Setelah menempuh perjalanan memutar selama tiga jam untuk memastikan tidak ada pelacak, Rendra memutuskan untuk kembali ke arah Ciamis, namun bukan ke bengkelnya. Ia memiliki sebuah rumah aman kecil yang ia sewa atas nama orang lain di pinggiran kota, tersembunyi di balik rimbunnya kebun kopi.

Aris tertidur karena kelelahan di perjalanan. Rendra membaringkan remaja itu di atas kasur tipis di dalam rumah aman tersebut. Ia menatap wajah Aris sejenak. Kemiripannya dengan Arwana sangat mencolok—hidung yang mancung dan garis rahang yang tegas.

"Maafkan aku, Arwana. Aku menyeretnya ke dalam ini," gumam Rendra.

Rendra duduk di kursi kayu, membersihkan senjatanya. Pikirannya kembali ke Ciamis. Ia merasa tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal tentang serangan di panti tadi. Bagaimana mereka bisa tahu lokasi Aris secepat itu? Data itu sangat rahasia. Hanya ada tiga orang yang tahu: Rendra, Baskara, dan... seseorang di dalam The Guild.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Rendra, tolong aku. Doni tidak kembali. Ada orang-orang asing di depan rumahku. Aku takut.”

Itu pesan dari Laras. Rendra tertegun. Mengapa Laras mengirim pesan padanya? Dan bagaimana dia bisa mendapatkan nomor pribadi Rendra yang ia simpan sangat rapat?

Rendra segera memeriksa log panggilannya. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Saat ia memperbaiki ponsel Laras yang rusak sebulan lalu sebagai bentuk "permintaan maaf" karena kebisingan bengkel, ia secara tidak sengaja membiarkan nomornya tersimpan di sana saat melakukan tes panggilan.

Tapi orang-orang di depan rumah Laras? Apakah itu tim pembersih?

Rendra melihat ke arah Aris yang masih terlelap. Ia tidak bisa meninggalkan Aris sendirian. Namun, jika ia membiarkan Laras, wanita itu akan mati sia-sia hanya karena kebetulan menjadi tetangga seorang mantan pembunuh bayaran.

"Sial," umpat Rendra.

Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat berisiko. Ia membangunkan Aris. "Aris, bangun. Kita harus bergerak lagi."

"Ke mana lagi? Aku lelah," protes Aris dengan suara serak.

"Ke tempat yang lebih aman. Tapi sebelumnya, kita harus menjemput seseorang."

Rendra membawa Aris kembali ke arah Ciamis, namun kali ini ia menggunakan sebuah mobil tua yang ia simpan di rumah aman tersebut. Ia memarkir mobilnya beberapa blok dari rumahnya sendiri. Dengan menggunakan teropong, ia mengamati rumah Laras.

Benar saja. Sebuah mobil SUV terparkir di sana. Dua pria tampak sedang mencoba mendobrak pintu depan rumah Laras. Laras terlihat di jendela lantai dua, wajahnya penuh teror, memeluk anaknya yang masih balita.

Namun, ada sesuatu yang aneh. Rendra melihat ke arah mobil SUV itu lagi. Di kursi kemudi, ia mengenali profil seseorang.

"Doni?" bisik Rendra.

Suami Laras, Doni, sedang duduk di sana, merokok dengan santai sambil memperhatikan dua pria itu mendobrak pintu rumahnya sendiri. Tidak ada tanda-tanda paksaan pada Doni. Ia justru tampak seperti orang yang memberikan instruksi.

Rendra merasa perutnya mual. Ini bukan sekadar perselingkuhan. Doni adalah bagian dari ini.

"Aris, tetap di dalam mobil. Jangan keluar apa pun yang terjadi," perintah Rendra.

Rendra menyelinap melewati pagar belakang. Ia masuk ke rumah Laras melalui balkon lantai dua. Saat ia mendarat di balkon, Laras hampir berteriak, namun Rendra segera membekap mulutnya.

"Sstt... ini aku, Rendra. Diam," bisik Rendra.

Laras gemetar hebat, air matanya jatuh ke tangan Rendra. "Rendra... Doni... dia membawa mereka ke sini. Dia bilang dia harus membayar hutangnya pada mereka dengan menyerahkanku."

"Hutang apa?"

"Aku tidak tahu... dia bilang sesuatu tentang 'informasi lokasi'. Dia bilang dia menjual informasi tentangmu dan anak itu kepada mereka!"

Rendra membeku. Jadi itulah cara mereka menemukan Aris. Doni. Pria itu entah bagaimana telah memata-matai Rendra, mungkin meretas komputernya atau sekadar menguping pembicaraan telepon Rendra selama berbulan-bulan. Doni menggunakan informasi itu untuk melunasi hutang judinya kepada faksi Kolektor.

Suara dobrakan pintu di bawah semakin keras.

"Ayo, kita harus pergi!" Rendra menarik Laras dan anaknya.

"Tapi Doni... dia di luar!"

"Doni sudah bukan suamimu lagi, Laras. Dia yang menjualmu," kata Rendra dengan nada dingin yang menusuk.

Rendra membantu Laras turun melalui tangga darurat yang ia buat sendiri di belakang bengkelnya. Saat mereka mencapai tanah, Doni menyadari pergerakan mereka. Ia keluar dari mobil dengan wajah geram.

"Rendra! Berhenti di situ! Kau merusak segalanya! Jika aku tidak menyerahkan wanita itu, mereka akan membunuhku!" teriak Doni.

Rendra berhenti. Ia menoleh perlahan. Matanya berkilat dengan amarah yang selama ini ia tekan. "Kau menjual istrimu untuk menyelamatkan kulitmu sendiri, Doni? Kau adalah sampah terburuk yang pernah kutemui, bahkan dibandingkan dengan para pembunuh di organisasiku."

Dua pria bersenjata yang tadi mendobrak pintu kini keluar dan mengarahkan senjata ke Rendra.

"Habisi dia!" perintah Doni.

Rendra bergerak lebih dulu. Ia tidak menembak mereka. Ia melempar sebuah bom asap kecil ke arah mereka, menciptakan kebingungan instan. Di tengah kabut putih, ia menerjang Doni. Dengan satu pukulan keras ke rahang, Rendra membuat Doni jatuh tersungkur.

Ia kemudian menyambar Laras dan anaknya, membawa mereka lari menuju mobil di mana Aris menunggu.

"Masuk!" teriak Rendra pada Laras.

Mobil itu melesat pergi tepat saat peluru-peluru mulai menghantam bodi belakang mobil. Di dalam mobil yang sempit itu, kini ada Rendra, Aris, Laras, dan seorang balita yang menangis. Sebuah aliansi yang paling tidak masuk akal dalam sejarah spionase.

Laras duduk di kursi belakang, memeluk anaknya sambil menatap Aris yang tampak bingung. Rendra fokus pada kemudi, matanya menatap lurus ke depan.

"Ke mana kita pergi?" tanya Laras dengan suara lemah.

"Ke tempat di mana bayang-bayang tidak bisa menjangkau kita," jawab Rendra. "Tapi pertama-tama, aku harus mengajarimu cara memegang senjata. Karena mulai malam ini, tidak ada lagi orang biasa di antara kita."

Plot twist ini telah mengubah segalanya. Musuh Rendra bukan lagi sekadar organisasi besar di Jakarta, tapi juga pengkhianatan dari orang-orang yang ia anggap "normal". Dan di tengah pelarian itu, Rendra menyadari bahwa ia tidak lagi hanya melindungi "kunci" digital, tapi ia sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa kemanusiaan yang masih ada di dalam mobil itu.