Berbeda dari Lebaran yang penuh bunyi, Natal datang dengan cara yang lebih diam.
Atau mungkin itu hanya perasaan Shila, yang melihat Natal dari luar—sebagai pengamat, bukan peserta. Dari jendela café tempat ia biasa menulis, ia bisa melihat jalanan yang dihiasi lampu-lampu kecil berwarna-warni, kios-kios yang menjual pohon Natal plastik, dan orang-orang yang membawa kantong belanja dengan wajah terburu-buru namun bahagia.
Hari ini tanggal dua puluh empat Desember, dan Nicho sedang sibuk.
Ia tahu itu. Nicho sudah memberitahunya dari jauh-jauh hari bahwa malam Natal adalah momen keluarga besar—gereja, makan malam, doa bersama. Sama seperti Shila tidak bisa mengajak Nicho ke meja makan Lebaran keluarganya, Nicho juga tidak bisa membawa Shila ke perayaan Natalnya.
Jadi Shila di sini, sendirian dengan kopi tubruk dan naskah yang tidak mau selesai.
Ia membuka dokumen novelnya. Tokoh perempuan yang ia tulis—seorang arsitek muda bernama Laras—sedang berdiri di depan bangunan tua yang akan direnovasi. Shila sudah berencana membuat Laras menemukan sesuatu di balik dinding tua itu, sesuatu yang mengubah semua asumsinya. Tapi setiap kali ia mencoba menulis adegan itu, jari-jarinya berhenti di atas keyboard.
Karena ia belum tahu apa yang akan Laras temukan.
Mungkin karena ia sendiri belum tahu apa yang akan ia temukan di balik dinding-dinding yang ia bangun dalam hidupnya sendiri.
Ponselnya bergetar. Foto dari Nicho: keluarganya berkumpul di depan pohon Natal, semua tersenyum, ada adik perempuannya yang baru kelas dua SMA ikut memeluk pinggul ibunya. Caption-nya: "Keluargaku kirim salam buat kamu (dalam hati mereka, karena mereka belum tahu kamu ada :)) Merry Christmas eve, Shi."
Shila tertawa pelan, meski matanya terasa hangat.
*Dalam hati mereka, karena mereka belum tahu kamu ada.*
Kalimat itu terasa lucu dan menyedihkan sekaligus. Lucu karena cara Nicho menuliskannya. Menyedihkan karena itu nyata—ada seluruh kehidupan Nicho yang ia tidak bisa masuki, dan ada seluruh kehidupan Shila yang Nicho tidak bisa masuki, dan mereka berdua sudah belajar bertahan di celah-celah di antara kedua dunia itu.
Ia membalas: "Salam balik buat mereka ya, diam-diam. Selamat Natal, Cho."
Seorang barista muda melintas, mengganti lilin kecil di meja dengan yang baru. Ia mengangguk sopan ke Shila—sudah kenal wajah, karena Shila memang pelanggan tetap yang datang hampir setiap hari, selalu pesan kopi yang sama, selalu duduk di meja pojok yang sama.
"Sendirian terus, Kak?" kata barista itu tanpa maksud apa-apa, hanya basa-basi.
"Iya," jawab Shila. "Lagi nunggu inspirasi."
Barista itu tertawa kecil dan berlalu.
Shila kembali ke layarnya, tapi pikirannya melayang ke tiga tahun lalu, Natal yang sama. Waktu itu ia dan Nicho nekat keluar kota dua hari—alasannya ke Bandung untuk liputan artikel yang ia tulis, alasan Nicho ke klien. Mereka menginap di penginapan kecil di Lembang, makan malam di warung sate yang tidak ada hubungannya dengan Natal, lalu duduk di teras melihat kabut turun dari Tangkuban Perahu.
Malam itu Nicho bertanya, "Kamu pernah nggak ngerasa takut sama hubungan kita?"
Shila ingat ia menjawab dengan jujur: "Setiap hari."
"Aku juga," kata Nicho. "Tapi aku takut lebih kalau nggak ada kamu."
Itu bukan rayuan. Nicho bukan tipe orang yang merayu. Itu hanya kenyataan yang ia sampaikan dengan cara paling sederhana, dan justru karena itu kalimat itu masih hidup di dalam diri Shila sampai sekarang, hangat seperti bara.
Di café, lagu Natal berganti. Sekarang Frank Sinatra—*Have Yourself A Merry Little Christmas*. Shila tidak suka lagu itu. Bukan karena Natal, tapi karena lagu itu selalu terasa seperti imbauan yang tidak bisa ia penuhi.
*Someday soon we all will be together...*
Ya. Someday. Kapan?
Ia memesan kopi kedua dan mencoba menulis lagi.
Tiga jam kemudian, Nicho mengirim pesan lagi: "Ibadahnya selesai. Aku lagi di mobil, mau pulang. Tadi aku doain kita ya."
"Kamu doain kita dalam ibadah Natal?" tulis Shila.
"Emangnya kenapa?"
Shila diam sebentar. Lalu menulis: "Nggak kenapa-kenapa. Makasih."
Dan ia benar-benar merasa terima kasih. Ada sesuatu yang hangat dari tahu bahwa seseorang membawa namamu ke hadapan Tuhannya, meski Tuhannya dan Tuhanmu disapa dengan cara yang berbeda, meski jalannya tidak bertemu di titik yang sama.
Tapi itu juga yang membuat segalanya rumit.
Shila menutup laptopnya, membayar kopi, dan berjalan pulang ke kontrakannya di bawah cahaya lampu Natal yang berkelap-kelip di sepanjang jalan.
Malam ini sunyi. Dan di sunyi itu, ia membawa nama Nicho dalam hatinya—diam-diam, seperti selalu.`
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar