Suara mesin yang meraung rendah di bawah dentuman kunci inggris menjadi satu-satunya simfoni yang menemani Rendra pagi itu. Di sebuah bengkel kecil yang terletak di sudut tersembunyi Ciamis, ia bukan lagi "The Shadow’s Edge"—sang algojo tanpa jejak yang ditakuti di lorong-lorong gelap Jakarta dan Singapura. Di sini, ia hanyalah Rendra, pria pendiam dengan tangan yang selalu berlumuran oli dan tatapan mata yang seolah selalu melihat menembus objek di depannya.

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah seng gelombang yang sudah mulai berkarat, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara. Rendra menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kusam. Di depannya, sebuah mesin motor tua berserakan, baut demi baut ia lepas dengan ketelitian seorang ahli bedah. Bagi Rendra, mesin adalah kejujuran. Jika kau merawatnya, ia akan berjalan. Jika ada yang rusak, selalu ada alasan logis di baliknya. Berbeda dengan manusia. Manusia penuh dengan variabel pengkhianatan yang tidak bisa diprediksi oleh logika teknis manapun.

"Mas Rendra! Ini kunci businya!" suara cempreng itu membuyarkan lamunannya.

Eko, asistennya yang masih berusia sembilan belas tahun, menyodorkan alat tersebut dengan cengiran lebar. Rendra hanya mengangguk singkat, mengambil kunci itu tanpa sepatah kata pun. Eko sudah terbiasa dengan kebisuan bosnya. Baginya, Rendra adalah misteri yang tidak ingin ia pecahkan, selama gaji mingguannya lancar dan ia bisa belajar cara menghidupkan mesin mati.

"Mas, tadi di depan ada wanita itu lagi," bisik Eko, wajahnya sedikit berubah masam. "Si Bu Laras. Dia ngedumel lagi gara-gara suara knalpot motor pelanggan tadi pagi. Katanya anaknya baru mau tidur siang terganggu."

Rendra menghentikan gerakannya sejenak. Laras. Tetangganya yang hanya terpisahkan oleh pagar bambu dan dinding bata tipis. Sejak Rendra pindah ke sini dua tahun lalu, Laras adalah variabel paling konstan yang mengganggu ketenangannya. Wanita itu selalu tampak lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan meski ia berusaha bersikap galak.

"Biar saja," jawab Rendra pendek. Suaranya berat, serak, seperti suara seseorang yang sudah lama tidak menggunakan pita suaranya untuk percakapan panjang.

"Tapi Mas, dia tuh keterlaluan. Masa tadi dia bilang bengkel kita ini sumber polusi suara dan mental? Suaminya aja yang sok kaya itu tiap malam pulang mabuk pakai mobil berisik, dia nggak berani komplain," gerutu Eko lagi.

Rendra tidak menanggapi. Ia tahu tentang suami Laras. Seorang pria bernama Doni yang selalu tampil dengan kemeja licin dan jam tangan yang terlalu berkilau untuk ukuran kota kecil ini. Rendra sering melihat Doni pulang larut malam, terkadang dengan bau parfum wanita yang berbeda di kerah bajunya, sementara Laras menunggu di teras dengan wajah penuh kecemasan yang perlahan berubah menjadi kemarahan dingin.

Rendra kembali masuk ke bawah kolong mobil yang sedang ia kerjakan. Di kegelapan kolong itu, ia merasa lebih aman. Bau bensin dan pelumas adalah parfum yang ia pilih untuk menutupi bau amis darah yang seolah masih menempel di telapak tangannya, meski ia sudah mencucinya ribuan kali selama dua tahun terakhir.

Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah luar bengkel. Bukan suara mesin, tapi suara benda keras yang menghantam pagar besi. Rendra merangkak keluar dengan cepat, insting lamanya yang tumpul mendadak menegang.

Di depan bengkel, Laras berdiri dengan napas terengah-engah. Di tangannya ada sebuah ember plastik kosong. Wajahnya merah padam.

"Rendra! Sampai kapan kau mau bikin keributan di sini?" teriaknya. Suaranya bergetar, lebih ke arah frustrasi daripada kemarahan murni. "Anakku sakit! Dia butuh istirahat! Dan kau... kau dan besi-besi berkaratmu ini tidak pernah berhenti berisik!"

Rendra berdiri pelan, menjatuhkan kunci inggrisnya ke lantai semen dengan suara denting yang tajam. Ia menatap Laras. Tatapan yang biasanya membuat orang-orang di masa lalunya gemetar, namun Laras tidak peduli. Dia terlalu hancur untuk merasa takut.

"Maaf," kata Rendra datar. "Eko, matikan kompresornya."

Laras tampak tertegun sejenak. Ia sudah menyiapkan rentetan makian lebih panjang, namun permintaan maaf singkat dan tindakan instan Rendra membuatnya kehilangan momentum. Ia mengusap wajahnya yang lelah, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya yang tampak kusam.

"Galak bener itu orang, Mas," celetuk Eko sambil mematikan mesin.

Rendra tidak mendengarkan. Matanya tertuju pada sebuah mobil sedan hitam yang terparkir sekitar lima puluh meter di ujung jalan. Kaca filmnya gelap pekat. Mesinnya menyala, namun tidak bergerak. Di daerah ini, mobil seperti itu menonjol seperti luka di kulit yang mulus.

Insting Rendra berteriak. Itu bukan mobil pelanggan. Itu bukan mobil orang lokal.

Ia kembali masuk ke bagian dalam bengkel, menuju sebuah lemari perkakas yang selalu ia kunci rapat. Di balik tumpukan kain lap berminyak dan kaleng cat lama, terdapat sebuah kompartemen rahasia. Rendra menyentuh permukaannya, merasakan sensasi dingin dari logam yang sudah lama tidak ia sentuh.

Sebuah pistol semi-otomatis kaliber 9mm. Dingin, berat, dan mematikan.

Rendra memejamkan mata. Ia bisa merasakan denyut nadinya meningkat. Selama dua tahun, ia telah mencoba menjadi orang lain. Ia telah mencoba menjadi "Rendra si montir". Namun, bayang-bayang masa lalu tidak pernah benar-benar pergi; mereka hanya menunggu di tikungan jalan, di dalam mobil sedan hitam dengan kaca gelap.

Sore pun tiba. Langit Ciamis berubah warna menjadi jingga kemerahan, warna yang mengingatkan Rendra pada api yang menghanguskan markas lamanya di Jakarta saat ia melarikan diri. Eko sudah pulang sejak jam lima sore tadi. Kini, Rendra sendirian di dalam bengkel yang remang-remang.

Ia duduk di kursi plastik yang sudah retak, menyesap kopi pahit yang sudah dingin. Matanya tetap tertuju pada cermin kecil yang sengaja ia pasang di sudut pintu, memberinya sudut pandang ke arah jalanan tanpa harus menampakkan diri. Mobil sedan hitam itu masih di sana.

Tiba-tiba, ponsel tua di saku celananya bergetar. Sebuah nomor yang tidak dikenal muncul di layar. Rendra tidak pernah menerima telepon dari nomor luar kecuali untuk urusan suku cadang, dan mereka biasanya menelpon ke nomor toko.

Ia menggeser layar. Tidak ada suara di seberang. Hanya desah napas yang berat dan ritmis.

"Siapa?" tanya Rendra, suaranya sedingin es.

"Kau tidak bisa bersembunyi selamanya dalam oli, Bayang," sebuah suara berat dan serak menjawab. Suara yang ia kenal. Suara dari pria yang seharusnya sudah mati di tangannya dua tahun lalu.

Gelas kopi di tangan Rendra bergetar.

"The Guild tidak pernah lupa. Dan mereka tidak pernah memaafkan pengkhianat yang membawa lari 'kunci' itu," lanjut suara tersebut.

"Aku tidak memegang apa-apa," balas Rendra tenang, meski otaknya mulai menghitung rute pelarian tercepat.

"Mungkin tidak. Tapi kau tahu siapa yang memegangnya. Malam ini, Rendra... malam ini residu kesunyianmu akan berakhir."

Telepon diputus.

Rendra langsung berdiri. Ia tidak memiliki waktu untuk mengepak barang. Ia menuju ke lemari rahasianya, menyelipkan pistol ke balik pinggang celananya, dan mengambil sebuah tas kecil berisi uang tunai dan paspor palsu yang selalu ia siapkan untuk momen seperti ini.

Namun, saat ia hendak keluar melalui pintu belakang, ia mendengar suara teriakan dari rumah sebelah. Suara Laras. Dan suara tamparan yang keras.

"Kau pikir aku tidak tahu kau kemana saja, Doni?!" teriak Laras, suaranya pecah oleh tangis.

"Diam kau! Urus saja anakmu itu! Jangan atur-atur aku!" suara Doni terdengar kasar, diikuti suara barang pecah.

Rendra membeku di ambang pintu belakang. Logikanya mengatakan: Lari. Sekarang. Jangan terlibat. Tapi nuraninya, bagian dari dirinya yang selama dua tahun ini ia coba tumbuhkan di tanah Ciamis yang subur, menahan langkahnya.

Ia melihat ke arah jalan. Mobil sedan hitam itu mulai bergerak mendekat ke arah bengkelnya. Dua mobil lain muncul dari arah berlawanan, mengunci posisinya.

Mereka di sini.

Rendra tahu, jika ia memulai pertempuran di sini, Laras dan anaknya akan terjebak dalam baku tembak. Ia harus membuat pilihan. Menyelamatkan dirinya sendiri dan membiarkan tetangganya menjadi korban "kerusakan kolateral", atau melakukan sesuatu yang akan menghancurkan penyamarannya selamanya.

Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam yang mulai mendingin. Di kejauhan, petir menyambar, menandakan hujan akan segera turun. Rendra menarik kokang pistolnya. Bunyi klik logam yang presisi itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan yang selama ini ia puja.

"Maaf, Laras," bisik Rendra pada kegelapan. "Malam ini, bengkelnya akan jadi sangat berisik."

Ia tidak lari ke pintu belakang. Ia justru melangkah menuju pintu depan, berdiri tepat di tengah cahaya lampu jalan yang remang, menunggu bayang-bayang itu datang menjemputnya. Malam yang tenang di Ciamis baru saja berakhir, dan bagi Rendra, perang baru saja dimulai kembali.