Umur dua puluh tujuh tahun adalah usia yang tidak pernah benar-benar menyenangkan untuk dirayakan.


Shila berdiri di depan cermin kamarnya, memandang wajahnya sendiri dengan teliti—bukan karena ia ingin, melainkan karena ia tidak bisa tidak melakukannya. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan kerutan, bukan uban yang tiba-tiba muncul di sela-sela rambutnya yang hitam panjang. Sesuatu yang lebih abstrak dari itu. Sesuatu yang terasa seperti tekanan di balik tulang dadanya, seperti toples kaca yang berisi udara tapi tetap terasa sesak.


Dua puluh tujuh.


Ibu sudah menelepon tiga kali pagi ini. Pertama pukul tujuh tepat, suaranya masih hangat dengan nada "selamat ulang tahun, Nak." Kedua pukul delapan, mulai ada bumbu pertanyaan. "Gimana kabarnya? Kerja oke?" Ketiga pukul sembilan, sudah sampai pada inti persoalan. "Shila, kamu nggak mau nikah?"


Bukan pertanyaan. Itu pernyataan yang dibungkus tanda tanya.


Shila mematikan notifikasi teleponnya dan duduk di tepi ranjang. Laptopnya terbuka, dokumen yang sudah dua minggu mandek di halaman tiga belas menunggu di layar. Ia seorang penulis—atau setidaknya, ia berusaha menjadi penulis. Novel pertamanya sudah terbit setahun lalu di penerbit indie, terjual tidak terlalu buruk untuk ukuran debut. Tapi novel kedua itu seperti tembok bata yang terus menghadangnya setiap kali ia mencoba melangkah.


Di sebelah laptopnya ada segelas kopi yang sudah dingin sejak tadi pagi, dan sebungkus biskuit yang hanya tinggal dua keping. Meja kerjanya berantakan dengan cara yang hanya masuk akal bagi dirinya sendiri—sticky note di mana-mana, beberapa buku terbuka di halaman berbeda, kabel charger yang melilit seperti ular tidur.


Ia membuka chat WhatsApp. Satu nama yang selalu ia cari pertama kali. Nicho.


Sudah ada pesan dari tadi pagi: "Happy birthday, Shi. Semoga harimu menyenangkan. Aku udah pesan tempat buat nanti malam ya—restoran yang kamu bilang pengen nyoba itu. Jam 7, jemput kamu jam 6.30."


Shila tersenyum tanpa sadar. Lalu senyum itu perlahan memudar ketika ia sadar bahwa ia harus merespons dengan singkat, tidak dengan cara yang seharusnya ia respons kepada orang yang paling ia cintai. Ia tidak bisa menulis "aku sayang kamu" di sana. Tidak bisa menelepon balik dengan suara yang sepenuhnya bahagia. Tidak bisa memposting foto mereka berdua di Instagram dengan caption manis.


Karena mereka adalah rahasia.


Sudah hampir empat tahun mereka bersama dalam diam. Empat tahun yang penuh kenangan yang hanya bisa hidup di antara mereka berdua—tidak di beranda media sosial, tidak di meja makan keluarga, tidak di obrolan arisan ibu-ibu. Empat tahun yang terasa seperti rumah paling nyaman yang pernah ia kenal, sekaligus penjara paling halus yang pernah ia tinggali.


Di luar jendela kamarnya, Jakarta sudah mulai bising. Bukan bising Lebaran—itu masih beberapa minggu lagi—tapi bising biasa kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Motor. Klakson. Pedagang kaki lima. Suara adzan dari masjid dua blok ke kanan yang pengeras suaranya sedikit serak.


Shila mengambil ponselnya lagi dan membalas Nicho: "Makasih. Oke, aku tunggu ya."


Singkat. Aman. Tidak meninggalkan jejak yang bisa disalahartikan siapa pun yang mungkin melihatnya.


Ia kembali ke laptopnya, mencoba menulis. Kursor berkedip di ujung kalimat terakhir yang sudah ia tulis dua hari lalu: *Ia tidak pernah tahu bahwa beberapa pilihan tidak memberikan jalan keluar—hanya jalan yang lebih panjang menuju tempat yang sama.*


Shila membaca kalimat itu berulang kali. Entah itu kalimat untuk tokoh novelnya, atau untuk dirinya sendiri, ia tidak lagi bisa membedakan.


Telepon berdering lagi. Kali ini bukan Ibu. Tante Rosi—saudara Ibu yang paling rajin menelepon pada hari-hari seperti ini, hari ulang tahun yang terasa seperti undangan resmi untuk diceramahi.


"Shi, udah dua tujuh loh. Sepupu kamu si Dina udah punya anak dua. Nggak mau nyusul?"


Shila meletakkan telepon dengan layar menghadap ke bawah.


Dua puluh tujuh bukan usia tua. Ia tahu itu secara logis, secara intelektual, secara semua cara yang bisa diverifikasi dengan data. Tapi di keluarganya, di lingkungan tempat ia tumbuh besar, dua puluh tujuh untuk perempuan adalah usia di mana orang-orang mulai melihatmu dengan campuran kasihan dan khawatir. Seperti buah yang mulai melewati titik kematangannya.


Yang paling menyesakkan bukan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Yang paling menyesakkan adalah bahwa ia memiliki jawaban—ia memiliki seseorang, seseorang yang sangat nyata dan sangat ia cintai—tapi ia tidak bisa menyebutkan namanya.


Nicho.


Nama itu seperti doa yang tidak bisa ia panjatkan dengan keras.


Ia menutup laptopnya, rebahan di ranjang, menatap langit-langit kamar. Di sana ada noda air kecil yang sudah ada sejak setahun lalu, berbentuk seperti peta pulau tak bernama. Shila sering menatapnya ketika tidak bisa tidur, membayangkan pulau itu punya nama, punya pantai, punya tempat di mana ia dan Nicho bisa ada tanpa harus bersembunyi.


Tapi itu hanya langit-langit.


Dan ini adalah hidup yang nyata, dengan segala kerumitannya yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan imajinasi.


Dua puluh tujuh tahun. Dan ia masih belum tahu bagaimana cara mencintai seseorang tanpa harus memilih antara cinta itu dan segalanya yang lain.


Tapi untuk malam ini, setidaknya, ia akan keluar makan malam bersamanya. Di meja yang mungkin sedikit tersembunyi. Dengan senyum yang mungkin tidak bisa sepenuhnya bebas. Tapi tetap bersama. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.


Atau setidaknya, ia terus meyakinkan dirinya bahwa itu cukup.