Sepeda itu sudah aku gunakan sejak kelas dua SD.
Roda kirinya sedikit oleng kalau dikayuh terlalu keras karena pernah nabrak got dan batang rodanya sedikit bengkok. Catnya sudah memudar — warna merah yang harusnya cerah sekarang jadi merah pucat yang tidak bisa lagi dibedakan apakah itu merah atau cokelat tua dari jarak jauh. Ada bekas luka di setangnya, lengkungan plastik yang terkelupas sebagian, karena dulu pernah terjatuh dan menabrak pot bunga di teras. Tapi aku menyukai sepeda itu. Ia sudah seperti teman lama yang tahu semua jalan di komplek ini — tahu di mana aspalnya mulus dan di mana ada lubang yang harus dihindari.
Sore itu, dua minggu setelah Bagas pulang dari rumah sakit, aku mengayuh sepeda itu di jalanan komplek yang sepi. Jam tiga sore, matahari masih tinggi tapi anginnya sudah mulai ramah. Bayangan pohon-pohon panjang di aspal membuat lorong-lorong komplek terasa teduh. Suara burung dari arah lapangan basket yang sudah tidak dipakai bertahun-tahun. Aku senang. Aku bebas. Untuk satu jam ini, tidak ada yang aku pikirkan selain putaran pedal dan angin di wajahku.
Sampai ban depanku masuk ke lubang yang tidak aku lihat — lubang kecil yang ditutupi daun kering jatuh, tidak kelihatan dari jarak dua meter.
Sepeda oleng ke kiri. Aku sudah coba rem, tapi inersia terlalu besar, dan dalam satu detik yang terasa seperti gerak lambat aku sudah terbanting ke aspal. Bahu kananku duluan, lalu lutut kanan, lalu telapak tangan kiri yang aku gunakan untuk menahan jatuh.
Aku berbaring sebentar di aspal itu, memastikan tidak ada yang patah atau terkilir. Bahu sedikit sakit tapi bisa digerakkan. Telapak tangan perih tapi tidak berdarah. Lutut — aku lihat lutut kananku dan ada merah yang mulai membasah di sana, menetes ke kaus kaki putihku.
Aku berdiri. Menepuk debu dari celana. Meluruskan setang sepeda yang sedikit miring. Lalu menuntun sepeda pulang dengan langkah yang agak timpang karena lutut yang mulai berdenyut.
---
Rumah tidak jauh. Lima menit jalan kaki biasa, tujuh menit dengan langkah sedikit pincang.
Aku masuk lewat pintu samping yang tidak dikunci, langsung menuju ruang tengah. "Ma!"
Tidak ada jawaban dari arah yang biasanya — dapur atau ruang keluarga.
"Ma, Raka jatuh!"
Dari dalam kamar utama, terdengar suara Bagas — suara tangis kecil yang seperti anak kucing kedinginan, tidak keras tapi insisten. Dan kemudian suara Mama menenangkan, senandung pelan yang berulang-ulang, suara yang aku kenal sejak kecil sebagai suara penenang malam.
Aku berdiri di depan pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Mendorongnya sedikit.
Mama duduk di kursi kayu dekat tempat tidur bayi, menyusui Bagas dengan ekspresi yang penuh konsentrasi. Ia mengangkat kepala ketika aku masuk, matanya langsung ke arah lututku yang merah.
"Aduh, Raka, kenapa?"
"Jatuh dari sepeda."
"Sakit?"
"Lumayan."
"Sebentar ya, Sayang..." Mama mengangguk ke arah Bagas yang masih menyusu, gerakannya tidak berubah, tidak ada sinyal ia akan segera bisa bergerak. "Mama lagi nyusuin, sebentar lagi selesai. Kamu ambil obat merah dulu di kotak P3K, di kamar mandi."
Aku menatap Mama beberapa detik. Mama menatapku kembali dengan ekspresi meminta maklum — ekspresi yang tulus, tidak ada maksud jahat di sana, hanya ekspresi orang yang sedang melakukan dua hal sekaligus dan tidak bisa membagi dirinya menjadi dua.
"Iya, nggak papa," kataku. Suaraku keluar lebih datar dari yang aku maksudkan. "Raka urus sendiri aja."
Mama sedikit mengerutkan dahi. "Yakin? Pake obat merah ya, jangan dibiarin. Nanti bisa infeksi."
"Iya."
Aku pergi ke kamar mandi.
---
Kotak P3K ada di atas lemari pendek dekat wastafel — kotak putih dengan tanda plus merah yang catnya sudah sedikit mengelupas di sudutnya. Aku buka tutupnya, mengambil kapas dan betadine. Aku jongkok di tepi bak mandi, membasuh luka di lututku pelan-pelan dengan kapas basah dulu, membersihkan debu dan kerikil kecil yang mungkin masuk.
Lalu betadine.
Aku teteskan di kapas, lalu tempelkan ke luka. Sengatan itu datang seketika — perih yang membakar, yang memaksamu menghisap napas lewat gigi dan mengencangkan rahang.
Biasanya Mama yang melakukan ini. Biasanya Mama yang jongkok di depanku, memegang lututku dengan hati-hati dengan tangan yang terlatih — bukan tangan yang gemetar seperti tanganku sendiri sekarang. Biasanya Mama yang meniup-niup pelan setiap kali betadine menyentuh luka, meniup sambil berkata *sudah, sudah, sebentar lagi, hampir selesai, berani ya.* Suara yang membuat perihnya terasa lebih kecil.
Hari ini tidak ada suara itu.
Aku meniup sendiri. Meniupkan napasnya sendiri ke luka sendiri. Tapi tidak sama. Tidak pernah sama rasanya — karena angin dari mulutmu sendiri tidak punya kuasa yang sama dengan angin dari mulut orang yang menyayangimu.
Aku pasang plester sendiri. Tiga plester berlapis karena lukanya agak lebar dan aku tidak ingin repot ganti terlalu sering.
Lalu aku berdiri. Membuang kapas bekas ke tempat sampah. Menyimpan kembali betadine ke kotaknya. Menutup kotak P3K.
---
Kak Karin menemukanku waktu aku keluar dari kamar mandi.
Ia muncul dari kamarnya, mungkin mau ke dapur, dan hampir menabrak aku di lorong. Matanya langsung ke plester di lututku.
"Raka? Luka?"
"Jatuh dari sepeda tadi."
"Sakit? Sudah diobatin?"
"Sudah. Betadine sama plester."
Kak Karin jongkok di depanku, memeriksa plester yang aku pasang. Menekannya pelan-pelan di tepinya untuk memastikan menempel dengan baik. "Ini sudah bersih sebelum diplester?"
"Sudah, aku bersihkan dulu."
Kak Karin manggut-manggut. "Bagus. Kalau besok masih perih bilang ya, mungkin perlu diganti plesternya." Ia berdiri, menepuk kepalaku sekali. "Kamu ini jagoan, urus sendiri."
Aku tidak tahu kalimat itu terasa seperti pujian atau seperti konfirmasi dari sesuatu yang sudah aku mulai pahami tentang posisiku di keluarga ini.
Mungkin keduanya.
---
Malam itu aku berbaring di kasur dengan lutut yang sudah diplester, menatap langit-langit kamar kecilku yang polos.
Aku tidak marah pada Mama. Sungguh. Bagas baru dua minggu di rumah, ia bayi yang masih menyusu dan butuh perhatian penuh. Mama tidak punya pilihan lain selain fokus ke sana. Logika sederhana, benar adanya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda setelah sore itu. Bukan kemarahan. Bukan benci. Hanya semacam pergeseran dalam pemahamanku tentang sesuatu yang selama ini aku anggap pasti — bahwa ketika aku terluka, seseorang akan datang. Bahwa aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Bahwa perihku ada di urutan atas dalam daftar prioritas seseorang di rumah ini.
Sore tadi aku belajar bahwa daftar itu sudah berubah urutannya.
Dan aku belum tahu ke urutan berapa aku sekarang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar