Pagi itu, Agus berangkat kerja lebih awal. Dia bilang ada rapat direksi dadakan yang mengharuskannya hadir sebelum jam delapan.
Aku mengantarnya ke depan pintu seperti biasa. Aku mengambil tangan kanannya, mencium punggung tangannya dengan takzim. Dia membalas dengan sebuah kecupan ringan di puncak kepalaku.
"Aku berangkat ya. Kamu istirahat saja hari ini, wajahmu masih terlihat lelah," ucapnya dengan nada yang begitu lembut, begitu penuh dengan kekhawatiran.
Aku hanya mengangguk pelan, memaksakan seulas senyum tipis di bibirku yang terasa kaku. "Hati-hati di jalan, Mas."
Aku berdiri mematung di teras, menatap mobil hitamnya yang perlahan mundur dari garasi, lalu melaju membelah jalanan kompleks yang masih berkabut. Mataku terus mengikuti arah perginya hingga mobil itu menghilang di tikungan.
Begitu suara mesinnya tak lagi terdengar, senyum di wajahku luntur seketika.
Tubuhku tiba-tiba terasa sangat lelah, seolah tulang-tulangku baru saja diloloskan dari persendiannya. Aku berbalik masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.
Keheningan seketika menyergapku. Rumah ini tiba-tiba terasa terlalu besar, terlalu kosong, dan terlalu dingin.
Langkah kakiku membawaku kembali ke kamar utama. Tanpa sadar, mataku langsung tertuju pada sudut ruangan tempat lemari kayu jati itu berdiri. Jantungku kembali berdebar dengan ritme yang tidak nyaman.
Ada bagian dari diriku yang berteriak untuk menjauh. Berteriak agar aku pergi ke dapur, mencuci piring, menonton televisi, melakukan apa saja asal jangan menyentuh buku itu lagi.
Sudah cukup. Rasa sakit semalam sudah cukup untuk membuat kewarasanku berada di ambang batas.
Tapi manusia memang makhluk yang aneh. Terkadang, rasa sakit memiliki daya tariknya sendiri. Ia seperti jurang gelap yang memanggil-manggil untuk dilompati, menjanjikan kebenaran yang absolut meski harus dibayar dengan kehancuran.
Dengan langkah gontai, aku berjalan mendekati lemari itu.
Tanganku kembali membuka laci terbawah, menyingkirkan tumpukan baju hangat, dan menarik keluar buku bersampul kulit cokelat tersebut.
Buku itu terasa lebih berat di tanganku sekarang. Seolah kertas-kertas di dalamnya telah menyerap semua air mata dan keputusasaanku semalam.
Aku duduk bersila di atas karpet berbulu di samping ranjang. Aku menarik napas dalam-dalam, menyiapkan hatiku untuk tikaman-tikaman berikutnya, lalu membuka halamannya secara acak.
Mataku tertuju pada sebuah tulisan yang cukup panjang. Tanggalnya menunjukkan sekitar pertengahan tahun lalu. Bulan Juli. Bulan di mana aku sempat mengalami depresi ringan karena butik kecilku hampir bangkrut.
Aku ingat saat itu aku sangat terpuruk. Aku merasa gagal. Aku merasa tidak berguna. Dan setiap malam, aku akan menangis di pelukan Agus, mencari validasi bahwa aku masih berharga di matanya meski bisnisku hancur.
Jemariku menelusuri deretan kalimat yang ditulis Agus hari itu.
"Tadi malam dia menangis lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya dalam minggu ini. Dia terus bertanya apakah aku malu memiliki istri yang gagal sepertinya. Dia terus memaksaku mengucapkan bahwa aku mencintainya, seolah kata-kata itu adalah mantra yang bisa menyembuhkan rasa tidak amannya."
Aku menggigit bibir bawahku dengan keras. Mengingat kembali malam itu membuat dadaku sesak. Ya, aku memang terus bertanya padanya. Aku sangat butuh diyakinkan.
Apakah salah jika seorang istri mencari perlindungan emosional dari suaminya sendiri?
Mataku melanjutkan ke paragraf berikutnya, dan apa yang kubaca di sana membuat duniaku kembali berputar.
"Dia sangat melelahkan secara emosional. Kehadirannya menyerap seluruh energiku. Dia seperti lubang hitam yang terus menuntut untuk diisi dengan perhatian, dengan validasi, dengan pujian. Dia tidak sadar bahwa ketidakamanannya itulah yang justru membuatku perlahan-lahan muak kepadanya."
Pisau kasat mata itu kembali menghujam dadaku. Kali ini lebih dalam. Lebih mematikan.
"Melelahkan secara emosional." Kata-kata itu tercetak tebal di dalam otakku.
Aku menatap kosong ke arah tulisan tangan itu. Apakah aku memang semenyebalkan itu?
Aku kembali mengingat hari-hari di mana aku selalu menunggu pesannya saat dia di kantor. Hari-hari di mana aku akan merajuk jika dia lupa hari jadi kami. Hari-hari di mana aku selalu ingin dilibatkan dalam setiap keputusannya.
Dulu, aku menyebut semua itu sebagai bentuk cintaku. Bentuk dedikasiku sebagai seorang istri yang ingin selalu terhubung dengan suaminya.
Tapi membaca sudut pandang Agus, semua yang kulakukan tiba-tiba terlihat sangat patologis. Sangat menyedihkan.
"Aku mencoba bersabar," lanjut tulisan itu. "Aku mencoba memainkan peranku sebagai suami yang pengertian. Aku memeluknya saat dia menangis, aku mengatakan hal-hal manis yang ingin didengarnya. Tapi setiap kali aku melakukannya, aku merasa sebagian dari diriku mati. Aku merasa terjebak dalam sangkar keharusan yang membuatku tidak bisa bernapas."
Tanganku meremas ujung halaman buku itu hingga lecek.
Terjebak. Dia merasa terjebak bersamaku.
Selama ini aku berpikir kamilah yang membangun rumah ini bersama-sama. Aku berpikir kami sedang merajut mimpi dalam selimut yang sama.
Kenyataannya, aku sedang mengurungnya. Aku adalah sipir penjara yang mengikatnya dengan tali rapuh bernama pernikahan, memaksanya memainkan peran yang tidak pernah ia inginkan.
Rasa mual yang hebat kembali menyerang perutku. Tapi kali ini, bukan karena aku membenci Agus.
Kali ini, aku membenci diriku sendiri.
Aku merangkak menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang berantakan. Rambutku kusut masai, mataku bengkak dengan lingkaran hitam yang kentara di bawahnya. Piyamaku kebesaran dan terlihat lusuh.
Aku menatap wanita di dalam cermin itu dengan pandangan jijik.
Pantas saja dia muak. Pantas saja dia merasa lelah. Lihatlah dirimu, Iftitah. Kamu lemah. Kamu terlalu bergantung padanya. Kamu tidak memiliki kehidupan sendiri di luar eksistensinya. Kamu menjadikan Agus sebagai pusat semestamu, tanpa peduli apakah dia bersedia memikul beban seberat itu.
Air mataku jatuh, namun kali ini aku tidak terisak. Aku menangis dalam diam, meratapi kebodohanku sendiri.
Buku harian ini tidak hanya menelanjangi kebohongan Agus, tapi juga menguliti seluruh kelemahanku tanpa ampun. Ia menampar wajahku dengan kenyataan bahwa aku bukanlah istri yang baik. Aku adalah beban.
Aku kembali merangkak ke arah buku yang tergeletak di atas karpet. Aku harus menyelesaikannya. Aku harus membaca sampai titik terakhir dari penderitaan ini.
Halaman itu hampir berakhir. Hanya tersisa satu paragraf pendek di bagian paling bawah.
Tulisan Agus di bagian ini terlihat lebih kecil, seolah ia membisikkannya ke dalam kertas. Seolah itu adalah rahasia terdalam yang bahkan ia takut untuk menuliskannya terlalu besar.
"Terkadang aku menatapnya saat dia tertidur. Melihat wajahnya yang damai, melihat betapa dia sangat mempercayaiku. Dan di saat-saat seperti itu, rasa bersalah itu muncul. Tapi rasa bersalah itu tidak pernah cukup kuat untuk mengalahkan rasa sesal yang selalu menghantuiku setiap kali aku terbangun di sebelahnya."
Aku menahan napas. Dadaku bergemuruh hebat, seakan ada badai yang siap meledak di dalam sana.
Dan di baris paling akhir, sebuah kalimat penutup yang akhirnya menghentikan detak jantungku selama beberapa detik.
Kalimat itu ditulis dengan tekanan pena yang begitu dalam, hingga nyaris menembus kertas di baliknya. Sebuah konklusi dari seluruh kebencian dan rasa muaknya selama lima tahun ini.
"Jika aku punya pilihan, aku tidak akan memilihnya."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar