Takbir bergema dari masjid ke masjid, saling bersahutan dalam malam yang hangat dan berbau petasan.


Shila duduk di teras rumah orang tuanya di Depok, memegang segelas teh hangat yang sudah tidak terlalu hangat lagi. Di sekelilingnya, suasana Lebaran malam ini berdesak-desakan dengan rasa yang sulit ia namakan—sukacita yang sedikit palsu, kerinduan yang tidak tahu ke mana harus pergi, dan kesepian yang anehnya paling terasa justru di tengah keramaian keluarga.


Di dalam rumah, saudara-saudaranya sudah ramai. Sepupu-sepupu datang dengan pasangan masing-masing, beberapa sudah membawa anak yang berlari-lari. Ibu sibuk di dapur menyiapkan opor ayam untuk besok pagi. Bapak duduk di ruang tamu mengobrol dengan Om Hendra tentang harga tanah di pinggiran kota yang terus naik tidak masuk akal.


Shila sendirian di teras.


Ponselnya bergetar. Pesan dari Nicho: "Malam Takbiran, Shi. Aku lagi di gereja, ada ibadah Paskah persiapan minggu depan. Kangen kamu."


Shila membaca pesan itu tiga kali. Kemudian ia mengetik balasan: "Selamat beribadah ya. Aku juga."


Ia ingin menulis lebih dari itu. Ia ingin menulis bahwa malam ini terasa sepi meski rumah penuh orang. Bahwa ia merindukan cara Nicho tertawa—sedikit canggung di awal, kemudian lepas sekali kalau sudah benar-benar geli. Bahwa ia ingin bisa duduk di sini bersamanya, tidak peduli apa yang orang-orang katakan.


Tapi pesan singkat itu sudah cukup. Atau harus cukup.


"Shila, masuk dong. Rame di dalam!" teriak sepupunya Dina dari balik pintu kaca.


Dina. Dua puluh delapan tahun, sudah menikah tiga tahun, anak pertama hampir dua tahun, anak kedua baru tujuh bulan dalam kandungan. Di mata keluarga besar, Dina adalah benchmark. Standar yang tidak tertulis tapi selalu terasa ada, seperti mistar yang tidak kelihatan tapi selalu dipakai untuk mengukur.


Shila masuk ke dalam.


Ruang tamu penuh tawa dan bau parfum bercampur. Ibu langsung melirik dengan tatapan yang Shila hafal betul artinya: *Anak perempuan Ibu yang paling tua, usia dua tujuh, belum menikah.*


"Shi, duduk sini. Temenin Bude Mirna ngobrol." Ibu menarik tangannya dengan lembut, tapi ada urgensi di sana.


Bude Mirna—saudara jauh dari pihak Bapak—duduk di sofa dengan rok batik bermotif parang, rambut disanggul rapi, dan senyum yang menyimpan banyak pertanyaan di baliknya.


"Shila ya? Masya Allah, cantik. Udah kerja ya sekarang?"


"Iya, Bude. Nulis."


"Nulis? Nulis apa?"


"Novel. Bude."


Bude Mirna mengangguk dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya mengerti tapi tidak ingin kelihatan tidak mengerti. "Oh, bagus bagus. Udah ada yang serius belum? Maksudnya, ada calon?"


Shila tersenyum. Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun untuk situasi seperti ini. Senyum yang cukup ramah untuk tidak dianggap tidak sopan, cukup samar untuk tidak memberikan informasi apa pun.


"Belum ada, Bude."


Itu bukan dusta sepenuhnya. Nicho bukan "calon" dalam pengertian yang berlaku di sini. Nicho adalah... Nicho. Sesuatu yang tidak punya kategori dalam daftar obrolan Lebaran.


Bapak mendekat, duduk di kursi sebelah Bude Mirna. "Shila anak saya pintar, Mbak Mirna. Nanti ada jodohnya."


"Iya, ya. Tapi jangan kelamaan nunggu, lho. Perempuan itu ada masanya." Bude Mirna tertawa kecil, seolah-olah itu candaan. Tapi tidak ada yang benar-benar lucu dari kalimat itu.


Shila permisi ke kamar dengan alasan mengambil minum.


Di kamarnya—kamar yang sama dengan tempat ia tumbuh besar, dengan poster band indie yang sudah kusam di sudut dan rak buku yang penuh sesak—ia duduk di ranjang dan membuka chat dengan Nicho lagi.


Nicho sedang mengirim foto: interior gerejanya yang dihiasi lilin Paskah, cahayanya hangat dan lembut. Caption-nya: "Suasananya damai banget malam ini. Aku doain kamu juga, Shi."


Shila menatap foto itu lama. Ada sesuatu yang menyentuh dari gambar itu—bukan karena ia memahami ritual di dalamnya, tapi karena ia tahu Nicho ada di sana dengan sepenuh hatinya. Sama seperti ketika ia shalat Tarawih kemarin malam, ada sesuatu yang penuh dan utuh di dalam dirinya yang tidak bisa dijelaskan kepada Nicho dengan kata-kata, tapi Nicho tidak pernah memintanya untuk menjelaskan.


Mereka hidup dalam dua alam rohani yang berbeda, dan selama ini mereka belajar untuk menghormati jarak itu tanpa menjadikannya jurang.


Tapi malam ini, di antara takbir yang bergema dan tawa keluarga yang saling bersahutan di ruang sebelah, Shila bertanya-tanya sampai kapan jarak itu bisa dijaga tanpa akhirnya menjadi sesuatu yang memisahkan.


Ia pergi ke kamar mandi, membasuh muka. Di cermin, wajahnya terlihat lelah dengan cara yang tidak bisa disembunyikan bedak. Lelah bukan karena tidak tidur. Lelah karena menyimpan sesuatu yang berat sendirian terlalu lama.


Ketika ia kembali ke ruang tamu, percakapan sudah bergeser ke topik lain. Tapi ada satu kalimat Ibu yang mampir ke telinganya sebelum bergabung: "...yang penting seagama, ya. Itu yang paling utama."


Shila berhenti sejenak di balik pintu. Menghirup napas. Lalu melangkah masuk dengan senyum yang sudah ia pasang lagi.


Malam takbiran ini panjang. Dan di sisi lain kota, Nicho duduk di bangku gereja dengan lilin di tangannya, berdoa dalam bahasanya sendiri, kepada Tuhannya sendiri, mungkin juga memikirkan hal yang sama: bahwa cinta yang paling nyata kadang terasa seperti yang paling tidak mungkin.


Takbir terus bergema. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.


Dan di antara kebesaran itu, dua hati yang saling mencintai berdiam di tempat masing-masing, terpisah oleh jarak yang bukan sekadar kilometer.`