Kesadaran itu datang seperti hantaman godam.
Aditama tersentak bangun, kali ini bahkan sebelum alarm berbunyi. Keringatnya tidak lagi dingin; rasanya panas, membakar kulit seolah sisa-sisa napas monster itu masih menempel di lehernya. Ia tersengal, mencengkeram sprei kasurnya hingga buku jarinya memutih.
"Lagi..." bisiknya. Suaranya pecah. "Lagi. Lagi. Lagi!"
Ia meninju dinding kamar kosnya yang rapuh. Sakit. Rasa sakit di tangannya nyata, tapi itu tidak sebanding dengan rasa robek di leher atau sensasi tulang belakang yang patah yang ia rasakan beberapa menit—atau beberapa kehidupan—lalu.
Ia melihat jam. 06:30. Tanggal 18.
Dunia seolah mengejeknya. Matahari terbit dengan kejamnya, menyinari debu-debu yang beterbangan di kamarnya seolah tidak ada kengerian yang baru saja terjadi. Aditama bangkit, gerakannya mekanis. Ia mandi, memakai baju yang sama, dan mengemas tasnya dengan isi yang sama.
Kali ini, ia tidak ragu. Ia tiba di alun-alun lebih awal. Ia melihat Wira mendekat. Ia melihat senyum optimis itu.
"Gugup, ya?"
Aditama tidak menoleh. Ia menjawab datar, "Ya, Wira. Aku tahu. Namamu Wira, kau baru pertama kali, dan kau pikir lantai satu itu pemanasan."
Wira tertegun. Tangannya yang terulur membeku di udara. "Eh? Kok kau tahu? Kita... pernah kenal?"
"Dan sebentar lagi," Aditama melanjutkan, matanya menatap lurus ke depan, "seorang gadis berambut pirang dengan tongkat bisbol akan datang dan memaksa bergabung karena sistem butuh tiga orang."
Detik berikutnya, Adhira muncul. "Hei, kalian berdua!"
Wira menoleh ke arah Adhira, lalu kembali ke Aditama dengan wajah pucat. "Dit... kau dukun?"
"Bukan," jawab Aditama dingin. "Aku hanya orang yang tidak ingin mati lagi."
Sepanjang perjalanan menuju gerbang, Aditama menyusun rencana baru. Ia mencoba berbicara lebih banyak. Ia mencoba memperingatkan mereka tentang monster di langit-langit, tentang pola serangannya, tentang baunya.
"Dengar," ucap Aditama saat mereka sudah berada di dalam lorong biru pendar. "Ada monster di depan. Dia bisa melompat dari atas. Wira, saat aku bilang 'sekarang', kau tebas ke arah jam dua belas atas. Adhira, kau lari ke kanan, jangan ke kiri."
Adhira tertawa renyah, meski tangannya gemetar. "Kau bicara seolah-olah kau sudah pernah ke sini. Jangan sok jagoan, deh."
"Aku serius!" Aditama mencengkeram bahu Adhira, membuat gadis itu terkesiap. "Aku sudah melihatmu mati dua kali! Kau mau mati lagi?!"
Suasana menjadi sangat canggung. Wira menatap Aditama dengan tatapan kasihan, seolah Aditama baru saja kehilangan akal sehat karena tekanan dungeon. "Dit, tenang... kita semua takut, tapi jangan halusinasi."
Mereka sampai di titik itu. Menit ke-15.
"Sekarang!" teriak Aditama.
Wira ragu. Keraguan satu detik itu berakibat fatal. Monster itu meluncur turun, tapi kali ini ia tidak mengincar Adhira atau Wira. Seolah-olah dungeon itu menyadari bahwa Aditama "tahu" terlalu banyak, makhluk itu mengubah targetnya.
Ekor berduri monster itu mencambuk udara, melilit kaki Aditama dan menariknya dengan kekuatan brutal. Aditama terjatuh, wajahnya menghantam lantai batu.
"Dit!" Wira mencoba menebas, tapi monster itu terlalu lincah.
Adhira berteriak, berlari ke arah yang salah—ke kiri, tepat ke arah monster itu bersiap menerjang.
Crak!
Rahang monster itu mengatup di pinggang Adhira. Gadis itu terbelah hampir menjadi dua bagian di depan mata Aditama. Darah membanjiri lantai, hangat dan kental. Wira menjerit, mencoba menusuk mata monster itu, tapi ia hanya berhasil melukai kulitnya sebelum monster itu mencakar leher Wira hingga putus.
Aditama tergeletak di sana, kakinya hancur dililit ekor berduri. Ia menatap langit-langit gua.
"Tidak ada yang berubah," bisiknya saat monster itu merangkak ke arah wajahnya. "Apapun yang kulakukan... mereka tetap mati. Aku tetap mati."
Gigi monster itu adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum semuanya menjadi hitam.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar