Maitri tidak tidur sampai jam tiga pagi.
Bukan karena hujan — hujan sudah berhenti sekitar jam sebelas malam. Bukan karena tetangga kos yang berisik — gang ini sebenarnya tenang, salah satu alasan kenapa ia memilihnya. Bukan karena pekerjaan — laptopnya sudah ia tutup sejak jam delapan.
Ia tidak tidur karena setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat lagi wajah pria itu — tatapan yang seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada lagi.
Dan Maitri sudah cukup hidup di dunia ini untuk tahu bahwa tatapan seperti itu tidak datang dari kemarahan biasa.
Itu datang dari kehilangan.
Ia bangun jam setengah enam. Mandi. Pakai kaus polos lagi — karena cuaca masih dingin dan Yogyakarta di bulan Maret memang punya udara yang bikin kulit basah meski tidak hujan. Mengikat rambut. Sarapan satu lembar roti tawar di depan kos sambil menatap gang yang masih sepi.
Lalu ia berjalan ke rumah Bu Indri.
Bukan ke rumah kaca. Ke rumah utama.
Karena Maitri mungkin perempuan ceria yang banyak bicara dan kadang ceroboh — itu deskripsi yang Dena, sahabatnya, sering pakai untuknya — tapi ia bukan orang yang bisa membiarkan urusan setengah jadi. Kalau ada masalah, ia datang. Kalau ada salah paham, ia jelaskan. Kalau ada pria asing yang menyuruhnya keluar dari rumah kaca dengan suara yang nyaris pecah — ya, ia harus bertanya sebenarnya apa yang terjadi.
Ia mengetuk pintu pagar jam tujuh kurang lima.
Bu Indri yang membuka — masih dengan daster pagi dan rambut yang baru saja diikat, ekspresi terkejut lalu cepat berubah jadi senyum yang Maitri kenali sebagai senyum seseorang yang sudah menduga ia akan datang.
"Maitri. Pagi-pagi sekali."
"Bu, maaf ya, saya nggak bisa nunggu sampai siang."
"Masuk dulu. Mas Arya belum bangun."
"Justru itu, Bu. Saya mau ngomong sama Ibu dulu sebelum saya ketemu Mas Arya."
Bu Indri menatapnya. Lalu mengangguk. Membuka pintu lebih lebar.
Mereka duduk di teras belakang — tempat yang sama di mana Arya bertengkar dengan Bu Indri tadi malam. Maitri tidak tahu itu. Ia hanya tahu kursi rotan ini nyaman, dan secangkir teh yang Bu Indri sodorkan ini panas dan manis dan sangat dibutuhkan.
"Bu," Maitri memulai, "saya tahu kemarin saya tidak resmi masuk ke rumah kaca. Saya sudah ada kunci dari Ibu, dan saya pikir Ibu sudah kasih tahu keluarga yang lain. Ternyata belum."
"Ibu sudah mau kasih tahu Arya. Tapi—"
"Saya nggak nyalahin Ibu." Maitri tersenyum kecil, tulus. "Saya cuma mau pastiin satu hal. Mas Arya itu... siapa, ya, kalau saya boleh tanya? Maksud saya, hubungannya sama Ibu. Sama rumah kacanya."
Bu Indri menghela napas. Pelan. Seperti orang yang sudah mengetik kata-kata di kepalanya selama dua tahun tapi belum pernah benar-benar mengucapkannya.
"Arya itu anak Ibu yang sulung. Arsitek lanskap. Punya kantor sendiri di Jalan Magelang." Bu Indri berhenti sebentar, menatap cangkir di tangannya. "Dan rumah kaca itu... rumah kaca itu punya tunangannya. Senja namanya. Senja Hayati."
Maitri merasakan sesuatu yang aneh — semacam dingin tipis yang merambat dari telinga ke leher.
S.H.
Inisial di label pot anggrek.
"Tunangannya..." Maitri mengulang pelan.
"Senja sudah meninggal. Dua tahun lalu. Kecelakaan."
Maitri menelan ludahnya.
Ia membuka mulut — mau bilang sesuatu, mungkin "Saya turut berduka," mungkin "Maaf saya tidak tahu," mungkin sekadar suara yang menandakan ia mendengarkan. Tapi yang keluar adalah keheningan, karena kepalanya tiba-tiba penuh dengan suara klakson, suara hujan, suara kaca yang pecah, suara dari mimpi-mimpi yang ia tidak pernah mengerti — yang sudah ia bawa selama dua tahun terakhir dan selalu ia tutup dengan pikiran itu cuma sisa trauma kecelakaanku sendiri.
"Maitri?"
Maitri mendongak.
"Ya, Bu. Maaf. Saya..." Ia menghela napas. "Saya turut berduka, Bu. Saya nggak tahu."
"Tidak apa-apa." Bu Indri tersenyum kecil. "Ibu tidak bercerita ke semua orang juga."
"Pantas Mas Arya..."
"Iya. Pantas."
Hening sebentar. Suara burung di pohon mangga di belakang.
"Bu," Maitri akhirnya berkata, "kalau begitu, mungkin lebih baik saya cari rumah kaca lain. Saya bisa minta uang sewanya dikembalikan, atau—"
"Tidak."
Maitri mengangkat alis.
"Maksud saya," Bu Indri memperbaiki, lebih pelan, "Ibu yang sewakan rumah kaca itu ke kamu. Bukan Arya. Dan Ibu sewakan karena Ibu mau ada tangan yang menjaga tanaman-tanaman itu. Bukan tangan siapa pun. Tangan yang Ibu pilih."
"Tapi Mas Arya—"
"Mas Arya akan bicara sendiri sama kamu. Pagi ini, mungkin. Atau siang. Ibu akan suruh dia."
"Bu, saya bukannya mau cari masalah, tapi..."
"Maitri." Bu Indri meletakkan cangkirnya. Menatap Maitri lurus. "Anak Ibu sudah dua tahun nggak buka rumah kaca itu. Dan dia juga tidak boleh selamanya begitu. Mungkin kamu masuk ke sana adalah hal yang seharusnya. Mungkin tidak. Tapi Ibu mau coba dulu. Boleh?"
Maitri menatap ibu pria asing yang kemarin menyuruhnya keluar. Menatap mata yang lelah tapi tegas. Menatap perempuan yang sudah dua tahun menjaga rumah kaca calon mantunya yang tidak pernah jadi mantu.
"Boleh, Bu," kata Maitri akhirnya.
Mas Arya datang ke rumah kaca jam sepuluh.
Maitri sedang memindahkan pot-pot yang berdebu ke meja kerja, mau membersihkan satu per satu. Pintu kaca terbuka. Sinar matahari setelah hujan masuk dari jendela atap. Bau tanah lembab.
Maitri tidak menoleh — sudah dengar langkah dari kerikil di luar.
"Pagi, Mas."
Diam.
"Saya udah ngobrol sama Ibu Mas. Saya tetap tinggal."
Masih diam.
Maitri akhirnya menoleh.
Arya berdiri di pintu kaca. Pakaian rapi. Kemeja abu-abu, celana hitam. Rambut yang sudah disisir, walaupun ujung-ujungnya masih agak basah. Tangan kanannya — yang kemarin tidak Maitri perhatikan — terselip di saku celana, dan Maitri sekarang melihat ada sesuatu di sana, di antara pergelangan dan siku, yang tertutup setengah oleh lengan kemeja.
Bekas luka. Memanjang.
Maitri tidak boleh menatap. Tapi otaknya sudah mencatat.
"Saya tahu," Arya berkata akhirnya. Suaranya lebih pelan dari kemarin. Tidak ada kepecahan. "Ibu cerita. Tadi pagi."
"Oh. Bagus."
"Bagus?"
"Bagus karena saya nggak harus jelasin lagi dari awal."
Arya menatapnya. Matanya tidak meleleh seperti kemarin — sekarang lebih dingin. Lebih terkendali. Tapi Maitri tahu, dari sudut tarikan rahangnya, bahwa pengendalian itu adalah sesuatu yang harus dijaga dari menit ke menit.
"Saya mau minta maaf," kata Arya. "Soal kemarin."
"Saya udah maafin sebelum Mas minta."
"Anda tidak harus."
"Saya tahu." Maitri tersenyum kecil. "Tapi saya milih maafin. Lebih hemat tenaga."
Arya tidak tersenyum kembali. Tapi sudut bibirnya berkedut sedikit — sangat sedikit — sebelum kembali datar.
"Ibu saya sewakan tempat ini ke Anda," Arya melanjutkan. "Saya tidak akan menarik kontrak itu. Tapi saya minta beberapa hal."
"Boleh."
"Pertama. Jangan pindahkan tanaman dari posisinya. Apa pun alasannya."
"Oke."
"Kedua. Pot dengan label inisial — kalau Anda temukan — tolong jangan sentuh. Itu tanaman milik..." Arya berhenti sebentar. "...milik seseorang."
"Senja Hayati."
Arya membeku.
Maitri buru-buru menjelaskan. "Bu Indri cerita. Bukan saya nyari tahu."
Arya mengangguk pelan. Tapi rahangnya — Maitri perhatikan — sedikit lebih tegang dari sebelumnya.
"Ketiga," Arya melanjutkan, dengan suara yang sekarang lebih pelan, "kalau Anda menemukan barang-barang di sini yang bukan tanaman — jurnal, sketsa, foto — apa pun — tolong langsung kasih ke saya. Jangan dibuka. Jangan dibaca."
Maitri menatapnya. Dan untuk alasan yang ia sendiri tidak mengerti, ia ingin mengatakan iya tanpa keraguan. Ingin mengatakan, Mas, saya akan menjaga semua yang Mas sayangi. Tapi ia hanya mengangguk pelan.
"Saya janji."
Arya menatapnya. Lama. Seperti seseorang yang ingin percaya tapi tidak bisa.
"Terima kasih."
Ia berbalik. Mau pergi.
"Mas?"
Arya berhenti. Tapi tidak menoleh.
"Boleh saya tahu satu hal?"
Diam.
"Kenapa Mas kemarin... menatap saya seperti itu?"
Arya tidak menjawab langsung. Tangannya — tangan yang ada bekas luka — naik ke pintu kaca. Memegangnya pelan. Dan untuk sepersekian detik, Maitri pikir Arya akan menjawab.
Tapi yang Arya katakan adalah:
"Anda tidak akan suka jawabannya."
Lalu ia berjalan pergi.
Pintu kaca tertutup pelan di belakangnya.
Maitri berdiri sendiri di tengah rumah kaca, di antara pot-pot yang sebagian besar bertuliskan inisial yang sama, dan ia tahu dengan kepastian yang aneh — kepastian yang seperti datang dari tempat di kepalanya yang ia tidak biasa kunjungi — bahwa Mas Arya benar.
Ia memang tidak akan suka jawabannya.
Sore itu, sambil membersihkan pot yang ke-empat puluh, Maitri menjatuhkan satu pot kecil.
Pot itu jatuh di antara rak dan dinding kaca — sudut sempit yang biasanya tidak terjangkau oleh sapu. Maitri menyumpah pelan, jongkok, dan menjangkau dengan tangan.
Jarinya menyentuh pecahan keramik.
Lalu menyentuh sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih keras. Lebih datar. Bukan keramik. Bukan tanah.
Maitri menarik perlahan.
Sebuah jurnal kulit cokelat. Tebal. Dengan ikatan benang yang sudah mulai longgar. Sampulnya berdebu — debu yang sudah lama, mungkin satu atau dua tahun. Di pojok bawah sampul, dengan tinta yang sudah pudar tapi masih bisa dibaca, ada satu nama yang Maitri kenali.
Senja Hayati.
Maitri duduk di lantai rumah kaca. Memegang jurnal itu di kedua tangannya. Hatinya, untuk alasan yang ia tidak pahami, berdetak dua kali lipat lebih cepat dari yang seharusnya.
Mas Arya bilang — jelas — jangan buka jurnal yang Maitri temukan. Langsung kasih ke dia.
Maitri tahu itu hal yang benar.
Tapi sebelum ia sempat memikirkannya lebih lanjut — sebelum tangannya sempat membuat keputusan untuk berdiri dan berjalan ke rumah utama — jurnal itu, yang ikatannya sudah longgar, terbuka sedikit di tengah.
Dan di halaman yang terbuka itu, dengan tinta hitam yang sudah pudar, tertulis tanggal:
14 Maret.
Maitri merasakan dingin merambat ke ujung jari.
14 Maret.
Tanggal yang Maitri kenal. Tanggal yang ia bawa selama dua tahun terakhir di dompet bagian dalam, di kertas kontrol mata, di catatan kalender klinik di Bandung. Tanggal yang ia pikir hanya miliknya.
Tanggal hari ia kehilangan penglihatan.
Tanggal hari ia masuk laboratorium dengan dua mata yang berfungsi, dan keluar dengan satu mata yang rusak permanen.
Tanggal hari donor itu dijanjikan padanya.
Maitri menutup jurnal itu.
Buru-buru. Seperti membakar jari pada api.
Tapi di kepalanya, satu pertanyaan — pertanyaan yang sudah dua tahun ia tunda — akhirnya berani bertanya untuk pertama kali.
Mata siapa, sebenarnya, yang sekarang aku pakai untuk melihat dunia?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar