Aku baru tahu artinya senyum Papa malam itu dua minggu kemudian.
Dua minggu yang tampak normal dari luar. Berangkat sekolah, pulang, makan siang, main sore, makan malam, tidur. Tapi di baliknya ada sesuatu yang berubah dengan cara yang sulit aku jelaskan — seperti aroma yang berubah di udara setelah hujan, kamu tahu ada yang berbeda tapi tidak bisa menunjuk apa tepatnya. Mama lebih sering istirahat siang. Papa kadang pulang lebih awal dari biasanya. Ada bisik-bisik antara keduanya yang berhenti setiap kali aku mendekat.
Sabtu pagi. Sarapan seperti biasa. Nasi goreng buatan Mama yang selalu terlalu asin — sudah bertahun-tahun begitu, sudah bertahun-tahun tidak ada yang berani bilang karena Mama memasak dengan cinta dan itu seolah membuat garam berlebih menjadi tidak apa-apa. Kak Karin makan sambil baca buku tipis cover biru yang entah buku apa. Kak Mila main HP di bawah meja, pura-pura menggaruk lutut setiap kali Papa melirik ke arahnya.
Papa masuk ke ruang makan dengan baju santai, rambut masih berantakan baru bangun. Ia duduk, mengambil piring, menuang nasi, lalu melirik ke Mama dengan satu angkat alis.
Mama mengangguk. Satu anggukan kecil yang penuh arti.
"Anak-anak," kata Papa. Suaranya tidak seperti biasa. Ada sesuatu di sana yang sulit aku deskripsikan — sesuatu yang hangat dan besar dan menggembung seperti balon yang hampir meledak. "Papa dan Mama mau cerita sesuatu."
Kak Karin meletakkan bukunya. Kak Mila menyembunyikan HP-nya dengan cepat di balik paha. Aku berhenti mengunyah, menyimpan sendok.
Mama menarik napas panjang. Lalu ia tersenyum — senyum yang sama dengan yang aku lihat malam dua minggu lalu, senyum yang berkaca-kaca di ujung-ujungnya.
"Mama hamil," katanya.
Satu detik hening yang sempurna.
Lalu Karin berteriak. Bukan teriak kaget — teriak senang murni, tanpa filter, melompat dari kursinya dan langsung memeluk Mama dengan kuat sampai Mama tertawa dan berkata aduh-aduh kesakitan sambil tetap tertawa. Mila menyusul, ikut memeluk dari sisi lain, dan keduanya bertanya bersamaan dengan suara yang saling menimpa satu sama lain: "Beneran? Beneran? Udah berapa bulan? Nanti namanya siapa? Cewek apa cowok?"
Papa tertawa. Tertawa yang sama seperti malam itu — lega, dalam, seperti orang yang baru selesai menahan napas sangat lama dan akhirnya boleh menghirup udara sebebas-bebasnya.
Aku duduk di kursiku. Menatap mereka semua.
Dan aku ikut tersenyum — karena memang itulah yang harus dilakukan, bukan? Ketika semua orang bahagia, kamu ikut bahagia. Itu yang diajarkan Mama sejak aku kecil, itu yang selalu ia contohkan — berbahagia bersama orang-orang yang kamu cintai, bahkan ketika kebahagiaan itu bukan milikmu sepenuhnya.
"Raka," Papa memanggilku dari balik pelukan kakak-kakakku yang masih mengerubungi Mama. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya hangat. "Kamu akan punya adik, Nak."
Kamu akan punya adik.
Aku mengangguk dan tersenyum lebih lebar, membuat senyumku cukup besar agar terlihat dari jarak mana pun di meja itu.
Tapi di dalam dadaku — jauh di dalam, di tempat yang gelap dan tidak bisa dilihat siapa pun — ada sesuatu yang bergerak. Seperti batu kecil yang jatuh ke dasar sumur yang dalam. Tidak bersuara. Tidak terlihat. Tidak menyakitkan pun saat itu. Tapi aku merasakannya jatuh dan terus jatuh, dan entah kapan ia akan sampai ke dasar.
---
Hari-hari berikutnya, rumah kami berubah dengan cara yang tidak dramatis tapi konsisten — seperti air yang mengukir batu, tidak terasa di setiap tetes, tapi jelas bekasnya setelah berbulan-bulan.
Percakapan Papa dan Mama di meja makan mulai sering berkisar soal nama bayi, soal kamar mana yang akan dijadikan kamar bayi, soal perlengkapan apa yang perlu dibeli dan mana yang bisa dipinjam dari saudara. Kak Karin dengan bersemangat membuat daftar nama bayi di buku catatannya — ada daftar nama cewek dan daftar nama cowok, masing-masing dengan kolom "alasan" kenapa nama itu bagus. Kak Mila mulai menonton video-video di YouTube tentang cara merawat bayi, cara memakaikan baju bayi yang benar, cara memandikan bayi yang kepala lehernya masih lemah.
Aku yang pertama kali ingin ikut-ikutan antusias dengan caraku sendiri.
Suatu hari setelah pulang sekolah, aku mampir ke koperasi sekolah dan membeli sebuah buku nama bayi. Tipis, covernya warna hijau muda, harganya tiga ribu rupiah — habis dari uang jajan yang biasanya aku simpan untuk beli es serut pulang sekolah. Aku pikir ini ide yang bagus. Aku pikir Mama akan senang.
Malam itu aku letakkan buku itu di meja makan dengan posisi yang mencolok, agak ke tengah, agar mudah terlihat.
"Ini untuk cari nama adik," kataku waktu Mama masuk dan melihatnya.
Mama mengambilnya dengan senyum lebar, membolak-balik halamannya. "Wah, Raka yang beliin? Dari mana uangnya?"
"Dari uang jajan."
"Makasih ya, Sayang." Mama mencium keningku.
Papa melihat buku itu sekilas dari kursinya, tersenyum kecil, lalu kembali ke korannya. Mama meletakkan buku itu di samping tumpukan majalah dengan janji akan dibaca nanti.
Besok paginya, buku itu tidak ada lagi di meja makan. Entah disimpan di mana. Aku mencarinya selama beberapa hari dengan cara yang tidak ketara, melirik-lirik ke rak buku, ke laci dapur, ke atas kulkas. Tidak ketemu. Mungkin dibuang. Mungkin memang disimpan di suatu tempat yang tidak aku tahu.
Tidak pernah aku tahu.
Itu hal kecil. Sangat kecil. Buku tiga ribu rupiah. Tidak ada maknanya secara material. Tapi hal-hal kecil yang tidak mendapat tempatnya — hal-hal kecil itulah yang paling sering tersangkut di ingatan dan tidak mau pergi.
---
Suatu malam, dua bulan setelah pengumuman itu, aku duduk mengerjakan PR matematika di meja belajarku. Lampu kamar sudah aku nyalakan penuh. Pintu kamarku tidak tertutup rapat — memang tidak pernah tertutup rapat karena engselnya agak miring sejak lama dan tidak pernah diperbaiki.
Dari kamar, aku bisa mendengar suara Papa berbicara di telepon di ruang keluarga. Awalnya aku tidak benar-benar mendengarkan — aku fokus ke soal perkalian pecahan yang membingungkan. Tapi lalu satu kalimat menembus konsentrasi itu dan masuk ke telingaku dengan sangat jelas.
"...mudah-mudahan kali ini laki-laki, Mas. Sudah lama sekali kami tunggu. Beneran. Keturunan darah sendiri yang laki-laki, kan beda rasanya..."
Aku berhenti menulis.
Ujung pensilku masih menyentuh kertas. Tapi tidak lagi bergerak.
*Keturunan darah sendiri yang laki-laki.*
Aku baca kalimat itu dalam hati. Satu kali. Dua kali. Tiga kali, sampai setiap kata-katanya terasa seperti benda yang bisa aku pegang.
Lalu aku teruskan mengerjakan PR-ku.
Malam itu aku tidak memikirkannya terlalu dalam — atau lebih tepatnya, aku memilih untuk tidak memikirkannya. Aku masih sembilan tahun. Aku belum mengerti semua arti yang bisa tersembunyi di balik kalimat-kalimat orang dewasa. Tapi kalimat itu tersangkut di suatu tempat di dalam kepalaku, seperti benang yang nyangkut di paku kecil di dinding — tidak menyakitkan, tidak terlihat, tapi tidak bisa lepas begitu saja tidak peduli seberapa keras kamu menariknya.
Dan benang itu akan terus ada, semakin panjang, semakin rumit, di bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar