Ada sesuatu yang selalu aku ingat dari malam ulang tahunku yang ke-9.


Bukan kuenya — meskipun Mama membuatnya sendiri, cokelat lapis vanilla dengan tulisan "Raka Sayang Kami" menggunakan krim putih yang agak miring di sisi kiri. Bukan juga hadiahnya — sepasang sepatu olahraga merah yang sudah lama aku inginkan dan sudah berkali-kali aku tunjuk setiap kali kami melewati toko sepatu di pasar. Yang paling aku ingat adalah caranya Papa menggendongku.


Aku sudah terlalu besar untuk digendong. Sembilan tahun, hampir setinggi pinggang Papa. Tubuhku bukan lagi tubuh balita yang ringan, tapi tubuh anak laki-laki yang mulai berisi, yang sudah bisa berlari lebih jauh dari halaman rumah. Tapi malam itu, setelah tiup lilin dan semua orang bertepuk tangan, setelah asap lilin tipis mengepul naik ke langit-langit ruang makan kami, Papa tiba-tiba berjongkok di depanku dan berkata, "Naik."


"Pak, Raka sudah besar," kataku, setengah malu karena Kak Karin dan Kak Mila tertawa di belakang, menutupi mulut masing-masing.


"Besar apanya. Masih kecil. Ayo naik."


Maka aku naik ke punggung Papa. Papa berdiri — sedikit mengerang karena beratku — lalu membawaku keliling ruang tamu, sementara Mama mengikuti dari belakang sambil tertawa dan berkata, "Hendra, awas punggungmu! Jangan nanti pinggang." Papa hanya tertawa, tertawa sungguhan, bukan tawa basa-basi yang sering ia keluarkan saat bicara di telepon dengan rekan bisnisnya. Ia membawaku berputar melewati sofa tua yang sudah agak terkelupas kulitnya, melewati meja makan yang masih berantakan sisa piring kue, melewati foto-foto keluarga yang tergantung di dinding.


Dari punggung Papa, aku bisa melihat semuanya dari atas. Rumah kami yang tidak terlalu besar tapi selalu terasa penuh. Kak Karin yang sudah remaja tapi masih mau bertepuk-tepuk kecil seperti anak kecil ketika senang. Kak Mila yang memotret kami dengan kamera HP Mama sambil sesekali mengarahkan, "Senyum, Pak! Raka, lihat sini!" Dan Mama — Mama yang berdiri di bawah lampu ruang tamu, cahaya kuning keemasan jatuh di wajahnya, tersenyum ke arahku dengan senyum yang tidak bisa dipalsukan, senyum yang muncul dari tempat yang dalam sekali.


Malam itu, aku merasa aku adalah pusat dari semesta kecil bernama keluarga ini.


Aku tidak tahu bahwa itu adalah malam terakhir aku merasa seperti itu. Setidaknya, untuk waktu yang sangat, sangat lama.


---


Namaku Raka Pradana. Aku tinggal di rumah dengan cat tembok krem yang sudah sedikit mengelupas di sudut-sudutnya dan halaman depan yang ditanami pohon belimbing yang sudah ada sejak sebelum aku lahir — atau lebih tepatnya, sebelum aku datang. Perbedaan dua kata itu dulu tidak pernah aku pikirkan. Sekarang, aku tahu bedanya sangat besar.


Ayahku, atau orang yang aku panggil Papa, bernama Hendra Santosa. Pengusaha material bangunan. Tinggi, rambut mulai memutih di pelipis sejak beberapa tahun belakangan, tangan yang besar dan kuat seperti tangan orang yang terbiasa bekerja keras meski sekarang pekerjaannya lebih banyak duduk di kursi kantor. Papa tidak banyak bicara, tapi ketika ia bicara, semua orang mendengarkan — termasuk aku. Suaranya punya berat tersendiri. Bahkan ketika ia hanya bilang "hmm" atau "ya" atau mengangguk, itu sudah terasa seperti keputusan.


Ibuku, atau orang yang aku panggil Mama, bernama Wulan. Ia guru SD swasta, tapi setengah tahun belakangan sudah berhenti mengajar karena satu alasan yang belum aku mengerti sepenuhnya waktu itu. Mama berkebalikan dengan Papa — ia bicara banyak, tertawa mudah, dan selalu tahu kapan seseorang di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja. Ia jenis orang yang kalau kamu duduk di dekatnya hanya sebentar, kamu sudah merasa didengarkan, meski kamu tidak berkata apa-apa.


Kakak pertamaku, Kak Karin, waktu itu berusia empat belas tahun. Tinggi, rambut hitam panjang yang selalu dikuncir ketika di rumah, kacamata bulat yang membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Ia satu-satunya orang di keluarga ini yang selalu menyebutku "Dik Raka" dengan nada yang sungguh-sungguh, bukan sekadar formalitas panggilan kakak-adik. Kak Mila, dua tahun lebih muda dari Kak Karin, lebih pendiam dan lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya sendiri dengan dunianya sendiri.


Itulah keluargaku. Empat orang. Plus aku. Lima orang.


Kami makan bersama hampir setiap malam. Kami liburan bersama setiap lebaran, minimal ke rumah nenek di Purwokerto. Kami bertengkar soal remote TV dan siapa yang giliran cuci piring dan kenapa sabun mandi habis terus. Kami adalah keluarga yang normal, hangat, dan tidak sempurna — dan aku mencintai setiap bagian dari ketidaksempurnaan itu.


---


Malam ulang tahunku itu hampir berakhir ketika aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat.


Aku sudah di kamar, sudah pakai piyama bergambar bola yang Mama belikan bulan lalu, ketika aku ingat bahwa aku lupa mengambil minum. Perutku masih kenyang sisa kue, tapi tenggorokanku kering. Aku turun ke dapur dengan langkah mengantuk, melewati ruang keluarga yang sudah sepi dan lampunya dimatikan kecuali satu lampu kecil di sudut.


Papa dan Mama masih duduk di sofa. Berbicara pelan, hampir berbisik. Aku hampir mengumumkan kehadiranku, hampir berkata "Raka mau ambil minum ya" seperti biasa, ketika suara Papa membuatku berhenti.


"Hasil pemeriksaan tadi gimana?"


Aku tidak tahu mereka baru pulang dari dokter. Mama bilang sore tadi mau ke dokter untuk "cek rutin," dan aku tidak bertanya lebih lanjut karena waktu itu aku sedang seru main di halaman dengan anak-anak komplek.


Mama menjawab sesuatu yang tidak aku dengar jelas — suaranya terlalu pelan. Tapi aku melihat wajah Papa dari sudut gelap di mana aku berdiri, dan Papa tersenyum. Bukan senyum biasa. Senyum yang lebih besar, lebih dalam, lebih lega dari senyum mana pun yang pernah aku lihat di wajahnya. Seperti ada beban yang sudah ditanggung sangat lama baru saja dilepas dari pundaknya.


"Serius?" bisik Papa.


Mama mengangguk. Dari sini aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.


Papa memeluk Mama. Lama sekali. Kepala Papa menunduk ke bahu Mama, dan Mama meletakkan tangannya di punggung Papa dengan cara yang sangat tenang, sangat pasti.


Aku berdiri di balik dinding gelap, memegang gelas kosong yang lupa aku isi, merasakan sesuatu yang tidak bisa aku beri nama waktu itu. Bukan cemburu. Bukan takut. Hanya sesuatu yang terasa seperti pertanda — seperti kilat jauh yang belum terdengar gunturnya, tapi kamu tahu petir itu nyata.


Aku kembali ke kamar tanpa mengambil minum. Berbaring di kasur, menatap langit-langit yang gelap, mendengarkan bisik-bisik bahagia Papa dan Mama dari bawah yang sesekali terdengar di antara derit rumah tua yang mengendap di malam.


Dan entah kenapa, meski aku tidak mengerti apa-apa, meski hari itu harusnya menjadi malam terbaik dalam hidupku karena baru saja dirayakan dan dicintai dan digendong oleh Papa mengelilingi ruang tamu — aku tidak bisa tidur.