Suara deru mesin mobil yang familier itu memecah kesunyian rumah. Terdengar ban yang bergesekan dengan jalanan basah di garasi, disusul suara pintu mobil yang dibanting menutup.
Jantungku melonjak hingga ke tenggorokan. Panik seketika menyergapku bak air es yang disiramkan ke sekujur tubuh.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, aku meraih buku harian bersampul cokelat itu dari lantai. Jemariku kaku, tapi aku memaksanya bergerak cepat. Aku menyodokkan buku itu kembali ke dasar laci terbawah, menumpuknya dengan map-map plastik tua dan beberapa baju hangat yang jarang dipakai, persis seperti posisinya semula.
Aku merapikan bagian depan laci, memastikan tidak ada satu pun sudut yang terlihat mencurigakan.
Langkah kaki terdengar dari teras depan. Terdengar suara kunci logam yang bergemerincing mencari lubangnya.
Aku melompat berdiri, tapi kakiku terlalu lemas. Lututku membentur tepi ranjang, menimbulkan rasa nyeri yang tajam. Aku mengabaikannya. Berlari kecil ke meja rias, aku menyambar selembar tisu dan mengusap wajahku dengan kasar.
Mataku masih merah. Jejak air mata membuat riasanku sedikit berantakan. Aku menarik napas panjang, menahan getaran di dadaku, lalu memaksakan sebuah senyum di depan cermin. Senyum yang terlihat sangat menyedihkan, kaku, dan penuh kepalsuan.
"Aku pulang."
Suara bariton itu menggema dari arah ruang tamu. Suara yang selama lima tahun ini selalu menjadi tempatku pulang. Suara yang selalu berhasil mengusir rasa lelahku setelah seharian mengurus rumah.
Tapi hari ini, suara itu terdengar seperti lonceng kematian.
Aku berjalan keluar kamar, langkahku terasa berat seolah ada besi berton-ton yang diikatkan ke pergelangan kakiku.
Di ruang tamu, Agus sedang melepas sepatunya. Dia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya sudah digulung hingga siku. Rambutnya sedikit basah terkena rintik hujan dari garasi ke pintu depan.
Dia mendongak saat mendengar langkahku.
"Hai," sapanya lembut. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil yang selalu kucintai. Senyum yang membuat matanya sedikit menyipit.
Dulu, aku selalu mengira senyum itu adalah bentuk rasa syukurnya melihatku menyambutnya pulang. Tapi sekarang, melihat garis bibirnya, melihat kerutan di sudut matanya, perutku mendadak mual.
Aku lelah berpura-pura di depannya.
Kalimat terakhir dari buku hariannya itu berkelebat di benakku seperti lampu neon yang menyilaukan. Apakah ini kepura-puraan yang dia maksud? Senyum ini? Tatapan lembut ini?
"Hai, Mas," balasku. Suaraku terdengar serak. Aku berdeham pelan, berusaha menormalkan nadaku. "Kehujanan ya dari parkiran kantor?"
Aku berjalan mendekatinya, mengambil tas kerja dari tangannya seperti yang selalu kulakukan setiap hari. Rutinitas biasa. Gerakan refleks yang sudah tertanam di alam bawah sadarku.
"Sedikit," jawabnya sambil melonggarkan dasi. "Jalanan macet parah. Hujannya bikin jarak pandang terbatas. Kamu sudah makan?"
Dia mengulurkan tangan, bermaksud mengusap puncak kepalaku. Itu adalah kebiasaannya. Sebuah gestur kecil yang selalu membuatku merasa dilindungi.
Namun kali ini, saat jemarinya hampir menyentuh rambutku, seluruh sel dalam tubuhku berteriak untuk menghindar. Aku memundurkan kepalaku setengah inci, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat tangannya hanya menyentuh udara kosong selama sekian detik sebelum akhirnya mendarat pelan di rambutku.
Dia tidak menyadarinya. Atau mungkin dia menyadarinya tapi memilih untuk tidak peduli.
"Belum," jawabku sambil menunduk, menghindari tatapan matanya. Aku berpura-pura sibuk merapikan ritsleting tasnya. "Aku nungguin kamu."
"Kan sudah kubilang, kalau aku pulang telat, kamu makan duluan saja, Ta," ucapnya pelan. Nada suaranya terdengar penuh perhatian. Sangat kebapakan. Sangat... sempurna.
Aku mendongak, memberanikan diri menatap matanya secara langsung. Bola matanya yang hitam pekat menatapku balik. Teduh dan tenang seperti danau yang tak beriak.
Tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana. Tidak ada kilat kebencian. Tidak ada rasa muak seperti yang ia tulis di atas kertas cokelat itu. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyembunyikan monster sebesar itu di balik sepasang mata yang begitu jernih?
"Nggak apa-apa," paksaku untuk tersenyum. "Aku siapkan air hangat untuk kamu mandi ya. Habis itu kita makan."
Aku berbalik sebelum dia sempat menjawab, mempercepat langkahku menuju dapur dan kamar mandi. Aku butuh jarak. Aku butuh menjauh darinya sebelum pertahananku benar-benar hancur dan aku menjerit menanyakan semuanya.
Malam itu terasa seperti sebuah pertunjukan teater yang canggung, di mana aku lupa dialogku dan lawan mainku adalah seorang psikopat yang tidak kukenal.
Kami duduk berhadapan di meja makan. Di depanku, ada sepiring nasi dengan ayam kecap dan tumis buncis. Makanan kesukaannya. Atau setidaknya, makanan yang kupikir adalah kesukaannya.
Agus menyuap makanannya dengan tenang. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruangan itu, selain derai hujan di luar jendela.
Aku memegang sendokku dengan erat, tapi tidak sedikit pun makanan yang masuk ke mulutku. Mataku tak lepas memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Aku memperhatikan caranya mengunyah. Rahangnya bergerak pelan, teratur. Matanya fokus pada piringnya. Sesekali dia mengambil air putih dan meminumnya.
Dia selalu bangga dengan masakannya... Sejujurnya, rasanya hambar. Aku menelan makanan itu hanya karena aku tidak ingin mendengar suaranya yang berisik...
Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku bagaikan kaset rusak.
Apakah saat ini dia sedang memikirkan hal yang sama? Apakah dia sedang menahan rasa muaknya terhadap masakanku?
Aku memperhatikan saat dia menelan suapan ketiganya. Apakah ada sedikit kerutan di dahinya? Apakah tadi dia menelan dengan sedikit kesulitan? Mataku memindai wajahnya dengan keputusasaan yang gila, mencari satu saja celah atau bukti bahwa dia sedang berakting.
"Masakannya kenapa, Ta? Kurang garam?" tanyanya tiba-tiba, menyadarkanku dari lamunan.
Aku terkesiap, nyaris menjatuhkan sendokku. "Eh? Enggak... enggak apa-apa."
Dia menatap piringku yang masih utuh. "Kamu dari tadi diam saja. Biasanya cerita soal kerjaan di butik, atau soal kucing tetangga yang nyasar ke halaman. Ada masalah?"
Pertanyaan itu terdengar begitu wajar. Seorang suami yang peduli pada istrinya.
Tapi di telingaku, semuanya terdengar berbeda.
Cara dia tertawa selalu menggangguku. Terlalu lebar. Terlalu tulus. Berada di satu ruangan dengannya membuatku merasa kehabisan napas.
Dia membenci ceritaku. Dia membenci suaraku. Dan sekarang, dia berpura-pura menanyakan hariku seolah dia benar-benar peduli. Seolah dia merindukan suaraku.
Kebohongan ini begitu rapi. Sangat rapi hingga membuatku merinding.
"Nggak ada apa-apa," jawabku pelan. Aku menyendok sedikit nasi dan memaksanya masuk ke mulutku. Rasanya seperti menelan pasir. "Hanya agak pusing. Mungkin karena cuaca dingin."
Agus meletakkan sendoknya. Dia menatapku dengan sorot mata khawatir yang membuat perutku semakin mual.
"Kamu pucat sekali," katanya lembut. Dia mencondongkan tubuhnya melintasi meja, mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahiku. "Kamu demam?"
Punggung tangannya yang hangat menempel di kulitku. Sentuhan yang dulu selalu membuatku merasa dicintai. Sentuhan yang dulu kuanggap sebagai bukti bahwa dia selalu memperhatikanku.
Tapi malam ini, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik. Kulitku meremang. Rasanya menjijikkan.
Aku ingin menepis tangannya. Aku ingin berteriak dan memintanya berhenti bersandiwara. Tapi yang kulakukan hanyalah duduk diam, membiarkan tangannya meraba dahiku, sementara hatiku menjerit histeris.
"Nggak panas," gumamnya pelan, menarik tangannya kembali. "Habis makan, kamu langsung minum vitamin dan istirahat ya. Biar piring-piring aku yang cuci."
Senyum tipisnya kembali muncul. Senyum suami teladan. Senyum pria sempurna.
Aku menatap matanya yang memantulkan cahaya lampu ruang makan. Selama lima tahun, aku memuja pria ini. Aku menganggapnya pelabuhan terakhirku. Aku menyerahkan seluruh hidupku untuk menjadi wanita yang pantas berdiri di sampingnya.
Namun malam ini, saat dia tersenyum menatapku, aku tidak melihat suamiku di sana.
Aku melihat seorang asing. Seorang aktor yang sangat brilian, yang sedang memainkan peran hidupnya, menutupi kebencian dan kebosanannya di balik topeng kesempurnaan.
Aku mengangguk pelan, membalas senyumnya dengan kepalsuan yang sama. "Iya, Mas. Makasih."
Aku menunduk kembali menatap piringku, menahan air mata yang kembali mengancam akan jatuh. Dadaku sesak oleh kesadaran yang sangat brutal dan menyakitkan.
Iftitah sadar⦠dia tidak lagi percaya suaminya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar