Jalanan yang menghubungkan Ciamis dan Tasikmalaya di tengah malam adalah bentangan aspal yang sunyi, diapit oleh deretan pohon jati yang tampak seperti barisan raksasa yang membeku di bawah guyuran hujan. Rendra memacu motornya hingga jarum spidometer menyentuh angka 140 km/jam. Angin kencang menghantam jaket kulitnya, menciptakan suara gemuruh yang menyatu dengan deru mesin. Di balik kaca helmnya yang buram oleh uap napas, mata Rendra tetap tajam, memindai setiap bayangan di pinggir jalan.

Panti Asuhan "Cahaya Harapan" terletak di sebuah perbukitan kecil di pinggiran Tasikmalaya. Sebuah bangunan tua peninggalan kolonial yang telah direnovasi, dikelilingi oleh pagar beton tinggi dan kebun sayur yang luas. Di sanalah Aris berada. Selama dua tahun terakhir, Rendra hanya berani mengawasi dari kejauhan, memastikan kiriman uang anonimnya sampai ke tangan pengelola panti untuk biaya pendidikan Aris. Ia tidak pernah berani menampakkan diri, takut bayang-bayangnya akan mengotori kehidupan bersih anak itu.

Saat Rendra mendekati gerbang panti, ia mematikan lampu depan motornya. Ia meluncur dalam kegelapan total, mengandalkan sisa-sisa cahaya bulan yang tertutup awan. Di depan gerbang, sebuah pemandangan membuat darahnya berdesir dingin.

Dua mobil SUV hitam terparkir secara serampangan. Pintu gerbang besi telah dicongkel paksa. Tidak ada penjaga di pos depan.

Rendra melompat turun dari motor sebelum benar-benar berhenti, membiarkan kendaraan itu jatuh perlahan di semak-semak. Ia menarik pistol 9mm-nya, memeriksa magasin dengan gerakan refleks yang sudah mendarah daging. Penuh. Ia menarik kokang, dan suara klik logam itu terasa seperti detak jantung yang kembali hidup.

Ia bergerak mendekati bangunan utama melalui jalur samping, melewati deretan jemuran baju anak-anak yang kini basah kuyup. Suara teriakan pecah dari dalam bangunan. Bukan teriakan anak-anak, melainkan suara berat seorang pria yang sedang menginterogasi seseorang.

"Di mana dia? Kami tahu dia ada di daftar penghuni lantai dua!"

Rendra menyelinap masuk melalui jendela dapur yang terbuka. Bau masakan sore tadi masih tercium, kontras dengan suasana mencekam yang kini menyelimuti tempat itu. Ia bergerak tanpa suara, kakinya yang dibungkus sepatu taktis tidak menimbulkan bunyi sedikit pun di atas lantai ubin.

Di ruang tengah, tiga pria bersenjata berdiri mengelilingi seorang wanita tua—Ibu Ratna, kepala panti. Wanita itu gemetar, namun wajahnya menunjukkan keteguhan yang luar biasa.

"Saya tidak tahu siapa yang kalian cari," suara Ibu Ratna bergetar namun tegas. "Anak-anak sedang tidur. Tolong, jangan sakiti mereka."

Salah satu pria, yang tampak seperti pemimpin tim, menjambak rambut Ibu Ratna. "Jangan main-main, Tua Bangka. Aris Arwana. Berikan dia sekarang, atau aku akan membakar tempat ini dengan semua isinya."

Rendra tidak menunggu lebih lama. Dari balik pilar, ia melepaskan dua tembakan cepat.

Puff. Puff.

Dua pria yang berdiri di samping pemimpin tim langsung tumbang dengan luka tembak di kaki. Rendra sengaja membidik bagian non-vital karena ia tidak ingin Aris melihat tumpukan mayat jika anak itu terbangun. Sang pemimpin tim bereaksi cepat, ia menarik Ibu Ratna sebagai tameng manusia dan mengarahkan senjatanya ke arah kegelapan tempat Rendra bersembunyi.

"Keluar, Shadow!" teriak si pemimpin. "Aku tahu itu kau! Hanya kau yang punya tembakan seakurat itu di faksi lama!"

Rendra tetap diam di balik bayangan. "Lepaskan wanita itu, atau peluru berikutnya akan bersarang di antara kedua matamu."

"Coba saja! Satu gerakan, dan otak wanita ini berceceran!"

Tiba-tiba, dari arah tangga, seorang remaja laki-laki muncul. Ia mengenakan kaos oblong bergambar pahlawan super yang sudah pudar. Wajahnya pucat, matanya membelalak ketakutan. Aris.

"Ibu Ratna?" panggil Aris dengan suara lirih.

Situasi berubah menjadi kacau dalam sekejap. Sang pemimpin tim melihat Aris dan langsung mengarahkan moncong senjatanya ke arah remaja itu. "Itu dia! Tangkap anak itu!" teriaknya pada anak buahnya yang masih bisa bergerak.

Rendra tidak punya pilihan lagi. Ia keluar dari bayangan dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal bagi mata manusia biasa. Ia melepaskan tembakan ke arah lampu gantung di tengah ruangan. Prang! Ruangan seketika menjadi gelap gulita.

Dalam kegelapan itu, Rendra adalah raja. Ia menggunakan kacamata night vision yang baru saja ia turunkan dari dahinya. Ia bergerak di antara musuh, menjatuhkan mereka satu per satu dengan serangan jarak dekat yang presisi. Pukulan ke ulu hati, tendangan ke arah lutut, dan hantaman gagang pistol ke tengkuk.

"Aris! Lari ke arahku!" teriak Rendra.

Aris yang kebingungan hanya bisa mengikuti arah suara itu. Rendra menangkap lengan Aris, menariknya dengan kuat menuju pintu keluar. Ibu Ratna berhasil melarikan diri ke arah kamar anak-anak lainnya.

"Siapa kau?" tanya Aris terengah-engah saat mereka sudah berada di luar bangunan, berlari menuju motor Rendra.

"Teman ayahmu," jawab Rendra pendek. "Sekarang diam dan naik ke motor. Kita harus pergi sebelum bala bantuan mereka datang."

Aris melihat pistol di tangan Rendra, lalu melihat ke arah bangunan panti yang kini dipenuhi suara umpatan para pengejar. Ia tidak punya pilihan. Ia naik ke belakang motor Rendra, memeluk pinggang pria asing itu dengan erat.

Saat motor menderu pergi, Rendra melihat dari kaca spion. Sebuah ledakan kecil terjadi di gerbang panti—granat asap untuk menutupi pelarian mereka. Namun, di kejauhan, lampu-lampu mobil lain mulai terlihat mendekat.

Pengejaran ini baru saja naik ke level yang berbeda. Aris bukan lagi sekadar nama di atas kertas; dia adalah target yang kini berada dalam pelukan Rendra, dan seluruh dunia gelap akan memburu mereka.