Tubuhku ambruk. Lututku menghantam aspal jalanan yang kasar dan tergenang air, menggores kulitku namun rasa perihnya sama sekali tak sebanding dengan kram hebat yang sedang mengoyak isi perutku.
"Aargh..." Rintihan tertahan lolos dari bibirku yang membiru dan bergetar hebat.
Aku meringkuk di tengah guyuran hujan lebat, memeluk perutku sendiri dengan kedua tangan. Air hujan memukuli tubuhku tanpa ampun, menyamarkan air mata yang kembali luruh dengan derasnya. Napasku tersengal-sengal, memburu oksigen yang terasa semakin sulit diraup.
Setiap kali aku mencoba menarik napas dalam, gelombang nyeri itu datang lagi, melilit pinggang dan perut bagian bawahku dengan sensasi panas yang membakar. Ketakutan yang sesungguhnya kini merayap naik, melumpuhkan seluruh sistem sarafku.
"Tuhan... kumohon..." bisikku di sela gemeretak gigiku yang kedinginan. "Tolong jangan ambil anak ini... hanya dia yang kumiliki... tolong..."
Aku berusaha mendongak, melihat ke arah rumah mewah yang baru saja memuntahkanku. Lampu di lantai dua menyala terang—kamar Mas Rendra. Apakah ia melihatku dari balik tirai jendelanya? Apakah ia menyadari bahwa mantan istrinya sedang meregang nyawa di depan gerbang rumahnya?
Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada pintu yang terbuka. Rumah itu diam, angkuh, dan mematikan.
Aku menyeret tubuhku, berusaha merangkak menjauh dari gerbang, tak ingin mati kedinginan di depan rumah pria yang membuangku. Namun rasa sakit itu terlalu brutal. Pandanganku mulai berbayang. Lampu jalanan yang menembus tirai hujan terlihat bias, pecah menjadi ribuan bintik cahaya yang menyilaukan.
Kepalaku pening luar biasa. Aku merasakan sesuatu yang hangat dan asing mengalir perlahan dari pangkal pahaku, menodai dinginnya air hujan yang merendam tubuhku. Darah?
Kepanikan menyergapku. Jantungku berdetak liar. Tidak. Tidak. Tidak! Di tengah kesadaranku yang semakin menipis, sebuah sorot lampu mobil yang sangat terang menyorot tajam dari arah belokan jalan kompleks. Mobil itu melaju menembus hujan, lalu mengerem mendadak hanya beberapa meter dari tubuhku yang terkapar, menciptakan cipratan air yang cukup tinggi.
Aku tidak bisa melihat jenis mobilnya. Mataku terlalu berat untuk tetap terbuka. Sayup-sayup, aku mendengar suara pintu mobil dibuka dengan tergesa. Suara derap langkah sepatu pria yang berlari menghantam genangan air mendekat ke arahku.
"Nona! Anda bisa dengar saya? Nona!"
Suara seorang pria. Berat, tegas, namun terselip nada urgensi yang kuat. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh bahuku, menepuk pipiku perlahan. Tapi aku tak punya tenaga untuk membalas. Mataku perlahan menutup, menyerah pada kegelapan total yang menarikku ke dasarnya, diiringi doa terakhir yang terucap di dalam hati untuk janin kecilku.
Aroma antiseptik tajam dan bau khas alkohol medis adalah hal pertama yang menyapa indra penciumanku.
Perlahan, kelopak mataku bergetar, mencoba terbuka meski terasa lengket dan berat. Cahaya lampu neon putih dari langit-langit ruangan langsung menusuk retinaku, memaksaku mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri.
Aku memutar kepala dengan lemah. Dinding berwarna putih bersih, suara bip... bip... bip... yang konstan dari monitor di samping ranjang, dan selang infus yang tertancap di punggung tangan kananku.
Rumah sakit.
Ingatan malam itu kembali menghantam otakku seperti kereta ekspres yang menabrak dinding. Surat cerai. Wajah mertuaku. Usiran Rendra. Hujan deras. Dan... rasa sakit di perutku.
Mataku langsung membelalak panik. Dengan gerakan refleks yang kaku, tangan kiriku segera meraba perutku. Masih datar. Tidak ada perubahan bentuk. Namun ketakutan itu menggerogoti jiwaku.
"Anakku..." gumamku parau. Kerongkonganku terasa seperti kertas pasir.
Seorang wanita paruh baya berpakaian snelli putih yang sedang mencatat sesuatu di papan klip, menoleh ke arahku. Ia segera meletakkan catatannya dan melangkah mendekati ranjang, memberikan senyum profesional yang menenangkan.
"Anda sudah sadar, Ibu Nara?" tanyanya lembut, memeriksa tekanan darahku melalui monitor. "Syukurlah. Anda sudah tertidur selama hampir dua belas jam."
"Dokter..." Aku berusaha bangun, mencengkeram lengan jas putih dokter itu dengan tangan gemetar. "Dokter, bayi saya... bagaimana dengan kandungan saya? Semalam perut saya sakit sekali, dan saya merasa ada yang..."
"Tenang, Ibu. Tolong berbaring dulu. Jangan melakukan gerakan tiba-tiba." Dokter itu menahan bahuku dengan lembut, memaksaku kembali bersandar pada bantal. "Tarik napas perlahan. Saya akan jelaskan kondisinya."
Aku menelan ludah, menatap wajah dokter itu dengan sisa-sisa harapan yang kupertaruhkan. Jantungku berdebar tak karuan menunggu vonisnya.
Dokter itu menghela napas pelan, menatapku dengan raut wajah penuh empati. "Anda mengalami apa yang kami sebut abortus imminens, atau ancaman keguguran. Pendarahan ringan semalam dan kram perut hebat yang Anda alami adalah respons tubuh yang menunjukkan bahwa janin Anda sedang berada dalam bahaya."
Air mataku menetes tanpa bisa dicegah. "Tapi... dia masih ada, kan, Dok? Dia selamat?"
"Saat ini, ya. Detak jantung janin masih terdengar, meski agak lemah," jawab dokter itu, membuatku bisa menghembuskan napas lega yang panjang dan bergetar. Tanganku mengusap perutku dengan protektif. "Namun, kondisinya sangat rentan, Ibu Nara. Rahim Anda mengalami kontraksi dini yang tidak wajar untuk usia kehamilan yang baru memasuki trimester pertama."
"Kenapa bisa begitu, Dok? Saya tidak pernah melakukan pekerjaan berat," tanyaku lirih.
"Kandungan Anda lemah karena stres berat," tegas dokter itu, sorot matanya berubah serius. "Keadaan psikologis ibu hamil sangat memengaruhi perkembangan janin. Trauma emosional, syok, kelelahan fisik yang ekstrem, dan kedinginan yang Anda alami semalam memicu reaksi penolakan dari tubuh Anda sendiri."
Dokter itu merapikan selimutku sebelum melanjutkan dengan nada peringatan. "Jika stres ini berlanjut, jika Anda tidak bisa mengendalikan emosi dan membiarkan diri Anda larut dalam tekanan, risiko keguguran sangat tinggi. Obat penguat kandungan yang kami berikan lewat infus ini hanya membantu secara medis. Obat utamanya ada pada pikiran Anda sendiri. Anda harus tenang demi bayi Anda."
Pikiranku berkecamuk. Tenang? Bagaimana aku bisa tenang setelah suamiku sendiri membuangku ke jalanan seperti sampah? Bagaimana aku bisa tidak stres ketika aku tidak tahu akan tidur di mana malam ini?
"Dokter..." Aku ragu-ragu sejenak, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan VIP yang sangat luas dan mewah ini. "Siapa yang membawa saya ke sini? Apakah... apakah suami saya?"
Satu persen dari diriku yang paling bodoh masih berharap Rendra melihatku pingsan dan hati nuraninya terketuk untuk menyelamatkanku.
Namun dokter itu menggelengkan kepala. "Bukan. Seorang pria asing yang membawa Anda ke Instalasi Gawat Darurat semalam. Beliau menemukan Anda tergeletak di jalanan. Beliau juga yang menanggung seluruh biaya administrasi dan memesan kamar VIP ini untuk Anda."
"Di mana pria itu sekarang?"
"Beliau langsung pergi setelah memastikan Anda ditangani oleh tim medis. Beliau tidak meninggalkan nama, hanya memberikan sebuah tas kecil berisi pakaian ganti Anda yang sepertinya beliau ambil dari sekitar tempat Anda pingsan." Dokter itu menunjuk ke arah sebuah koper kecil dan tas belanja di atas sofa di sudut ruangan. Koperku.
Rasa sesak kembali menjalar di dadaku. Bukan Mas Rendra. Pria yang membuangku benar-benar tidak peduli apakah aku mati membusuk di jalanan. Nyawaku diselamatkan oleh belas kasihan orang asing yang bahkan tidak repot-repot memperkenalkan diri.
"Baiklah, Ibu Nara. Saya akan menyuruh perawat membawakan makan siang. Anda harus makan agar tubuh Anda punya energi. Ingat pesan saya, kurangi memikirkan hal-hal yang berat. Janin Anda bergantung pada Anda," ucap dokter itu pamit seraya melangkah keluar ruangan.
Pintu tertutup dengan bunyi klik yang pelan.
Ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara jarum jam dinding dan dengung halus pendingin ruangan. Aku duduk bersandar, memandangi selang infus yang mengalirkan cairan bening ke pembuluh darahku.
Aku mengangkat wajah, menatap pantulan diriku di kaca jendela rumah sakit. Rambutku kusut, wajahku pucat pasi tanpa riasan, kantung mataku menghitam. Penampilanku sangat menyedihkan.
Aku meraba sisi ranjang yang kosong. Dulu, jika aku sakit sedikit saja, Mas Rendra akan panik dan menggenggam tanganku sepanjang malam. Kini, jangankan menggenggam, pria itu sendirilah yang mendorongku ke jurang kematian. Orang tuaku sudah tiada. Aku tidak punya saudara dekat yang bisa kuandalkan. Teman-temanku sebagian besar adalah teman-teman arisan Mama Karina yang pasti akan memandangku hina mulai hari ini.
Udara di kamar rawat ini terasa semakin dingin menembus kulitku. Aku menarik selimut hingga sebatas dada, melingkarkan kedua tanganku memeluk perutku sendiri dengan protektif. Air mataku mengalir dalam diam, meresap ke dalam bantal putih di belakangku.
Dunia yang dulu kukira aman kini telah rata dengan tanah. Tidak ada pelindung, tidak ada sandaran.
Nara sadar ia benar-benar sendirian.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar