Tetesan air dari keran wastafel yang kurang rapat menjadi satu-satunya suara yang menemani debar jantungku di dalam kamar mandi. Udara terasa dingin, namun telapak tanganku berkeringat dingin saat aku menatap benda plastik pipih berwarna putih di atas meja marmer.

Satu garis merah. Lalu perlahan, warna merah muda merayap naik, mempertegas garis kedua.

Dua garis merah.

Napasku tertahan di tenggorokan. Aku menutupi mulut dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis bahagia yang mendadak menyeruak. Mataku memanas, dan air mata akhirnya luruh melewati pipi. Tanganku yang gemetar meraih test pack itu, menyentuh permukaannya seolah takut dua garis itu hanya ilusi yang akan menguap jika disentuh.

Aku hamil. Setelah dua tahun pernikahan yang belakangan terasa semakin hambar dan berjarak, Tuhan menitipkan sebuah nyawa di rahimku.

Tanganku secara naluriah turun ke perut datar yang tertutup gaun rumahan berbahan satin. Masih belum ada tonjolan apa-apa di sana, namun aku bisa merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dada. Senyumku mengembang lebar, membayangkan bagaimana reaksi Mas Rendra nanti.

Belakangan ini, suamiku itu memang berubah. Ia sering pulang larut, beralasan sibuk dengan proyek baru di perusahaannya. Tatapannya yang dulu hangat kini sering kali kosong saat menatapku, seolah pikirannya selalu berada di tempat lain. Sentuhannya berkurang, dan percakapan kami di meja makan tak lebih dari sekadar rutinitas tanya jawab yang kaku. Aku sempat merasa takut. Aku sempat berpikir, apakah aku melakukan kesalahan? Apakah beban pekerjaannya terlalu berat hingga aku tak lagi bisa menjangkaunya?

Tapi kini, keraguan itu sirna. Ini adalah jawaban atas semua doa-doaku di sepertiga malam. Anak ini pasti akan menjadi jembatan yang menyatukan kami kembali. Mas Rendra sangat menyukai anak kecil—setidaknya, itulah yang selalu ia katakan di awal pernikahan kami.

Aku bergegas merapikan diri, menghapus sisa air mata di sudut mata, dan menyemprotkan sedikit parfum beraroma vanilla kesukaannya di pergelangan tangan. Malam ini harus sempurna.

Aku melangkah ke dapur dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Bi Inah, asisten rumah tangga kami, sudah pulang sejak sore, jadi rumah ini sepenuhnya menjadi milikku. Aku mengeluarkan potongan daging sapi wagyu dari dalam kulkas, berniat memasak bistik lada hitam kesukaan suamiku. Tanganku bergerak lincah meracik bumbu, menumis bawang bombay hingga aromanya memenuhi seluruh ruangan.

Di meja makan, aku menyalakan dua lilin aromaterapi dan meletakkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua di dekat piringnya. Di dalam kotak itu, telah kubaringkan test pack dua garis tadi, beralaskan kapas putih yang lembut. Kejutan kecil yang akan mengubah hidup kami selamanya.

Jam dinding berdenting menunjukkan pukul delapan malam. Suara deru mesin mobil mewah yang tak asing terdengar memasuki pekarangan. Jantungku kembali memompa darah lebih cepat. Itu dia.

Aku bergegas menuju pintu depan, membukanya tepat saat Mas Rendra melangkah naik ke teras. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi ibu kota, membuat suhu udara malam ini terasa lebih menusuk.

"Malam, Mas," sapaku lembut, meraih tas kerjanya dari tangannya.

Mas Rendra tidak tersenyum. Wajahnya yang rahangnya selalu tercetak tegas itu tampak kaku. Ia hanya bergumam pelan tanpa menatap mataku, melepaskan jas kerjanya dan menyerahkannya padaku. "Malam."

"Kamu pasti lelah," ucapku, berusaha mengabaikan nada dinginnya. "Aku sudah siapkan air hangat kalau kamu mau mandi. Tapi kalau kamu lapar, makanannya sudah siap di meja."

Ia berhenti sejenak di ambang ruang tengah, melonggarkan dasinya dengan kasar. Matanya menyapu meja makan yang sudah tertata rapi, lengkap dengan lilin yang menyala redup. Bukannya terlihat senang, keningnya justru berkerut dalam.

"Tolong matikan lilin itu, Nara. Aku sedang tidak ingin merayakan apa pun," ucapnya datar. Suaranya rendah, namun cukup tajam untuk membuat senyum di bibirku sedikit memudar.

Aku menelan ludah, berusaha mempertahankan suaraku agar tetap ceria. "Oh, maaf. Aku hanya berpikir kita butuh suasana yang sedikit santai. Pekerjaanmu pasti sangat berat belakangan ini. Sini, duduklah dulu."

Aku berjalan mendekat ke meja makan, meniup kedua lilin itu hingga asap tipisnya mengepul ke udara. Masih dengan pakaian kerjanya, Mas Rendra menarik kursi dan duduk. Tubuhnya bersandar kaku, matanya menatap lurus ke arahku, namun tatapannya terasa begitu asing. Seperti menatap orang yang tidak ia kenal.

"Aku punya sesuatu untukmu, Mas," kataku, menggeser kotak beludru biru itu sedikit lebih dekat ke arah tangannya. Mataku berbinar, tak sabar menunggu ia membukanya.

Namun, ia bahkan tidak melirik kotak itu. Alih-alih membukanya, tangannya merogoh saku dalam tas kerja yang baru saja kuletakkan di kursi sebelahnya. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal berlogo firma hukum dan meletakkannya tepat di tengah meja, menggeser piring bistik yang sudah kusiapkan hingga berdenting pelan.

"Aku juga punya sesuatu untukmu," balasnya dingin. "Dan ini jauh lebih penting dari apa pun yang ada di dalam kotak kecil itu."

Alisku bertaut. Aku menatap map cokelat itu dengan perasaan yang mendadak tidak enak. Udara di ruang makan ini tiba-tiba terasa mencekik. "Apa ini, Mas? Dokumen rumah?"

"Buka saja."

Tangan kananku bergerak pelan meraih map tersebut. Terdapat sebuah stempel resmi di bagian depan. Saat jariku membuka penutupnya dan menarik keluar beberapa lembar kertas berstempel dari dalam, duniaku seketika berhenti berputar.

Cahaya lampu gantung di atas kami seolah meredup, menyisakan rentetan huruf kapital yang dicetak tebal di bagian atas kertas: SURAT GUGATAN CERAI.

Aku tertegun. Mulutku sedikit terbuka, mencoba meraup udara yang entah mengapa terasa menghilang dari ruangan ini. Mataku bergerak liar, membaca namaku—Nara Adhisti—dan namanya—Rendra Syailendra—berdampingan dalam konteks yang paling menghancurkan.

"Mas..." Suaraku keluar lebih seperti cicitan lirih. Tanganku mulai gemetar hebat hingga kertas itu bergetar di genggamanku. "A—apa maksudnya ini? Gugatan cerai? Siapa... siapa yang..."

"Itu sudah sangat jelas, Nara," sela Mas Rendra tanpa sedikit pun nada simpati di suaranya. Ia menatapku dengan raut wajah setenang permukaan danau beku. "Aku ingin kita berpisah. Hubungan ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi."

"Tidak bisa dilanjutkan?" Aku meletakkan kertas itu dengan kasar, dadaku naik turun karena napas yang memburu. Air mataku yang tadi kusimpan untuk tangis bahagia kini menggenang karena alasan yang sama sekali berbeda. "Apa maksudmu tidak bisa dilanjutkan?! Kita tidak sedang bertengkar, Mas! Kita baik-baik saja! Kenapa tiba-tiba kau memberiku surat cerai?!"

"Kita tidak baik-baik saja, dan kau tahu itu." Mas Rendra melipat kedua tangannya di atas meja. "Dua tahun, Nara. Dua tahun aku hidup dalam pernikahan yang stagnan. Aku tidak menemukan ketenangan di rumah ini. Aku butuh ruang. Karierku sedang berada di titik krusial, dan sejujurnya... pernikahan kita ini hanya membebaniku."

"Membebani?" Air mataku jatuh menitik ke atas meja kayu. "Aku selalu mendukungmu! Aku mengurus rumah ini, memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi! Apa kesalahanku, Mas? Kalau ada yang kurang, aku bisa perbaiki. Kita bisa bicara baik-baik, bukan dengan cara seperti ini!"

"Tidak ada yang perlu diperbaiki karena keputusanku sudah bulat," potongnya tajam. Ia mengusap wajahnya kasar, seolah akulah pihak yang paling menyusahkan di sini. "Pengacaraku sudah mengurus semuanya. Kau hanya perlu tanda tangan, dan aku akan memberikan kompensasi finansial yang sangat cukup untukmu. Kau tidak perlu khawatir soal uang."

Kata 'uang' itu seperti tamparan keras di wajahku. Ia pikir ini soal uang?

Lalu, mataku tertuju pada kotak beludru biru yang masih tergeletak di dekat tangannya. Harapan terakhir. Ya, jika ia tahu kondisiku sekarang, ia pasti akan menarik kata-katanya. Ia pasti sedang kacau karena pekerjaannya.

Dengan tangan yang masih gemetar, aku meraih kotak biru itu dan membukanya di depan wajah Mas Rendra.

"Kau tidak bisa menceraikanku, Mas," kataku dengan suara bergetar, napasku tersengal. Aku menyodorkan test pack dengan dua garis merah itu ke hadapannya. "Lihat ini. Aku hamil. Di dalam sini ada anakmu, Mas. Darah daging kita. Kita akan menjadi orang tua."

Aku menatap matanya, memohon untuk melihat secercah keterkejutan yang berujung pada penyesalan. Aku menunggu ia merengkuhku dan meminta maaf atas lelucon gila soal perceraian ini.

Namun, yang terjadi justru membuat darah di nadiku membeku.

Mas Rendra menunduk menatap benda plastik itu selama beberapa detik. Tidak ada keterkejutan di matanya. Tidak ada kelembutan. Wajahnya justru perlahan mengeras. Rahangnya mengatup rapat sebelum ia menatapku dengan pandangan yang penuh rasa jijik dan kemarahan yang tertahan.

Ia mengambil test pack itu dari tanganku, mengangkatnya sejajar dengan mataku, lalu melemparnya ke lantai begitu saja hingga benda kecil itu terpelanting ke sudut ruangan.

"Mas!" jeritku terkejut.

"Licik," desisnya rendah, suaranya dipenuhi bisa yang sangat berbisa.

Aku terkesiap, mundur selangkah seolah baru saja ditampar. "Apa maksudmu?"

"Kau pikir aku bodoh, Nara?" Masih dengan posisi duduk, ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, menatapku dengan kebencian yang telanjang. "Kau tahu pernikahanku sedang berada di ujung tanduk. Kau sadar sikapku sudah berubah. Dan alih-alih menerima kenyataan, kau justru sengaja membuang pil KB-mu untuk mengikatku? Kau sengaja hamil supaya aku tidak bisa membuangmu, begitu?!"

Duniaku runtuh berkeping-keping. Udara di dadaku terasa dipaksa keluar hingga paru-paruku perih. Fitnah itu terlalu kejam, terlalu absurd hingga otakku kesulitan memprosesnya.

"A-aku tidak pernah—"

"Jangan memanipulasiku!" bentaknya keras, menggebrak meja hingga piring dan gelas berdenting nyaring. Tubuhku tersentak mundur. "Aku sudah muak dengan segala kepolosan palsumu. Kau pikir dengan adanya bayi, aku akan membatalkan perceraian ini? Kau pikir anak itu bisa menyelamatkan posisimu di rumah ini?"

Aku menggelengkan kepala dengan air mata yang mengalir deras, meremas ujung bajuku untuk mencari kekuatan yang tersisa. "Ini anakmu, Mas... ini nyawa. Bagaimana bisa kau menuduhku sekejam itu?"

Mas Rendra berdiri perlahan, menjulang tinggi di hadapanku dengan bayangan tubuhnya yang menutupi cahayaku. Matanya menatapku dengan kekosongan yang membekukan jiwa, membuang sisa-sisa cinta yang mungkin pernah ada di sana.

"Gugurkan, atau besarkan sendiri. Aku tidak peduli." Ia merapikan jasnya dengan gerakan tenang yang mengerikan, lalu menatapku tepat di mata. "Aku tidak pernah menginginkan anak ini."