Maitri tidak menelepon untuk janji.

Ia hanya datang.

Jam dua belas siang, klinik dr. Galih Ardiyanto di Jalan Kaliurang penuh setengah. Tujuh pasien duduk di kursi tunggu — sebagian besar perempuan paruh baya yang menatap layar HP, satu anak laki-laki dengan ibunya, satu kakek yang membaca koran terlipat dua. Resepsionis muda berkacamata mengangkat wajah ketika Maitri masuk.

"Selamat siang. Sudah ada janji?"

"Belum. Saya... pasien lama Pak Dokter. Maitri Aulia. Cuma mau konsultasi sebentar."

Resepsionis itu mengetik nama Maitri. Mengerutkan dahi.

"Kontrol berikutnya Mbak Maitri masih bulan depan. Ada keluhan apa?"

"Saya... ada keluhan. Tapi bukan urusan medis sebenarnya."

Resepsionis itu menatap Maitri dengan tatapan yang Maitri kenal — tatapan orang yang sudah sering menghadapi pasien yang membuat alasan untuk masuk lebih cepat dari antrian.

"Mbak Maitri, saya tidak bisa—"

"Tolong cek dengan beliau sendiri. Bilang nama saya. Beliau pasti tahu."

Resepsionis ragu sebentar. Lalu mengangkat telepon ruangan, berbicara pelan, mengangguk, menutup.

"Pak Dokter bilang silakan tunggu. Setelah pasien sekarang."

Maitri mengangguk. Berjalan ke kursi tunggu. Mengambil kursi nomor tujuh — kursi paling pojok, dekat akuarium kecil dengan dua ikan koi yang kelihatannya bosan dengan hidupnya sendiri.

Maitri duduk dan menatap ikan-ikan itu.

Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan ketika ia masuk nanti. Ia tidak menyiapkan kalimat. Tidak menyusun pertanyaan. Ia hanya tahu, sejak ia berdiri di teras Bu Indri tadi pagi dengan secangkir teh dingin di tangannya, bahwa ia tidak bisa pulang ke kosnya tanpa datang ke sini dulu.

Karena tubuhnya sudah tahu sesuatu yang otaknya belum siap mengakui.

Empat puluh menit kemudian, pintu ruang dokter terbuka. Seorang ibu paruh baya keluar, masih memakai tetes mata. Resepsionis memanggil:

"Mbak Maitri. Silakan."

Maitri berdiri. Tangannya — tanpa ia minta — bergetar pelan.

Ia mendorong pintu.


Galih duduk di kursinya dengan kemeja yang sudah Maitri kenal — yang biasa ia pakai saat hari Jumat, kemeja putih dengan kerah yang sedikit usang di pinggir. Map pasien terbuka di meja. Tapi Maitri perhatikan — map itu sebenarnya kosong. Hanya berkas pasien tadi yang masih ada di pojok.

"Maitri. Duduk."

"Mas Galih."

"Apa keluhan? Mata kanan? Mata kiri? Penglihatan kabur?"

"Mas Galih."

Galih berhenti.

Mereka menatap satu sama lain selama tiga detik.

Lalu Galih menutup map di mejanya. Pelan. Dengan gerakan seseorang yang baru saja sadar pertemuan ini bukan pertemuan dokter-pasien.

"Mbak May."

"Mas. Saya butuh tanya satu hal. Setelah itu saya pulang. Saya nggak akan bikin Mas susah."

Galih menyandar ke kursinya.

"Tanya saja."

"Donor kornea saya. Dari Yogyakarta. Mas tahu siapa pendonornya."

Galih tidak menjawab langsung.

Tangannya — Maitri perhatikan — bergerak pelan, menyusun rapi map yang sudah rapi, meluruskan pulpen yang sudah lurus. Kebiasaan yang Maitri kenal pada beberapa orang: gerakan untuk mengulur waktu.

"Maitri."

"Iya."

"Lo paham, kan, kalau aku—"

"Saya tahu Mas terikat etika. Saya tahu Mas nggak bisa konfirmasi nama pendonor. Saya nggak minta nama, Mas. Saya minta satu hal lain."

"Apa?"

Maitri menarik napas.

"Mas Arya Widagda. Tunangannya yang sudah meninggal — namanya Senja Hayati, kan?"

Galih membeku.

Hanya sebentar — tapi cukup. Bagi Maitri, yang sejak kemarin sudah belajar membaca pria yang sedang menyembunyikan sesuatu, jeda itu sudah cukup.

"Mas tahu Mas Arya," lanjut Maitri. "Mas sahabat dia dari SMA. Mas dokter mata. Senja Hayati meninggal dua tahun lalu, tanggal yang sama dengan hari saya kehilangan penglihatan. Dan donor kornea saya datang dari Yogyakarta — kiriman langsung, dua hari setelah kecelakaan saya."

"Maitri—"

"Saya nggak butuh konfirmasi, Mas. Saya cuma butuh Mas... menatap saya saat saya bilang itu, dan Mas nggak bilang apa-apa. Itu sudah cukup buat saya tahu."

Galih membuka mulut.

Lalu menutup.

Lalu — pelan — meletakkan kedua tangannya di atas meja, telapak terbuka, gestur kapitulasi tanpa kata.

"Maitri."

"Iya, Mas."

"Aku nggak bisa bilang apa-apa."

"Saya tahu."

"Aku juga nggak bilang apa-apa sekarang."

"Saya tahu, Mas."

Mereka menatap satu sama lain.

Dan untuk beberapa detik panjang, ruangan itu — ruang praktik dokter mata yang berbau alkohol dan kertas resep, dengan satu poster anatomi mata di tembok, dengan satu jam dinding yang tiap detiknya terdengar terlalu keras — terasa seperti tempat yang lain. Tempat yang lebih kecil. Tempat yang lebih senyap.

Maitri akhirnya tersenyum kecil. Senyum yang bukan senyum. Senyum yang lebih seperti permohonan agar urat lehernya bisa rileks sebentar.

"Makasih, Mas."

"Untuk apa?"

"Untuk nggak bohong ke saya."

Galih menundukkan kepala.

"Aku bohong selama dua tahun, May."

"Mas nggak bohong. Mas cuma nggak ngomong."

"Itu bohong juga."

"Itu beda."

"Beda yang nggak bikin nyaman."

Maitri menatap pria di hadapannya.

Pria yang sudah dua tahun jadi dokternya — yang setiap tiga bulan mengontrol matanya, yang ingat ia tidak suka tetes mata cap merah, yang sekali pernah memberinya susu kotak waktu Maitri datang kontrol dengan perut kosong dan hampir pingsan. Pria yang Maitri anggap sebagai dokter yang baik, dan sekarang baru ia sadari — mungkin juga sesuatu yang lain.

"Mas Galih."

"Iya."

"Mas tahu siapa saya... selama dua tahun ini?"

Galih mengangguk pelan.

"Kenapa Mas... selalu ada? Setiap kontrol?"

Galih tidak menjawab.

Maitri menatapnya. Lebih lama. Dan sesuatu di dadanya — kecil, tapi jelas — mulai mengisi sudut yang sebelumnya kosong.

"Mas Galih."

"Maitri, kita nggak usah—"

"Iya, kita nggak usah ke sana sekarang. Saya tahu."

Galih mengangguk pelan, dengan rasa terima kasih yang tidak ia ucapkan.


Saat Maitri keluar dari ruang dokter, hujan sudah turun lagi di luar.

Maret di Yogyakarta — bulan yang Maitri belum tahu — adalah bulan dengan hujan yang datang dan pergi seperti orang yang tidak bisa memutuskan apakah ia mau tinggal. Maitri berdiri di depan klinik. Tidak punya payung. Tidak punya jas hujan. Tidak ada yang bisa ia hubungi untuk menjemput.

Ia juga tidak punya tenaga untuk basah lagi.

Ia duduk di kursi luar klinik — kursi kayu di teras dengan atap yang sudah cukup — dan menatap hujan.

Dua tahun.

Dua tahun, mata yang ia pakai untuk membaca, untuk menatap Dena saat tertawa, untuk melihat bunga-bunga yang ia rangkai di tokonya yang dulu di Bandung — adalah mata dari perempuan yang ia tidak pernah temui, yang menulis dengan tangan miring ke kanan, yang menggambar sketsa kecil di pinggir halaman, yang berdebat dengan Mas Arya tentang lavender.

Senja Hayati.

Maitri menatap punggung tangannya — tangan yang masih basah dari hujan singkat tadi — dan untuk pertama kali dalam dua tahun, ia merasa tubuhnya bukan sepenuhnya tubuhnya. Sebagian — bagian yang paling penting, mata yang dengannya ia melihat dunia — adalah sebagian milik orang lain.

Orang lain yang sudah tidak ada.

Orang lain yang punya tunangan yang sekarang setiap kali menatap Maitri, melihatnya.

Maitri menutup mata.

Air mata mengalir. Tanpa suara.

Lalu ia merasakan sesuatu — kain yang lembap tapi tidak basah — disampirkan ke pundaknya dari belakang. Maitri membuka mata.

Galih berdiri di sebelahnya. Sudah keluar dari kliniknya, membawa jas dokter putihnya yang ia sampirkan ke pundak Maitri. Pria itu menatap hujan, bukan menatap Maitri — gestur seseorang yang ingin memberi tahu, saya di sini, tapi saya tidak akan memaksa.

"Pulang naik apa?" tanya Galih.

"Saya jalan tadi."

"Saya antar."

"Mas masih ada pasien."

"Saya selesai sebentar lagi. Tunggu lima belas menit, ya?"

Maitri menatapnya.

Lalu mengangguk pelan.

"Mas Galih."

"Iya."

"Kalau saya bilang ke Mas Arya — bahwa saya udah tahu — apa yang akan terjadi?"

Galih menatap hujan.

"Saya nggak tahu, May."

"Mas takut?"

"Iya."

"Takut sama apa?"

Galih diam selama beberapa detik. Lalu — dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar di antara suara hujan — ia menjawab:

"Takut dia akan menyayangi kamu karena Senja. Bukan karena kamu."

Maitri menatapnya.

Dan untuk pertama kali sejak ia datang ke klinik ini, ia merasakan sesuatu yang lebih dingin dari semua hal yang sudah ia rasakan hari ini.

Karena Galih, dengan satu kalimat itu, baru saja mengucapkan ketakutan yang Maitri sendiri belum berani namai.


Galih mengantarnya pulang naik mobil putih kecil — mobil yang Maitri sebelumnya tidak tahu Galih punya, karena dua tahun ini ia hanya mengenal Galih di klinik. Mobil itu rapi. Bau kayu samar. Satu boneka beruang kecil terselip di dekat kaca depan — hadiah dari pasien anak, mungkin.

Mereka tidak banyak bicara di mobil.

Hanya saat sampai di depan gang kos Maitri, Galih bicara satu kalimat lagi:

"Maitri."

"Iya, Mas."

"Saya nggak akan ngomong ke Arya kalau kamu udah tahu. Itu hak kamu, bukan saya. Kapan kamu mau bilang ke dia — itu kamu yang putuskan."

"Makasih, Mas."

"Tapi jangan tunda terlalu lama. Karena Arya... orangnya berat. Lebih berat dari yang kelihatan. Dan rahasia yang ditahan terlalu lama biasanya keluar dengan cara yang nggak bagus."

Maitri mengangguk pelan.

Keluar dari mobil.

Berjalan ke pintu kosnya — jas dokter putih Galih masih di pundaknya.

Lalu — tepat sebelum membuka pintu — ia menoleh ke belakang. Mobil Galih masih di sana. Galih masih menatapnya dari kaca depan. Mengangkat tangan sebentar — gestur kecil yang artinya masuk saja, saya tunggu sampai pintu tertutup.

Maitri masuk. Menutup pintu.

Mendengar mobil Galih akhirnya berjalan pergi.

Lalu ia duduk di lantai kosnya — tidak sampai ke kasur — dan menatap jas putih di pangkuannya yang masih ada bau samar antiseptik dan parfum laki-laki yang ia kenal.

Ia mengangkat HP-nya.

Mengetik nama: Senja Hayati Yogyakarta arsitektur.

Halaman pertama Google: berita kecelakaan dua tahun lalu. Foto Senja — kecil, di profile picture LinkedIn yang masih aktif. Mata yang sama dengan miliknya.

Maitri menatap foto itu selama beberapa menit penuh.

Lalu mengetuk sudut matanya — kebiasaan dua tahun yang sekarang baru ia mengerti maknanya — dan berbisik pada layar HP-nya:

"Senja Hayati. Aku akan jaga mata ini. Tapi jangan minta aku menjaga hatinya juga. Itu bukan urusan aku."

Tapi bahkan saat ia mengucapkannya, Maitri tahu — dengan kepastian yang aneh, kepastian yang seperti datang dari tempat di kepalanya yang ia tidak biasa kunjungi — bahwa ia sudah terlambat untuk pernyataan itu.

Karena ia sudah memikirkan mas Arya saat ia mengucapkannya.

Dan itu, bagi Maitri, adalah bukti yang paling jelas.