Dua jam kemudian, Aditama mendapati dirinya kembali berdiri di tengah alun-alun kota, di antrean pendaftaran yang dipenuhi ribuan wajah putus asa.

Angin dingin berhembus dari arah gerbang, membawa bau logam berkarat dan tanah basah yang sama. Bau yang membuat bulu kuduk Aditama meremang, memicu kilasan memori tentang rahang menganga dan gigi tajam.

Ia merapatkan jaketnya, menatap formulir di tangannya. Semuanya terasa deja vu. Terlalu presisi. Cara panitia pendaftaran berteriak melalui pengeras suara, suara batuk pria tua di depannya, bahkan posisi awan di langit.

"Gugup, ya?"

Darah di tubuh Aditama serasa membeku.

Ia menoleh perlahan, seolah lehernya adalah mesin yang kekurangan oli. Di sampingnya berdiri seorang pemuda dengan pelindung dada kulit baru dan senyum lebar yang memancarkan optimisme.

"Wajar kalau gugup," lanjut pemuda itu tanpa menunggu reaksi Aditama, mengulurkan tangan. "Namaku Wira. Ini juga pertama kalinya buatku."

Aditama menatap uluran tangan itu tanpa berkedip. Napasnya mulai tersengal. Otaknya bekerja keras, mencoba mencari penjelasan logis. Apakah ini prank? Apakah aku sudah gila?

"Hei, kawan? Kau baik-baik saja? Pucat sekali," Wira menarik tangannya kembali, wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran yang tulus.

"Namamu... Wira?" suara Aditama keluar nyaris seperti bisikan.

"Iya," Wira mengerutkan dahi. "Kita pernah ketemu sebelumnya?"

Sebelum Aditama bisa menjawab, sebuah suara melengking memotong dari arah belakang.

"Hei, kalian berdua!"

Seorang gadis dengan rambut blonde, jaket kulit modis, dan tongkat pemukul bisbol menyela antrean. Ia mengunyah permen karet, matanya yang dilapisi eyeliner tebal menatap mereka bergantian.

"Kalian belum punya party, kan? Sistem bilang minimal tiga orang untuk masuk. Aku Adhira. Kalian jadikan aku anggota, atau aku cari orang lain."

Aditama melangkah mundur, menabrak pria tua di belakangnya. Matanya membelalak ngeri menatap Wira dan Adhira. Ini bukan mimpi. Semuanya terjadi persis seperti yang ia ingat. Kalimat demi kalimat. Gerak tubuh demi gerak tubuh.

Waktu... mengulang kembali?

"Eh, kau kenapa, Bro?" Wira melangkah maju, mencoba menyentuh bahu Aditama.

Aditama menepis tangan itu dengan kasar. "Jangan sentuh aku!"

Wira dan Adhira tampak terkejut. Beberapa orang di antrean mulai menatap ke arah mereka.

"Santai, dong. Kalau nggak mau gabung ya bilang saja," Adhira mendengus sinis, meniup permen karetnya. "Orang aneh."

Aditama tidak mempedulikan mereka. Kepalanya berdenyut hebat. Jika ini nyata... jika ia benar-benar kembali ke pagi hari setelah kematiannya di dalam sana... maka masuk ke dalam gerbang itu berarti bunuh diri.

"Perhatian. Sesi pendaftaran gelombang ketiga akan segera ditutup dalam lima menit."

Suara pengeras suara itu menarik Aditama kembali ke realita keras hidupnya. Hutangnya jatuh tempo besok. Lintah darat itu sudah mengancam akan mematahkan kedua kakinya, lalu menjual organ tubuhnya. Keluar dari antrean ini berarti mati perlahan di dunia luar. Masuk ke dalam... berarti berhadapan dengan monster itu lagi.

Namun kali ini berbeda. Kali ini, ia tahu apa yang akan terjadi.

Aku bisa mengubahnya, pikir Aditama panik. Aku hanya perlu mengubah keputusanku. Kami tidak boleh berjalan lurus. Kami harus menghindar.

"Tunggu," Aditama bersuara, menghentikan Wira dan Adhira yang baru saja akan pergi mencari anggota lain. "Aku... aku ikut. Namaku Aditama. Kita bertiga."

Adhira memutar bola matanya. "Labil banget sih. Ya sudah. Ayo cepat, jangan sampai jadi beban."

Proses pendaftaran berlangsung sama cepatnya. Cap di pergelangan tangan. Melangkah melewati ambang gerbang. Transisi dari bising kota ke keheningan absolut yang mencekam. Cahaya biru pendar. Bau lumut busuk.

"Oke... ini lebih seram dari yang kuduga," bisik Adhira, merapatkan jaketnya. Kalimat yang sama. Persis.

"Tetap bersama," kata Wira, mencabut pedangnya. "Kita jalan pelan-pelan. Aditama, kau—"

"Tunggu," potong Aditama cepat. Suaranya terdengar lebih tajam, lebih keras dari sebelumnya. "Jangan jalan di depan. Wira, kau di tengah bersama Adhira. Aku yang memimpin."

Wira tampak bingung, tapi melihat keseriusan di wajah Aditama, ia mengangguk ragu. "O-oke. Kalau kau merasa lebih percaya diri. Tapi hati-hati."

Aditama menggenggam pisau berburunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia melangkah maju, memimpin jalan. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Matanya menyapu kegelapan, otaknya menghitung estimasi waktu.

Lima belas menit. Lima belas menit sampai monster itu muncul.

Ia mencoba berjalan lebih cepat, berharap bisa melewati titik pertemuan itu sebelum makhluk tersebut tiba, atau mungkin mengubah rute mereka jika ada persimpangan. Namun lorong itu lurus dan tak berujung.

Empat belas menit berlalu.

"Kayaknya forum itu benar," ucap Adhira di belakang, mulai bosan. "Lantai pertama ini cuma jalan kosong—"

"Diam!" bentak Aditama, berhenti mendadak.

Ia memutar tubuhnya, menatap ke arah depan. Bau busuk itu. Bau daging terbakar dan darah kering. Udara yang mendingin seketika.

Srak... srak... srak...

Suara langkah kaki basah itu kembali terdengar dari kegelapan.

"Mundur!" teriak Aditama. "Lari! Sekarang!"

Ia tidak peduli dengan Wira atau Adhira. Ia berbalik dan mendorong mereka berdua agar berlari kembali ke arah gerbang masuk. Wira terhuyung mundur, kaget dengan dorongan mendadak itu.

"Ada apa?!" teriak Wira panik.

"LARI!" jerit Aditama.

Namun terlambat.

Kejadian itu tidak peduli dengan perubahan rencananya. Waktu kedatangannya mungkin sedikit berbeda, posisinya mungkin bergeser beberapa meter, tapi takdir di lorong ini seolah sudah dikunci.

Dari bayangan di atas langit-langit—bukan dari depan seperti sebelumnya—makhluk pucat tak bermata itu melompat turun.

CRAK!

Bukan Wira yang terkena kali ini.

Makhluk itu mendarat tepat di atas punggung Adhira. Gadis itu bahkan tidak sempat menjerit saat cakar-cakar tajam merobek punggung jaket kulitnya dan menembus tulang belakangnya. Darah menyemprot layaknya hujan merah di bawah cahaya biru redup.

"ADHIRA!" Wira meraung, mencabut pedangnya dan menebas membabi buta ke arah monster itu.

Pedang Wira berhasil menancap di sisi tubuh monster itu, memicu pekikan logam yang memekakkan telinga. Namun, itu tidak cukup untuk membunuhnya. Makhluk itu mengibaskan tubuhnya, melemparkan Wira hingga menghantam dinding batu dengan suara gemeretak tulang yang mengerikan. Wira jatuh terkulai, tak bergerak.

Aditama berdiri mematung. Skenarionya berubah, namun hasil akhirnya terasa sama mengerikannya. Kepanikan kembali menelannya bulat-bulat.

Makhluk itu berdiri di atas mayat Adhira yang hancur, darah menetes dari rahangnya. Perlahan, dua mata merah di tentakel punggungnya menatap ke arah Aditama.

Aditama menatap balik, kakinya bergetar. Pisau di tangannya terasa sangat, sangat ringan.

Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tahu rasa sakit yang akan datang. Dan ia tahu... ia belum bisa melarikan diri dari takdir ini.

Makhluk itu merendahkan posturnya. Dan menerjang.

Dalam sepersekian detik sebelum kegelapan kembali menelannya, satu pikiran melintas di kepala Aditama.

Berapa kali aku harus mati di tempat terkutuk ini?