Cinta yang tidak bisa diucapkan punya berat yang berbeda dari cinta yang lain.
Shila menyadari itu pertama kali bukan ketika ia mulai menyukai Nicho, tapi ketika ia pertama kali menyadari bahwa ia tidak bisa menceritakan Nicho kepada siapa pun.
Mereka tidak langsung bersama. Ada beberapa bulan setelah pertemuan di ruang bimbingan skripsi itu di mana mereka hanya berteman—saling kirim pesan tentang progress skripsi, sesekali bertemu untuk kopi, membahas buku dan film dan hal-hal yang sepertinya tidak penting tapi terasa seperti fondasi. Nicho tidak terburu-buru. Shila juga tidak. Mereka bergerak dengan kecepatan yang terasa organik, seperti air yang menemukan jalannya sendiri di antara bebatuan.
Kemudian suatu malam, tiga bulan setelah pertemuan pertama, ketika mereka duduk di tepi sungai Ciliwung yang sudah bersih dari sampah karena program normalisasi, Nicho berkata: "Shi, aku perlu bilang sesuatu."
"Bilang."
"Aku nggak mau membuat ini lebih rumit dari yang harusnya. Tapi juga nggak mau pura-pura nggak ada apa-apa." Ia menatap air yang mengalir. "Aku suka kamu. Sudah lumayan lama. Dan aku tahu kita berbeda dalam hal yang tidak kecil."
Shila diam. Di dalam dadanya ada sesuatu yang berdebar bukan karena takut, tapi karena pengakuan itu merupakan hal yang sudah lama ia tahu tapi belum berani ia akui pada dirinya sendiri.
"Kamu Kristen," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya. Aktif. Itu bagian penting dari hidupku." Nicho menoleh. "Dan kamu Muslim. Sama pentingnya."
"Jadi kamu tahu ini rumit."
"Sangat. Makanya aku tanya dulu sebelum lebih jauh." Ia menghirup napas. "Aku tidak menawarkan sesuatu yang sederhana, Shi. Aku tahu itu tidak adil. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura perasaan ini tidak ada."
Shila menatap sungai. Airnya bergerak pelan dalam gelap, memantulkan lampu jalan yang remang.
"Aku juga suka kamu," katanya akhirnya. "Sudah lama juga."
Mereka diam beberapa saat. Diam yang bukan kikuk, tapi diam yang penuh—diam yang berisi semua yang tidak perlu diucapkan dan semua yang belum bisa diucapkan.
"Ini tidak akan mudah," kata Nicho.
"Aku tahu."
"Kita mungkin perlu menyembunyikannya."
"Aku tahu."
"Dan itu tidak adil untukmu."
Shila menoleh padanya. "Kamu juga. Nggak adil buat kamu."
Nicho mengangguk pelan. "Kita sama-sama tahu konsekuensinya."
"Tapi kamu tetap bilang."
"Karena aku tidak bisa tidak bilang." Ada kejujuran telanjang di matanya yang membuat Shila tidak bisa memalingkan pandangan. "Kamu mau?"
"Aku mau."
Dan di situlah empat tahun itu dimulai.
Empat tahun yang punya pola dan ritmenya sendiri—pertemuan yang direncanakan dengan hati-hati, tempat-tempat yang dipilih karena kecil kemungkinannya bertemu orang yang kenal, cerita yang disesuaikan untuk dikonsumsi umum. Kalau Ibu bertanya sudah keluar dengan siapa, Shila menyebut nama teman perempuan. Kalau teman bertanya kenapa tidak pernah ikut nongkrong, ia punya alasan yang cukup meyakinkan.
Mereka belajar hidup dalam dua lapisan realitas. Lapisan luar: dua teman yang sesekali bertemu untuk profesional atau sekadar kopi. Lapisan dalam: dua orang yang tumbuh bersama, yang tahu cara masing-masing bernapas dalam tekanan, yang sudah menghabiskan ratusan jam berbicara tentang segala hal dari hal yang paling sepele sampai hal yang paling dalam.
Nicho ada ketika novel pertama Shila ditolak oleh empat penerbit berturut-turut. Ia yang duduk di sebelah Shila di malam keempat penolakan itu, tidak mengatakan "sudah, coba lagi" atau "kamu pasti bisa"—ia hanya duduk, membelikan es krim rasa strawberry yang Shila suka, dan bilang: "Marah dulu kalau perlu. Aku di sini."
Shila ada ketika Nicho kehilangan klien besar pertamanya di agency tempatnya bekerja karena strategi kampanye yang ia rancang tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ia yang mendengarkan Nicho bercerita selama dua jam di telepon—Nicho bicara, Shila mendengar, kadang bertanya, tidak pernah menghakimi.
Mereka merayakan ketika novel pertama Shila akhirnya diterbitkan. Mereka tidak bisa pesta besar, tidak bisa posting foto berdua dengan caption bangga. Tapi mereka makan malam di restoran yang agak mewah—Nicho memesan anggur non-alkohol karena tahu Shila tidak minum, Shila membawa kopian pertama novelnya yang sudah ditandatangani dengan nama Nicho di halaman depan.
Mereka merayakan ketika Nicho mendapat promosi menjadi Creative Director di usianya yang dua puluh enam—mereka makan es krim di taman, hal yang paling sederhana yang bisa mereka lakukan, tapi entah kenapa itu terasa seperti pesta yang sesungguhnya.
Empat tahun dalam diam. Empat tahun yang terasa seperti keseluruhan hidup, sekaligus seperti sesuatu yang masih belum dimulai dengan benar.
Karena ada satu hal yang tidak pernah mereka selesaikan dari percakapan pertama di tepi sungai itu: mereka tahu apa yang mereka hadapi, tapi mereka tidak tahu bagaimana menghadapinya. Mereka melanjutkan, meyakini bahwa akan ada cara, bahwa waktu akan memberikan solusi, bahwa cinta yang cukup kuat pasti menemukan jalannya.
Empat tahun kemudian, Shila masih menunggu jalannya muncul.
Dan Nicho—Nicho yang sabar, Nicho yang selalu ada—mulai belajar bahwa mungkin menunggu saja tidak cukup. Bahwa ada kalanya kau harus memilih untuk bergerak, meski tidak tahu ke arah mana.
Tapi untuk saat ini, untuk sekarang, mereka masih di sini. Bersama dalam diam. Mencintai dalam sembunyi.
Dan itu adalah bentuk cinta yang paling berat yang pernah Shila kenal—berat bukan karena tidak dicintai, tapi justru karena terlalu dicintai dengan cara yang belum menemukan bentuknya di dunia.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar