Aroma karbol dan klorin menguar pekat di udara, bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan yang seolah menusuk menembus seragam perawat yang dikenakan Nisa. Pukul dua dini hari di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada derap langkah kaki tergesa di lorong panjang berpenerangan putih pendar itu, atau suara roda brankar yang berderit memecah keheningan, membawa nyawa yang entah masih bisa diselamatkan atau sekadar menunggu waktu.
Di luar jendela kaca besar di ujung koridor, hujan turun dengan brutal. Titik-titik air menghantam kaca seperti ribuan jarum kecil, menciptakan ritme monoton yang biasanya berhasil menenangkan isi kepala Nisa. Namun, malam ini berbeda.
"Nisa, pasien baru dari ruang IGD baru saja dipindahkan ke kamar perawatan intensif lantai empat. Ruang 402." Suara dr. Dimas, dokter jaga malam ini, membuyarkan tatapan kosong Nisa pada rintik hujan.
Nisa mengerjap, menarik napas panjang, dan memutar tubuhnya menghadap meja perawat sentral. Ia mengangguk profesional. "Baik, Dok. Pasien rujukan atau—"
"Evakuasi medis dari perbatasan. Pasukan khusus," potong dr. Dimas, suaranya merendah, menampakkan gurat kelelahan yang sama dengan yang dirasakan Nisa. Pria itu meletakkan sebuah map rekam medis bersampul plastik biru di atas meja baja nirkarat. "Luka fisiknya sudah ditangani tim bedah tiga hari yang lalu di rumah sakit lapangan. Ada serpihan peluru di bahu kiri dan robekan di paha. Tapi bukan itu masalah utamanya."
Nisa mengerutkan kening. Tangannya bergerak meraih map biru tersebut. "Bukan masalah utama?"
"Evaluasi psikiatrik awal menunjukkan gejala PTSD parah," jelas dr. Dimas sambil memijat pangkal hidungnya. "Disosiasi, hyperarousal, dan dia menolak bicara sejak dievakuasi. Tim dokter militer memutuskan untuk merawatnya di sini agar mendapat observasi penuh. Tolong pantau tanda-tanda vitalnya malam ini. Jangan lakukan gerakan mengejutkan saat berada di dekatnya."
"Mengerti, Dok."
Nisa membuka lembar pertama rekam medis itu. Halaman itu berisi data demografi dasar pasien. Nama, pangkat, unit, golongan darah. Sesuatu yang sudah ribuan kali ia baca selama lima tahun bekerja di rumah sakit ini.
Namun, saat matanya menyapu baris pertama, dunia Nisa seolah berhenti berputar.
Napasnya tercekat di tenggorokan. Udara di sekitarnya mendadak terasa ditarik habis, meninggalkan sensasi hampa yang mencekik paru-parunya. Jari-jarinya yang memegang tepi map mulai gemetar, perlahan pada awalnya, sebelum menjalar menjadi getaran hebat yang tak bisa ia kendalikan.
Nama: Lettu Farel Dirgantara.
Usia: 28 Tahun.
Golongan Darah: O+.
Nama itu.
Nama yang selama tiga tahun terakhir ini ia kubur dalam-dalam di sudut paling gelap di kepalanya. Nama yang ia rapalkan dalam doa-doa malamnya dengan sisa-sisa harapan yang semakin hari semakin terkikis. Nama pria yang mengajarkannya arti menunggu, sebelum akhirnya pria itu sendiri yang menghancurkan makna penantian tersebut.
"Nisa? Kamu pucat. Kamu sakit?" Teguran dr. Dimas terdengar seperti gumaman yang terendam di bawah air.
Nisa menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongannya terasa seperti diiris pecahan kaca. Ia memaksa bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, meski ia tahu wajahnya pasti terlihat sepucat mayat. "S-saya tidak apa-apa, Dok. Hanya… sedikit kedinginan. Saya akan segera ke Ruang 402."
Tanpa menunggu balasan dokter itu, Nisa membalikkan badan dan berjalan cepat menyusuri lorong. Langkahnya gontai, setengah berlari, berusaha menjauh dari tatapan siapa pun.
Farel. Tiga tahun lalu, di sebuah stasiun kereta yang bising, pria itu berdiri di hadapannya dengan seragam doreng yang rapi. Tangan besar Farel mengusap puncak kepala Nisa, hangat dan menenangkan. Senyumnya teduh, menutupi kecemasan yang selalu ada setiap kali tugas memanggilnya.
"Tunggu aku pulang, Sa," bisik Farel waktu itu, mengecup dahi Nisa cukup lama. "Kali ini nggak akan lama. Aku janji, setelah misi ini selesai, kita bicara sama ayahmu."
Janji itu adalah kata-kata terakhir yang Nisa dengar darinya.
Setelah hari itu, Farel menghilang. Ditelan bumi. Tidak ada pesan balasan. Tidak ada panggilan telepon di akhir pekan. Saat Nisa mencoba mencari tahu lewat teman-teman satu angkatannya, jawabannya selalu sama: Misi rahasia, Sa. Kami juga tidak tahu. Satu tahun berlalu, Nisa masih setia menunggu setiap dering telepon dengan jantung berdebar. Dua tahun, harapan itu berubah menjadi kemarahan yang menyiksa. Tiga tahun… Nisa belajar mengikhlaskan. Ia mengubur cincin perak sederhana yang pernah Farel berikan di dasar laci lemarinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Farel mungkin telah menemukan kehidupan lain, atau lebih buruk lagi, telah melupakan eksistensinya.
Nisa tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan mereka selanjutnya akan terjadi di bawah lampu neon rumah sakit militer, dengan status Farel sebagai pasien trauma.
Langkah Nisa melambat saat ia tiba di depan pintu bernomor 402. Pintu kayu berlapis melamin putih itu tampak seperti gerbang menuju masa lalu yang tidak ingin ia buka lagi. Tangannya terangkat, berhenti di udara, bergetar hebat sebelum akhirnya menyentuh gagang pintu berbahan logam dingin.
Dia kembali, Sa. Farel-mu kembali. Suara kecil di kepalanya berbisik, memunculkan secercah kelegaan yang bodoh.
Namun, peringatan dr. Dimas kembali terngiang. PTSD parah. Disosiasi.
Nisa memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya. Ia adalah seorang perawat profesional. Ia telah menangani ratusan prajurit dengan luka fisik dan mental yang mengerikan. Ia bisa melakukan ini. Ia harus bisa.
Dengan satu dorongan pelan, pintu itu terbuka. Engselnya tidak bersuara.
Kamar 402 temaram. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu tidur kecil di atas nakas dan pendaran layar monitor EKG yang berkedip stabil. Suara beep... beep... beep... dari mesin itu mendominasi ruangan, bersahutan dengan ritme hujan di luar jendela.
Nisa melangkah masuk. Sepatunya tidak menimbulkan suara di atas lantai linoleum. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang pasien di tengah ruangan.
Ada seseorang yang duduk di sana.
Farel tidak berbaring. Pria itu duduk bersandar pada tumpukan bantal yang ditegakkan, menghadap ke arah jendela yang tertutup gorden setengah.
Nisa menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut Farel bisa mendengarnya.
Itu benar-benar dia. Bahu yang lebar itu, rahang yang tegas itu. Tetapi, semuanya terasa… salah. Farel yang ia kenal adalah pria yang tegap, berisi, dan memancarkan aura dominan sekaligus hangat. Pria yang duduk di hadapannya sekarang terlihat seperti bayangan dari masa lalu. Tubuhnya jauh lebih kurus. Tulang pipinya menonjol di bawah kulit yang pucat pasi. Rambut cepaknya terlihat berantakan dan sedikit memanjang. Ada perban putih melingkari bahu kirinya, menyembul dari balik piagam rumah sakit yang kedodoran.
"Lettu Farel?" panggil Nisa. Suaranya serak, nyaris hanya berupa bisikan.
Pria itu tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap mematung menatap ke arah jendela, seolah Nisa tidak pernah memasuki ruangan itu. Postur tubuhnya kaku, tegang, seakan sedang bersiap menghadapi serangan dari musuh yang tidak terlihat.
Nisa memaksa kakinya melangkah lebih dekat. Tangannya mencengkeram papan dada rekam medis erat-erat untuk menyembunyikan getarannya. Aroma khas rumah sakit kini bercampur dengan sesuatu yang lain—aroma keringat dingin dan keputusasaan yang menguar dari tubuh pria itu.
"Selamat malam," sapa Nisa lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih keras, berusaha menggunakan suara profesionalnya. "Saya Suster Nisa. Saya yang akan bertugas memantau kondisi Anda malam ini."
Mendengar nama itu diucapkan, tidak ada sedikit pun perubahan pada Farel.
Namun, perlahan, sangat perlahan, pria itu menoleh.
Gerakannya kaku, seperti mesin yang kekurangan pelumas. Ketika wajah Farel sepenuhnya menghadap ke arahnya, Nisa merasa lantai di bawah kakinya runtuh.
Mata itu. Mata cokelat gelap yang dulu selalu menatapnya dengan penuh kehangatan, binar jahil, dan cinta yang tumpah-ruah… kini mati. Kosong. Gelap tanpa dasar. Tidak ada kehidupan di sana. Tidak ada pantulan cahaya dari lampu kamar.
Farel menatap Nisa seolah ia sedang menatap dinding kosong. Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kelegaan melihat wanita yang dulu menangis memeluknya di stasiun kereta.
"Waktu observasi tanda-tanda vital," ucap Nisa dengan susah payah, suaranya bergetar mengkhianati pertahanannya. Ia mendekat ke sisi ranjang, mencoba menatap langsung ke dalam mata Farel, mencari setitik saja percikan sisa masa lalu. Ini aku, Rel. Nisa. Tetapi Farel hanya diam. Tatapannya yang kosong dan dingin menusuk tepat ke jantung Nisa, menyisakan kesadaran yang teramat perih.
Pria ini hidup. Ia bernapas. Jantungnya berdetak. Tetapi Farel yang dulu, Farel yang mencintainya… tidak ikut pulang bersamanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar