Empat tahun dan beberapa bulan yang lalu, di sebuah siang yang tidak istimewa, hidup Shila berubah karena ia datang terlambat.


Ruang bimbingan skripsi di lantai tiga gedung Fakultas Ilmu Komunikasi itu biasanya penuh antrian. Mahasiswa-mahasiswi duduk di bangku panjang di luar ruangan, masing-masing menggenggam laptop atau berkas yang sudah dibolak-balik sampai lusuh, menunggu giliran masuk ke dalam seperti menunggu vonis dari hakim.


Hari itu Shila datang terlambat dua puluh menit karena motornya mogok di tengah jalan dan ia harus menunggu ojek online selama hampir setengah jam. Ketika ia tiba di lantai tiga dengan napas sedikit tersengal dan rambut sedikit berantakan, antrian sudah maju jauh. Hanya ada satu orang yang tersisa di bangku—seorang laki-laki dengan laptop yang terbuka di pahanya, sedang membaca sesuatu dengan dahi sedikit berkerut.


Shila duduk di sebelahnya karena tidak ada pilihan lain.


Laki-laki itu menoleh. "Dosen yang sama?" tanyanya.


"Bu Riana. Kamu juga?"


Ia mengangguk. "Aku nomor antrian delapan belas. Kamu?"


"Sembilan belas."


Ia menutup laptopnya sedikit. "Berarti kita barengan nunggunya. Aku Nicho."


"Shila."


Mereka berjabat tangan dengan canggung seperti dua orang asing yang baru saja dipaksa berkenalan oleh takdir seadanya.


Tidak ada yang istimewa dari pertemuan itu, setidaknya tidak pada permukaannya. Mereka hanya dua mahasiswa yang sama-sama stres dengan skripsi, sama-sama duduk di bangku keras yang tidak nyaman, sama-sama menunggu kesempatan untuk dikoreksi dan dikirimkan kembali ke jalan revisi yang tidak ada ujungnya.


Tapi kemudian Nicho bertanya, karena mungkin ia bosan atau mungkin karena ia memang tipe orang yang mudah memulai percakapan: "Skripsimu tentang apa?"


"Representasi perempuan dalam sastra populer Indonesia. Kamu?"


"Strategi komunikasi merek di era digital." Ia sedikit meringis. "Lebih membosankan dari punyamu."


Shila tertawa tanpa bermaksud. "Punyaku juga membosankan. Cuma kedengarannya lebih bagus."


Nicho tertawa juga. Dan di situlah sesuatu yang kecil mulai bergerak.


Mereka ngobrol selama hampir satu jam. Tentang skripsi, tentang betapa tidak enaknya dosen yang galak, tentang rencana setelah lulus, tentang satu café di dekat kampus yang kopinya tidak sebanding dengan harganya tapi selalu ramai karena meja-mejanya lebar dan WiFi-nya kencang. Nicho bicara dengan cara yang tenang—tidak memaksakan pendapat, tidak berusaha terkesan, hanya bicara. Dan ada sesuatu dalam cara berbicaranya yang membuat Shila merasa ia tidak perlu mengedit dirinya sendiri.


Ketika akhirnya Shila dipanggil masuk ke ruang bimbingan, Nicho mengangguk. "Semoga lancar."


"Kamu juga."


Bimbingan Shila ternyata cukup lancar—Bu Riana hanya meminta beberapa revisi minor dan menyatakan bahwa draft-nya sudah hampir siap untuk seminar. Ketika Shila keluar dengan senyum lega, Nicho masih ada di bangku, sekarang giliran terakhir.


"Gimana?" tanyanya.


"Lumayan. Revisi dikit lagi."


"Syukurlah." Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebatang cokelat yang sudah sedikit meleleh karena terlalu lama di dalam tas. "Ini, buat nggak bahagia menunggu."


Shila menerimanya dengan terkejut. "Ini punya kamu?"


"Aku beli dua. Antisipasi kalau nunggu lama."


Ia terkekeh. "Terima kasih."


"Nomor antrian sembilan belas." Suara dari dalam ruangan memanggil.


Nicho berdiri, mengambil laptopnya. "Shila."


"Hm?"


"Kalau nanti habis ini mau mampir ke café yang tadi aku sebut, aku traktir kopi sebagai ganti stres menunggu. Kalau kamu mau."


Shila berdiri sejenak dengan cokelat meleleh di tangannya. Ini bukan undangan yang seharusnya ia terima dengan mudah—ia tidak mengenal lelaki ini, baru berkenalan satu jam lalu. Tapi ada sesuatu yang terasa aman dari caranya. Tidak ada nada merayu. Tidak ada gestur yang ambigu. Hanya tawaran kopi yang diucapkan dengan jujur.


"Oke," katanya.


Dan itulah mulanya.


Dua jam kemudian mereka masih duduk di café itu, kopi kedua, sudah lupa membicarakan skripsi dan beralih ke hal-hal lain—buku yang terakhir dibaca, film yang mengecewakan, mimpi setelah lulus, kota mana yang paling ingin dikunjungi. Nicho ternyata sudah pernah tinggal dua tahun di Surabaya karena ikut pindah orang tua, dan punya cara bercerita tentang kota itu yang membuat Shila merasa hampir bisa mencium bau laut Selat Madura dari kursinya.


Shila bercerita tentang ambisinya menulis novel. Nicho tidak merespons dengan "wah, susah tuh, bisa hidup nggak?" seperti yang biasa ia dengar. Ia hanya bertanya: "Tentang apa novelnya?"


"Tentang perempuan yang mencari tempat yang benar-benar miliknya," kata Shila.


Nicho mengangguk. "Kedengarannya penting."


Dua kata itu. *Kedengarannya penting.*


Bukan pujian berlebihan. Bukan pertanyaan skeptis. Hanya pengakuan sederhana bahwa apa yang ingin ia lakukan ada nilainya. Dan tanpa ia sadari, pada saat itu, Nicho sudah menjadi seseorang yang penting baginya.


Mereka tidak bertukar nomor telepon hari itu—Nicho yang meminta, Shila yang memberikan, dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa ia beri nama. Bukan deg-degan yang biasa. Lebih seperti... kepastian yang datang terlambat.


Sekarang, empat tahun kemudian, Shila kadang duduk di café lain dan memikirkan hari itu. Memikirkan betapa lugunya mereka berdua. Betapa mereka tidak tahu apa yang sedang mereka mulai.


Dan apakah, kalau mereka tahu, mereka tetap akan melanjutkannya.


Jawabannya—jujur, tanpa hiasan—mungkin ya. Karena beberapa hal dalam hidup ini terlalu besar untuk dihindari hanya karena kerumitannya.`