Subuh itu aku terbangun karena suara langkah kaki tergesa di lorong.
Suara yang berbeda dari suara-suara malam biasa di rumah ini — bukan suara Papa ke kamar mandi tengah malam yang berat dan lambat, bukan suara Kak Karin ke dapur ambil minum yang ringan dan hafalan. Ini suara terburu-buru, suara orang yang sedang bergerak dengan tujuan dan tidak ada waktu untuk tenang.
Aku lirik jam dinding kamarku: pukul tiga lebih dua belas menit. Langit di luar jendela kecilku masih hitam sepenuhnya, hanya ada satu dua bintang pucat di ujung cakrawala.
"Karin! Mila! Bangun, bantu Mama ke mobil!" Suara Papa, tegas tapi ada gemetar tipis di ujungnya yang tidak biasa aku dengar.
Aku bangkit dari kasur. Membuka pintu kamar. Lorong sudah menyala lampunya — lampu neon yang agak berkedip, memberi cahaya putih yang tajam ke wajah-wajah yang mengantuk. Mama berdiri di ujung lorong dekat tangga, memegang perutnya yang sangat besar itu, wajahnya pucat tapi matanya tenang dengan cara yang tidak biasa — tenang orang yang sudah bersiap, sudah tahu ini akan datang, dan sudah memutuskan untuk tidak panik.
Kak Karin sudah ada di sisinya, bergerak cepat mengambil tas besar yang memang sudah dipersiapkan dan ditaruh di sudut kamar Mama sejak minggu lalu — tas berisi semua perlengkapan untuk ke rumah sakit. Kak Mila baru muncul dari kamarnya dengan rambut berantakan dan mata yang masih setengah terpejam, tapi segera siaga ketika melihat situasinya.
"Raka." Papa melihat aku berdiri di pintu kamarku dengan piyama dan rambut acak-acakan. Ia tidak berhenti melangkah, hanya menoleh sebentar. "Kamu tunggu di rumah ya. Kak Karin sama Kak Mila ikut ke rumah sakit."
"Aku juga mau ikut, Pak."
"Tidak perlu. Kamu jaga rumah." Suaranya tidak kejam, hanya tidak memberi ruang untuk negosiasi.
Dan sebelum aku bisa menyusun argumen, sebelum aku bisa bilang bahwa aku juga bagian dari keluarga ini dan aku juga berhak ada di sana — mereka sudah turun ke bawah, suara sepatu di tangga, suara pintu depan menutup, suara mesin mobil menyala di halaman, lalu pelan-pelan menjauh.
Aku berdiri sendirian di lorong rumah yang tiba-tiba terasa sangat besar.
---
Aku tidak bisa tidur lagi.
Aku duduk di ruang keluarga, menyalakan TV dengan volume yang dikecilkan sampai hampir tidak terdengar. Siaran subuh — berita yang aku tidak mengerti separuhnya, lalu adzan Subuh dari masjid dekat komplek yang suaranya masuk lewat jendela yang sedikit terbuka. Pukul empat. Pukul lima. Langit mulai memerah tipis di luar jendela, warna oranye pudar yang perlahan mengusir hitam.
Aku membuat mi instan di dapur. Mi goreng, satu bungkus, memasaknya sendiri dengan cara yang sudah aku hafal — rebus air, masukkan mi, tiriskan, campur bumbu. Aku makan sendirian di meja makan yang biasanya ramai, kursi-kursi kosong di kanan kiriku, bunyi sendok di mangkuk terdengar terlalu keras di keheningan pagi itu.
Pukul enam pagi, HP Papa berdering di atas meja — ternyata Papa lupa membawanya. Dering itu berbunyi beberapa kali lalu berhenti. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa. Nomor siapa pun yang tahu nomor HP Papa sudah tersimpan di HP Papa sendiri yang ada di meja di depanku.
Pukul tujuh lewat, ada ketukan di pintu depan. Aku melompat dari kursi, berlari ke pintu dengan jantung yang berdetak kencang.
Pak RT. Menitipkan surat tagihan PAM.
Aku kembali ke sofa dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya.
Pukul delapan lebih sepuluh menit, HP-ku — HP jadul yang layarnya sudah sedikit retak, pemberian Kak Karin yang ganti HP baru — bergetar di atas meja kopi.
*Kak Karin: Adiknya udah lahir Dik. Laki-laki. Sehat. Papa nangis.*
Aku baca pesan itu.
Baca lagi.
Baca lagi sampai ketiga kalinya.
Adiknya sudah lahir. Laki-laki. Sehat. Papa nangis.
Papa nangis.
Aku meletakkan HP di atas lutut. Menatap layarnya yang langsung mati karena hemat baterai. Lalu menatap ke ruang keluarga yang sepi di depanku — meja TV, sofa, rak buku, foto keluarga di dinding.
Dalam hampir sembilan tahun hidup bersama keluarga ini, aku belum pernah melihat Papa menangis. Tidak ketika proyek besar bisnisnya rugi dua tahun lalu dan ada beberapa malam ia tidak tidur dan wajahnya terlihat abu-abu kelelahan. Tidak ketika kakek dari pihak Papa meninggal dan semua orang menangis di pemakaman. Tidak ketika Papa dan Mama bertengkar keras dan pintu kamar dibanting. Tidak pernah.
Dan sekarang ia menangis.
Karena bayi itu.
Aku tidak marah. Aku tidak cemburu — setidaknya itu yang aku katakan pada diriku sendiri. Aku hanya duduk di sofa itu dan merasakan sesuatu yang aneh di dadaku, sesuatu yang tidak punya nama yang tepat, sesuatu yang terasa seperti menyadari bahwa ada ruang di hati seseorang yang ternyata belum pernah benar-benar menjadi milikmu.
---
Sore harinya mereka pulang — bukan Mama yang masih di rumah sakit, tapi Papa, Kak Karin, dan Kak Mila. Papa dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Ada cahaya di matanya. Ada sesuatu yang terbuka, sesuatu yang selama ini seperti dikunci rapat baru saja dibebaskan.
"Bagas," kata Papa, begitu melangkah masuk pintu. Seperti perkenalan. Seperti menyebut nama seseorang yang sudah lama ia tunggu. "Nama adikmu Bagas Prasetya."
"Bagus namanya, Pak," kataku.
Papa mengangguk, sudah tidak mendengarkan jawabanku karena HP sudah ada di tangannya, mengeluarkan foto-foto bayi itu. Kak Karin dan Kak Mila langsung mengerubungi, masing-masing memegang sisi HP, berkomentar dan tertawa melihat foto-foto itu. "Chubby banget pipinya!" "Tangannya kecil lucu!" "Papa lihat, senyum nggak sengaja tuh!"
Aku berdiri di tepi kelompok itu.
Tidak ada yang menyodorkan HP ke arahku. Tidak ada yang berkata, "Raka, sini lihat adikmu."
Aku ingin bertanya. *Boleh aku lihat?* Tapi kalimat itu tidak mau keluar, seperti tersangkut di tenggorokan. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku takut bahwa bahkan permintaan sekecil itu pun bisa terasa seperti beban.
Aku berbalik, masuk ke dapur, dan mulai menghangatkan nasi untuk makan malam. Karena seseorang harus melakukannya, dan seseorang itu ternyata selalu aku.
---
Tiga hari kemudian Mama pulang dengan Bagas dalam gendongannya.
Aku berdiri di depan pintu bersama semua orang, menyambut mereka di teras. Angin sore yang hangat. Cahaya senja kuning keemasan. Momen yang harusnya sempurna.
Papa sangat berhati-hati membawa Mama naik anak tangga teras — satu tangan di punggung Mama, satu tangan siap kalau dibutuhkan, matanya tidak pernah lepas dari bayi di gendongan Mama. Bagas tidur. Wajahnya merah kecil, kepalan tangan mungilnya ada di sisi pipinya sendiri.
"Boleh aku pegang, Ma?" tanya Kak Karin.
"Nanti ya, cuci tangan dulu yang bersih."
"Aku juga mau!" kata Kak Mila.
"Satu-satu, satu-satu."
Mereka masuk ke dalam. Ruang tamu menjadi ramai dengan tetangga yang sudah menunggu, ada yang membawa makanan, ada yang langsung mengintip ke gendongan Mama dengan wajah berbinar.
Aku berada di tengah semua keramaian itu. Berdiri. Mengamati. Tidak ada yang menyapaku, tidak ada yang bertanya padaku, tidak ada yang menyertakan aku dalam lingkaran kebahagiaan yang terbentuk alami di ruang tamu itu.
Aku seperti furniture. Ada, tapi tidak dilihat.
Aku ke kamar. Menutup pintu dengan pelan. Duduk di tepi kasur, menatap dinding yang polos.
Di rak kecilku ada boneka beruang kecil yang sudah butut — boneka yang katanya ada di tanganku waktu pertama kali aku datang ke rumah ini. Aku tidak ingat dari mana boneka itu berasal. Aku tidak tahu siapa yang memberikannya. Tapi ia selalu ada, selalu di sana, dengan matanya yang sudah agak rontok satu karena dijahit ulang terlalu banyak kali.
Aku ambil boneka itu. Memegangnya di tangan.
Waktu aku masih kecil, Mama pernah bilang: "Boneka ini pasti penting buat kamu, makanya kamu bawa waktu datang ke sini." Kalimat itu dulu terasa seperti bukti — bukti bahwa ada sesuatu dari dunia sebelumnya yang aku bawa, bahwa aku punya sejarah, bahwa aku ada sebelum keluarga ini.
Hari ini kalimat yang sama terasa seperti pertanyaan yang belum terjawab: dunia mana yang membuat boneka ini penting? Dan ke mana dunia itu pergi?
Dan di luar sana, suara tawa dan kebahagiaan terus mengalir seperti sungai yang tidak pernah berhenti.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar