Kata "keluar" dan "talak" yang meluncur dari mulut Mas Rendra menggema di udara, bertabrakan dengan suara guruh yang tiba-tiba menggelegar membelah langit malam ibu kota.
Waktu seolah membeku. Aku menatap pria di hadapanku ini—pria yang menyematkan cincin di jari manisku dua tahun lalu, pria yang pernah mengecup keningku dan berjanji akan menjadi pelindungku dari kejamnya dunia. Kini, wajah itu tak menyisakan apa pun selain rahang yang mengeras dan sepasang mata yang menatapku seolah aku adalah kotoran yang menodai rumah mewahnya.
"Talak?" Suaraku nyaris tak terdengar, tenggelam oleh deru hujan yang semakin brutal menghantam jendela kaca ruang makan. Kakiku terasa berubah menjadi jeli, memaksaku berpegangan pada sandaran kursi kayu di dekatku agar tidak rubuh. "Kau... menjatuhkan talak padaku malam ini? Hanya karena aku menuntut hakku untuk tidak dihina oleh ibumu?"
"Aku menjatuhkan talak karena kau sudah melewati batas, Nara!" Mas Rendra menunjuk tajam ke arah wajahku. "Kau menampar suamimu di depan ibunya sendiri. Kau berani meninggikan suaramu di rumah yang kubeli dengan uangku! Jika kau berpikir kehamilan manipulatifmu itu bisa membuatku bertekuk lutut dan menoleransi sikap kurang ajarmu, kau salah besar!"
"Bagus, Rendra! Laki-laki memang harus tegas!" Mama Karina menimpali dari belakang, suaranya dipenuhi kemenangan yang menjijikkan. Wanita paruh baya itu melipat kedua tangannya di dada, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Biar dia tahu diri. Beri dia pelajaran. Siska, naik ke atas sekarang. Ke kamarnya. Masukkan semua barang-barang perempuan ini ke dalam koper. Malam ini juga rumah ini harus bersih dari benalu."
Siska menyeringai lebar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, adik iparku itu berbalik dan setengah berlari menaiki tangga pualam melingkar yang menuju lantai dua. Suara hak sepatunya terdengar seperti ketukan palu hakim yang sedang meresmikan kehancuranku.
"Tunggu!" Aku memekik, berusaha melangkah menyusul Siska, tetapi Mas Rendra melangkah maju, menghalangi jalanku dengan tubuh tingginya bak sebuah tembok beton.
"Kau mau ke mana?" desisnya mengancam. "Posisimu di rumah ini sudah selesai, Nara. Jangan membuat keributan yang akan membuatku memanggil petugas keamanan kompleks untuk menyeretmu keluar."
Aku menengadah, menatap mata suamiku dengan pandangan buram karena air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Dadaku sesak, terasa seperti ada bongkahan es yang bersarang di paru-paruku. "Mas... kumohon, dengarkan aku, Mas. Pakai akal sehatmu. Aku istrimu. Wanita yang sedang mengandung darah dagingmu. Kau sedang emosi. Jangan mengambil keputusan saat kau sedang marah. Kita bisa bicara, Mas. Berdua saja. Tolong suruh ibumu pulang."
"Beraninya kau mengusirku dari rumah anakku sendiri!" Mama Karina memekik dari belakang, namun Mas Rendra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ibunya diam.
Mas Rendra menunduk, menyejajarkan wajahnya denganku. Aroma parfum musk miliknya yang dulu selalu menenangkanku kini terasa memuakkan. "Akal sehatku justru sedang bekerja sangat baik malam ini, Nara. Aku akhirnya bisa melihat wajah aslimu dengan jelas. Perempuan yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang tidak bisa menghormati keluargaku, dan yang menggunakan janin untuk mengamankan harta."
"Aku tidak pernah menginginkan hartamu!" balasku sengit. Aku menepuk dadaku sendiri, menunjukkan luka yang menganga di sana. "Yang kuinginkan adalah suamiku! Keluarga yang utuh untuk anakku nanti! Apakah meminta hal itu membuatku menjadi perempuan licik?!"
"Cukup, Nara. Aku muak mendengar suaramu." Mas Rendra memalingkan wajah, mengusap tengkuknya dengan kasar. "Pembicaraan kita selesai. Pengacaraku akan mengirimkan draf resmi besok pagi. Tanda tangani, dan jangan persulit prosesnya."
Terdengar suara dentuman benda keras dari arah tangga. Aku menoleh dan melihat Siska menyeret sebuah koper berukuran sedang milikku dengan kasar. Koper itu menabrak setiap anak tangga hingga menimbulkan suara gaduh. Di tangan kirinya, ia menenteng beberapa potong baju rumahan dan sweter rajutku yang sepertinya tidak muat dimasukkan ke dalam koper, lalu melemparnya begitu saja ke lantai ruang tengah seolah itu adalah lap pel kotor.
"Hanya ini yang pantas dia bawa, Mas," lapor Siska sambil tersenyum sinis, menendang koper itu hingga meluncur ke arah kakiku. "Gaun-gaun mahal, perhiasan, dan tas yang Mas belikan sudah aku kunci di lemari. Dia datang ke sini hanya bawa baju-baju murah, jadi dia juga harus keluar hanya dengan baju-baju murah ini."
Aku menatap koperku yang tergeletak mengenaskan di lantai, lalu menatap tumpukan bajuku yang berserakan. Harga diriku diinjak, diludahi, dan dihancurkan berkeping-keping tepat di hadapan mataku sendiri. Dan pria yang seharusnya melindungiku hanya berdiri diam, menyetujui setiap penghinaan yang dilemparkan keluarganya kepadaku.
"Kau benar-benar membiarkan mereka memperlakukanku seperti binatang, Mas?" bisikku, suaraku kini berubah parau. Segala daya upayaku untuk mempertahankan pernikahan ini menguap, digantikan oleh rasa perih yang melumpuhkan kewarasan.
Mas Rendra tidak menjawab. Ia melangkah menuju pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir, memutar kuncinya, dan menarik knopnya.
Angin malam yang membawa rintik air hujan langsung menerobos masuk, mengibarkan tirai-tirai tipis di ruang tamu dan membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di luar, badai sedang mengamuk. Hujan turun menderas, menciptakan genangan air di halaman beraspal, sementara kilat sesekali menyambar menerangi langit gelap.
"Keluar," ucap Mas Rendra, menunjuk ke arah kegelapan malam dengan wajah tanpa ekspresi. "Sekarang."
Aku menelan ludah, merasakan kerongkonganku seakan robek. Kutatap wajah Mas Rendra lekat-lekat, merekam setiap gurat wajahnya, setiap lengkung bibirnya yang menyuruhku pergi. Aku tidak akan menangis lagi memohon kepadanya. Air mataku sudah mengering untuk pria pengecut ini.
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku membungkuk, memunguti sweter dan pakaianku yang berserakan di lantai. Tanganku gemetar, tapi aku memaksa diriku untuk berdiri tegak. Aku meraih gagang koperku, menariknya perlahan melewati ruang tamu yang dulu kudekorasi dengan tanganku sendiri.
Setiap langkah terasa seperti menyeret beban berton-ton. Melewati sofa tempat kami dulu sering menonton televisi bersama. Melewati pigura foto pernikahan kami yang masih menempel di dinding—menampilkan wajah Mas Rendra yang tersenyum memelukku. Semuanya kini terasa seperti sebuah kebohongan besar yang ditata dengan sangat rapi.
Saat aku berdiri tepat di ambang pintu, aku menghentikan langkahku. Aku menoleh untuk terakhir kalinya. Menatap mata Mas Rendra yang dingin.
"Malam ini kau membuangku saat aku sedang mengandung anakmu, Mas." Suaraku terdengar rendah, namun stabil, melampaui suara hujan di belakangku. "Ingat baik-baik hari ini. Ingat baik-baik wajahku malam ini. Karena kelak, saat dunia membalikkan nasibmu, aku tidak akan pernah menoleh sedikit pun ke arahmu."
Mas Rendra hanya mendengus meremehkan. "Drama murahan. Pergi dari rumahku."
Aku membalikkan badan, melangkahkan kaki keluar dari batas pintu yang aman dan hangat. Udara malam yang basah dan membekukan langsung menyergap tubuhku. Aku menyeret koperku menyusuri teras, turun ke jalan masuk mobil yang langsung diguyur hujan deras.
Dalam hitungan detik, gaun satin yang kukenakan basah kuyup, menempel erat di kulitku. Rambutku lepek, air hujan mengalir deras menutupi pandanganku.
BLAM!
Suara pintu jati yang dibanting dengan sangat keras menggema dari belakangku, diikuti oleh bunyi klik dari kunci ganda yang diputar.
Aku terperanjat. Berdiri sendirian di tengah halaman aspal yang dingin, di bawah guyuran hujan badai, ditemani sebuah koper dan beberapa potong baju yang kubekap di depan dada. Malam ini, aku kehilangan statusku, rumahku, dan suamiku secara bersamaan.
Aku memaksa kakiku untuk terus melangkah menuju gerbang besi yang menjulang tinggi. Sepatuku basah, licin, dan setiap langkah menuntut energi yang luar biasa besar. Aku menembus derasnya hujan tanpa arah, hanya ingin menjauh dari neraka berlapis emas itu.
Namun, saat tanganku baru saja menyentuh teralis gerbang untuk mendorongnya, duniaku tiba-tiba berhenti.
Sebuah tikaman rasa sakit yang luar biasa tajam menyengat bagian bawah perutku. Sangat kuat dan tiba-tiba, seolah ada sebilah pisau berkarat yang dipelintir paksa di dalam rahimku.
Tanganku refleks melepaskan koper dan mencengkeram perutku dengan keras. Aku terengah, membulatkan mata saat rasa sakit itu kembali menyerang dengan gelombang yang lebih mematikan. Lututku kehilangan kekuatannya.
Nara merasakan nyeri hebat di perutnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar