"Kamu lagi ngapain sama HP aku, Dek?"

Suara Irfan mengalun sangat pelan, nyaris seperti desisan ular berbisa. Namun, efeknya bagi Karina seperti ditikam balok es tepat di jantungnya. Udara di dalam kamar yang tadinya dingin karena AC, kini terasa membekukan aliran darahnya.

Cengkeraman tangan Irfan di pergelangan tangannya menguat. Sangat kuat hingga Karina bisa merasakan tulang-tulangnya saling bergesekan. Pria itu tidak sedang memegang istrinya, ia sedang mencengkeram seorang pencuri yang tertangkap basah.

Otak Karina dipaksa berputar secepat kilat. Ia tidak boleh panik. Jika ia gelagapan, Irfan akan tahu bahwa ia sudah membaca pesan dari 'Pak Surya'.

"Sakit, Mas..." rintih Karina, sengaja memelaskan suaranya. Ia menatap mata Irfan dengan raut wajah kesakitan dan kebingungan yang dibuat-buat sealami mungkin. "Lepasin, Mas. Tangan aku sakit."

Irfan tidak melepaskannya. Matanya yang gelap terus mengunci pandangan Karina, mencoba mencari kebohongan di sana. "Aku tanya, kamu lagi ngapain pegang-pegang HP aku tengah malam begini? Kamu mau ngecek apa?"

Karina menelan ludah. "Ngecek apa sih, Mas? HP kamu dari tadi getar terus. Berisik. Aku kebangun karena layarnya nyala-nyala terus kena mataku. Aku cuma mau geser HP-nya ke meja rias biar nggak ganggu tidurku, atau matiin notifikasinya. Kamu kenapa sih tiba-tiba kasar begini?!"

Karina membalikkan keadaan. Ia menaikkan nada suaranya sedikit, menambahkan bumbu kekesalan layaknya istri yang terganggu tidurnya karena ponsel suami.

Irfan terdiam sejenak. Sorot matanya yang tadi mematikan perlahan meredup, meski kecurigaan itu belum sepenuhnya hilang. Ia melirik layar ponselnya yang kini sudah menggelap, lalu perlahan mengendurkan cengkeramannya di pergelangan tangan Karina.

"Getar?" tanya Irfan, suaranya kembali normal, meski masih ada nada defensif di sana.

"Iya, getar! Coba aja kamu cek sendiri, ada pesan masuk atau apa. Kalau kamu nggak mau HP-mu disentuh, besok-besok silent dong, Mas. Aku besok harus bangun subuh bikin pesanan kue, butuh istirahat!" Karina menarik tangannya dengan kasar, mengusap pergelangannya yang kini memerah dan terasa panas.

Irfan segera menarik ponselnya, membuka kuncinya dengan cepat. Dari sudut matanya, Karina bisa melihat jemari Irfan bergerak kilat menghapus pesan pop-up dari 'Pak Surya' tadi, sebelum layar ponsel itu ia matikan kembali.

"Oh... iya. Pesan dari grup kantor," kilah Irfan dengan sangat mulus. Tidak ada nada bersalah dalam suaranya. Pria itu membuang napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar, seolah-olah ia adalah korban dari situasi ini.

"Maaf, Dek. Aku kaget aja. Kirain kamu lagi berusaha sadap HP aku atau apa. Maklum, pikiran aku lagi kacau banget urusan kantor, jadi bawaannya sensitif. Maaf ya, tangannya merah." Irfan mencoba meraih tangan Karina lagi untuk mengusapnya, tapi Karina menepisnya.

"Aku mau tidur," ketus Karina, memunggungi Irfan dan menarik selimutnya tinggi-tinggi.

Di balik selimut, tubuh Karina gemetar hebat. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga telinganya berdenging. Ia berhasil selamat. Untuk malam ini. Tapi ia tahu, Irfan sekarang akan jauh lebih berhati-hati.

Dalam kegelapan, Karina bersumpah pada dirinya sendiri. Tangisan dan rasa sakit ini akan ia kembalikan ribuan kali lipat.

Pagi hari terasa seperti neraka yang dibungkus dengan rutinitas normal.

Karina harus bangun pukul empat subuh, membuat adonan kue bolu, memandikan Sasa, dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Saat Irfan duduk di meja makan, memakan roti selai kacangnya sambil menonton berita pagi, Karina melayaninya dengan senyum yang dipaksakan.

Tidak ada perdebatan sisa semalam. Irfan bersikap manis, mencium puncak kepala Sasa, dan berpamitan pada Karina seolah ia adalah suami teladan tahun ini.

"Mas berangkat ya, Sayang. Doain tender hari ini tembus, biar kita bisa jalan-jalan akhir pekan ini," ucap Irfan sambil mengusap lengan Karina.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Karina dengan nada datar.

Begitu mobil CR-V hitam itu keluar dari pagar dan menghilang di ujung jalan, raut wajah Karina langsung berubah dingin. Senyum palsunya luntur.

Ia segera menutup pintu depan, menguncinya rapat-rapat. Sasa sedang asyik menonton kartun di televisi ruang tengah sambil memakan sereal. Aman.

Karina berlari kecil menuju kamar. Ia membongkar lemari pakaian bagian bawah, tempat Irfan menyimpan dokumen-dokumen lama dan sebuah laptop Asus jadul yang sudah jarang dipakai pria itu. Laptop itu sangat lambat, biasanya hanya dipakai Sasa jika ingin menonton YouTube layar besar, atau dipakai Karina untuk mencetak resi pengiriman kuenya.

Namun Karina ingat satu hal. Irfan sering malas log-out dari akun Gmail pribadinya di laptop ini karena menganggap Karina tidak mengerti urusan teknologi.

Karina meletakkan laptop itu di atas kasur, menyalakannya dengan tangan yang sedikit berkeringat. Menunggu loading Windows yang memakan waktu hampir lima menit rasanya seperti disiksa seabad lamanya.

Begitu layar desktop muncul, Karina langsung membuka browser. Ia mengklik ikon Gmail.

Jantungnya berdebar kencang saat melihat kotak masuk email Irfan terbuka lebar. Pria itu memang meremehkannya. Irfan membiarkan emailnya dalam keadaan login.

Mata Karina menyisir cepat. Email pekerjaan, promosi kartu kredit, newsletter berita. Karina mengetikkan satu kata kunci di kolom pencarian email: "Mutasi" atau "E-Statement".

Muncul deretan email dari Bank Mandiri, bank tempat Irfan menerima gajinya selama ini.

Karina menelan ludah. Ia mengklik email e-statement bulan lalu. Ada file PDF yang terlampir. Karina mengunduhnya. Saat ia mencoba membukanya, sebuah kolom password muncul.

Tanggal lahir. Karina mengetikkan tanggal lahir Irfan.

Salah.

Karina mengernyit. Ia mencoba tanggal lahir Sasa.

Salah.

Tanggal pernikahan mereka?

Salah.

Karina terdiam. Tangannya menggantung di atas keyboard. Jika bukan tanggal lahirnya, anak mereka, atau tanggal pernikahan mereka, lalu tanggal apa?

Tiba-tiba, pikiran Karina melayang pada percakapan dengan ibu-ibu berhijab di depan sekolah kemarin. Ibu itu bercerita betapa Irfan dan Maya sangat merayakan kelulusan Rafa. Karina memutar otaknya keras-keras.

Ia mencoba menebak. Ia memasukkan sebuah kombinasi angka. Tanggal lahir yang pernah ia lihat tak sengaja di buku rapor Sasa, saat Irfan membandingkan usia Sasa dengan "anak temannya".

Sebuah tanggal lahir milik seorang anak laki-laki.

Enter.

Jantung Karina serasa berhenti berdetak saat layar laptop berkedip, dan file PDF itu terbuka sempurna.

Air mata Karina menetes tanpa bisa dicegah. Password rekening bank suaminya... adalah tanggal lahir anak haramnya. Bukan tanggal lahir Sasa. Bukan tanggal lahir darah dagingnya sendiri.

Dengan tangan bergetar, Karina men-scroll halaman pertama.

Bulan lalu. Gaji Irfan masuk sebesar Rp 25.000.000,-.

Karina terbelalak. Dua puluh lima juta? Selama ini Irfan selalu bersumpah bahwa gajinya mentok di angka lima belas juta, dan selalu habis dipotong cicilan rumah dan mobil. Irfan membohonginya soal angka gajinya sendiri!

Karina terus men-scroll ke bawah, membaca bagian pengeluaran. Dan apa yang ia lihat di sana, benar-benar menghancurkan kewarasannya.

Tanggal 2 - Transfer Internet Banking: Maya Lestari - Rp 8.000.000,- (Keterangan: Uang Bulanan)

Tanggal 5 - Auto Debet: Asuransi Pendidikan Rafa - Rp 1.500.000,-

Tanggal 10 - Transfer ATM: Maya Lestari - Rp 4.500.000,- (Keterangan: Cicilan Apartemen)

Tanggal 14 - Debit EDC: Toko Mas Sejahtera - Rp 3.000.000,-

Karina menutup mulutnya dengan kedua tangan, meredam jeritan histeris yang nyaris meledak dari tenggorokannya. Air matanya mengucur deras, jatuh menetes membasahi keyboard laptop.

Dadanya sesak luar biasa. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam.

Nama itu. Maya Lestari. Nama pelacur yang kemarin bersandar manja di lengan suaminya. Wanita yang dihidupi dengan uang yang seharusnya menjadi hak Sasa.

Karina teringat bulan lalu. Sasa sempat demam tinggi hingga kejang. Karina panik luar biasa dan menelepon Irfan, meminta uang untuk membawa Sasa ke UGD rumah sakit swasta terdekat.

Apa jawaban Irfan saat itu?

"Mas nggak ada uang tunai, Dek. Saldo ATM Mas tinggal lima ratus ribu. Kamu bawa ke Puskesmas aja pakai BPJS ya, antre dikit nggak apa-apa. Mas lagi di jalan mau nemuin klien, nggak bisa ke sana."

Malam itu, Karina menangis memeluk Sasa yang menggigil di ruang tunggu Puskesmas yang pengap, sementara suaminya beralasan tidak ada uang.

Dan melihat mutasi ini... Karina melihat pada tanggal yang sama saat Sasa masuk UGD, ada transaksi debit di sebuah restoran mewah senilai satu juta rupiah, dan sehari setelahnya transaksi pembelian emas tiga juta rupiah.

Untuk siapa emas itu? Tentu saja bukan untuk Karina. Cincin kawin Karina saja sudah ia gadaikan dua tahun lalu karena Irfan bilang ia butuh modal mendesak untuk menutupi kerugian kantor, yang ternyata... semua itu hanyalah omong kosong belaka.

"Kamu iblis, Mas..." raung Karina pelan, mencakar seprai kasurnya hingga kusut. "Kamu jahat banget... anak kamu sakit, kamu asyik makan mewah sama perempuan sialan itu..."

Kebencian meledak di dalam dada Karina. Ia merasa sangat bodoh. Sangat naif. Bertahun-tahun ia hidup layaknya pembantu tanpa bayaran di rumah ini. Berhemat mati-matian, memasak tempe dan tahu setiap hari agar uang belanja cukup, memakai daster yang warnanya sudah pudar, sementara suaminya memanjakan wanita lain dengan fasilitas mewah.

Apartemen? Irfan membelikan Maya apartemen?!

Karina segera mengeluarkan ponselnya. Ia memotret semua halaman e-statement itu dari layar laptop. Halaman demi halaman. Transaksi demi transaksi. Semuanya ia abadikan.

Tidak hanya satu bulan. Karina nekat mengunduh e-statement bulan-bulan sebelumnya. Tiga bulan ke belakang. Enam bulan. Satu tahun.

Semuanya sama. Nama 'Maya Lestari' selalu ada. Mengisap uang suaminya seperti lintah darat, atau mungkin... suaminya yang dengan rela menyerahkan seluruh hidupnya ke sana.

Pukul sepuluh pagi, Karina mematikan laptop itu dan mengembalikannya ke tempat semula dengan rapi. Ia duduk termenung di tepi ranjang, menatap kosong ke arah dinding.

Jika ia mengamuk sekarang, jika ia mengemasi barang-barangnya dan kabur membawa Sasa pulang ke rumah ibunya, apa yang akan terjadi?

Ibu Karina punya penyakit jantung. Jika tahu menantunya yang dibanggakan selama ini ternyata seorang bajingan, ibunya bisa kolaps.

Selain itu, Irfan punya uang. Irfan punya kuasa. Jika mereka bercerai, Irfan bisa dengan mudah menyewa pengacara hebat untuk mengambil hak asuh Sasa, dengan alasan Karina tidak punya penghasilan tetap.

Tidak. Karina tidak boleh gegabah. Ia tidak akan menyerahkan Sasa pada pria monster itu. Dan ia tidak akan membiarkan Irfan dan Maya hidup bahagia di atas penderitaannya.

Ia harus membuat Irfan yang bertekuk lutut.

Malam harinya, awan mendung menggantung tebal di langit Jakarta, seolah bersimpati pada badai yang akan segera pecah di dalam rumah sederhana itu.

Irfan pulang lebih awal hari ini. Pukul tujuh malam ia sudah tiba di rumah, membawa sekotak martabak manis kesukaan Sasa. Pria itu tampak ceria, bersiul kecil saat melepas sepatunya.

Di meja makan, Karina menyajikan makan malam dengan wajah tanpa ekspresi. Semur ayam dan tumis kangkung.

Irfan makan dengan lahap, sementara Karina hanya mengaduk-aduk minumannya. Suasana terasa sangat kaku, namun Irfan tampaknya terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga tidak menyadari tatapan tajam istrinya.

"Tender Mas hari ini lancar, Yang. Bos seneng banget. Kayaknya bulan depan Mas bakal dapat bonus lumayan gede nih," pamer Irfan, tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.

Karina menatap wajah itu. Wajah yang dulu selalu berhasil membuatnya luluh, kini terlihat seperti topeng menjijikkan yang ingin ia robek.

"Baguslah kalau gitu, Mas," sahut Karina pelan. Nada suaranya sangat dingin.

Irfan menyuap nasinya lagi. "Iya, nanti kalau bonusnya cair, kita beli sepeda baru ya buat Sasa. Kasihan sepedanya yang lama udah kekecilan."

Karina meletakkan sendoknya. Bunyi dentingan besi yang beradu dengan piring kaca memecah keheningan ruang makan.

"Mas," panggil Karina.

"Ya, Sayang?" Irfan menoleh dengan mulut penuh.

Karina menatap lurus ke dalam bola mata suaminya. "Tabungan kita yang di Mandiri, masih ada berapa saldonya?"

Gerakan mengunyah Irfan terhenti. Otot rahangnya menegang sekilas, namun sedetik kemudian ia menelannya dengan susah payah. "Kan Mas udah bilang kemarin, uangnya lagi dipakai buat nalangin operasional proyek. Nanti kalau tagihannya cair, baru masuk lagi ke rekening. Kenapa sih, nanya uang melulu?"

"Oh... buat operasional proyek." Karina mengangguk pelan, seolah mengerti. "Proyek apa sih, Mas? Proyeknya sebesar apa sampai harus transfer rutin delapan juta tiap bulan?"

Hening.

Udara di ruang makan mendadak seperti tersedot habis. Irfan membeku. Tangannya yang memegang sendok menggantung di udara. Matanya menatap Karina dengan sorot penuh kewaspadaan.

"Kamu ngomong apa sih, Dek? Transfer delapan juta apa?" Irfan tertawa garing. Tawa yang sangat sumbang. "Kamu jangan ngarang deh. Jangan dengerin gosip tetangga atau apa."

Karina memajukan tubuhnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Irfan. Matanya menyala penuh intimidasi.

"Aku nggak denger gosip dari siapa-siapa, Mas. Aku cuma penasaran," desis Karina, suaranya tajam menyayat. "Siapa itu Maya Lestari? Vendor proyek kamu? Kenapa kamu harus transfer ke dia setiap awal bulan, bayarin asuransi pendidikan anak orang, sampai bayarin cicilan apartemennya?"

PRANG!

Irfan membanting sendoknya ke atas piring hingga piring itu nyaris pecah.

Pria itu berdiri dari kursinya dengan kasar, membuat kursinya terjengkang ke belakang. Wajahnya yang tadi tenang kini memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol keluar.

"KAMU BONGKAR-BONGKAR EMAIL AKU?!" bentak Irfan dengan suara menggelegar. Suaranya bergema di seluruh ruangan rumah.

Karina tidak mundur sedikit pun. Ia ikut berdiri, menantang tatapan suaminya. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang akhirnya menemukan jalan keluarnya.

"Kenapa kalau aku bongkar?! Aku istri kamu! Aku berhak tahu ke mana perginya uang yang seharusnya untuk anak dan istri kamu!" balas Karina, tak kalah keras. "Selama ini kamu biarin anakmu pakai baju sempit, kamu biarin istrimu nahan lapar nungguin uang belanja yang selalu kamu sunat! Ternyata kamu asyik bayarin hidup perempuan lain! JAWAB MAS! SIAPA MAYA LESTARI?!"

"TUTUP MULUT KAMU!" Irfan memukul meja makan dengan kepalan tangannya yang besar. Bunyinya sangat keras hingga gelas air putih di atas meja bergetar dan tumpah.

"Maya itu cuma rekan kerja! Dia bendahara proyek! Uang itu bukan buat dia, tapi uang operasional yang harus diputar ke vendor-vendor! Kamu ngerti apa sih soal urusan kantor?!" Irfan menunjuk tepat di depan wajah Karina. Matanya melotot liar, mencoba menggunakan intimidasi fisik untuk membungkam istrinya.

Manipulasi. Gaslighting. Irfan sedang mencoba memutarbalikkan fakta, membuat Karina terlihat seperti istri yang gila dan tidak tahu apa-apa.

"Bendahara proyek?! Bendahara proyek mana yang asuransi pendidikan anaknya kamu bayarin, bajingan?!" jerit Karina histeris. Air matanya mulai mengalir, namun matanya tetap menatap garang. "Bendahara proyek mana yang kamu beliin perhiasan di Toko Mas Sejahtera pas anak kandungmu sendiri lagi kejang di UGD rumah sakit, hah?!"

Wajah Irfan pias. Serangan telak itu rupanya berhasil menembus pertahanannya. Ia mundur selangkah, seolah tak percaya istrinya bisa mengetahui detail sekecil itu.

Namun, alih-alih meminta maaf atau mengakui kesalahannya, Irfan justru memilih jalan lain. Jalan yang biasa ditempuh oleh seorang pengecut yang tersudut.

"DASAR ISTRI GILA!"

Irfan mengamuk. Ia menyapu seluruh piring makanan di atas meja makan dengan lengannya.

PRAAANG!!

Piring berisi semur ayam dan tumis kangkung jatuh berserakan di lantai, pecah berkeping-keping mengotori lantai keramik. Kuah kecapnya memercik ke mana-mana, mengenai kaki Karina.

Karina terpekik kaget, melangkah mundur menghindari pecahan kaca.

"Ini alasan aku muak di rumah!" teriak Irfan, suaranya serak penuh kebencian. Ia menatap Karina dengan sorot mata jijik. "Kamu tuh selalu curigaan! Selalu menuduh yang nggak-nggak! Nggak pernah bersyukur punya suami yang banting tulang siang malam! Pantes rezekiku seret, istrinya aja auranya negatif terus!"

Irfan memutar tubuhnya, melangkah panjang-panjang menuju pintu depan. Ia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas bufet dengan kasar.

"Kamu mau ke mana?!" teriak Karina.

"Keluar! Aku muak lihat muka kamu!"

BLAAAM!

Pintu depan dibanting dengan sangat keras hingga dinding rumah terasa bergetar. Tak lama, terdengar suara mesin CR-V dihidupkan dengan kasar, ban mobil berdecit menggesek aspal, lalu melaju pergi dengan kecepatan tinggi menembus hujan gerimis di luar sana.

Kabur. Suaminya memilih lari menemui pelacur itu daripada menyelesaikan kekacauan yang ia buat sendiri.

Karina berdiri mematung di tengah ruang makan yang hancur berantakan. Kakinya lemas. Ia perlahan merosot turun, jatuh berlutut di lantai yang dingin, di antara pecahan piring dan tumpahan makanan.

Tangisannya akhirnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu, memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak hingga hampir membunuhnya. Rasa sakit karena dikhianati, digabungkan dengan rasa sakit karena diintimidasi dan disalahkan, membuat kewarasannya berada di ujung tanduk.

"Jahat... jahat banget kamu, Mas..." isaknya pilu di tengah isakan napas yang putus-putus.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki kecil dari arah lorong kamar.

Karina buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menoleh.

Sasa berdiri di ujung lorong, memegang boneka beruang kesayangannya. Gadis kecil itu memakai piyama tidur, rambutnya sedikit berantakan. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap menatap ibunya yang duduk di lantai menangis.

"Mama..." panggil Sasa pelan. Suaranya serak khas anak yang baru bangun tidur. "Mama kenapa nangis? Papa kok teriak-teriak?"

Karina berusaha tersenyum, meski bibirnya bergetar hebat. "Nggak apa-apa, Sayang. Sasa kok bangun? Maaf ya, piring Mama jatuh tadi, Papa kaget jadi suaranya agak keras. Sasa tidur lagi ya."

Sasa berjalan mendekat, menghindari pecahan beling dengan hati-hati. Gadis kecil itu jongkok di depan Karina, lalu mengusap sisa air mata di pipi ibunya dengan tangan mungilnya.

Sikap polos itu justru membuat hati Karina semakin hancur. Ia memeluk putrinya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sasa agar anak itu tidak melihatnya menangis lagi.

Namun, di tengah pelukan itu, Sasa tiba-tiba menepuk-nepuk punggung Karina dengan lembut. Dan dari mulut mungil gadis berumur lima tahun itu, meluncurlah sebuah kalimat yang membuat dunia Karina seolah berhenti berputar.

Kalimat yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Karina malam itu.

"Mama jangan sedih," ucap Sasa polos. "Mungkin Papa marah gara-gara Papa capek. Soalnya, kemarin pas Mama pergi belanja, Papa bilang mau pergi main sama Kak Rafa lagi."

Karina melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah putrinya dengan mata terbelalak lebar. Jantungnya seakan ditarik paksa dari tempatnya. Napasnya tertahan.

"A-apa, Sayang?" suara Karina bergetar, nyaris berupa bisikan hampa. "Sasa bilang... Papa main sama siapa?"

Sasa memiringkan kepalanya dengan wajah tak berdosa.

"Sama Kak Rafa, Ma. Kan Papa sering ajak Kak Rafa ke taman deket rumah kalau Mama lagi masak. Kak Rafa itu siapa sih, Ma? Anak temen Papa ya?"