Udara siang kota Jakarta terasa seperti tamparan panas yang membakar kulit saat aku melangkah keluar dari lobi rumah sakit. Suara klakson bersahut-sahutan dari jalan raya di depan, bercampur dengan deru knalpot dan asap polusi yang membuat dadaku semakin sesak.

Aku berdiri di pinggir trotoar, mengenakan sweter rajut berwarna krem yang kudapatkan dari koper kecilku—satu-satunya harta benda yang masih kumiliki. Tangan kananku menggenggam erat tali koper, sementara tangan kiriku merogoh saku, merasakan beberapa lembar uang kertas seratus ribuan di dalam dompet. Semalam, perawat memberikan dompet itu kepadaku, mengatakan bahwa pria asing yang menolongku menemukannya tercecer di aspal tak jauh dari tempatku pingsan.

Langkah pertamaku adalah menuju sebuah mesin ATM di minimarket terdekat. Harapanku hanya satu: Mas Rendra belum sempat memblokir rekening tabungan pribadiku, meski uang bulanan selalu ia transfer ke rekening bersama kami.

Aku memasukkan kartu ATM ke dalam mesin dengan tangan yang sedikit bergetar. Mengetikkan enam digit PIN. Layar memproses selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

‘Maaf, kartu Anda telah diblokir. Silakan hubungi bank penerbit.’

Tubuhku membeku. Aku menekan tombol cancel, mengeluarkan kartu itu, dan mencoba kartu ATM yang lain—kartu tabungan bersamaku dan Mas Rendra. Hasilnya sama. Warna merah di layar mesin ATM itu seolah menertawakan kebodohanku.

Mas Rendra tidak hanya membuangku, ia juga memastikan aku hancur tanpa sisa. Ia mengunci semua akses keuanganku di hari yang sama ia menyerahkan surat cerai itu.

Aku menarik napas panjang, menahan air mata yang kembali mendesak naik. Tidak. Aku tidak boleh menangis di sini. Aku menarik koperku keluar dari minimarket dan duduk di sebuah halte bus yang sepi. Udara panas membuat peluh membasahi pelipisku. Aku membuka dompet, menghitung lembaran uang tunai di dalamnya.

Satu juta delapan ratus ribu rupiah.

Itu saja. Itulah harga sisa hidupku setelah dua tahun mengabdi pada keluarga Syailendra. Uang ini bahkan tidak akan cukup untuk menyewa apartemen kecil selama sebulan, apalagi untuk biaya periksa kandungan dan makan sehari-hari.

Dengan jemari yang dingin, aku mengeluarkan ponselku. Layarnya retak di ujung, mungkin terbentur aspal semalam. Aku menggulir kontak, mencari satu-satunya nama kerabat yang tersisa. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan beruntun lima tahun lalu, meninggalkanku sebagai anak tunggal yang harus berjuang sendiri. Satu-satunya keluarga sedarah yang kumiliki hanyalah Bude Ratna, kakak dari mendiang ibuku yang tinggal di pinggiran kota.

Aku menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi empat kali sebelum suara serak seorang wanita paruh baya terdengar di seberang sana.

"Halo? Tumben kamu telepon, Ra. Ada apa?" nada bicara Bude Ratna terdengar datar, tanpa kehangatan. Sejak aku menikah dengan Rendra yang kaya raya, ia memang selalu menjaga jarak, mengira aku akan sombong dan melupakan keluarga.

"Bude..." Suaraku bergetar, pertahananku nyaris runtuh hanya dengan mendengar suara seseorang yang kukenal. "Bude, apa kabar? Bude sehat?"

"Sehat. Ada apa ini? Suaramu kok serak begitu? Kamu habis nangis?"

Aku menelan ludah, menekan pangkal hidungku kuat-kuat. "Bude, bolehkah Nara... bolehkah Nara menginap di rumah Bude untuk beberapa hari? Nara... Nara sudah tidak tinggal di rumah Mas Rendra lagi."

Hening sejenak di seberang telepon. Hening yang membuat jantungku berdetak dengan ritme yang menyakitkan.

"Maksudmu apa tidak tinggal di sana lagi? Kalian bertengkar? Ra, namanya suami istri itu wajar ribut kecil. Jangan cengeng begitu lalu minta pulang. Rendra itu orang sibuk, kamu sebagai istri harusnya banyak ngalah. Jangan bikin malu keluarga."

"Mas Rendra menceraikan Nara, Bude." Kalimat itu akhirnya meluncur keluar, merobek tenggorokanku sendiri. "Nara diusir semalam. Nara tidak bawa apa-apa, dan ATM Nara diblokir. Tolong, Bude... Nara butuh tempat berteduh. Setidaknya sampai Nara dapat pekerjaan."

"Ya ampun, Gusti!" Bude Ratna memekik kaget, namun bukan dengan nada simpati. Suaranya justru meninggi, penuh penghakiman. "Dicerai?! Kamu bikin salah apa sampai diusir begitu?! Pasti kamu yang nggak becus ngurus suami! Dari dulu Bude sudah bilang, perempuan miskin seperti kita ini kalau nikah sama orang kaya harus tahu diri! Sekarang kamu dicerai, kamu mau lari ke Bude? Bude ini jualan pecel cuma cukup buat makan sehari-hari, Ra. Suami Bude lagi sakit-sakitan. Kalau kamu ke sini, Bude mau kasih makan kamu pakai apa?"

Dadaku terasa ditimpa godam. Aku memejamkan mata, membiarkan air mata pertama jatuh ke pipiku di siang yang terik itu. "Nara tidak akan merepotkan, Bude. Nara janji akan cari kerja. Tapi Nara sedang hamil, Bude... kandungan Nara lemah. Semalam Nara pingsan di jalan dan nyaris keguguran."

"Hamil?!" Bude Ratna terdengar semakin panik, tapi dengan alasan yang salah. "Terus kalau kamu hamil anak Rendra, kenapa dia ngusir kamu?! Pasti keluarga Rendra nggak terima kan? Aduh, Ra... jangan bawa-bawa masalah orang kaya ke rumah Bude. Nanti kalau Rendra atau ibunya marah dan nyari kamu ke sini, Bude yang repot! Maaf ya, Ra. Kamu cari kos saja, atau minta tolong temanmu. Bude sungguh tidak bisa bantu. Jangan ke sini."

Klik.

Panggilan diputus sepihak.

Aku menatap layar ponsel yang kembali menggelap. Telingaku berdenging. Perutku kembali terasa mual, bukan karena morning sickness, tapi karena realitas yang begitu pahit mencekik leherku. Aku yatim piatu. Dan kini, satu-satunya kerabatku menutup pintu rapat-rapat karena takut pada bayang-bayang keluarga mantan suamiku.

Sore harinya, setelah berjalan menyusuri gang-gang sempit di kawasan padat penduduk yang pengap, aku akhirnya menemukan sebuah kamar kos berukuran 3x3 meter. Harga sewanya delapan ratus ribu rupiah per bulan. Tanpa ranjang, hanya ada kasur busa tipis berselimut seprai pudar, sebuah lemari plastik susun empat, dan kipas angin kecil yang berdengung berisik di sudut ruangan. Kamar mandinya berada di luar, berbagi dengan lima penghuni kos lainnya.

"Uang sewanya bayar di depan ya, Mbak. Di sini airnya kadang mati kalau siang, jadi pintar-pintar nampung di ember," ucap ibu pemilik kos sambil menerima lembaran uangku dengan tatapan menyelidik ke arah perut dan koperku. Aku tidak mempedulikannya. Aku hanya mengangguk pelan dan segera masuk ke dalam kamar.

Aku mengunci pintu tripleks tipis itu dari dalam. Begitu kaitnya terpasang, seluruh energi yang menopang tubuhku sejak pagi seolah menguap tanpa sisa.

Kakiku kehilangan kekuatannya. Aku merosot turun hingga duduk di atas lantai ubin yang dingin, menyandarkan punggungku pada daun pintu. Udara di dalam kamar ini terasa pengap, berbau kapur barus dan debu, sangat jauh berbeda dengan aroma lavender dan pendingin sentral di kamarku—mantan kamarku—di rumah Mas Rendra.

Mataku menyapu ruangan sempit itu. Di sinilah aku sekarang. Bersembunyi di sudut kota yang kumuh, terbuang dan tak diinginkan.

Aku memeluk kedua lututku, membenamkan wajahku di sana, dan akhirnya, untuk pertama kalinya sejak aku sadar di rumah sakit, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangis untuk pernikahan yang hancur. Aku menangis untuk janji-janji palsu yang pernah kubenarkan. Aku menangis untuk harga diriku yang diinjak hingga tak bersisa. Suara isakanku tertahan di tenggorokan, kutekan dengan kepalan tangan di mulut karena dinding kos ini sangat tipis. Aku tidak ingin orang lain mendengar kehancuranku.

Namun di tengah tangis yang menyayat dada itu, tanganku perlahan turun, mengusap perut bagian bawahku yang masih terasa nyeri.

"Maafkan Ibu..." bisikku di sela isak tangis yang tersendat, menunduk menatap perutku. Air mataku menetes membasahi sweterku. "Maafkan Ibu karena membawamu ke dunia yang seperti ini. Maafkan Ibu karena tidak bisa memberimu ayah yang menyayangimu. Maafkan Ibu karena malam ini kita harus tidur di tempat seperti ini."

Bayangan wajah dingin Mas Rendra kembali melintas di benakku. Gugurkan, atau besarkan sendiri. Aku tidak peduli.

Aku menggertakkan gigi, menghapus air mataku dengan kasar hingga kulit pipiku perih. Kesedihan itu perlahan mengeras, membeku menjadi sebuah tekad yang tak tergoyahkan. Laki-laki itu salah jika ia pikir aku akan hancur dan mengemis di bawah kakinya.

"Ibu berjanji padamu, Nak," bisikku lebih tegas, mengusap perutku dengan ritme yang menenangkan. "Ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Kita akan bertahan hidup. Ibu akan membesarkanmu dengan tangan Ibu sendiri, dan Ibu pastikan, kau tidak akan pernah membutuhkan laki-laki pengecut itu dalam hidupmu."

Aku mengangkat wajah, menatap pantulan diriku yang menyedihkan di cermin kecil yang retak di atas lemari plastik.

Jakarta terlalu berbahaya. Keluarga Syailendra punya kekuasaan dan koneksi di mana-mana. Jika mereka tahu aku masih mempertahankan bayi ini, Mama Karina pasti akan menggunakan cara licik lain untuk menyingkirkanku, atau lebih buruk lagi, mengambil anak ini nanti saat ia lahir hanya demi ahli waris jika Mas Rendra tak kunjung memiliki anak dari istri barunya kelak. Aku tahu jalan pikiran picik wanita tua itu.

Aku tidak bisa membesarkan anakku di bawah bayang-bayang ketakutan itu. Aku butuh tempat di mana tidak ada satu pun orang yang mengenal siapa Nara Adhisti. Tempat di mana nama Rendra Syailendra tidak memiliki kuasa apa-apa.

Malam itu, di bawah cahaya lampu lima watt yang remang-remang, aku memasukkan kembali sisa pakaianku ke dalam koper. Aku menghitung sisa uangku. Satu juta rupiah. Cukup untuk membeli tiket kereta ekonomi dan menyewa kamar murah selama sebulan di kota lain.

Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar terbit, aku akan pergi. Aku akan membuang masa laluku di stasiun kereta, dan jika suatu hari nanti takdir memaksaku kembali ke kota ini, aku bersumpah, aku bukanlah Nara yang sama yang bisa mereka ludahi dan singkirkan begitu saja.

Aku memutuskan pergi dari kota ini.