamu lihat apa?" bisik Irfan.