Pintu rumah kaca itu seharusnya terkunci.
Arya berdiri di pelataran dengan jaket basah, jas hujan yang sudah tidak lagi berguna, dan kunci yang masih menggantung di jari telunjuk — kunci yang ia bawa selama dua tahun ke mana pun ia pergi, dan tidak pernah sekali pun ia gunakan.
Tapi pintu itu terbuka. Sedikit. Cukup untuk hujan masuk.
Dan di dalam — lewat kaca yang berkabut — ada gerakan. Bayangan seseorang. Bukan ibunya, karena ibunya tidak pernah ke sini sejak Senja meninggal. Bukan tukang kebun, karena tukang kebun terakhir sudah tiga bulan tidak datang.
Seseorang yang asing.
Arya menarik napas sekali, dalam, lalu mendorong pintu itu terbuka.
Bau yang dulu pernah ia hapal langsung memukul wajahnya — tanah lembab, daun anggrek yang terlalu lama tidak disiram, dan sesuatu yang lebih halus, semacam parfum dengan bau ujung jeruk. Bukan parfum Senja. Senja tidak pernah pakai parfum. Tapi sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang baru.
"Permisi," kata Arya. Suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. "Anda siapa?"
Bayangan di balik rak pot berhenti bergerak.
Lalu perlahan — seperti seseorang yang sadar ia ketahuan tapi tidak panik — bayangan itu muncul dari balik rak.
Perempuan.
Sekitar dua puluh lima tahun. Rambut diikat asal-asalan dengan jepit hitam. Kaus polos. Tangan kotor — tanah menempel di buku-buku jarinya. Wajah yang Arya tidak pernah lihat sebelumnya, dan otaknya bisa mencatat itu dalam sepersekian detik karena hal pertama yang Arya lakukan setiap kali bertemu manusia adalah memetakan struktur wajahnya, kebiasaan kerja yang menempel dari profesi.
Tapi sepersekian detik berikutnya, perempuan itu menatapnya.
Dan Arya berhenti bernapas.
Bukan karena keterkejutan. Bukan karena malu telah membentak orang asing. Bukan karena situasi yang absurd — hujan, pintu yang terbuka, orang asing di rumah kaca tunangannya yang sudah meninggal.
Ia berhenti bernapas karena mata itu.
Cokelat kekuningan di pinggir, cokelat tua di pupil, dengan satu titik kecil — hampir tidak kelihatan — di iris kanan, seperti bercak yang lupa hilang.
Mata Senja.
Mata yang sama persis.
Mata yang dua tahun lalu menatapnya di ambulans, di ruang IGD, di bangsal dengan lampu yang terlalu terang, sebelum akhirnya menutup untuk selamanya pada jam tiga pagi tanggal lima belas Maret.
"Mas?"
Suara perempuan itu memecah ruang. Suara yang Arya tidak kenal — lebih ringan dari Senja, lebih cepat di awal kalimat, dengan logat samar yang Arya tidak bisa langsung identifikasi.
"Mas?" perempuan itu mengulang. "Mas baik-baik saja?"
Arya tidak menjawab. Tidak bisa.
Karena pertanyaan yang berputar di kepalanya bukan bagaimana orang ini bisa masuk atau siapa yang memberinya izin. Pertanyaannya jauh lebih sederhana, dan jauh lebih mustahil.
Bagaimana mata Senja bisa ada di wajah orang asing.
Perempuan itu menurunkan pot kecil yang tadi ia pegang — sebuah pot anggrek yang Arya kenali karena ia yang dulu memilihkan vasnya — dan meletakkannya di meja kerja. Pelan. Dengan kehati-hatian seseorang yang baru saja sadar ia sedang berurusan dengan sesuatu yang lebih rumit dari sekadar tertangkap basah.
"Mas, saya—"
"Keluar." Suara Arya keluar tipis. Hampir berbisik.
"Maaf?"
"Keluar dari sini."
"Mas, saya bisa jelaskan. Saya yang nyewa—"
"Saya tidak peduli." Arya mundur satu langkah, menabrak pintu kaca di belakangnya. Bunyi klang yang tipis. "Keluar. Sekarang."
Mata itu — mata yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini — mengerjap pelan. Sekali. Dua kali. Lalu kerutan kecil muncul di antara alis perempuan itu. Bukan ketakutan. Bukan kesal. Hanya kebingungan yang murni, jujur, dan sama sekali tidak dibuat-buat.
"Mas, saya nggak ngerti—"
Tapi Arya sudah berbalik. Sudah menarik pintu kaca itu lebar-lebar, sudah berjalan keluar tanpa peduli hujan, sudah membiarkan air dingin menampar wajahnya karena ia butuh sesuatu — apa pun — yang nyata, yang berat, yang mengingatkannya bahwa ia masih ada di tubuh ini, di bumi ini, dua tahun setelah hari di mana ia kehilangan separuh dirinya.
Ia berjalan sampai ujung jalan setapak. Sampai ke pagar batu yang membatasi rumah utama dengan rumah kaca. Berhenti. Bersandar. Menatap tanah yang kebanjiran kecil-kecil di antara batu paving.
Hujan turun lebih deras.
Dan di belakangnya, dari pintu kaca yang masih sedikit terbuka, ia mendengar suara perempuan itu — pelan, tidak jelas, mungkin sedang bicara pada dirinya sendiri.
"Apa-apaan, sih?"
Arya tidak ingat bagaimana ia sampai di pintu rumah utama.
Yang ia ingat adalah ibunya — Bu Indri — yang sedang membaca koran di teras belakang, mendongak dengan ekspresi terkejut, lalu cepat-cepat berdiri.
"Arya. Kok pulang? Ibu kira—"
"Ibu kasih kunci rumah kaca ke siapa?"
Bu Indri terdiam.
Arya berdiri di pintu, basah kuyup, dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun ia tidak peduli kalau menetesi lantai keramik yang baru saja dipel oleh Mbak Sari.
"Bu. Kunci rumah kaca. Ke siapa?"
"Arya, Ibu—"
"Bu."
Suara Arya bukan suara yang biasa. Bu Indri mengenal anak laki-lakinya, dan Bu Indri tahu — sejak Senja meninggal — anaknya tidak pernah meninggikan suara. Tidak ke siapa-siapa. Bahkan ke supir taksi yang salah jalan dan membuatnya hampir telat ke pemakaman. Bahkan ke perawat yang menumpahkan obat ke seprai Senja di malam terakhir.
Tapi sekarang Arya berdiri di pintu dengan air menetes dari rambutnya, dan suaranya — suara yang dingin sekaligus terdorong — adalah sesuatu yang Bu Indri tahu artinya: anaknya sedang berdiri di pinggir sesuatu yang ia takut runtuh.
"Ke Maitri Aulia," Bu Indri menjawab pelan. "Anak baru di kota. Florist. Dia sewa rumah kacanya untuk persiapan usaha—"
"Sejak kapan?"
"Tiga hari lalu. Ibu ada di telepon waktu kamu lewat tadi pagi. Mau bilang. Tapi—"
"Bu kasih kuncinya tanpa nanya saya."
"Arya. Rumah kaca itu sudah tiga tahun nggak dipakai. Dua tahun setelah Senja, dan setahun sebelum itu memang sudah jarang. Tanaman-tanaman itu—"
"Tanaman-tanaman itu milik Senja, Bu."
Kata-kata itu keluar lebih cepat dari yang Arya inginkan. Dan setelahnya, ruangan itu — teras belakang dengan kursi rotan dan piring berisi kacang rebus yang sudah dingin — menjadi terlalu sepi.
Bu Indri menatap anaknya. Lama. Lalu meletakkan koran yang tadi ia pegang. Lipat. Letak. Dengan gerakan tenang seorang ibu yang sudah lama tidak punya pilihan selain tenang.
"Tanaman-tanaman itu," Bu Indri berkata, "milik Senja. Tapi Senja sudah dua tahun pergi, Arya. Dan tanamannya butuh tangan yang menjaga."
"Bukan tangan orang asing."
"Bukan tangan orang asing yang Ibu pilih untuk Ibu sendiri."
Arya menatap ibunya. Lalu menatap lantai. Lalu mengusap wajahnya dengan tangan kanan — tangan yang ada bekas luka memanjang dari pergelangan ke siku, kenang-kenangan dari kaca yang pecah dua tahun lalu, di sebuah simpang jalan, di hari yang juga hujan seperti hari ini.
"Saya nggak mau dia di sana lagi."
"Arya—"
"Saya nggak peduli urusan apa. Suruh dia keluar."
Bu Indri tidak menjawab. Tapi dari ekspresinya — ekspresi seorang ibu yang sudah lama belajar bahwa kadang anaknya butuh waktu sebelum bisa menerima kebenaran yang sederhana — Arya tahu jawabannya.
"Bu," Arya berkata, suaranya lebih pelan, "tolong."
"Akan Ibu bicarakan dengannya," Bu Indri akhirnya berkata. "Tapi Arya — kamu juga harus bicara. Bukan cuma Ibu. Kamu juga."
Arya tidak menjawab.
Ia berbalik. Naik tangga. Masuk ke kamarnya — kamar yang dulu ia bagi dengan Senja sebelum Senja resmi pindah, kamar yang masih punya jaket Senja di gantungan, kamar yang punya satu foto kecil di meja samping tempat tidur dengan dua wajah yang tertawa pada kamera lima tahun lalu di Pantai Parangtritis.
Ia menutup pintu. Kunci.
Dan untuk pertama kali dalam dua tahun, ia tidak menangis karena Senja telah pergi.
Ia menangis karena untuk dua detik tadi di rumah kaca, ia berpikir Senja telah kembali — dan kembalinya itu adalah sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kepergiannya.
Di rumah kaca, perempuan asing itu — Maitri — masih berdiri di tempat yang sama.
Pintu kaca masih terbuka sedikit. Hujan masih turun. Pot anggrek yang tadi ia turunkan masih ada di meja kerja, dengan label kecil di leher pot yang baru sekarang Maitri perhatikan.
Tulisan tangan. Spidol hitam. Tinta yang sudah pudar tapi masih bisa dibaca.
"Phalaenopsis amabilis — S.H. — 12 Februari."
Maitri mengernyit. Mengangkat pot itu. Memutar pelan untuk membaca lebih jelas.
S.H.
Inisial.
Inisial seseorang yang tahu bagaimana cara menulis nama anggrek dalam bahasa Latin. Inisial seseorang yang tahu kapan tanaman ini berbunga. Inisial seseorang yang — menurut wajah pria yang baru saja keluar — sangat tidak boleh ada orang lain di rumah kacanya.
Maitri meletakkan pot itu kembali ke rak. Pelan.
Lalu ia berdiri di tengah rumah kaca yang penuh dengan tanaman milik orang yang tidak ia kenal, di kota yang baru ia tinggali tujuh hari, di tengah hujan yang tidak terlihat akan berhenti — dan untuk pertama kalinya sejak ia pindah dari Bandung minggu lalu, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Aku ini sebenarnya sedang masuk ke rumah kaca siapa?
Di sudut rak, di balik pot anggrek yang Arya pilih sendiri lima tahun lalu, tersembunyi sebuah jurnal kulit cokelat yang menanti — yang belum Maitri lihat — yang tertutup tipisnya debu dua tahun.
Jurnal itu, kalau Maitri membukanya, akan menjelaskan banyak hal.
Tapi malam ini, Maitri hanya menutup pintu rumah kaca dengan pelan, mengunci dari luar, dan berjalan pulang ke kosnya di seberang gang dengan satu pertanyaan yang akan ia bawa ke tidur:
Kenapa pria itu menatapku seperti aku adalah hantu?
Dan jauh dari sana, di kamar dengan foto Pantai Parangtritis di meja samping tempat tidur, Arya menatap langit-langit dan menanyakan hal yang sama.
Hanya saja, untuk Arya, jawabannya sudah ada.
Ia hanya belum siap mengucapkannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar