Rendra tidak langsung memacu motornya ke jalan raya. Ia memutar lewat jalan setapak di belakang bengkel yang menembus ke area persawahan. Ia tahu para pengejarnya mengharapkan ia lari ke arah kota. Namun, para pengejar itu bukan amatir. Sebelum Rendra mencapai ujung jalan setapak, sebuah peluru mendesing melewati telinganya, menghantam batang pohon pisang di sampingnya dengan suara thwack yang tumpul.

Satu orang berada di depannya, menghalangi jalur. Rendra tidak mengerem. Ia justru menambah kecepatan.

Pria itu mengangkat senjatanya, bersiap menembak ban depan motor Rendra. Namun, dalam hitungan detik, Rendra melakukan manuver ekstrem. Ia merebah ke samping, menyeret lututnya di tanah berlumpur, lalu menggunakan satu tangannya untuk menembakkan dua peluru dari pistol 9mm miliknya.

Puff. Puff.

Dua tembakan presisi mengenai bahu dan paha lawan. Rendra sengaja tidak membunuh; ia butuh kekacauan untuk menutupi jejaknya, bukan tumpukan mayat yang akan segera mengundang polisi. Pria itu terjatuh ke dalam parit, sementara Rendra melesat melewati posisi tersebut, kembali masuk ke jalan aspal yang kini licin karena hujan.

Di belakangnya, lampu depan SUV menyala terang, mengejarnya dengan liar. Rendra melirik kaca spion. Mereka terlalu cepat. Di jalan lurus, ia akan kalah. Ia harus membawa mereka ke tempat di mana keterampilan teknik motornya lebih unggul daripada tenaga kuda mobil.

Rendra membelokkan motornya ke arah pasar tradisional yang sudah tutup. Lorong-lorong sempit di sana adalah labirin baginya, namun jebakan maut bagi kendaraan roda empat. Ia memacu motornya melewati lapak-lapak kayu yang basah, melompati tumpukan sampah, dan berbelok tajam di sudut-sudut yang mustahil.

Mobil SUV di belakangnya mencoba memaksa masuk, menabrak kios-kios buah dan sayuran hingga hancur berantakan. Suara decit rem dan benturan logam memenuhi udara malam yang sunyi.

Rendra berhenti di sebuah gang buntu yang sengaja ia pilih. Ia turun dari motor, menyandarkannya pada dinding bata yang kusam. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme jantungnya. Ia tidak lagi merasa takut. Sensasi dingin yang dulu selalu menemaninya saat bertugas kini kembali meresap ke dalam tulang-tulangnya. Ini adalah elemennya. Kegelapan, kesempitan, dan bahaya.

Langkah kaki terdengar mendekat. Dua orang. Rendra bersembunyi di balik bayangan sebuah gerobak tua.

"Dia terjebak di sini," suara salah satu pengejar terdengar berat, aksennya asing—mungkin tentara bayaran dari luar negeri yang disewa faksi Kolektor.

"Hati-hati. Dia bukan orang sembarangan. Ingat apa yang terjadi di Singapura," balas rekannya.

Rendra menunggu. Saat bayangan salah satu pria itu melewati gerobaknya, ia bergerak seperti kilat. Ia tidak menggunakan senjata api agar tidak menarik perhatian lebih banyak orang. Dengan gerakan tangan kosong yang efisien, ia mencengkeram pergelangan tangan pria pertama, memutarnya hingga terdengar bunyi retakan tulang, lalu menghantamkan pangkal telapak tangannya ke dagu lawan.

Pria itu tumbang sebelum sempat mengeluarkan suara.

Rekan yang satunya segera berbalik dan melepaskan tembakan membabi buta. Rendra berguling ke samping, berlindung di balik pilar beton. Ia mengambil sebuah kaleng cat bekas yang ada di dekatnya dan melemparnya ke arah berlawanan.

Bang! Pengejar itu menembak kaleng tersebut.

Kesalahan fatal. Posisi lawan kini terbuka. Rendra muncul dari balik pilar, menerjang dengan kecepatan penuh. Ia mendaratkan tendangan memutar ke arah rusuk lawan, diikuti dengan serangkaian pukulan cepat ke titik-titik saraf di leher dan ulu hati. Pria kedua itu jatuh tersungkur, senjatanya terlempar jauh.

Rendra berlutut di atas dada pria itu, menempelkan moncong pistolnya ke kening lawan yang sudah bersimbah darah dan air hujan.

"Siapa yang mengirimmu? Kolektor?" tanya Rendra dingin.

Pria itu hanya meludah darah, namun matanya membelalak ketakutan saat melihat tatapan Rendra—tatapan seseorang yang sudah kehilangan segalanya dan tidak keberatan untuk menambah satu nyawa lagi dalam daftar dosanya.

"Kami... kami hanya tim pendahulu," bisik pria itu terbata-bata. "Mereka sudah tahu lokasi anak itu. Panti asuhan di pinggiran Tasikmalaya... tim utama sedang menuju ke sana."

Mata Rendra menyipit. Panti asuhan. Aris berada di sana.

Tanpa membuang waktu, Rendra memukul tengkuk pria itu hingga pingsan. Ia berlari kembali ke motornya. Ia tidak bisa kembali ke bengkel. Ia tidak bisa mengecek keadaan Laras lagi. Setiap detik yang ia habiskan di sini adalah ancaman maut bagi Aris.

Ia memacu motornya keluar dari labirin pasar, menuju jalan raya yang mengarah ke Tasikmalaya. Hujan turun semakin deras, seolah-olah langit sedang mencoba mencuci semua noda yang baru saja tercipta. Di bawah guyuran air itu, Rendra merasa seperti hantu yang sedang mengejar waktu.

Pikiran Rendra kembali ke masa lalu, ke wajah Arwana yang tersenyum saat mereka merayakan misi yang berhasil. “Jaga keluargaku, Ren, jika suatu saat aku tidak bisa pulang,” kata-kata itu kini terngiang kembali seperti janji suci yang tertunda.

Rendra tidak akan membiarkan Aris mati. Bukan malam ini. Bukan selama ia masih memiliki napas dan peluru di dalam senjatanya.

Namun, di balik kegentingan itu, ada satu bayangan yang mengusik pikirannya. Bayangan Laras yang menangis di bawah hujan. Rendra merasa ada sesuatu yang aneh dengan kebetulan ini. Mengapa suaminya pergi tepat di saat para pembunuh bayaran ini muncul? Apakah Doni hanya seorang suami yang buruk, ataukah ia adalah bagian dari jaring laba-laba yang lebih besar yang sedang menjerat mereka semua?

"Jangan mati dulu, Aris," gumam Rendra di balik helmnya. "Paman datang."

Motor hitam itu membelah kabut malam, menghilang menuju kota tetangga, meninggalkan Ciamis yang kini tak lagi tenang, dan sebuah bengkel yang akan segera menjadi saksi bisu dari perang yang mulai berkobar.