Keheningan yang mencekik menguasai ruang makan itu. Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela terdengar seperti ribuan jarum yang berjatuhan, mewakili perasaanku yang hancur lebur. Aku berdiri mematung, menatap pria yang selama dua tahun ini kupanggil suami, mencoba menemukan sisi manusiawi di balik wajahnya yang sedingin pualam.

"Tidak pernah menginginkan anak ini..." bisikku lirih, mengulangi kalimatnya seakan kata-kata itu adalah mantra beracun yang menggerogoti akal sehatku. "Anak yang kau janjikan kepadaku saat kita mengikat janji di depan altar... anak yang selalu kau sebut-sebut setiap kali kita melihat keluarga lain. Kau bohong padaku, Mas?"

"Itu dulu, Nara. Saat aku pikir kau adalah wanita yang tepat untuk mendampingiku." Mas Rendra memalingkan wajah, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Sekarang situasinya berbeda."

Sebelum aku bisa membalas, suara bel pintu yang ditekan berulang kali memecah ketegangan di antara kami. Mas Rendra melirik ke arah pintu depan dengan gurat lega, seolah kedatangan tamu itu memang sudah ditunggunya.

Aku menyusut air mataku dengan kasar, berusaha menata napas saat mendengar suara hak sepatu tinggi beradu dengan lantai marmer ruang tamu. Dua sosok wanita muncul dari balik dinding penyekat, membuat kakiku terasa semakin lemah berpijak.

Itu Mama Karina, mertuaku, dan Siska, adik perempuan Mas Rendra.

Mereka berdua berjalan masuk dengan gaya aristokrat khas keluarga Syailendra. Mama Karina mengenakan gaun malam sutra dipadukan dengan perhiasan berlian yang memantulkan cahaya lampu. Sementara Siska menenteng tas branded keluaran terbaru yang harganya bisa membiayai hidupku selama bertahun-tahun sebelum aku menikah dengan kakaknya.

"Rendra, kau sudah memberikannya?" Suara Mama Karina yang melengking anggun memecah keheningan. Matanya yang tajam dan dihiasi riasan tebal langsung tertuju padaku, lalu turun ke arah map cokelat yang tergeletak di atas meja makan. Senyum tipis, puas dan penuh kemenangan, tersungging di bibirnya merahnya.

Aku menatap Mas Rendra tak percaya. "Kau... membawa mereka kemari untuk ini?"

"Aku yang meminta datang," sela Mama Karina sambil menarik kursi di ujung meja dan duduk dengan keanggunan yang dibuat-buat. Siska berdiri di belakangnya, melipat tangan di dada sambil menatapku dengan pandangan merendahkan. "Keluarga kami harus memastikan bahwa proses pengeluaranmu dari rumah ini berjalan lancar, tanpa drama berlebihan dari pihakmu."

Tanganku mengepal erat di sisi tubuh. "Mama tahu soal perceraian ini?"

"Tentu saja aku tahu. Aku yang menyarankan pengacara terbaik untuk Rendra." Mama Karina mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Matanya menyisir meja makan, melihat hidangan yang kubuat susah payah, lalu tertawa kecil penuh ejekan. "Makan malam romantis? Oh, betapa klasiknya. Selalu mencoba mengambil hati anakku dengan hal-hal sepele saat kau tahu posisimu terancam."

"Sayang sekali usahamu telat, Mbak Nara," celetuk Siska dengan nada malas. Ia melirik ujung sepatunya seolah aku bahkan tak pantas ditatap. "Mas Rendra baru saja terpilih masuk ke dalam jajaran direksi utama. Dia butuh istri yang bisa membawanya masuk ke lingkaran sosial kelas atas. Bukan perempuan yang kerjanya cuma berkutat di dapur dan tidak punya koneksi apa-apa."

Kata-kata Siska menembus pertahananku. Rasa hina itu membakar dadaku. Mereka datang bukan untuk menengahi, melainkan untuk memastikan harga diriku diinjak-injak sampai tak tersisa.

Lalu, pandangan Mama Karina jatuh ke lantai, tepat di mana benda plastik putih itu tergeletak di dekat kaki meja. Matanya menyipit. Siska yang menyadarinya langsung melangkah maju dan memungut benda tersebut.

Siska menatap test pack itu sejenak, lalu mendelik ke arahku dengan mata terbelalak. "Dua garis? Kau hamil?!"

Mama Karina seketika menegakkan tubuhnya, raut wajahnya berubah menjadi sangat tegang. Ia menatap Mas Rendra dengan panik. "Rendra! Apa maksudnya ini? Jangan bilang kau akan membatalkan perceraian ini karena perempuan ini hamil?!"

"Tidak, Ma," jawab Mas Rendra cepat, suaranya tegas tanpa keraguan. "Aku tidak akan membatalkan apa pun."

Aku menatap suamiku, memohon keadilan. "Mas, tolong katakan pada mereka. Ini anakmu! Jelaskan pada ibumu!"

"Jelaskan apa?" Mama Karina berdiri dari kursinya, berjalan memutar meja hingga berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum mawarnya yang menyengat. "Sudah kuduga kau akan menggunakan cara murahan ini, Nara."

Aku mengerjap bingung, air mata kembali menggenang di pelupuk. "Cara murahan? Apa maksud Mama? Ini cucu Mama!"

"Cucu?" Mama Karina tertawa sumbang, tawanya menggema di ruang makan yang dingin itu. "Perempuan dari kelasmu memang selalu tahu cara memeras laki-laki mapan. Kau sengaja membiarkan dirimu hamil tepat di saat anakku ingin menceraikanmu! Kau pikir dengan perut membesar itu kau bisa mengunci harta keluarga Syailendra? Licik sekali!"

"Aku tidak licik!" suaraku akhirnya meninggi, tak sanggup lagi menahan amarah yang menggelegak. Tubuhku bergetar hebat. "Aku istrinya yang sah! Hamil dalam pernikahan adalah hal yang wajar! Aku tidak pernah tahu dia akan memberiku surat cerai hari ini!"

"Tutup mulutmu!" bentak Mama Karina, menunjuk tepat ke wajahku dengan kuku berpoles merah menyala. "Kau tidak berhak meninggikan suaramu di depanku, perempuan kampung! Dari awal aku sudah menentang pernikahan ini! Kau tidak punya latar belakang yang jelas, orang tuamu sudah tidak ada, kau tidak membawa keuntungan apa-apa selain rasa malu jika Rendra membawamu ke acara koleganya!"

Setiap kata yang keluar dari mulut Mama Karina seperti sabetan cambuk ke wajahku. Dulu, saat Mas Rendra masih mengejarku, ia berjanji akan melindungiku dari semua cibiran keluarganya. Ia berjanji bahwa cinta kami cukup. Namun kini, pria yang menjanjikan surga itu hanya berdiri mematung dalam diam, membiarkan ibu dan adiknya merobek-robek harga diriku.

"Mas Rendra..." panggilku putus asa, menatap pria itu. "Kau diam saja? Kau membiarkan ibumu menghinaku seperti ini?"

Mas Rendra akhirnya menghela napas panjang, tampak lelah dengan keributan ini. "Mama benar, Nara. Anak ini... hadir di waktu yang sangat salah. Karierku sedang meroket. Para pemegang saham sedang mengevaluasi kinerjaku untuk posisi CEO. Aku harus fokus 100 persen pada perusahaan. Anak dan segala kerepotannya saat ini hanyalah beban. Sebuah rantai yang akan menarikku turun."

"Beban?" bisikku, merasakan nyeri yang luar biasa menjalar dari dada hingga ke perut bawahku. Tangan kananku secara refleks memegangi perutku, melindungi kehidupan kecil yang belum genap sebesar biji kacang di dalam sana.

"Ya. Beban." Mas Rendra menatapku dengan dingin. "Lagipula, aku tidak bisa membedakan apakah kau menangis karena sedih kehilanganku, atau sedih kehilangan gaya hidup nyamanmu di rumah ini."

Plak!

Telapak tanganku mendarat telak di pipi kiri Mas Rendra sebelum otakku sempat memerintahkannya. Suara tamparan itu menggema keras di ruangan, mengejutkan semua orang, termasuk diriku sendiri. Napasku menderu cepat, tanganku berdenyut kebas.

"Beraninya kau bicara seperti itu padaku!" teriakku, air mata kemarahan akhirnya tumpah. Harga diriku tak mengizinkanku dihina lebih jauh lagi. "Aku melayanimu selama dua tahun tanpa menuntut apa pun! Aku mencintaimu! Tapi kau mencampakkanku seolah aku ini barang bekas yang merugikan perusahaanmu!"

"Nara!" Mama Karina menjerit histeris, langsung menarik Mas Rendra mundur dan menatapku dengan kebencian luar biasa. "Beraninya kau menampar anakku! Dasar perempuan bar-bar tidak tahu diuntung!"

Mas Rendra menyentuh pipinya yang memerah. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. Tatapannya padaku kini murni dipenuhi kebencian, seolah semua sisa masa lalu kami telah hangus terbakar oleh satu tamparan itu.

"Kau berani main tangan padaku?" desisnya rendah, mendekat selangkah dengan aura mengancam yang membuatku mundur perlahan.

"Kau yang menghancurkan hatiku lebih dulu!" balasku, mengangkat dagu tinggi-tinggi meski kakiku gemetar menahan bobot tubuhku sendiri. "Jika kau tidak menginginkan anak ini, baik! Aku yang akan membesarkannya! Aku tidak butuh uang sepeser pun dari laki-laki pengecut sepertimu!"

"Bagus," Mas Rendra tersenyum sinis, senyum yang tak pernah kukenali. Ia menggebrak meja makan dengan sangat keras, membuat piring-piring bergeser dan gelas air minumku tumpah membasahi taplak.

"Jangan berani melawan keluargaku," ucapnya dengan suara menggelegar, menatap tepat ke manik mataku. Matanya menyala penuh arogansi dan kekuasaan absolut. "Kau menantangku? Kau pikir kau bisa bertahan hidup di luar sana tanpa aku? Kalau itu maumu, silakan."

Mas Rendra menunjuk ke arah pintu utama, suaranya bergema membelah suara hujan deras di luar sana.

"Keluar dari rumahku sekarang juga! Malam ini juga, talak itu jatuh untukmu!"