Pusat kota tidak pernah sedingin ini.

Biasanya, udara siang hari dipenuhi asap kendaraan dan panas aspal yang menguap. Namun hari ini, matahari seolah kehilangan fungsinya. Cahayanya tertutup oleh bayangan raksasa dari sebuah struktur monolitik yang tiba-tiba merobek aspal di tengah alun-alun kota. Sebuah gerbang batu hitam pekat, menjulang setinggi gedung pencakar langit, memancarkan kabut tipis yang berbau seperti logam berkarat dan tanah basah.

Dungeon. Begitu pemerintah dan media menyebutnya.

Bagi sebagian orang, gerbang itu adalah kiamat. Namun bagi ribuan orang yang kini mengantre panjang di tenda-tenda darurat pendaftaran, gerbang itu adalah tiket lotre. Sebuah jalan pintas menuju kekayaan, atau setidaknya, jalan keluar dari kemiskinan yang mencekik.

Aditama berdiri di barisan tengah, merapatkan jaket murahnya untuk menahan angin dingin yang berhembus dari arah gerbang. Matanya menatap formulir pendaftaran di tangannya yang sedikit gemetar. Formulir Relawan Eksplorasi Cincin Luar. "Persetan," gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh dengung percakapan ribuan orang di sekitarnya. "Kalau aku tidak masuk ke sana, lintah darat itu yang akan membunuhku besok."

"Gugup, ya?"

Aditama menoleh. Seorang pemuda sebaya dengannya, mungkin sekitar dua puluh awal, tersenyum lebar. Pemuda itu mengenakan pelindung dada kulit yang tampak terlalu baru dan membawa pedang panjang yang masih terbungkus sarung. Wajahnya memancarkan optimisme yang membuat perut Aditama mual.

"Wajar kalau gugup," lanjut pemuda itu tanpa menunggu jawaban, mengulurkan tangan. "Namaku Wira. Ini juga pertama kalinya buatku."

Aditama ragu sejenak sebelum membalas jabatan tangan itu. Genggaman Wira terasa hangat dan terlalu bersemangat. "Aditama."

"Santai saja, Dit. Kata orang-orang di forum, lantai pertama itu cuma pemanasan. Asal kita tetap berkelompok dan saling jaga punggung, kita pasti bisa bawa pulang batu mana yang cukup untuk makan enak sebulan!" Wira tertawa kecil, matanya berbinar menatap gerbang raksasa di depan sana.

Aditama hanya mengangguk pelan. Ia tidak punya pelindung dada. Ia hanya membawa sebilah pisau berburu yang ia beli dari toko barang bekas dan tas ransel berisi persediaan air serta p3k seadanya.

"Hei, kalian berdua!"

Sebuah suara melengking menginterupsi mereka. Seorang gadis dengan rambut dicat blonde mencolok menyela antrean, berdiri tepat di depan Aditama. Ia mengenakan jaket kulit modis, celana kargo ketat, dan sepatu bot yang lebih cocok untuk pergi ke klub malam daripada menjelajahi sarang monster. Di tangannya, ia memegang tongkat pemukul bisbol berbahan aluminium.

"Kalian belum punya party, kan?" tanyanya sambil mengunyah permen karet. Matanya yang dilapisi eyeliner tebal menatap Wira dan Aditama bergantian. "Sistem bilang minimal tiga orang untuk masuk. Aku Adhira. Kalian jadikan aku anggota, atau aku cari orang lain."

Wira langsung tersenyum ramah. "Kebetulan banget! Aku dan Aditama baru saja mau bentuk kelompok. Ayo, gabung saja. Semakin ramai semakin aman."

Aditama menelan ludah. Ia menatap Adhira dari atas ke bawah. Gadis ini sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang siap bertaruh nyawa. Ia terlihat seperti sedang mencari konten untuk media sosialnya. Namun, peringatan dari pengeras suara tenda pendaftaran memotong keraguannya.

"Perhatian. Sesi pendaftaran gelombang ketiga akan segera ditutup dalam lima menit. Pastikan kelompok Anda terdiri dari minimal tiga anggota."

"Ya sudah," putus Aditama, merasa tidak punya pilihan. "Kita bertiga."

Adhira mendengus pelan, meniup balon permen karetnya hingga pecah. "Bagus. Jangan sampai kalian jadi beban buatku di dalam sana, ya."

Proses pendaftaran berlangsung cepat—terlalu cepat untuk sesuatu yang mempertaruhkan nyawa. Tidak ada tes fisik. Tidak ada pelatihan. Hanya sebuah cap di pergelangan tangan dan dorongan dari penjaga bersenjata agar mereka segera melangkah melewati batas aman.

Begitu mereka melangkah melewati ambang gerbang batu hitam itu, dunia berubah.

Suara bising kota, klakson mobil, dan teriakan panitia pendaftaran lenyap seketika. Digantikan oleh keheningan absolut yang menekan gendang telinga. Udara di dalam sini terasa berat, lembap, dan berbau seperti lumut yang telah membusuk selama ratusan tahun.

Mereka berada di sebuah lorong gua alami yang luas. Dinding-dinding batunya memancarkan cahaya biru pendar yang redup, cukup untuk melihat jalan ke depan, tapi tidak cukup untuk menembus bayangan pekat di sudut-sudut ruangan.

"Oke... ini lebih seram dari yang kuduga," bisik Adhira. Nada arogan di suaranya memudar, digantikan oleh getaran tipis. Ia merapatkan jaketnya, menggenggam tongkat bisbolnya erat-erat dengan kedua tangan.

"Tetap bersama," kata Wira, mencabut pedangnya. Suara gesekan logam bergema di sepanjang lorong, terdengar terlalu nyaring. "Kita jalan pelan-pelan. Aditama, kau perhatikan sisi kiri. Adhira, kau di tengah. Aku di depan."

Aditama mencabut pisau berburunya. Telapak tangannya berkeringat. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Cuma jalan masuk, ambil beberapa kristal rendahan, lalu keluar. Begitu rencananya.

Langkah demi langkah mereka bergema. Trak. Trak. Trak. Lorong itu tampak tak berujung. Batu demi batu. Bayangan demi bayangan. Ketegangan mencekik leher Aditama. Setiap kali ada kerikil yang jatuh, ia hampir melompat.

Lima belas menit berlalu tanpa ada apa-apa.

"Kayaknya forum itu benar," ucap Adhira, suaranya mulai kembali normal. Ia bahkan sempat melirik layar ponselnya yang sudah kehilangan sinyal. "Lantai pertama ini cuma jalan kosong. Membosankan."

Aditama baru saja akan menghela napas lega, menyetujui ucapan gadis itu, ketika telinganya menangkap sesuatu.

Langkah kaki mereka berhenti secara naluriah.

Udara di depan mereka tiba-tiba terasa lebih dingin. Bau busuk yang menyengat—bau daging terbakar dan darah kering—menusuk hidung mereka.

Dari dalam kegelapan lorong di depan, terdengar suara.

Bukan suara geraman. Bukan suara auman. Melainkan suara langkah kaki yang basah dan cepat. Srak... srak... srak... disertai dengan suara napas yang berat, serak, dan menggelegak. Sesuatu sedang bergerak ke arah mereka. Cepat.

Bulu kuduk Aditama meremang. Ia mundur selangkah, pisau di tangannya terasa sangat kecil dan tidak berguna.

Di dalam bayangan pekat di depan sana, dua pasang mata merah menyala terbuka dalam kegelapan.