Sembilan bulan itu terasa seperti musim panas yang perlahan-lahan membakar.

 

Tidak langsung. Tidak sekaligus. Tapi sedikit demi sedikit — seperti api yang dimulai dari bara kecil di sudut yang tidak terlihat, menggerogoti dari bawah, sampai satu hari kamu sadar lantainya sudah rapuh dan kamu tidak tahu sejak kapan itu terjadi.

 

Aku bukan katak yang tidak sadar airnya mulai mendidih. Aku katak yang sadar, tapi memilih percaya bahwa air itu tidak akan sampai mendidih. Aku memilih percaya karena pilihan lainnya terlalu menakutkan.

 

---

 

Bulan pertama dan kedua masih normal. Masih terasa seperti rumah yang sama.

 

Mama masih memasakkan sarapan setiap pagi meskipun mulutnya kadang terasa tidak enak, masih menyiapkan bekal sekolahku kalau ada lauk sisa kemarin. Papa masih mengantarkanku ke sekolah setiap Senin sebelum ia ke kantor, masih mampir ke warung kopi dulu dan membelikanku susu kotak tanpa aku minta. Malam Minggu masih ada nonton film bersama di ruang keluarga, berdesakan di sofa, berebut selimut dengan Kak Karin yang selalu menang karena kakinya paling panjang dan bisa melipat selimut dengan jemari kaki.

 

Rumah masih terasa penuh dengan suara yang benar.

 

Tapi memasuki bulan ketiga, sesuatu mulai bergeser.

 

Mama mulai sering mual. Tidak bisa mencium aroma masakan terlalu lama tanpa merasa mau muntah, tidak bisa terlalu banyak bergerak tanpa pucat. Pagi hari ia masih berusaha bangun dan menyiapkan dapur, tapi lebih sering berakhir duduk di kursi dapur sambil memegang perutnya yang belum terlalu terlihat membesar, napasnya berat, matanya setengah terpejam.

 

Aku yang mulai memasak sarapan.

 

Bukan karena disuruh. Tidak ada yang menyuruhku. Tidak ada yang bertanya apakah aku mau atau bisa. Aku hanya melihat Mama duduk kelelahan setiap pagi dan sesuatu dalam diriku bergerak — refleks yang tidak membutuhkan perintah.

 

Aku bangun setengah jam lebih awal. Masuk dapur. Menggoreng telur, menanak nasi yang sudah Mama persiapkan semalam di rice cooker, memanaskan lauk sisa. Waktu itu aku tidak terlalu bisa masak, tapi telur dadar bisa, nasi goreng sederhana bisa, mie rebus bisa. Mama tersenyum setiap kali melihat meja makan sudah ada makanannya — senyum yang capek tapi tulus, senyum orang yang bersyukur tanpa harus mengucapkannya.

 

"Raka, kamu yang masak?"

 

"Iya. Mama istirahat aja."

 

Mama mengusap kepalaku. "Anak Mama yang baik."

 

Aku tersenyum mendengar itu. *Anak Mama.* Dua kata yang selalu terasa seperti selimut hangat — hangat yang masuk dari luar sampai ke dalam. Waktu itu aku masih bisa percaya pada dua kata itu sepenuhnya.

 

---

 

Bulan keempat. Papa mulai lebih sering pulang lebih cepat dari kantor untuk memastikan Mama sudah makan, sudah istirahat, tidak kelelahan. Ada perhatian baru di wajah Papa setiap kali ia melihat Mama — perhatian yang intens, yang tidak bisa diganggu gugat, perhatian yang membuat seseorang di ruangan yang sama bisa saja merasa tidak terlihat.

 

Aku tidak mengeluh. Tidak dalam hati pun. Aku mengerti bahwa Mama sedang mengandung dan itu membutuhkan perhatian lebih. Logika sembilan tahun pun cukup untuk mengerti itu.

 

Tapi ada satu momen kecil yang aku ingat dengan sangat jelas.

 

Suatu sore aku pulang sekolah dengan nilai ulangan matematika sembilan puluh delapan — nilai tertinggi di kelasku, bahkan Bu Guru memberi bintang merah di atasnya dan menuliskan "Excellent!" dengan huruf besar. Aku senang sekali. Aku berlari pulang dan masuk ke rumah dengan langkah yang penuh energi.

 

"Ma! Papa! Raka dapat nilai sembilan puluh delapan ulangan matematika!"

 

Mama sedang berbaring di kamar, beristirahat. Papa sedang di dapur membuatkan teh untuk Mama. Kak Karin belum pulang, Kak Mila ada di kamarnya.

 

Papa menoleh sebentar dari arah dapur. "Bagus." Lalu kembali ke tehnya.

 

Mama dari kamar: "Wah, pintar ya, Sayang. Sini dulu, bantu Mama ambilkan bantal tambahan di lemari."

 

Aku mengambilkan bantal. Membantu Mama. Lalu pergi ke kamarku dan menyimpan lembar ulangan itu di laci mejaku, di bawah tumpukan buku.

 

Aku tidak tahu waktu itu bahwa aku akan terus melakukan itu selama bertahun-tahun — menyimpan pencapaian-pencapaianku sendiri, melipatnya rapi, menyimpannya di tempat yang tidak bisa dilihat orang lain karena tidak ada yang akan mengambilnya dari tanganku dengan antusias.

 

---

 

Memasuki bulan kelima, perut Mama sudah terlihat jelas. Semua perhatian di rumah mulai mengarah ke sana secara alami, seperti tanaman yang menghadap matahari — tidak ada yang memutuskan, tapi semua bergerak ke arah yang sama.

 

Percakapan di meja makan berubah topiknya. Nama bayi. Pilihan persalinan. Kamar bayi. Perlengkapan apa yang sudah dibeli, apa yang masih kurang. Kak Karin dengan antusias ikut browsing popok dan baju bayi di laptop Mama, mengompori Mama untuk beli ini-itu yang lucu-lucu. Kak Mila belajar cara melipat popok dari YouTube dan mempraktikkannya dengan bantal kecil sebagai boneka.

 

Aku ikut menonton demo lipat popok Kak Mila dari pintu kamarnya. Tidak masuk. Hanya menonton dari luar.

 

---

 

Suatu momen yang seperti jarum yang menusuk tanpa peringatan.

 

Hari itu ada kunjungan ibu-ibu arisan ke rumah. Teman-teman Mama, tetangga-tetangga yang sudah kenal bertahun-tahun. Ruang tamu penuh suara perempuan yang bergantian membelai perut Mama, tertawa, memberi saran soal ini-itu, membawa oleh-oleh kue dan buah.

 

Aku duduk di pojok ruangan mengerjakan PR, setengah mendengarkan, setengah tidak peduli.

 

"Wah, Mbak Wulan, ini kehamilan keberapa?"

 

"Ketiga," jawab Mama.

 

"Iya ya, si Karin sama si Mila sudah gede. Ini mah beneran ngidam lagi ya."

 

Seorang ibu-ibu lain nyeletuk: "Tapi katanya sebelumnya ada satu lagi ya? Yang laki-laki?"

 

Hening sebentar. Aku mengangkat kepala dari buku PR-ku.

 

Mama tersenyum dengan cara yang tidak sepenuhnya nyaman. "Iya, Raka. Itu anak angkat kami."

 

Bukan "anak kami." Tapi "anak angkat kami."

 

Dua kata yang berbeda. Sangat berbeda. Satu adalah identitas. Satu adalah keterangan.

 

Ibu-ibu itu menoleh ke arahku, senyum sopan seperti orang yang baru menyadari ada orang lain di ruangan. "Oh, yang di sana itu ya? Sudah besar. Mirip ya sama Pak Hendra?"

 

Mama tertawa pelan. "Nggak mirip, tapi sudah kayak anak sendiri."

 

*Sudah kayak.* Bukan *adalah*.

 

Aku kembali menatap buku PR-ku. Huruf-huruf di halaman itu tiba-tiba terasa bergoyang, seperti ditulis di atas permukaan air. Aku tidak jadi menyelesaikan PR hari itu.

 

Malam itu aku berbaring dan untuk pertama kalinya bertanya dalam hati tentang sesuatu yang selama ini berdiri di tepi pikiranku tanpa pernah benar-benar aku undang masuk:

 

*Kenapa mereka menyerahkan aku?*

 

Pertanyaan itu tidak meledak. Tidak menghancurkan. Ia hanya datang, pelan, seperti kabut yang masuk lewat celah jendela yang tidak tertutup rapat. Dan malam itu aku biarkan kabut itu ada, karena aku tidak tahu harus mengusirnya ke mana, dan karena bagian dari diriku yang paling jujur tahu bahwa ini pertanyaan yang cepat atau lambat harus aku hadapi.

 

Aku hanya belum siap. Belum waktu itu.