Sore itu, hujan turun rintik-rintik, menciptakan melodi pelan yang mengetuk kaca jendela kamar kami. Udara terasa lembap, membawa aroma tanah basah yang biasanya selalu kusukai. Tapi hari ini, entah kenapa, udara di dalam rumah ini terasa lebih menyesakkan dari biasanya.
Aku sedang berlutut di depan lemari kayu jati tua di sudut kamar, mencari map berisi polis asuransi yang seingatku kusimpan di tumpukan paling bawah. Lemari ini jarang dibuka, baunya campuran antara kapur barus dan kertas usang.
Agus, suamiku, sedang bekerja. Seperti biasa, dia baru akan pulang setelah langit benar-benar gelap.
Tanganku meraba-raba ke bagian paling belakang laci terbawah. Jari-jariku menyentuh sesuatu yang keras. Bukan map plastik. Bukan pula tumpukan dokumen.
Aku menariknya keluar. Sebuah buku bersampul kulit warna cokelat tua. Ujung-ujungnya sudah sedikit terkelupas, tanda bahwa buku ini sering dibuka, atau setidaknya sudah berumur cukup lama.
Keningku berkerut. Aku tidak pernah melihat buku ini sebelumnya.
Tidak ada judul di sampulnya. Tidak ada gembok kecil atau tali pengikat yang mencurigakan. Bentuknya sangat biasa, seperti buku catatan kerja yang sering dibagikan di seminar-seminar kantor.
Tapi saat aku membuka halaman pertamanya, napasku seketika tertahan.
Itu tulisan tangan Agus. Aku sangat hafal lekuk hurufnya. Rapi, tegak bersambung, dengan tekanan pena yang selalu terlihat kuat di setiap akhir kalimat. Persis seperti karakternya yang tenang, tegas, dan penuh perhitungan.
Sebuah senyum kecil sempat terbit di bibirku. Apakah ini buku hariannya? Selama lima tahun pernikahan kami, Agus bukanlah tipe pria yang pandai merangkai kata. Dia pendiam. Dia lebih suka menunjukkannya lewat tindakan kecil, seperti memanaskan mesin mobilku di pagi hari, atau diam-diam membelikan martabak kesukaanku sepulang kerja.
Mengetahui pria sebeku Agus memiliki buku catatan pribadi, rasanya seperti menemukan sisi rahasia yang menggemaskan.
Aku tahu aku seharusnya menutup buku itu. Privasi adalah hal yang selalu kami hargai dalam rumah tangga ini. Kami tidak pernah saling memeriksa ponsel, tidak pernah saling bertanya detail pengeluaran pribadi.
Tapi rasa penasaran itu terlalu besar. Tanganku seolah memiliki kehendaknya sendiri saat membalik ke halaman berikutnya.
Halaman itu bertanggal. Tiga tahun yang lalu. Tepat beberapa hari setelah perayaan ulang tahun pernikahan kami yang kedua.
Mataku mulai membaca baris pertama.
"Hari ini dia kembali menangis karena hal sepele. Suaranya saat terisak membuat isi kepalaku rasanya ingin pecah. Aku hanya duduk diam di sofa, melihatnya menghapus air mata, dan yang bisa kupikirkan hanyalah: kapan semua drama ini akan berakhir?"
Senyum di bibirku luntur seketika.
Darahku terasa membeku. Udara dingin dari luar jendela seakan menerobos masuk dan menusuk langsung ke tulang rusukku.
Aku ingat hari itu. Aku ingat betul. Aku menangis karena aku merasa sangat lelah dengan pekerjaanku dan merasa diabaikan olehnya. Hari itu, Agus hanya diam. Aku memeluknya, dan dia mengelus punggungku. Aku mengira diamnya adalah bentuk simpati. Aku mengira pelukannya adalah tempat bernaung.
Ternyata, saat dia memelukku malam itu, isi kepalanya sedang menghakimiku.
Tanganku mulai gemetar. Jantungku memompa darah lebih cepat, berdegup liar hingga telingaku berdenging.
"Ini pasti sedang tidak waras," bisikku pada diri sendiri, suaraku parau memecah kesunyian kamar.
Kucoba meyakinkan diriku bahwa mungkin dia sedang stres saat menulisnya. Semua orang pernah menulis hal buruk saat sedang marah, bukan? Semua orang butuh tempat sampah untuk membuang emosi negatif mereka. Ya, pasti begitu. Ini hanya emosi sesaat.
Aku membalik halaman dengan cepat. Berharap menemukan tulisan lain yang membuktikan bahwa dia masih suamiku yang hangat. Bahwa dia masih Agus yang mencintaiku.
Tanggal berganti. Bulan berganti. Tahun berganti.
Setiap lembar yang kubaca adalah pukulan telak yang menghantam dadaku tanpa ampun.
"Dia memasak sup ayam hari ini. Dia selalu bangga dengan masakannya, selalu menunggu pujian dariku dengan mata berbinar seperti anak kecil. Sejujurnya, rasanya hambar. Aku menelan makanan itu hanya karena aku tidak ingin mendengar suaranya yang berisik jika aku menolak makan."
Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan. Mataku memanas. Sup ayam itu adalah resep peninggalan ibuku. Setiap kali aku memasaknya untuk Agus, dia selalu menghabiskannya tanpa sisa. Dia bahkan pernah bilang sup itu mengingatkannya pada kehangatan rumah.
Pembohong.
Air mataku jatuh menetesi celana piyamaku. Pandanganku mulai kabur oleh cairan hangat yang terus mendesak keluar. Namun, mataku menolak untuk berhenti membaca. Seolah ada bagian masokis dalam diriku yang ingin tahu seberapa dalam luka ini bisa digali.
Aku melompati puluhan halaman, jariku gemetar hebat hingga hampir merobek kertas yang tipis itu.
Kuberhenti di sebuah halaman yang baru ditulis bulan lalu. Tulisannya terlihat sedikit terburu-buru, tintanya lebih tebal dari biasanya.
"Teman-temanku selalu bertanya bagaimana rasanya memiliki istri sepertinya. Istri yang sabar, yang selalu mengalah, yang selalu ada. Mereka bilang aku pria paling beruntung di dunia."
Aku menahan napas, berharap ada sedikit saja apresiasi di kalimat berikutnya. Ada sedikit saja pembelaan untuk diriku di matanya.
Tapi paragraf selanjutnya menghempaskanku ke dasar jurang terdalam.
"Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu betapa melelahkannya hidup berdampingan dengan seseorang yang tidak memiliki warna. Dia terlalu biasa. Terlalu mudah ditebak. Terlalu penurut hingga membuatku muak."
Tubuhku merosot sepenuhnya ke lantai kayu. Lututku tidak lagi mampu menopang berat badanku sendiri.
Buku itu terlepas dari pangkuanku, jatuh terbuka di lantai.
Duniaku runtuh dalam hitungan menit. Ruangan ini tiba-tiba terasa berputar. Lima tahun. Lima tahun aku melayani pria ini, memberikan seluruh masa mudaku, cintaku, dan pengabdianku, hanya untuk dianggap sebagai beban yang membuatnya muak.
Aku mengambil buku itu lagi. Napasku tersengal, dadaku naik turun dengan ritme yang menyakitkan. Aku tidak boleh menangis seperti orang bodoh. Aku harus mencari tahu. Aku harus membaca semuanya sampai akhir.
Di bagian paling bawah halaman itu, di bawah sebuah garis panjang yang ditarik dengan kasar, ada satu kalimat yang berdiri sendiri.
Kalimat itu ditulis dengan huruf kapital. Sengaja ditekan. Sengaja ditegaskan.
Mata asliku menatap rentetan huruf itu, menolak untuk memproses maknanya, sementara hatiku hancur berkeping-keping tanpa bersuara.
"Aku tidak pernah mencintainya."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar