Hujan mulai turun menyentuh aspal panas Ciamis, menciptakan aroma tanah basah yang tajam—petrichor yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti bau pemakaman bagi Rendra. Ia berdiri tegak di depan pintu bengkelnya yang terbuka separuh. Cahaya lampu merkuri yang berkedip-kedip di atas jalanan memberikan siluet panjang pada tubuhnya yang tegap. Mobil sedan hitam itu berhenti tepat sepuluh meter di depannya. Mesinnya masih menderu halus, seolah-olah predator yang sedang mengatur napas sebelum menerkam.

Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria keluar. Ia tidak membawa senjata di tangannya, setidaknya tidak yang terlihat. Pria itu mengenakan parit panjang berwarna abu-abu, kontras dengan kegelapan malam. Rambutnya memutih di pelipis, dan sebuah bekas luka bakar melintang dari sudut mata kiri hingga ke rahangnya.

Rendra menurunkan posisi pistolnya di balik saku jaket, namun jarinya tetap melekat pada pelatuk. "Baskara," desis Rendra. Suaranya hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang kian menderu.

Baskara, mantan mentornya di The Guild, pria yang mengajarkannya cara mematahkan leher tanpa suara dan cara menghilang di kerumunan pasar yang ramai. Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya yang dingin dan mati.

"Dua tahun, Rendra. Kau memilih tempat yang sangat... membosankan untuk mati," ujar Baskara. Ia melangkah maju dua tapak. Rendra segera mengangkat senjatanya, mengarah tepat ke dada Baskara.

"Berhenti di sana, Bas. Aku tidak sedang ingin bernostalgia," balas Rendra.

Baskara mengangkat kedua tangannya, menunjukkan telapak tangan yang kosong. "Aku datang bukan sebagai eksekutor, meski Dewan sudah mengeluarkan surat perintah kematianmu sejak kau membakar fasilitas di Jakarta. Aku datang sebagai pembawa pesan. Atau mungkin, sebagai orang tua yang masih punya sedikit rasa iba."

"Iba bukan kosakata yang diajarkan di markas," tukas Rendra dingin.

"Benar. Tapi situasi telah berubah. The Guild sedang mengalami perpecahan internal. Faksi baru yang dipimpin oleh sang 'Kolektor' sedang mencari sesuatu yang kau bawa pergi. Sesuatu yang nilainya jauh lebih besar dari sekadar nyawamu."

Rendra mengernyit. Ia tahu apa yang dimaksud Baskara. Kunci enkripsi akses ke aset likuid organisasi yang tersimpan di server lepas pantai. Namun, Rendra tidak pernah mengambilnya. Ia hanya menghancurkan jalurnya agar tidak ada yang bisa menggunakannya untuk mendanai perang tentara bayaran lebih lanjut.

"Aku sudah menghancurkannya, Bas. Kau tahu itu."

"Kau menghancurkan fisiknya, tapi tidak dengan protokol pemulihannya. Protokol itu ditanamkan secara genetik melalui algoritma yang terikat pada garis keturunan Arwana," Baskara menjeda, matanya menatap tajam ke arah Rendra. "Anak itu, Rendra. Anak dari almarhum rekanmu, Arwana. Dia masih hidup. Dan dia adalah 'kunci' yang sebenarnya."

Jantung Rendra seolah berhenti berdetak. Aris. Remaja yang selama ini ia kira hidup aman di bawah perlindungan saksi ternyata adalah target utama. Arwana, sahabat terbaiknya yang tewas dalam operasi gagal dua tahun lalu, ternyata menyimpan rahasia paling berbahaya di dalam diri anaknya sendiri.

"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanya Rendra curiga.

"Karena faksi Kolektor sudah bergerak. Mereka tidak akan sekadar membunuhmu. Mereka akan menyiksamu untuk mendapatkan lokasi anak itu, lalu mereka akan membedah otaknya secara digital untuk mendapatkan akses aset tersebut. Jika itu terjadi, The Guild yang lama akan runtuh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih haus darah."

Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari rumah sebelah. Rumah Laras. Suara teriakan Doni kembali meledak, diikuti isak tangis Laras yang histeris. Baskara melirik ke arah rumah itu, lalu kembali menatap Rendra dengan tatapan mengejek.

"Tetanggamu berisik sekali. Apa kau sudah jadi begitu lembek sampai-sampai peduli pada drama domestik seperti itu?"

"Pergilah, Baskara," perintah Rendra. "Sebelum aku berubah pikiran untuk tidak mengirimmu pulang dalam peti mati."

Baskara terkekeh. "Aku pergi. Tapi ingat, mobil-mobil di ujung jalan itu bukan milikku. Itu milik tim pembersih dari faksi Kolektor. Mereka tidak akan segan menggunakan tetanggamu sebagai umpan jika mereka tahu kau punya kelemahan pada wanita itu. Selamatkan anak Arwana, Rendra. Itu satu-satunya cara kau bisa benar-benar menebus dosamu."

Baskara kembali ke mobilnya. Sedan hitam itu mundur perlahan, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam yang dibasahi hujan. Rendra tetap berdiri di sana, napasnya memburu. Ia melirik ke arah rumah Laras. Lampu ruang tamunya padam, namun ia bisa melihat bayangan seseorang yang duduk bersimpuh di lantai teras, kehujanan. Laras.

Rendra mengutuk dalam hati. Ia harus bergerak sekarang. Jika tim pembersih itu benar-benar dari faksi Kolektor, mereka tidak akan menunggu sampai pagi. Ia harus menjemput Aris. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang harus ia selesaikan.

Ia melangkah mendekati pagar bambu yang memisahkan mereka. Laras menoleh, wajahnya sembab, rambutnya basah kuyup. Ia menatap Rendra dengan tatapan kosong, seolah-olah jiwanya sudah mati sebelum tubuhnya.

"Mas Rendra... suamiku... dia pergi membawa semua tabunganku," bisik Laras dengan suara serak. "Dia bilang dia punya urusan penting, tapi aku tahu dia pergi dengan wanita itu."

Rendra menatapnya datar, namun ada secercah empati yang sulit ia bendung. "Masuk ke dalam, Laras. Kunci pintunya. Jangan keluar apa pun yang kau dengar nanti."

"Kenapa?" tanya Laras bingung.

"Cepat masuk jika kau ingin anakmu tetap aman," suara Rendra meninggi, memberi perintah yang tidak bisa dibantah.

Laras terkejut, insting keibuannya mengambil alih. Ia segera berdiri dan masuk ke dalam rumah. Rendra kembali ke bengkelnya, mengambil jaket kulit hitam dan sebuah tas taktis. Ia melirik jam tangannya. Jam 11.45 malam.

Dunia yang ia bangun dengan susah payah selama dua tahun—bengkel kecil, rutinitas pagi, dan bau oli—kini terasa seperti panggung sandiwara yang sudah selesai masanya. Tirai telah diangkat, dan di balik layar, monster-monster lama sudah menantinya.

Rendra mengeluarkan sebuah motor sport hitam yang selama ini ia sembunyikan di balik tumpukan kardus. Mesinnya ia modifikasi sendiri; senyap namun mematikan dalam hal kecepatan. Ia menghidupkan mesinnya. Suaranya hanya berupa dengungan halus, seperti lebah di tengah badai.

Saat ia menarik gas untuk keluar dari area bengkel, ia melihat di kaca spion: dua pria berpakaian serba hitam sedang turun dari mobil SUV yang tadi terparkir di ujung jalan. Mereka memegang senjata laras pendek dengan peredam.

"Mulai," bisik Rendra.