Reset ke-5.
Aditama duduk di tepi tempat tidurnya. Matanya kosong. Ia tidak lagi gemetar. Ia tidak lagi muntah. Rasa takut yang tadinya meledak-ledak kini mulai mengendap menjadi lapisan es yang tipis di hatinya.
Ia mulai mengamati detail yang sebelumnya ia lewatkan.
Di alun-alun, ia tidak langsung masuk. Ia memperhatikan Mahesa—seorang pria tinggi dengan jubah hitam legam dan pedang besar yang memancarkan aura dingin—berjalan melewati kerumunan dengan sangat tenang. Mahesa tidak mendaftar di tenda relawan; dia punya jalur khusus.
Dia tahu sesuatu, batin Aditama.
Namun, fokus utamanya tetap pada monster di lorong itu. Ia butuh lebih dari sekadar peringatan. Ia butuh presisi.
"Gugup, ya?" Wira muncul lagi.
"Wira," potong Aditama. "Ambil posisi jam satu saat kita masuk nanti. Jangan tanya kenapa."
Kali ini, Aditama tidak mencoba menyelamatkan perasaan mereka. Ia memerintah. Di dalam dungeon, ia menghitung langkah. Satu, dua, tiga... sepuluh langkah. Ia memperhatikan retakan di dinding. Di langkah ke seratus dua puluh, udara akan mendingin. Di langkah ke seratus empat puluh, bau busuk muncul.
"Berhenti," perintah Aditama tepat di langkah ke seratus lima puluh.
Wira dan Adhira berhenti. Mereka mulai terbiasa dengan "keanehan" Aditama yang terasa seperti insting binatang.
"Dia ada di atas, di balik pilar batu ketiga," bisik Aditama. "Wira, jangan tebas. Tusuk. Gunakan seluruh berat badanmu."
Monster itu melompat.
Wira, yang sudah diposisikan oleh Aditama, melakukan gerakan yang tepat. Jleb! Pedangnya menembus dada makhluk itu. Monster itu memekik, darah hitamnya muncrat mengenai wajah Wira.
"Aku... aku mengenainya!" teriak Wira gembira.
"Jangan senang dulu, ada satu lagi," ucap Aditama datar.
"Apa?!" Adhira membelalak.
Benar saja, dari balik kegelapan di belakang mereka, muncul makhluk serupa. Aditama sudah memperkirakan ini. Ia menyadari bahwa setiap kali ia berhasil menghindari satu jebakan, dungeon akan melepaskan variabel baru.
Dungeon ini bukan sekadar ruangan statis. Ia bereaksi.
Aditama berlari, bukan menjauh, melainkan ke arah monster kedua. Ia tahu monster ini akan menyerang dengan ekornya terlebih dahulu. Ia merunduk tepat saat ekor berduri itu melesat di atas kepalanya. Dengan gerakan yang ia latih di otaknya selama empat loop terakhir, ia menghujamkan pisau berburunya ke titik lunak di bawah rahang monster itu.
Srak!
Pisau itu masuk cukup dalam. Monster itu meronta, melemparkan Aditama ke samping.
"Lari ke arah lorong kanan!" teriak Aditama sambil bangkit berdiri, mengabaikan rasa sakit di bahunya.
Mereka berlari. Untuk pertama kalinya, mereka bertiga masih hidup setelah melewati titik kematian pertama. Aditama bisa merasakan jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena sensasi kemenangan kecil.
Namun, kegembiraan itu sirna saat mereka sampai di ujung lorong.
Bukannya pintu keluar atau tangga ke lantai dua, mereka berdiri di depan sebuah gerbang kayu besar yang tertutup rapat. Di atas gerbang itu, terdapat ukiran wajah yang menangis.
Dan dari balik bayangan, muncul sosok yang tidak pernah dilihat Aditama sebelumnya. Seekor monster yang jauh lebih besar, tertutup duri-duri tajam dengan empat lengan yang masing-masing memegang potongan tulang manusia.
Boss Kecil: Penjaga Gerbang Ratapan.
"Itu... apa itu?" Adhira mundur, suaranya hilang.
Aditama menelan ludah. "Sesuatu yang tidak ada di ingatan sebelumnya."
Monster itu mengayunkan lengannya. Dalam satu gerakan, Wira terlempar dan tubuhnya hancur menghantam gerbang. Adhira mencoba lari, tapi duri dari tubuh monster itu melesat seperti anak panah, menembus kepalanya.
Aditama berdiri sendirian. Ia menatap monster itu dengan tatapan yang mulai berbeda.
"Jadi kau tantangan berikutnya?" gumamnya.
Ia tidak lagi lari. Ia membiarkan monster itu menghancurkan tubuhnya. Karena ia tahu, sebentar lagi, ia akan kembali ke pukul 06:30 dengan informasi baru di tangannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar