Malam beranjak semakin larut. Hujan telah berhenti sejak dua jam yang lalu, menyisakan suara tetesan air dari talang atap yang jatuh satu-satu ke genangan di halaman.
Kamar kami gelap gulita, hanya diterangi cahaya keperakan dari bulan yang menyusup lewat celah gorden.
Aku berbaring miring menghadap jendela, punggungku membelakangi Agus. Jarak di antara kami di atas ranjang king size ini mungkin hanya sekitar tiga puluh sentimeter, tapi malam ini, jarak itu terasa seperti sebuah benua yang tak terpisahkan.
Suara napas Agus terdengar teratur dan berat di belakangku. Dia sudah tertidur pulas sejak satu jam yang lalu. Begitu tenang. Begitu damai.
Bagaimana dia bisa tidur secepat itu? Bagaimana dia bisa memejamkan mata dengan mudah sementara dia menyimpan kebohongan sebesar itu di kepalanya?
Aku meremas ujung selimut dengan kuat. Mataku terasa panas dan perih karena terlalu banyak menangis, tapi rasa kantuk sama sekali tidak sudi mampir. Isi kepalaku terlalu penuh. Berbagai pikiran dan pertanyaan bertabrakan dengan liar, mencari jalan keluar yang tidak kunjung kutemukan.
Aku mulai menggali ingatanku. Memutar ulang waktu. Mencari-cari kepingan puzzle yang selama ini terlewatkan oleh mataku yang dibutakan cinta.
Jika dia memang membenciku sejak awal, pasti ada tanda-tandanya. Pasti ada celah di mana topengnya sempat retak. Aku tidak mungkin sebodoh itu sampai tidak menyadari apapun selama lima tahun.
Mataku menatap kosong ke arah rintik air di kaca jendela. Pikiranku melayang ke masa lalu. Ke tahun pertama pernikahan kami.
Aku ingat saat kami pergi berlibur ke sebuah vila kecil di daerah Puncak untuk merayakan hari jadi kami yang pertama. Saat itu udara sangat dingin. Kami duduk berdua di balkon vila, menyesap cokelat panas sambil menatap kabut yang turun menyelimuti perkebunan teh.
Aku terus berceloteh tentang betapa indahnya pemandangan itu. Aku bercerita tentang mimpiku memiliki rumah kecil di pegunungan suatu hari nanti. Aku terus bicara, tertawa, dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
Saat itu, aku mengira diamnya Agus adalah karena dia sedang menikmati momen romantis itu bersamaku. Dia merangkul bahuku, tatapannya lurus ke depan menembus kabut. Aku mengira kami sedang membagi mimpi yang sama dalam keheningan.
Tapi malam ini, memori itu terasa berbeda.
Aku mengingat kembali postur tubuhnya saat itu. Bahunya kaku. Rahangnya mengeras. Tangannya yang merangkulku tidak memberikan usapan hangat, melainkan hanya bertengger di sana seperti benda mati. Tatapannya yang lurus ke depan bukanlah tatapan damai, melainkan tatapan kosong.
Apakah saat itu dia sedang berharap berada di tempat lain? Apakah dia sedang menahan napas karena suaraku membuatnya muak?
Aku memejamkan mata erat-erat, menahan erangan yang hampir lolos dari kerongkonganku.
Memori lain menyusul tanpa ampun. Menyerangku dari segala sisi.
Tahun ketiga pernikahan. Saat ibuku masuk rumah sakit karena serangan jantung ringan.
Aku sangat hancur dan ketakutan. Aku menangis semalaman di ruang tunggu rumah sakit. Agus ada di sana bersamaku. Dia tidak beranjak sedikit pun dari sisiku. Dia membawakanku kopi, membawakan selimut, dan duduk di sampingku sepanjang malam.
Semua orang di keluargaku memujinya. Mereka bilang aku sangat beruntung memiliki suami yang begitu siaga dan sabar.
Tapi apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Aku ingat aku memeluk lengannya, menyembunyikan wajahku di dadanya sambil terisak pelan. Aku mencari perlindungan. Tapi Agus tidak mengatakan apapun. Dia tidak membisikkan kata-kata penenang. Dia hanya menepuk punggungku dengan ritme yang mekanis. Tepukan satu... dua... tiga. Berhenti. Tepukan satu... dua... tiga. Berhenti.
Saat itu aku berpikir dia hanya sedang kebingungan dan tidak pandai merangkai kata-kata hiburan.
Tapi sekarang, bayangan tulisan di buku hariannya mencabik-cabik logikaku.
"Dia kembali menangis... Aku hanya duduk diam, dan yang bisa kupikirkan hanyalah: kapan semua drama ini akan berakhir?"
Apakah malam di rumah sakit itu baginya hanyalah sebuah drama yang menyusahkan? Apakah tepukan di punggungku itu bukan simpati, melainkan upayanya menahan kejengkelan karena air mataku menodai kemejanya?
Air mata kembali menetes dari sudut mataku, membasahi bantal yang mulai terasa dingin.
Aku memutar tubuhku perlahan, sangat pelan agar tidak menimbulkan suara decit pada pegas kasur. Aku berbalik menghadapnya.
Wajah Agus terlihat samar dalam kegelapan. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, alisnya yang tebal. Wajah yang selama ini kucium setiap pagi sebelum dia berangkat kerja. Wajah yang selalu kupandang dengan penuh kekaguman.
Aku menatapnya lamat-lamat. Mencari jawaban dalam keheningan malam.
Ada begitu banyak kejadian kecil yang dulu kuanggap sebagai "karakter Agus yang pendiam dan dingin", yang kini terlihat seperti bendera merah yang berkibar-kibar dengan jelas.
Caranya yang selalu menghindar setiap kali aku mengajaknya membahas masa depan. Dia selalu menjawab, "Jalani saja yang ada sekarang, Ta," dengan nada datar yang segera menutup perdebatan.
Caranya yang jarang sekali menatap mataku saat kami sedang berdua di rumah, tapi tiba-tiba menjadi sangat mesra dan perhatian saat kami sedang berada di acara keluarga atau berkumpul dengan teman-temannya.
Aku dulu bangga saat dia merangkul pinggangku di depan teman-temannya. Aku merasa diakui. Aku merasa dicintai.
Tapi sekarang aku sadar. Itu bukan cinta. Itu pertunjukan.
"Teman-temanku selalu bertanya bagaimana rasanya memiliki istri sepertinya... Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu betapa melelahkannya hidup berdampingan dengan seseorang yang tidak memiliki warna."
Aku menahan napas. Tanganku terangkat, melayang beberapa sentimeter di atas wajahnya. Aku ingin mencekiknya. Aku ingin membangunkannya dan berteriak di depan wajahnya. Aku ingin bertanya kenapa dia menikahiku jika dia sangat membenciku.
Tapi tanganku bergetar terlalu hebat. Perlahan, aku menurunkannya kembali ke atas kasur.
Aku tidak boleh gegabah. Jika aku meledak sekarang, dia pasti akan menyangkalnya. Dia pintar. Dia sangat manipulatif. Dia akan menemukan cara untuk memutarbalikkan fakta, membuatku terlihat seperti istri yang gila dan insecure.
Lagipula... sebuah suara kecil di sudut kepalaku tiba-tiba berbisik pelan.
Bagaimana jika sebagian dari tulisannya memang benar?
Aku tertegun oleh pikiranku sendiri.
Aku menatap langit-langit kamar yang gelap. Memori tentang diriku sendiri mulai bermunculan.
Memang benar aku sering menyanyi dengan suara sumbang saat menyetrika baju, karena aku pikir itu membuat suasana rumah lebih hidup.
Memang benar aku selalu menuntut pujiannya setiap kali selesai memasak, karena aku butuh validasi bahwa aku berguna untuknya.
Memang benar aku sering menangis untuk hal-hal kecil, karena aku merasa kesepian di rumah ini. Kesepian yang tidak pernah berani kuungkapkan kepadanya.
Aku terlalu penurut. Aku terlalu sering mengalah. Aku selalu menelan harga diriku demi menghindari konflik dengannya. Aku pikir itu adalah pengorbanan cinta. Tapi mungkin, di mata pria yang sangat logis dan dingin seperti Agus, semua itu terlihat patologis. Terlihat menyedihkan. Terlihat melelahkan.
Apakah kehadiranku memang mencekiknya? Apakah cintaku yang terlalu besar ini justru menjadi penjara baginya?
Kepalaku berdenyut hebat. Realitaku mulai terdistorsi. Batas antara siapa yang menjadi korban dan siapa yang bersalah mulai mengabur, menyatu dalam warna abu-abu yang membingungkan.
Semburat cahaya kebiruan mulai muncul di ufuk timur, mengintip melalui celah gorden. Pagi mulai datang, tapi malam di hatiku terasa tak berujung.
Aku menatap Agus untuk terakhir kalinya sebelum memejamkan mata yang perih. Udara dingin pagi menyentuh kulitku, membawa sebuah kesadaran yang terasa jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit hati.
Mungkin… diary itu tidak sepenuhnya salah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar