Maitri membawa jurnal itu pulang.
Bukan karena ia memutuskan untuk membaca. Justru sebaliknya — keputusannya, ketika ia akhirnya berhasil membuat satu, adalah aku akan kembalikan ke Mas Arya besok pagi tanpa membukanya.
Tapi malam itu, di kosnya yang sempit dengan satu lampu meja dan satu kasur tipis, jurnal itu duduk di atas meja, dan Maitri tidak bisa berhenti menatapnya.
Ia mencoba makan malam — nasi telur dadar buatan sendiri. Tidak habis. Ia mencoba video call dengan Dena di Bandung — Dena yang langsung bertanya, "Kenapa muka kamu kayak orang melihat lampor lewat?" Maitri tertawa, bilang "Capek pindahan," dan menutup panggilan lebih cepat dari biasa.
Ia mencoba tidur.
Tidak bisa.
Jam sebelas malam, ia duduk di kasurnya, memegang jurnal itu di pangkuannya, dan berdebat sendiri dalam hati.
Aku sudah janji.
Tapi aku cuma akan baca tanggalnya. Cuma untuk pastiin kebetulan.
Janji itu tetap janji, May.
Tapi kalau ini bukan kebetulan—
Tangannya sudah membuka.
Bukan di halaman tengah. Tapi di halaman pertama. Karena Maitri — meski sering ceroboh — paling tidak punya prinsip tertentu dalam membaca: kalau memang akan baca, baca dari awal.
Dan di halaman pertama, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan, ada satu kalimat sederhana:
"Hari ini aku akan menulis seperti ini hanya untukku. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk Arya."
Maitri menutup jurnal itu.
Berdiri.
Berjalan ke jendela kosnya. Membuka. Menarik napas malam yang sejuk. Menutup. Kembali ke kasur.
Membuka jurnal lagi.
Dan kali ini, ia membaca.
Bukan dengan rakus. Bukan dengan rasa ingin tahu seperti orang membaca diary saudara kembarnya. Tapi dengan kehati-hatian seseorang yang sadar ia sedang masuk ke ruangan yang tidak diizinkan, dan kalau ia akan tetap masuk — paling tidak ia masuk dengan rasa hormat.
Senja Hayati menulis seperti orang yang berbicara dengan dirinya sendiri.
Bukan dengan kata-kata indah. Bukan dengan kalimat puitis. Tapi dengan catatan-catatan kecil, sketsa daun, list-list belanja tanaman, dan sesekali — di antara halaman yang sebagian besar berisi catatan teknis tentang pemupukan — satu paragraf pribadi yang seperti curahan tanpa rencana.
"Aglaonema yang aku beli kemarin sakit. Daunnya kuning. Mungkin terlalu banyak air. Arya bilang tanaman ini seperti aku — kalau dikasih perhatian terlalu banyak malah stres."
"Hari ini Arya tertawa karena aku ngotot kalau lavender bisa tumbuh di rumah kaca Yogya. Tidak bisa. Aku tahu sebenarnya. Tapi aku suka berdebat sama dia. Kalau berdebat sama dia, dia jadi suka diam dengan cara yang berbeda dari diam yang biasa."
"Aku selesai presentasi tesis hari ini. Arya datang. Aku tahu dia tidak suka kerumunan. Tapi dia datang."
Maitri membaca pelan-pelan.
Tidak ada apa-apa di awal jurnal yang menjelaskan apa pun tentang dirinya — yang ada hanya sosok perempuan yang Maitri tidak kenal: seseorang yang menyukai tanaman, yang suka berdebat dengan pria yang suka diam, yang punya tesis tentang botani, yang menggambar dengan tinta hitam di sudut-sudut halaman seperti orang yang tidak bisa berhenti membuat sketsa bahkan ketika ia hanya sedang mencatat hal-hal kecil.
Sosok yang — Maitri akhirnya sadar — adalah sosok yang sangat hidup.
Yang membuatnya lebih sulit menerima bahwa sosok ini sudah meninggal.
Maitri sampai di halaman dengan tanggal yang ia takutkan.
14 Maret.
Tulisan tangan Senja di hari itu lebih pendek dari halaman-halaman sebelumnya. Hanya tiga baris.
"Aku akan ke Magelang besok. Arya akan jemput aku jam tiga sore. Hujan lagi katanya. Tidak apa-apa. Hujan itu temannya tanaman. Aku selalu suka hujan."
Lalu di bawahnya, dengan tinta yang sedikit berbeda — seperti ditulis pada waktu yang berbeda di hari yang sama — ada satu baris lagi:
"Aku sudah tanda tangan surat itu. Akhirnya. Mama menangis. Tapi aku merasa lega."
Maitri menatap kalimat itu.
Surat itu.
Surat apa?
Ia membalik halaman. Berharap penjelasan di halaman berikutnya.
Tapi halaman berikutnya kosong.
Dan halaman setelahnya kosong.
Dan semua halaman setelah 14 Maret — kosong.
Maitri menatap ratusan halaman putih di tangannya. Halaman-halaman yang seharusnya berisi sketsa baru, catatan baru, debat-debat kecil dengan pria yang suka diam.
Halaman-halaman yang tidak pernah sempat ditulis.
Ia menutup jurnal itu pelan.
Lalu — untuk pertama kali sejak ia datang ke Yogyakarta — Maitri menangis dalam diam, di kasur tipis kosnya, di kota yang baru ia tinggali tujuh hari, untuk seorang perempuan yang ia tidak pernah kenal tapi entah kenapa terasa seperti seseorang yang ia rindukan.
Ia menyentuh sudut matanya — kebiasaan yang ia lakukan tanpa sadar sejak transplantasi dua tahun lalu — dan sebuah pertanyaan tiba di kepalanya untuk pertama kali dengan kejelasan yang menyakitkan:
Apa rasanya bagi seseorang yang mata kekasihnya sekarang menatap orang lain?
Pagi berikutnya, Maitri datang ke rumah utama dengan jurnal itu dibungkus kain.
Bu Indri yang membuka pintu. Tampak terkejut — bukan karena Maitri datang lagi, tapi karena waktunya. Jam tujuh kurang. Lebih pagi dari kemarin.
"Mas Arya ada, Bu?"
"Ada. Lagi sarapan. Sebentar, Ibu panggil."
"Boleh saya tunggu di teras?"
"Tentu."
Maitri duduk di kursi rotan yang sama dengan kemarin. Jurnal di pangkuannya. Tangannya tidak bisa berhenti meremas sudut kain pembungkus.
Arya keluar dua menit kemudian. Pakaian rapi seperti biasa — kemeja putih, celana cokelat. Tapi matanya sembap. Maitri perhatikan itu juga, walaupun pura-pura tidak.
"Maitri."
Pertama kali Arya menyebut namanya. Suaranya pelan, datar, tanpa emosi yang bisa Maitri baca.
"Mas Arya. Saya bawakan sesuatu."
Maitri menyerahkan bungkusan kain itu.
Arya menerimanya. Tangannya — Maitri perhatikan — sedikit gemetar saat menyentuh kain. Ia membuka pelan.
Lalu ia membeku.
Selama lima detik penuh, Arya hanya menatap jurnal itu di tangannya. Tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas, mungkin.
"Di mana kamu temukan ini?"
"Di pojok rak. Di antara dinding kaca. Pot kecil yang jatuh — saya ngambil, tangan saya nyentuh ini."
"Kapan?"
"Kemarin sore."
Arya menatapnya. Dan untuk pertama kali sejak mereka bertemu, mata pria itu — bukan dingin, bukan terdorong — adalah lelah. Lelah dengan cara orang yang sudah sangat lama tidak punya energi untuk marah.
"Kamu buka."
Itu bukan pertanyaan.
Maitri mengangguk pelan. "Iya, Mas. Maaf."
"Saya bilang jangan."
"Saya tahu."
Diam. Lama. Burung di pohon mangga. Suara motor di gang. Bunyi piring dari dapur — Bu Indri sengaja menjauhkan diri.
"Kenapa kamu tetap buka?"
Maitri menelan ludah.
Bisa saja ia berbohong sekarang. Bisa saja ia bilang penasaran, atau iseng, atau khilaf — tiga jawaban yang umum, ringan, dan tidak akan membuka percakapan yang lebih dalam.
Tapi Maitri menatap pria yang tangannya gemetar memegang jurnal mantan tunangannya, dan ia tahu — entah dari mana — bahwa pria ini sudah cukup dibohongi oleh hidup.
"Saya nemu tanggal yang sama dengan tanggal kecelakaan saya sendiri," kata Maitri pelan. "Di tahun yang sama. Saya pikir mungkin kebetulan. Saya cuma mau buka itu — satu tanggal — untuk pastiin."
Arya mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kali, Maitri melihat tatapan itu lagi — tatapan yang sama dengan dua hari lalu di rumah kaca, di tengah hujan, ketika Arya membeku menatap matanya.
Tatapan yang seperti melihat hantu.
"Kecelakaan kamu," kata Arya pelan, "tanggal berapa?"
"14 Maret. Dua tahun lalu."
Arya menutup matanya.
Hanya sebentar. Mungkin satu setengah detik. Tapi cukup lama untuk membuat Maitri merasa ia baru saja menjatuhkan sesuatu yang sangat penting di atas lantai keramik dan mendengar bunyi pecahnya.
"Anda kerja apa," tanya Arya akhirnya, "sebelum jadi florist?"
Pertanyaan yang aneh.
Maitri menjawab pelan. "Saya asisten lab kimia. Di kampus Bandung. Saya kena percikan reagen ke wajah waktu ada kecelakaan di laboratorium. Mata kanan saya rusak permanen. Mata kiri saya kena sebagian — masih bisa lihat, tapi terbatas."
Arya tidak menjawab.
"Mata kanan saya," lanjut Maitri, suaranya lebih lirih, "sekarang ini... bukan punya saya. Saya dapat donor. Dua hari setelah kecelakaan."
Jurnal di tangan Arya bergetar lebih jelas sekarang.
"Mas Arya?"
Diam.
"Mas?"
Arya membuka mata. Menatap Maitri.
Dan untuk satu detik panjang, Maitri pikir Arya akan mengatakan sesuatu — mengatakan apa pun yang akan menjelaskan kenapa dunia tiba-tiba terasa lebih dingin, kenapa Arya menatapnya seperti orang yang baru saja menerima berita kematian, kenapa pertanyaan tentang donor mata membuat tangan pria itu gemetar di depan jurnal kekasihnya yang sudah meninggal pada tanggal yang sama dengan kecelakaan Maitri sendiri.
Tapi Arya hanya berdiri.
Menutup jurnal itu. Memegangnya di dada. Dan berkata dengan suara yang sangat pelan:
"Terima kasih sudah kembalikan ini, Maitri. Mungkin Anda lebih baik tidak ke rumah kaca lagi hari ini. Kalau besok pun lebih baik."
"Mas, saya—"
"Tolong."
Suara itu — tidak marah, tidak terdorong, hanya permohonan yang Maitri tidak bisa tolak.
Maitri mengangguk pelan.
Arya berbalik. Masuk ke rumah. Pintu tertutup.
Dan Maitri duduk sendiri di teras, dengan secangkir teh yang sudah Bu Indri taruh tadi tapi belum sempat ia sentuh, dengan jurnal yang sudah dikembalikan, dengan tubuh yang masih ada di kursi tapi pikiran yang sudah pergi ke tempat lain.
Ke tanggal 14 Maret.
Ke ruang operasi di rumah sakit Bandung dua tahun lalu.
Ke dokter muda yang berkata, "Kabar baik, May. Ada donor yang cocok. Datang dari Yogyakarta. Dikirim langsung tadi malam."
Ke nama dokter itu — yang baru sekarang, baru detik ini, Maitri sadari telah ia simpan di kepalanya selama dua tahun terakhir.
dr. Galih Ardiyanto.
Maitri membuka HP-nya. Membuka aplikasi pesan. Mengetik nama itu.
Klinik dr. Galih Ardiyanto, Yogyakarta.
Alamat muncul. Tiga kilometer dari sini.
Maitri menatap layarnya cukup lama, sebelum akhirnya menutup HP dan menelan teh yang sudah dingin dalam satu tegukan.
Ia tahu satu hal sekarang dengan kepastian yang aneh — kepastian yang seperti datang dari tempat di kepalanya yang ia tidak biasa kunjungi:
Dunia ini terlalu kecil untuk kebetulan seperti ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar