"A-apa itu?" Suara Adhira bergetar hebat. Tongkat aluminiumnya merosot sedikit karena tangannya yang gemetar.

"Mundur," desis Wira. Ia memegang pedangnya dengan kedua tangan, memposisikan diri di depan. "Semuanya, perlahan mundur. Jangan berbalik. Jangan lari."

Namun, makhluk di depan mereka tidak peduli dengan langkah mundur mereka.

Dari dalam kegelapan, sosok itu melompat keluar, membelah cahaya biru pendar. Aditama menahan napas. Itu bukan sekadar monster. Itu adalah mimpi buruk anatomis. Makhluk itu seukuran anjing besar, namun berjalan dengan dua kaki belakang yang bengkok terbalik. Kulitnya pucat tanpa bulu, dipenuhi luka bernanah. Wajahnya tidak memiliki mata—hanya ada rahang besar yang dipenuhi barisan gigi setajam silet yang meneteskan air liur kental. Mata merah yang mereka lihat sebelumnya ternyata berasal dari sepasang tentakel berduri yang tumbuh di punggungnya.

Grrrrrrrk!

Makhluk itu memekik, suara yang terdengar seperti logam digesekkan ke kaca.

Lalu, ia menerjang.

Kecepatannya tidak masuk akal. Dalam hitungan detik, makhluk itu sudah berada di depan Wira.

"Hiaaaah!" Wira berteriak, mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga ke arah kepala makhluk itu.

Itu adalah ayunan yang buruk. Terlalu lebar, terlalu lambat, dipenuhi kepanikan murni. Makhluk itu dengan mudah menunduk, menghindari tebasan Wira. Sebelum Wira sempat menarik kembali pedangnya, makhluk itu menerjang dadanya.

CRAK!

Wira menjerit. Jeritan yang begitu nyaring dan penuh rasa sakit hingga membuat gendang telinga Aditama berdenging. Makhluk itu menancapkan gigi-giginya ke bahu Wira, merobek pelindung kulit murahan itu seolah itu hanya kertas. Darah segar menyemprot, mengenai wajah Aditama yang berdiri membeku di belakangnya.

Cairan hangat dan amis itu membuat dunia Aditama sejenak berhenti berputar. Otaknya menolak memproses apa yang dilihatnya.

"WIRA!" Adhira berteriak histeris. Alih-alih memukul monster itu, gadis itu malah menjatuhkan tongkatnya dan berbalik, berlari tak tentu arah ke dalam kegelapan lorong. "Tolong! Toloooong!"

"Adhira, jangan lari—!" Aditama mencoba berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Makhluk itu merobek sepotong daging dari bahu Wira, membiarkan pemuda itu jatuh ke tanah sambil mengerang kesakitan, darah menggenang dengan cepat di bawah tubuhnya. Merasa buruannya yang satu sudah tak berdaya, makhluk itu menoleh. Ke arah Aditama.

Aditama tidak bisa bergerak. Kakinya seolah dipaku ke tanah. Insting bertahannya menyuruhnya lari, tapi otot-ototnya terkunci oleh teror yang melumpuhkan. Ia melihat makhluk itu merendahkan posturnya, bersiap untuk melompat lagi.

Gerak. Gerak, sialan! batin Aditama menjerit.

Ia memaksakan tubuhnya untuk mundur, tapi dalam kepanikannya, tumitnya menginjak batu yang tidak rata. Aditama kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang dengan keras, pisau berburunya terlepas dari genggaman dan terpental jauh ke dalam kegelapan.

Makhluk itu melompat.

Aditama mengangkat kedua tangannya secara naluriah untuk melindungi wajahnya. Ia merasakan benturan keras di dadanya, menguras seluruh udara dari paru-parunya. Napas busuk dan panas menerpa wajahnya. Air liur kental menetes mengenai matanya, membuatnya perih.

Ia bisa melihat deretan gigi tajam itu terbuka lebar, mengarah lurus ke lehernya.

Aditama mencoba meronta, memukul kepala makhluk itu dengan kepalan tangan kosongnya, namun rasanya seperti memukul batu basah. Tenaga makhluk itu terlalu besar.

Lalu, rasa sakit itu datang.

Bukan sekadar sakit, melainkan ledakan penderitaan absolut yang menghancurkan kewarasannya. Gigi-gigi makhluk itu merobek lehernya, menghancurkan tulang rawan dan memutus pembuluh darah utamanya. Suara robekan daging terdengar begitu keras di telinganya sendiri.

Aditama ingin berteriak, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara gemericik darah yang menyumbat saluran napasnya.

Panas. Itulah hal pertama yang ia rasakan. Lalu, rasa dingin yang menusuk perlahan merambat dari ujung jari tangan dan kakinya. Visinya mulai kabur, menggelap di bagian tepi. Ia bisa melihat langit-langit gua yang berpendar biru perlahan memudar. Ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara kunyahan di atasnya, dan teriakan Adhira yang semakin menjauh sebelum tiba-tiba terputus oleh suara jeritan tajam lainnya dari arah lorong yang gelap.

Aku… mati?

Hanya begini? Di hari pertama?

Rasa penyesalan, ketakutan, dan keputusasaan melebur menjadi satu kekosongan hitam.

Napas terakhirnya keluar sebagai hembusan lemah. Jantungnya berhenti berdetak. Dunia Aditama tenggelam dalam kegelapan absolut.

Terdengar suara denting jam alarm yang sangat nyaring.

Aditama tersentak. Ia menarik napas dalam-dalam, sangat rakus, seolah ia baru saja ditarik dari dasar lautan. Matanya membelalak lebar, menatap langit-langit kamar kosnya yang bernoda air dan retak-retak.

Tangan kanannya secara refleks mencengkeram lehernya sendiri. Kulitnya utuh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, membuat kaus oblong bekas yang ia kenakan menempel lekat di kulitnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah berusaha menjebol tulang rusuknya.

Ia bangkit dari tempat tidur dengan kasar, tersandung selimut tipisnya sendiri, dan berlari ke arah cermin kecil yang retak di atas wastafel.

Wajah pucatnya balas menatapnya. Matanya merah, napasnya terengah-engah. Tidak ada luka robek di leher. Tidak ada darah.

"Mimpi?" bisik Aditama, suaranya parau dan bergetar. "Hanya... mimpi buruk?"

Ia menyalakan keran air, mencuci wajahnya dengan kasar. Rasa dingin dari air ledeng sedikit membantunya kembali ke realita. Itu adalah mimpi yang terlalu nyata. Rasa sakitnya, bau busuknya, rasa amis darahnya—semuanya masih menempel kuat di memorinya.

Aditama melirik jam weker di meja nakasnya. Pukul 06:30 pagi.

Ia meraih ponselnya untuk mengecek tanggal. Matanya memicing saat melihat deretan angka di layar.

Tanggal 18.

Aditama mengerutkan kening. Bukankah kemarin sudah tanggal 18? Bukankah kemarin ia sudah bersiap-siap, mengemasi tasnya, dan...

Perutnya tiba-tiba mual. Sesuatu terasa sangat, sangat salah.

Ia membuka jendela kamarnya dan melihat ke luar. Di kejauhan, menembus kabut pagi Jakarta, struktur monolitik raksasa itu berdiri kokoh. Gerbang batu hitam pekat. Dungeon.

Ia menutup mata sejenak, mengingat-ingat.

Di dalam mimpinya, ia mendaftar. Bertemu Wira. Bertemu Adhira. Mereka masuk, dan kemudian... monster itu.

Itu hanya mimpi karena aku terlalu gugup, Aditama berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ya. Aku terlalu stres memikirkan hutang.

Ia mencoba menyingkirkan perasaan aneh yang mengganjal di dadanya. Ia kembali mengemasi barang-barangnya—pisau berburu, p3k, air minum—persis seperti yang ia ingat di dalam "mimpinya".

Ia membuka mata… di pagi yang sama. Dan ia belum menyadari betapa gilanya realitas barunya ini.