Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuh Karina membeku. Lidahnya kelu.
Sasa, anak kecil yang tidak tahu betapa kejamnya dunia orang dewasa, baru saja menancapkan belati paling beracun tepat ke jantung ibunya.
Papa sering ajak Kak Rafa ke taman deket rumah kalau Mama lagi masak.
"Sasa..." Suara Karina nyaris hilang. Ia memegang kedua bahu putrinya dengan tangan yang bergetar hebat. "Sasa bilang apa tadi? Papa ajak Kak Rafa ke taman dekat rumah kita?"
Sasa mengangguk polos. Matanya yang bulat mengerjap lucu. "Iya, Ma. Kak Rafa baik deh. Waktu itu Kak Rafa kasih Sasa permen cokelat yang bungkusnya emas. Terus Papa bilang, Sasa nggak boleh bilang-bilang Mama soalnya nanti Mama marah kalau Sasa makan cokelat banyak-banyak."
Tuhan.
Dada Karina serasa mau meledak.
Bukan karena cokelatnya. Tapi karena kebusukan Irfan yang sudah melampaui batas nalar manusia! Pria itu... pria iblis itu... berani-beraninya membawa anak haramnya ke lingkungan perumahan ini? Bermain di taman yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah saat Karina sedang berkeringat di dapur memasakkan makanan untuknya?!
Irfan bahkan mengajari Sasa berbohong. Memanipulasi anak sekecil ini demi menutupi jejak perselingkuhannya.
"Mama... Mama sakit ya? Kok tangan Mama dingin?" Sasa menyentuh pipi ibunya dengan raut khawatir.
Karina memejamkan mata kuat-kuat. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, namun dengan cepat ia usap. Ia menarik napas panjang, memaksa bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman paling palsu yang pernah ia buat seumur hidupnya.
"Nggak, Sayang. Mama nggak apa-apa," bisik Karina lembut, mengelus rambut putrinya. "Mama cuma kaget. Sasa masuk kamar lagi ya? Bobo. Besok kan Sasa harus sekolah."
"Papa ke mana, Ma?"
"Papa... Papa lagi beli obat buat Mama. Sasa tidur duluan aja, ya."
Setelah menidurkan Sasa dan memastikan anak itu benar-benar terlelap, Karina melangkah keluar kamar. Rumah terasa sangat sepi dan dingin. Pecahan piring dan sisa makanan yang tadi disapu habis oleh amukan Irfan masih berserakan di lantai ruang makan.
Karina mengambil sapu dan pengki. Dengan tatapan kosong dan air mata yang terus menetes dalam diam, ia membersihkan kekacauan itu.
Kamu pikir kamu pintar, Mas? Kamu pikir aku akan diam saja melihat kamu mempermainkan aku dan anakku sejauh ini? batin Karina, meremas gagang sapu hingga buku-buku jarinya memutih.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar membelah kesunyian malam. Sorot lampu kuning menembus kaca jendela depan, disusul suara pagar besi yang dibuka dengan kasar.
Karina yang sedang duduk dalam gelap di sofa ruang tamu menahan napas. Ia tidak menyalakan lampu.
Pintu depan terbuka. Langkah kaki berat terdengar memasuki rumah. Aroma tajam asap rokok dan alkohol murah langsung menusuk hidung Karina. Irfan pulang.
"Dek?" panggil Irfan dengan suara serak. Ia meraba-raba dinding, mencari sakelar lampu.
Klik.
Ruang tamu benderang. Irfan terlonjak kaget saat melihat Karina duduk mematung di sofa, menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam seperti pisau belati.
"Astaga! Kamu ngapain sih duduk gelap-gelapan kayak hantu?!" umpat Irfan sambil mengelus dadanya.
Wajah pria itu terlihat berantakan. Kemejanya kusut masai, dasinya sudah entah ke mana, dan matanya merah. Irfan berjalan gontai, melemparkan kunci mobilnya ke atas meja kaca di depan Karina dengan bunyi dentingan yang keras.
"Dari mana kamu, Mas?" tanya Karina datar.
Irfan mendengus kasar. Ia menjatuhkan dirinya di sofa seberang Karina, bersandar dengan kepala menengadah ke langit-langit. "Nongkrong di warkop depan komplek. Ngerokok. Nenenangin pikiran. Kenapa? Mau marah lagi? Mau nuduh aku keluyuran ke tempat perempuan lain?!"
"Aku nggak nuduh apa-apa."
"Baguslah kalau sadar diri!" potong Irfan cepat, nadanya meninggi. "Kamu tuh ya, Dek, egois banget! Suami capek-capek cari duit, pulang ke rumah bukannya disambut senyum, malah diinterogasi kayak maling! Ditambah nuduh-nuduh soal transferan ke Maya."
Irfan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Karina dengan tatapan meremehkan. "Asal kamu tahu ya, gara-gara keributan kamu tadi, mood kerjaku hancur! Kalau besok proyekku batal karena aku nggak fokus, kamu mau tanggung jawab?! Mau kasih makan Sasa pakai apa kamu? Pakai daun?!"
Karina menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa amis darah. Ia menahan diri mati-matian agar tidak meludahi wajah arogan di depannya.
"Maaf," ucap Karina pelan, nyaris seperti bisikan. Sebuah kata yang ia keluarkan murni sebagai taktik.
Irfan mengernyit, seolah tak percaya istrinya mengalah secepat itu.
"Maaf kalau aku terlalu curiga," lanjut Karina dengan wajah menunduk, memainkan ujung dasternya. "Aku cuma kaget lihat nominalnya, Mas. Aku takut kamu ditipu sama rekan kerja kamu."
Mendengar itu, raut wajah Irfan perlahan melunak. Seringai penuh kemenangan terbit di sudut bibirnya. Ia merasa taktik manipulasinya berhasil lagi. Istrinya yang bodoh ini memang selalu mudah ditaklukkan.
"Makanya, kalau nggak tahu apa-apa itu nanya baik-baik. Jangan langsung ngamuk," ucap Irfan, nadanya berubah sok bijak. Ia berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Ya udah. Aku mau mandi, gerah. Kamu jangan begadang, besok kan mau bikin kue. Oh ya, besok pagi bikinin aku kopi hitam ya, kepalaku pusing banget."
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, tanpa meminta maaf karena telah membanting piring dan membentak istrinya, Irfan melangkah menuju kamar mandi.
Karina menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Pandangannya perlahan turun, terkunci pada kunci mobil CR-V hitam yang tergeletak manis di atas meja kaca.
Mobil itu.
Mobil yang dibanggakan Irfan sebagai 'hasil keringatnya'. Mobil yang setengah cicilan uang mukanya berasal dari uang tabungan perhiasan Karina yang dijual.
Pukul setengah tiga pagi.
Suara dengkuran keras Irfan terdengar menggema dari dalam kamar. Pria itu sudah tumbang akibat kelelahan (atau mabuk tipis).
Karina bangkit dari sofa. Langkahnya ringan tak bersuara bak bayangan. Tangan kanannya dengan gemetar meraih kunci mobil di atas meja. Tangan kirinya menggenggam ponsel cerdasnya.
Ia membuka pintu depan perlahan, melangkah ke garasi rumah yang remang-remang. Udara malam yang dingin langsung menusuk tulang, tapi tubuh Karina terasa panas oleh adrenalin yang mendidih.
Ia berdiri di depan kap mobil CR-V itu.
Jempolnya menekan tombol unlock pada kunci.
Tit-tit.
Lampu sein mobil berkedip kuning menembus kegelapan garasi. Kuncinya terbuka.
Karina menarik napas panjang sebelum membuka pintu kursi penumpang bagian depan. Begitu pintu terbuka, hidungnya langsung disambut oleh aroma yang membuat perutnya mual seketika.
Bukan aroma air freshener rasa kopi yang selalu Karina pasang. Melainkan aroma parfum floral vanilla yang manis dan menusuk. Aroma yang sama persis dengan yang menempel di kerah kemeja Irfan kemarin malam. Aroma milik Maya.
"Jalang," desis Karina.
Ia masuk ke dalam mobil, menutup pintunya perlahan tanpa membantingnya. Ia menyalakan senter dari ponselnya, mengatur cahayanya agar tidak terlalu terang dan tembus ke jendela rumah.
Penyelidikan dimulai.
Karina mengarahkan senternya ke kursi penumpang. Bersih. Ia menunduk, memeriksa bagian bawah kursi. Tangannya meraba-raba di kolong karpet mobil yang gelap.
Jari Karina menyentuh sesuatu yang keras berbahan plastik.
Ia menarik benda itu keluar. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya.
Sebuah mainan action figure Spiderman berukuran kecil. Mainan yang terbuat dari bahan premium, bukan mainan plastik murahan yang biasa dijual di pasar malam.
Dada Karina terasa nyeri. Ini pasti milik Rafa. Anak itu duduk di kursi belakang, dan mainannya jatuh berguling ke bawah kursi penumpang depan.
Sasa bahkan tidak pernah diizinkan makan di dalam mobil ini karena Irfan beralasan takut joknya kotor. Tapi anak dari pelacur itu bebas menjatuhkan mainannya di sini?
Karina menaruh mainan itu di pangkuannya. Ia beralih membuka laci glove compartment di dashboard depan.
Laci itu penuh dengan tumpukan kertas. Asuransi mobil, buku manual, dan beberapa struk tol. Karina membongkar semuanya dengan teliti. Lembar demi lembar ia periksa.
Hingga matanya menangkap sebuah struk berwarna putih yang terlipat rapi di sudut paling dalam.
Karina mengambil struk itu, membuka lipatannya. Tulisan tinta biru dari printer thermal masih terlihat sangat jelas. Senter ponselnya menyorot deretan huruf dan angka yang tercetak di sana.
RESTORAN KELUARGA HACHI-HACHI
Grand Indonesia Mall
Tanggal: 14 hari yang lalu.
Waktu: 19.30 WIB.
Pesanan:
1x Wagyu Beef Premium (Medium Well) - Rp 350.000
1x Salmon Teriyaki Set - Rp 250.000
1x Kids Meal Happy Bento - Rp 150.000
2x Fresh Orange Juice - Rp 80.000
1x Chocolate Lava Cake - Rp 65.000
Total (+Tax & Service): Rp 1.028.500
Pembayaran: Debit Card Bank Mandiri - APPROVED.
Napas Karina tertahan. Tenggorokannya serasa dicekik oleh tangan kasat mata.
Satu juta rupiah lebih. Hanya untuk satu kali makan malam.
Karina memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi empat belas hari yang lalu. Otaknya memutar memori dengan kejam.
Hari itu... hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh!
Karina ingat betul hari itu. Ia sengaja memasak rendang daging kesukaan Irfan dari sore, memakai dress merah yang paling bagus di lemarinya, dan menunggu suaminya pulang sambil tersenyum. Sasa bahkan sudah menggambar kartu ucapan untuk papanya.
Tapi apa yang Irfan katakan saat itu lewat telepon?
"Sayang, maaf banget Mas nggak bisa pulang cepat. Ada masalah besar di gudang, klien marah-marah. Mas harus lembur sampai tengah malam buat ngurus retur barang. Kamu makan duluan aja sama Sasa ya. Happy anniversary, Istriku. Besok Mas beliin martabak deh."
Malam itu, Karina makan rendang sendirian sambil menangis menatap lilin yang meleleh habis.
Dan di waktu yang sama... pada jam setengah delapan malam... pria bajingan itu sedang memotong daging Wagyu mahal, tersenyum menatap selingkuhannya memakan salmon, dan menyuapkan Kids Meal untuk anak haramnya di restoran mewah!
"Argh..." Karina merintih tertahan. Ia memukul setir mobil dengan kepalan tangannya berulang kali. Air matanya menetes deras membasahi struk di tangannya.
Sakit. Sakit sekali. Rasanya seperti seluruh organ tubuhnya ditarik paksa keluar.
Ia dikhianati di hari yang seharusnya paling sakral bagi seorang istri. Irfan merayakan anniversary pernikahan mereka dengan mentraktir keluarga barunya.
Dengan tangan gemetar, Karina memotret struk itu. Bukti kedua.
Ia memasukkan kembali struk itu ke tempatnya. Ia tidak boleh ketahuan.
Napas Karina memburu. Ia masih belum puas. Ia tahu pasti ada hal lain yang disembunyikan pria ini. Instingnya mengatakan ada rahasia yang jauh lebih besar di dalam sangkar besi ini.
Karina mendongak, menatap pelindung matahari (sun visor) di atas kursi pengemudi. Sering kali Irfan menyelipkan karcis parkir di sana.
Karina mencondongkan tubuhnya, menarik sun visor itu ke bawah.
Pluk.
Sebuah benda persegi panjang meluncur jatuh, mendarat tepat di atas paha Karina.
Karina menundukkan pandangannya. Benda itu adalah sebuah foto polaroid. Ukurannya kecil, sebesar kartu nama.
Dengan tangan yang kini bergetar hebat hingga tak terkendali, Karina mengangkat foto itu dan menyorotnya dengan senter ponsel.
Dalam foto itu, terlihat wajah Rafa, anak laki-laki yang memanggil suaminya 'Papa'. Anak itu memakai seragam sekolah, tersenyum lebar sambil memegang sebuah piala kecil bertuliskan 'Juara 1 Lomba Menggambar'.
Senyum anak itu... mata anak itu...
Karina menatap lekat-lekat wajah Rafa di foto tersebut. Entah mengapa, ada sesuatu yang sangat familiar dari garis wajah anak itu. Hidungnya, bentuk rahangnya... mirip sekali dengan... Irfan.
Perut Karina kembali bergejolak hebat.
Perlahan, Karina membalik foto polaroid itu. Ada tulisan tangan di belakangnya. Tulisan tangan yang sangat rapi, khas tulisan seorang wanita. Menggunakan spidol biru berukuran tipis.
"Untuk Papa Irfan yang paling hebat. Makasih udah temenin Rafa lomba. Rafa sayang Papa. Dari jagoan Papa, Rafa & Mama Maya."
Dada Karina serasa dihantam palu godam.
Papa Irfan.
Bukan sekadar panggilan iseng. Bukan sekadar 'anak temannya'. Tulisan ini mengukuhkan segalanya. Irfan memposisikan dirinya benar-benar sebagai sosok ayah yang nyata bagi anak itu. Menyimpan fotonya di sun visor mobil agar bisa dilihat setiap hari saat berangkat kerja.
Pernahkah Irfan menyimpan foto Sasa di mobil ini? Tidak pernah. Sekalipun tidak pernah. Alasannya selalu "Malu ah dilihat temen kantor kalau numpang, dikira suami takut istri."
Karina tertawa pelan. Tawa yang sangat miris, diwarnai isakan tangis yang menyayat hati. Ia mencengkeram foto itu hingga sedikit terlipat.
"Kamu anggap aku ini apa, Mas..." isak Karina sambil menyandarkan kepalanya ke setir mobil. "Kamu anggap aku ini apa..."
Karina menangis tergugu di dalam mobil yang dingin itu. Rasa tidak berharganya sebagai seorang istri menghancurkan harga dirinya hingga ke dasar jurang. Ia merasa seperti sampah yang hanya disimpan di rumah untuk mencuci piring dan melayani nafsu suaminya, sementara cinta sejati pria itu diberikan kepada wanita lain di luar sana.
Namun, tangisannya perlahan berhenti saat matanya menangkap sesuatu di celah antara kursi pengemudi dan konsol tengah (tempat rem tangan).
Ada sebuah kertas tebal yang terselip setengah bagian. Kertas itu berwarna merah muda.
Karina menyeka air matanya dengan kasar. Ia mencondongkan tubuhnya, menyelipkan jari-jarinya yang ramping ke celah sempit itu, dan menarik kertas merah muda tersebut dengan susah payah.
Berhasil. Kertas itu keluar.
Ternyata itu adalah sebuah kuitansi pembayaran Maintenance dan IPL (Iuran Pengelolaan Lingkungan) untuk sebuah hunian apartemen.
Karina menyorotkan senter ponselnya ke bagian atas kuitansi. Jantungnya berdebar sangat kencang, menabrak-nabrak tulang rusuknya. Matanya membelalak lebar membaca deretan huruf kapital yang tercetak tebal di sana.
KUITANSI PEMBAYARAN IURAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Bulan: Mei
Nama Penghuni: Bpk. Irfan Maulana / Ibu Maya Lestari
Lokasi: Apartemen Emerald Tower
Lantai: 18
Unit: 1804
Alamat: Jl. Sudirman Kav. 45, Jakarta Pusat
Napas Karina terhenti sejenak.
Bpk. Irfan Maulana / Ibu Maya Lestari.
Nama mereka disandingkan bersama di dokumen resmi apartemen. Sebagai penghuni. Sebagai... pasangan?
Dan yang lebih mengejutkan lagi... apartemen itu berada di kawasan paling elit di Jakarta Pusat. Biaya sewanya, apalagi harga belinya, pasti mencapai angka miliaran. Darimana Irfan mendapat uang sebanyak itu?!
Pantas saja suaminya selalu beralasan kehabisan uang. Pantas saja setiap kali Karina meminta uang belanja lebih untuk membeli daging sapi untuk Sasa, Irfan selalu memarahinya dan menyuruhnya berhemat.
Suaminya sedang memelihara simpanan di apartemen mewah!
Karina mencengkeram kuitansi itu kuat-kuat. Tangisannya sudah mengering, digantikan oleh kobaran api amarah yang menyala terang di kedua bola matanya. Wajahnya yang tadi pucat pasi dan hancur, kini mengeras menahan dendam yang tak terkira.
Ia memotret kuitansi itu. Jelas dan tajam.
Lalu ia mengembalikan kuitansi, foto Rafa, dan mainan Spiderman itu ke tempatnya semula dengan sangat rapi, seolah tidak pernah ada yang menyentuhnya. Ia menghapus jejaknya dengan sempurna.
Karina mematikan senter ponselnya. Ia menatap lurus ke arah kaca depan mobil yang menembus kegelapan malam.
"Apartemen Emerald Tower, Lantai 18, Unit 1804," gumam Karina, mengulang alamat itu bagai sebuah mantra kematian.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman miring yang mengerikan.
"Tunggu aku, Maya. Aku akan datang berkunjung."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar