Arya mendorong pintu kafe terlalu keras.

Bel kecil di atas pintu berbunyi dua kali. Beberapa orang di meja dekat jendela mendongak. Pelayan yang Arya kenal — Mbak Wulan, yang sudah hapal pesanannya — mengangkat alis pelan, lalu tersenyum dengan tatapan yang berarti masih sama atau ada perubahan?

Arya tidak menjawab senyum itu. Hanya berjalan ke meja paling pojok — meja yang sudah dua tahun ia dan Galih anggap meja mereka, meja yang punya kursi rotan agak miring di sebelah kiri dan sudut tembok yang menempel pada figura berisi foto hitam putih Yogyakarta tahun 1970-an.

Galih sudah duduk di sana. Lengan baju digulung. Kemeja biru muda. Tangan satu sudah memegang cangkir, satunya lagi mengetuk-ngetuk meja seperti orang menunggu kabar dari ruang IGD.

"Loh, lo udah sampai duluan?" Arya berkata, mencoba menetralkan tatapannya.

"Lo yang telat lima belas menit, Arya. Mana ada lo telat. Sini duduk."

Arya duduk.

Mbak Wulan datang. "Yang biasa, Mas?"

"Iya. Tambah satu air putih."

Mbak Wulan pergi. Galih menatap sahabatnya — pendekatan dokter yang sudah sepuluh tahun terlatih untuk membaca pasien sebelum si pasien sendiri sadar ia sedang dibaca.

"Lo kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Arya."

"Galih."

"Lo selalu duluan datang. Lo selalu pesan di awal. Lo telat lima belas menit dan lo lupa pesan air putih sebelum saya tanya. Sekarang lagi — apa yang terjadi?"

Arya menatap meja. Lalu menatap foto hitam putih di tembok. Lalu menatap tangannya sendiri — tangan kanan yang ada bekas luka panjang. Mengusap bekas luka itu dengan ibu jarinya. Kebiasaan yang Galih tahu artinya: Arya sedang mengulur waktu.

"Ada perempuan," Arya akhirnya berkata.

Galih meletakkan cangkirnya.

"Perempuan," ulang Galih pelan. "Oke. Perempuan bagaimana?"

"Yang nyewa rumah kaca Senja."

"Tunggu—rumah kaca Senja disewakan?"

"Ibu yang sewakan. Tanpa nanya saya."

"Astaga, Arya."

"Bukan itu masalahnya."

"Bukan?"

Arya menarik napas. Panjang. Seperti orang yang akan menyelam ke kolam yang ia tahu terlalu dingin.

"Galih."

"Iya."

"Mata perempuan itu... sama dengan mata Senja."

Galih, yang baru saja mau mengangkat cangkirnya kembali, berhenti dengan tangan setengah di udara.

Hanya sebentar — satu detik, mungkin satu setengah. Lalu ia menyelesaikan gerakannya, mengangkat cangkir, menyeruput pelan. Tapi Arya — yang sudah sepuluh tahun jadi sahabat pria ini, yang tahu tiap kebiasaan tangan dan tarikan napas Galih — melihat jeda itu.

"Sama?" Galih bertanya, dengan suara yang ia jaga datar.

"Persis."

"Maksud lo, bentuk mata yang mirip, atau—"

"Galih, lo tahu maksud aku."

Galih meletakkan cangkirnya. Menatap Arya. Lama.

"Lo lagi capek, Arya. Mata cokelat itu banyak. Lo lagi—"

"Ada titik kecil di iris kanan. Bercak. Yang Senja punya."

Galih menelan ludahnya.

Arya melihat itu.

"Lo nggak heran, Galih?"

"Bukan nggak heran. Aku—"

"Lo nggak nanya namanya?"

Galih membuka mulut. Lalu menutup. Lalu membuka lagi.

"Siapa namanya?"

"Maitri. Maitri Aulia."

Galih menatap meja.

Cangkirnya. Permukaan kayu meja yang sedikit retak di pinggir. Tangannya sendiri yang masih di sana — terlalu diam dari biasanya, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak bergerak terlalu cepat.

"Galih?"

"Aku dengar."

"Lo kenal?"

Diam.

"Galih, lo—"

"Arya, sebentar."

Suara Galih lebih pelan dari biasanya. Bukan dingin. Bukan jaga jarak. Tapi seperti orang yang baru saja sadar ia sedang berjalan di permukaan es tipis dan setiap langkah berikutnya harus dihitung.

Mbak Wulan datang membawa pesanan Arya. Meletakkan kopi dan gelas air putih. Pergi.

Galih menunggu sampai pelayan itu di luar jangkauan suara.

"Arya."

"Iya."

"Aku terikat sumpah. Lo ngerti?"

Arya menatap sahabatnya. Dan untuk pertama kali sejak ia masuk kafe ini, ia merasa dunia menjadi sangat sempit — seperti seluruh kafe menyusut ke meja kecil di pojok ini, dan seluruh oksigen di ruangan tertinggal di luar.

"Maksud lo apa, Galih?"

"Aku dokternya seseorang. Banyak orang. Aku nggak bisa konfirmasi atau bantah siapa pun yang kebetulan—"

"Galih."

"—jadi pasien aku."

Arya menatap Galih lurus.

"Lo nggak konfirmasi. Lo nggak bantah. Lo cuma bilang itu."

"Aku cuma bilang itu."

"Tapi lo nggak bisa nyangkal kalau Maitri pasien lo."

"Aku nggak bisa konfirmasi maupun nyangkal apa pun, Arya."

Arya menutup matanya.

Hanya sebentar. Tapi cukup lama untuk membuat Galih merasakan, di tulang dadanya sendiri, beratnya kalimat yang baru saja ia ucapkan. Galih sudah sepuluh tahun sebagai sahabat. Lima tahun sebagai dokter. Dan tiga di antaranya — sejak Senja meninggal — adalah tiga tahun dengan beban yang ia tahu, suatu hari, akan menjebak dirinya di pojok seperti ini.

Hari ini hari itu.

"Galih."

"Iya."

"Lo tahu siapa yang dapat donor kornea Senja."

Galih tidak menjawab.

Arya melanjutkan.

"Lo tahu sejak hari Senja meninggal. Karena lo dokter yang dipanggil saat surat donor itu diaktifkan. Lo bilang sendiri ke aku waktu itu — di kamar Senja — sebelum Senja meninggal. Lo bilang lo akan urus sendiri. Untuk Senja."

"Iya, Arya."

"Dan lo tahu Maitri."

"Aku..." Galih berhenti. Memilih kata. "Aku mengenal sebagian pasien aku dengan baik. Hubungan dokter-pasien yang panjang, terutama untuk follow-up transplantasi kornea, biasanya beberapa tahun."

"Galih, lo bisa nggak berhenti ngomong kayak buku panduan etika kedokteran dan jawab pertanyaan aku."

Galih menatap Arya.

"Aku akan jawab satu pertanyaan, Arya. Satu. Yang lo paling perlu jawabannya. Tapi setelah itu, gue mohon — lo nggak boleh tanya lebih. Karena gue beneran nggak bisa."

Arya mengangguk pelan.

"Lo bisa kasih tau aku Maitri itu yang dapat donor Senja atau nggak?"

Galih menatap mejanya.

Lalu mengangkat wajah.

Lalu — pelan, tipis, sangat tidak terlihat oleh orang lain di kafe — mengangguk.

Sekali.

Cuma sekali.

Tapi Arya melihatnya dengan jelas.


Mereka tidak ngomong selama tiga menit penuh.

Mbak Wulan datang sekali — menawarkan kue — Galih menggeleng. Pergi. Kembali sunyi.

Arya menatap permukaan kopinya. Permukaan yang masih ada uapnya. Yang baunya ia kenal — campuran kafein dengan susu yang sedikit berbusa, pesanan yang sudah dua tahun ia pesan tanpa berubah.

"Sejak kapan lo tahu?"

"Arya, lo bilang cuma satu pertanyaan."

"Sejak kapan, Galih?"

Galih menarik napas. Berat.

"Dari awal. Sejak transplantasinya."

"Dua tahun."

"Iya. Dua tahun."

"Lo nggak pernah cerita."

"Aku nggak bisa cerita."

"Lo sahabat aku."

"Aku tahu."

"Tapi lo tetep diem."

"Aku tetep diem."

Arya menatapnya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya yang sudah sepuluh tahun bersisihan dengan Galih — kuliah arsitektur, kuliah kedokteran, ngafe rutin, gokart liburan, semua hal yang manusia muda lakukan bersama untuk merasa hidup — Arya merasakan sesuatu yang lebih dingin dari marah.

Bukan benci. Galih tidak pantas dibenci.

Tapi semacam... pengkhianatan kecil yang ia tahu dirasionalisasi dengan etika kedokteran, tapi tetap saja terasa seperti pengkhianatan.

"Galih."

"Arya."

"Dia tahu nggak? Maitri? Tahu kalau matanya itu... punya Senja?"

Galih menggeleng.

"Donor itu anonymous. Penerima donor tidak dikasih identitas pendonor. Itu protokol."

"Tapi lo bisa kasih tau dia."

"Aku nggak akan kasih tau dia. Sama seperti aku nggak bisa kasih tau lo selama dua tahun."

"Kenapa nggak?"

"Karena Senja yang minta. Lo lupa?"

Arya membeku.

Karena Galih benar.

Arya ingat — sangat ingat — bagaimana Senja, di hari ia menandatangani surat donor enam bulan sebelum kecelakaan, mengatakan satu hal yang spesifik kepadanya. Aku mau penerimanya nggak tahu dari siapa. Dan kalau aku nggak ada nanti, aku mau kamu nggak tahu juga. Biar mereka hidup tanpa beban. Dan kamu hidup tanpa terus berpikir tentang mereka.

Senja yang bicara seperti itu. Enam bulan sebelum kecelakaan. Seperti ia tahu.

Tapi Senja tidak tahu, tentu saja. Tidak ada yang tahu. Senja hanya orang yang berpikir terlalu jauh ke depan, terlalu siap untuk hal-hal yang tidak ia harapkan, terlalu suka membuat surat untuk dirinya sendiri di masa depan yang ia tidak pernah sampai padanya.

"Tapi sekarang dia di sini, Galih. Di Yogyakarta. Di rumah kaca Senja. Setiap hari aku akan lihat dia. Setiap hari aku akan—"

"Aku tahu, Arya."

"Bagaimana cara aku—"

"Aku nggak tahu."

Arya menatap sahabatnya. Galih — yang biasanya punya saran, yang biasanya punya struktur logis untuk semua hal — kali ini hanya menatap balik dengan kelelahan yang sama.

"Aku juga lagi mikir, Arya."

"Mikir apa?"

Galih membuka mulut. Lalu menutup. Lalu menatap mejanya.

"Mikir gimana cara aku jadi dokter dia dan sahabat lo di waktu yang sama, sekarang kalian udah ketemu."

Arya menatap Galih lebih lama.

Dan dari nada suara Galih — bukan dari kata-katanya, tapi dari cara Galih berhenti sebelum mengucapkan kata "dokter dia", dari cara matanya menghindar sedetik terlalu lama, dari cara tangannya yang sudah berhenti mengetuk meja sejak tadi — Arya tiba-tiba sadar sesuatu yang lebih buruk dari semua hal yang sudah terjadi pagi ini.

"Galih."

"Iya."

"Lo sayang sama dia?"

Galih tidak menjawab.

Tidak menggeleng. Tidak mengangguk. Hanya mengangkat cangkirnya — yang sudah kosong — dan menempelkannya ke bibir seperti orang yang mencari sesuatu untuk dilakukan dengan tangannya.

"Galih."

"Aku jawab pertanyaan lo yang satu tadi, Arya."

"Galih, lo—"

"Aku jawab satu. Itu deal."

Arya menatapnya.

Dan dalam diam itu — dalam diam yang berat, yang Galih jaga dengan cara meletakkan cangkir kosong dengan terlalu hati-hati di atas meja — Arya tahu jawabannya.

Galih, sahabatnya sejak SMA, telah jatuh cinta kepada perempuan yang punya mata mantan tunangannya.

Selama dua tahun.

Diam-diam.

Tanpa pernah berkata apa-apa.

Arya berdiri.

"Aku pulang."

"Arya—"

"Aku nggak marah sama lo, Galih. Aku cuma butuh waktu."

"Aku akan tunggu."

"Aku tahu."

Arya berjalan keluar. Mbak Wulan mau menyapa — tidak jadi karena melihat ekspresi Arya. Pintu kafe tertutup dengan bel kecil yang berdenting dua kali.

Di dalam, Galih duduk sendiri di meja pojok dengan cangkir kosong di depannya, dan untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir, ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sudah ia tunda untuk diakui:

Bahwa ia menyayangi seorang perempuan yang tidak boleh ia katakan sayangi.

Yang punya rahasia tentang dirinya sendiri yang tidak boleh Galih beri tahu.

Yang sekarang, secara horor sekaligus mukjizat, baru saja masuk ke kehidupan sahabat terbaiknya — di rumah kaca milik tunangan sahabatnya yang sudah meninggal.

Galih mengusap wajahnya.

Lalu mengeluarkan HP dari sakunya. Membuka chat. Mengetik satu nama yang sudah dua tahun jadi pasiennya.

Maitri Aulia.

Lalu mengetik satu kalimat:

"Mbak Maitri, ada waktu hari ini? Saya mau ngobrol. Bukan soal mata. Soal yang lain."

Galih menatap layar.

Tangannya menggantung di atas tombol kirim.

Lalu — setelah satu menit yang terasa lebih lama dari dua tahun — ia menghapus kalimat itu, kata demi kata, sampai kotak chat kembali kosong.

Belum hari ini.

Galih menutup HP-nya.

Memesan satu kopi lagi.

Dan menatap pintu kafe yang sudah lama Arya tinggalkan, sambil bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang sudah dua tahun ia tunda untuk ditanyakan dengan jujur:

Apa yang akan aku lakukan, kalau Maitri pada akhirnya jatuh cinta sama Arya?