Fajar belum sepenuhnya membuka matanya ketika Jagur sudah berdiri di atas akar banyan tua yang mencuat dari tepi Sungai Mahakam seperti jari-jari raksasa yang meraih air. Kabut pagi mengapung rendah di permukaan sungai, tebal dan dingin, menelan ujung-ujung perahu yang tertambat di bawah. Dari kejauhan terdengar suara rangkong — serak, dalam, berulang — memecah keheningan hutan seperti seseorang yang mengetuk pintu dan tidak sabar menunggu jawaban.


Jagur tidak bergerak. Ia berdiri dengan cara yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah lama akrab dengan diam: tanpa ketegangan, tanpa kehati-hatian yang dibuat-buat, hanya ada keberadaan yang penuh dan tenang seperti pohon menancap di tanah. Matanya — gelap, sedikit sipit, dengan sudut luar yang ditarik ke bawah oleh garis keturunan ibunya yang Melayu — mengikuti permukaan sungai tanpa berkedip.


Di sanalah ia melihatnya.


Riak kecil yang salah. Bukan arus. Bukan angin. Riak yang bergerak melawan arah, membentuk pola setengah lingkaran yang sangat pelan — seperti sesuatu yang besar sedang bergerak perlahan di bawah permukaan, menahan nafas, memilih waktu.


Buaya.


Jagur menurunkan tangannya ke pinggang, menyentuh gagang parang yang tergantung di sana bukan untuk dicabut, tapi sekadar untuk mengingatkan dirinya bahwa ia punya pilihan. Buaya itu — kalau perkiraan ukuran riak itu benar — panjangnya tidak kurang dari empat meter. Tua. Sabar. Sudah makan cukup banyak hal-hal yang lebih cepat dan lebih muda darinya.


"Bapak."


Suara itu datang dari belakang, pelan tapi jelas, seperti batu kecil yang dijatuhkan ke kolam. Jagur tidak berbalik. Ia sudah tahu suara itu sebelum suara itu lahir — seperti bagaimana orang tahu detik sebelum matahari muncul bahwa matahari akan muncul.


"Ada buaya," kata Jagur. Bukan peringatan. Sekadar pernyataan.


Langkah kaki yang ia kenal maju ke sampingnya. Lintang berdiri di sebelah kiri Jagur, lebih pendek tiga jari, dengan bahu yang masih dalam proses memutuskan mau selebar apa kelak. Ia berusia enam belas tahun dan sedang berada di tahap hidup ketika tubuh dan pikiran tumbuh lebih cepat dari kebijaksanaan — kondisi yang berbahaya di banyak tempat, tapi terutama di sini, di tepi sungai yang menyimpan hal-hal besar di balik permukaannya yang tenang.


Lintang melihat ke arah yang sama dengan ayahnya. Diam sebentar. Lalu, "Yang mana?"


"Tiga depa dari batu merah itu. Lihat riaknya."


Lintang mengerutkan kening. Matanya memindai permukaan air dengan serius — serius tapi belum terlatih. Ada perbedaan antara melihat dan membaca, dan Jagur tahu bahwa Lintang masih belajar membedakan keduanya. Hutan bukan sekadar tempat yang penuh pohon dan binatang. Hutan adalah teks — panjang, berlapis, ditulis dalam bahasa yang tidak ada di dalam buku mana pun, hanya bisa dipelajari dengan kaki yang kotor dan telinga yang sabar.


"Aku tidak lihat apa-apa," kata Lintang akhirnya, dengan nada sedikit frustrasi.


"Memang sudah tidak ada," jawab Jagur. "Sudah masuk lebih dalam. Tapi tadi ada."


Lintang menoleh ke ayahnya. "Bapak yakin?"


Jagur tidak menjawab. Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan kata-kata.


Mereka berdiri berdampingan beberapa saat lagi, menatap sungai yang mengalir dengan masa bodoh dan agung, membawa air dari gunung yang jauh menuju laut yang lebih jauh lagi. Di belakang mereka, rombongan ekspedisi mulai bergerak — suara ember bergesekan, langkah berat serdadu Belanda di atas tanah yang belum terbiasa dengan sepatu berat mereka, suara Tuan Kruijer yang memberikan instruksi dalam bahasa Belanda yang dicampur dengan bahasa Melayu pasar yang kaku dan tidak enak didengar.


Jagur menarik nafas dalam. Bau sungai pagi hari — lumpur, air tawar, akar yang membusuk, dan di antara semuanya, seperti benang sutra di dalam anyaman rotan kasar, bau bunga entuyut yang mekar hanya dua minggu setahun, tepat di musim ini. Ibunya dulu selalu mencari bunga itu. Katanya, kalau kau bisa mencium bau entuyut di pagi hari, artinya hidungmu masih hidup dan harimu akan baik.


"Hari ini kita sampai di mana?" tanya Lintang.


"Kalau rombongan tidak lambat, malam ini kita di Muara Pahu." Jagur akhirnya berbalik, memandang ke arah rombongan yang sedang bersiap. "Kalau lambat, kita kemah di Lekaq Kidau."


"Muara Pahu ada warungnya?"


"Ada."


Lintang tersenyum — senyum anak muda yang hatinya masih bebas dari terlalu banyak beban. "Aku mau makan nasi kuning."


Jagur menatap anaknya. Ada sesuatu dalam dadanya yang sulit diberi nama — sesuatu yang campur antara bangga, kasih, dan semacam ngeri yang samar, seperti seseorang yang memegang benda yang sangat berharga dan tiba-tiba menyadari betapa mudahnya benda itu bisa jatuh dan pecah.


"Nanti," katanya.


---


Jagur lahir empat puluh satu tahun yang lalu di sebuah kampung kecil di hulu Sungai Kedang Pahu, dari ayah yang berburu dengan sumpit dan ibu yang menganyam tikar dari daun pandan hutan. Nama "Jagur" — kuat, kokoh, tidak goyah — diberikan oleh neneknya yang melihat bayi itu lahir dengan kepalan tangan yang sudah terkepal rapat.


Keturunan campurannya tidak pernah membuatnya diterima sepenuhnya oleh salah satu pihak. Di kampung Dayak ayahnya, ada yang memandang ibunya dengan sudut mata. Di pasar Melayu kota, orang-orang melihat rajah di lengannya dan mundur selangkah. Di antara dua dunia itu, Jagur belajar sesuatu yang tidak diajarkan oleh siapa pun: bahwa kesendirian adalah guru paling jujur yang ada, dan bahwa orang yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh satu kelompok pun justru bisa bergerak bebas di antara semua kelompok.


Kemampuan itu yang membuatnya berharga sebagai pelacak.


Ia bisa membaca hutan seperti orang Dayak dan berbicara dengan pedagang seperti orang Melayu. Ia tahu di mana suku-suku pedalaman menanam ladang dan di mana mereka meletakkan jebakan. Ia hafal nama-nama sungai yang tidak ada di peta mana pun dan tahu bagaimana cara meminta izin dari roh-roh pohon sebelum menebanginya — bukan karena ia percaya buta, tapi karena ia tahu bahwa menghormati cara pandang orang lain adalah keterampilan bertahan hidup yang sering lebih berguna dari parang.


Selama dua puluh tahun terakhir, ia sudah memandu berbagai ekspedisi: pedagang Arab yang mencari damar, saudagar Bugis yang mencari rotan, dan akhirnya Belanda — dengan kapal-kapal mereka yang besar dan ambisi mereka yang lebih besar lagi.


Belanda berbeda dari yang lain. Mereka tidak sekadar berdagang. Mereka mengukur. Mereka mencatat. Mereka membuat garis di peta dan kemudian berlaku seolah garis itu nyata — seolah hutan yang sudah ada ribuan tahun sebelum mereka datang tiba-tiba punya pemilik baru hanya karena ada nama yang ditulis di atas kertas.


Jagur tidak suka bekerja untuk Belanda. Tapi uang Belanda nyata, dan kenyataan selalu mengalahkan selera.


Dan ada Lintang yang perlu makan, yang perlu belajar, yang perlu melihat dunia.


---


Rombongan ekspedisi terdiri dari dua belas orang: Tuan Kruijer sebagai pemimpin, empat serdadu Belanda bersenjata, tiga pekerja angkut yang disewa dari pelabuhan Samarinda, seorang juru tulis muda bernama Pieter yang tampaknya selalu sakit perut, Bagas si pedagang lokal sebagai penerjemah dan penghubung, dan dua orang pemandu lokal — salah satunya Jagur, satunya lagi lelaki tua bernama Saring yang sudah setengah tuli tapi masih tahu hutan lebih baik dari siapa pun.


Lintang tidak resmi terdaftar dalam rombongan. Ia ikut karena Jagur ikut, dan Jagur tidak punya tempat menitipkannya — ibunya sudah meninggal tiga tahun lalu, dimakan demam yang datang dari hilir bersama perahu-perahu dagang. Sejak itu Lintang selalu ikut ke mana pun Jagur pergi. Bukan karena Jagur tidak ingin membiarkannya mandiri — tapi karena Lintang belum selesai belajar, dan Jagur belum selesai mengajarinya.


"Jagur." Suara Kruijer — tinggi, selalu terdengar seperti seseorang yang bertanya tapi sebenarnya memerintah. "Kita berangkat sepuluh menit lagi. Pastikan semua bawaan sudah terikat dengan benar."


Jagur mengangguk tanpa berbalik. Di belakangnya, ia mendengar Lintang menahan tawa kecil — Lintang sudah hafal bagaimana cara Jagur merespons perintah yang tidak perlu ia turuti tapi lebih mudah untuk tidak dilawan.


"Bapak selalu begitu sama Belanda," bisik Lintang. "Angguk tapi tidak dengarkan."


"Bukan tidak dengarkan," kata Jagur pelan, sambil mulai berjalan ke arah tumpukan perbekalan. "Sudah tahu apa yang mereka mau sebelum mereka bicara. Jadi tidak perlu dengarkan."


Lintang mengekor di belakangnya, langkahnya ringan di atas tanah yang lembab. "Kalau begitu mengapa Bapak mau dipekerjakan mereka?"


Jagur menjawab tanpa menoleh: "Karena hutan ini tetap hutan kita, tidak peduli siapa yang berdiri di atasnya. Semakin aku di sini, semakin aku tahu apa yang mereka lihat dan apa yang mereka inginkan. Pengetahuan itu lebih berharga dari uang yang mereka bayar."


Lintang terdiam. Mencerna. Lalu, dengan suara yang lebih serius dari biasanya: "Kalau begitu kita yang memata-matai mereka, bukan mereka yang menyewa kita?"


Jagur berhenti. Berbalik. Menatap anaknya — anak yang masih terlalu muda untuk dunia ini tapi sudah cukup cerdas untuk melihat hal-hal yang banyak orang dewasa gagal lihat. Ada kebanggaan yang menusuk tajam di balik tulang dadanya.


"Kau belajar cepat," katanya.


Lintang tersenyum. "Siapa guruku?"


Jagur tidak menjawab. Tapi untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang lunak di wajahnya yang biasanya keras — sesuatu yang hanya muncul ketika tidak ada orang lain yang melihat.


Lalu ia berbalik lagi dan berjalan menuju perahu, dan hari itu pun dimulai.