Aku membatu.

Suara hujan di luar sana tiba-tiba terdengar begitu jauh, seolah ada dinding kaca tebal yang menyekapku di dalam kamar ini.

Aku tidak pernah mencintainya.

Lima kata itu berdengung di kepalaku berulang kali, menggemakan suara Agus yang berat dan tenang. Tapi kali ini, bayangan suaranya tidak membawa ketenangan. Suara itu menjelma menjadi pisau yang mengiris jantungku pelan-pelan.

"Bohong," isakku, suaraku terdengar menyedihkan bahkan di telingaku sendiri.

Aku memukul dadaku yang terasa sesak. Mencoba meraup oksigen yang entah kenapa seakan lenyap dari ruangan ini. Air mataku jatuh semakin deras, menetes di atas sampul kulit buku harian itu.

Tangan kananku mencengkeram erat ujung karpet, sementara tangan kiriku masih memegang buku laknat tersebut. Aku ingin melemparnya ke tempat sampah. Aku ingin membakarnya sampai menjadi abu. Aku ingin lari dari rumah ini dan tidak pernah kembali.

Tapi aku tidak bergerak.

Sebaliknya, jemariku yang sedingin es kembali membuka halaman-halaman berikutnya. Aku sudah terlanjur meminum racunnya, dan sekarang aku ingin menghabiskan segelas penuh.

Aku membalik halaman secara acak. Catatan-catatan itu tidak ditulis setiap hari. Kadang hanya seminggu sekali, kadang sebulan sekali. Namun, setiap kali dia menulis, selalu tentangku. Dan tidak pernah ada satu pun hal baik di sana.

"Dia selalu menyenandungkan lagu yang sama saat menyetrika bajuku. Nada yang sumbang dan suara yang pelan. Aku sering berpura-pura tidur di sofa hanya agar aku tidak perlu mengajaknya bicara. Berada di satu ruangan dengannya membuatku merasa kehabisan napas."

Aku menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku terasa seperti disayat kawat berduri.

Lagu itu. Itu lagu kenangan kami saat pertama kali bertemu di bangku kuliah. Aku selalu menyanyikannya karena kupikir itu akan mengingatkannya pada hari-hari indah kami. Dan selama ini... dia berpura-pura tidur?

Kenangan demi kenangan berkelebat di benakku seperti film rusak.

Aku ingat senyumnya saat aku membawakannya kopi. Aku ingat caranya mengecup keningku sebelum berangkat kerja. Aku ingat pelukannya di malam-malam saat hujan turun seperti ini.

Apakah semua itu bohong? Apakah setiap sentuhannya adalah kalkulasi?

Aku membuka lembaran lain, mataku yang bengkak memindai setiap kata dengan keputusasaan yang mengerikan.

"Cara dia tertawa selalu menggangguku. Terlalu lebar. Terlalu tulus. Dia selalu tertawa pada lelucon bodohku, seolah aku adalah pria paling lucu di dunia. Padahal aku hanya sedang mengujinya. Aku ingin melihat seberapa jauh dia akan merendahkan dirinya sendiri demi menyenangkan suaminya."

Aku tersentak mundur, punggungku menabrak pintu lemari dengan keras.

"Merendahkan dirinya sendiri..."

Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa harga diriku. Aku tidak pernah merasa sedang merendahkan diri. Aku hanya... mencintainya. Aku mencintainya dengan cara yang sederhana, cara yang diajarkan ibuku: jadilah istri yang baik, jadilah rumah yang nyaman untuk suamimu.

Namun di matanya, kesetiaanku adalah kebodohan. Kehangatanku adalah sesuatu yang menjijikkan. Kepatuhanku adalah objek eksperimennya.

Detail-detail yang ditulisnya terlalu spesifik. Ini bukan tulisan seorang pria yang sedang meluapkan emosi sesaat setelah bertengkar. Ini adalah observasi jangka panjang. Ini adalah pengamatan klinis dari seorang pengamat yang tidak memiliki empati terhadap subjeknya.

Dia mengamati caraku mengunyah makanan.

Dia menulis tentang caraku melipat selimut yang menurutnya terlalu lambat dan tidak efisien.

Dia membenci caraku bertanya, "Bagaimana harimu?" setiap kali dia membuka pintu rumah.

Hal-hal kecil yang selalu kulakukan dengan cinta, diurai dan dikuliti habis-habisan dalam buku ini sebagai daftar dosa yang tidak termaafkan.

Aku menyandarkan kepalaku ke lemari, menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Lampu pendar yang redup seolah ikut menertawakan kebodohanku.

Selama ini aku hidup bersama siapa?

Pria yang tidur di sebelahku, yang berbagi selimut denganku setiap malam... siapa dia sebenarnya?

Apakah monster itu selalu ada di balik tatapan matanya yang teduh? Ataukah aku yang terlalu buta untuk melihat seringai kecil di balik senyumnya yang tipis?

Jam dinding di atas nakas berdetak. Pukul enam sore.

Sebentar lagi dia pulang. Sebentar lagi pria yang menulis semua kekejian ini akan membuka pintu kamar, memanggil namaku dengan suaranya yang lembut, dan menanyakan apakah aku sudah makan malam.

Perutku tiba-tiba bergejolak hebat. Rasa mual yang luar biasa menyerang ulu hatiku.

Aku menutup mulutku rapat-rapat, merangkak dengan susah payah menuju kamar mandi. Aku memuntahkan isi perutku di atas wastafel. Tidak ada yang keluar selain cairan bening dan rasa pahit yang membakar kerongkongan.

Aku menyalakan keran air dingin. Mencuci wajahku berulang kali, mencoba menghapus bayangan tulisan-tulisan itu dari pelupuk mataku. Tapi kata-kata itu seolah sudah terukir permanen di dalam tengkorakku.

Kutatap wajahku di cermin. Mataku merah dan membengkak. Wajahku pucat pasi, terlihat begitu lelah dan hancur.

Wanita bodoh, batinku mengutuk pantulanku sendiri.

Aku mengeringkan wajahku dengan handuk, berjalan tertatih kembali ke depan lemari tempat buku itu tergeletak. Tanganku bergetar saat meraihnya, berniat mengembalikannya ke tempat semula. Aku harus menyembunyikannya sebelum dia pulang. Aku belum siap menghadapinya. Aku belum siap menatap matanya.

Namun, sebelum aku menutup sampul belakangnya, mataku menangkap satu baris tulisan terakhir di halaman ujung yang nyaris terlewat.

Tinta hitam itu terlihat baru. Sangat baru. Mungkin ditulis pagi ini sebelum dia berangkat kerja.

Pesan itu sangat pendek. Sangat sederhana. Namun efeknya jauh lebih mematikan dari semua halaman yang sudah kubaca sebelumnya.

Aku terpaku membaca deretan huruf itu, sementara suara deru mobil yang familier mulai terdengar memasuki halaman depan rumah kami.

Dia pulang.

Dan aku menatap tulisan terakhir suamiku yang berbunyi:

"Aku lelah berpura-pura di depannya."