Ada satu hal yang perlu kamu tahu tentang aku sebelum cerita ini dimulai.
Aku bukan tipe orang yang sial. Sungguh. Aku orangnya terencana, terstruktur, dan cukup sadar situasi untuk tidak tersandung di ambang pintu kelas baru di hari pertama sekolah.
Tapi ternyata ambang pintunya terlalu tinggi. Dan kakiku tidak mendapat memo soal itu.
Namaku Hana Maharani. Tujuh belas tahun. Pindahan dari Bandung. Dan ini adalah cara aku memulai hari pertamaku di SMA Nusantara Jakarta — dengan satu kaki menyangkut di bibir pintu, tas berat meluncur dari bahu, tangan refleks mencengkeram kusen, dan tiga puluh pasang mata yang serentak menoleh ke arahku seperti sedang menonton pertandingan tenis tapi lebih dramatis.
Aku tidak jatuh. Itu yang penting.
Yang kurang penting: aku juga tidak terlihat elegan. Sama sekali.
Oke. Tenang. Pura-pura ini memang gaya masukmu.
Aku luruskan punggung. Senyum. Tatap ke depan seolah ini sudah direncanakan dari semalam.
Pak Gunawan, wali kelas yang berdiri di depan papan tulis, mengangkat alis. "Hana Maharani?"
"Siap, Pak."
"Silakan perkenalkan diri."
Aku melangkah ke depan kelas. Tiga puluh pasang mata mengikuti. Ini bisa. Ini oke. Perkenalan diri itu mudah — nama, asal, hobi, selesai. Aku sudah latihan di cermin semalam selama kurang lebih dua puluh menit.
Masalahnya dimulai dari pojok kanan kelas.
Ada cowok di sana. Duduk dua bangku dari depan, dekat jendela. Tinggi — bahkan duduk pun badannya kelihatan lebih besar dari rata-rata anak kelas ini. Seragam putih abu-abu yang dipakai semua orang entah kenapa terlihat berbeda di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, bukan karena tidak rapi, tapi dengan cara yang kelihatan tidak sengaja tapi ternyata sempurna. Dan ia sedang menatapku.
Bukan tatapan antusias. Bukan tatapan bosan juga. Lebih ke... memperhatikan. Seperti orang yang sedang mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya tapi belum memutuskan apakah menarik dalam artian bagus atau sekadar aneh.
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak ada dalam rencana.
Ia seperti lupa satu ketukan. Kemudian panik dan berlari mengejar ketertinggalannya.
Jangan. Jangan sekarang. Jangan di sini—
BIP-BIP-BIP-BIP-BIP.
Kelas hening total.
Suara gelang di pergelangan tangan kiriku mengisi ruangan dengan sempurna. Ritmis. Nyaring. Dan sama sekali tidak punya niat untuk berhenti dalam waktu dekat.
Aku mencengkeram pergelangan tanganku sendiri.
"Itu... suara apa?" Pak Gunawan menatap tanganku.
"Gelang monitor jantung, Pak." Suaraku keluar lebih pelan dari yang kuplanning. "Maaf. Ini tanda kalau... detak jantung saya lagi tidak normal."
"Tidak normal kenapa?"
Karena ada cowok di pojok kanan kelas yang matanya terlalu— itu terlalu susah dijelaskan ke bapak guru, Pak.
"Nervous," kataku. "Saya nervous."
Pak Gunawan mengangguk dengan ekspresi penuh pengertian. "Wajar. Silakan lanjutkan."
Aku menghela napas pelan.
Nama. Asal. Hobi. Selesai. Cepat.
"Nama saya Hana Maharani. Pindahan dari Bandung." Aku jeda sebentar. "Hobi saya..."
Otakku mendadak kosong sempurna.
"...saya suka... makan."
Hening satu detik penuh.
Kemudian tawa meledak.
---
Penyelamatku datang dalam bentuk seorang gadis berambut hitam yang langsung menyeret kursi di sebelahnya begitu aku disuruh duduk.
"Sini, Han." Risa sudah melambai bahkan sebelum aku sempat celingukan cari tempat kosong.
Risa Amelia. Sepupuku. Satu-satunya orang yang membuatku mau pindah ke Jakarta tanpa terlalu banyak drama dan negosiasi panjang dengan Mama.
"Maaf tadi," bisikku begitu duduk.
"Kenapa minta maaf?" Risa balik menatapku dengan ekspresi tenang yang membuatku iri setiap kali melihatnya. Bagaimana orang bisa setenang itu di usia tujuh belas tahun?
"Gelangnya bunyi."
"Memang itu fungsinya."
"Di depan semua orang."
"Selamat datang di Jakarta," kata Risa, lalu membuka bukunya seolah tidak ada yang terjadi.
Dari bangku seberang, terdengar suara yang sengaja dibuat cukup keras untuk kudengar: "Alarm cinta publik. Inovatif."
Aku menoleh.
Gadis di sebelah Risa punya senyum setengah nakal dan mata yang bersinar dengan kegembiraan tipe tertentu — tipe yang tidak pertanda baik untuk orang yang jadi objeknya. Ia menyodorkan tangan.
"Mutia. Sahabatnya Risa sejak SMP." Jeda pendek. "Dan sekarang saksi mata dari momen paling bersejarah dalam sejarah perkenalan di kelas ini."
"Hana."
"Aku tau. Alarm-mu udah kenalin kamu duluan."
Dari sudut kelas, seseorang tertawa — tawa sungguhan, bukan menertawai. Aku menoleh, dan untuk alasan yang tidak masuk akal, mataku langsung menemukan sumber suara itu.
Dia.
Si pemilik mata yang membuat gelangku memutuskan untuk berkhianat di momen paling krusial sepanjang hidupku.
Ia tertawa dengan ringan — satu sudut bibirnya terangkat, ada sesuatu di matanya yang kelihatan seperti... tertarik? Atau mungkin itu hanya imajinasiku yang terlalu bersemangat di hari pertama.
Aku cepat-cepat berpaling.
"Itu siapa?" bisikku ke Risa, mencoba membuat pertanyaan itu terdengar sesantai mungkin.
"Yang mana?"
"Yang di pojok sana. Yang..." aku tidak menyelesaikan kalimat itu karena tidak punya kalimat yang cukup tidak memalukan untuk diselesaikan.
Risa mengikuti arah mataku. "Oh." Nadanya datar. "Reza. Kapten basket."
Reza.
Nama itu seperti punya massa sendiri di dalam kepalaku. Berat dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.
"Dia populer?"
"Cukup."
"Orangnya gimana?"
Risa sedikit terlambat menjawab. "Baik."
Mutia, yang rupanya punya pendengaran setara kelelawar, menyelipkan kepalanya di antara kami. "Kapten basket, anggota OSIS, dan nggak pernah sadar betapa banyak yang suka sama dia. Kenapa? Tertarik?"
"Nggak. Cuma nanya."
Mutia menatapku dengan senyum yang terlalu tahu. "Gelang kamu tadi bunyi waktu kamu pertama kali lihat dia."
Aku membuka mulut.
Menutupnya lagi.
"Korelasi bukan kausalitas," kataku akhirnya, dengan nada sedogmatis yang bisa kukumpulkan.
"Tentu saja." Mutia bersandar di kursinya dengan ekspresi puas. "Tentu saja."
---
Kantin SMA Nusantara cukup besar dan cukup bising untuk membuatku merasa sedikit lebih invisible. Aku duduk di antara Risa dan Mutia, memegang nasi goreng yang kubeli dengan uang recehan dari tiga kantong berbeda, dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa hari ini tidak seburuk rasanya.
Oke. Jujur aja.
Aku jatuh cinta.
Pada orang yang baru kulihat dua jam lalu.
Yang bahkan belum pernah bicara sama aku secara langsung.
Aku tahu ini konyol. Aku tahu ini prematur. Aku tahu kalau ini diceritakan ke Mama, ia akan menyuruhku minum air putih lebih banyak dan tidur cukup.
Tapi ada sesuatu — sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh diagram venn manapun — yang terjadi waktu mata kami bertemu tadi. Sesuatu yang membuat sistem kardiovaskularku memutuskan untuk mengumumkan kegundahannya ke seluruh kelas 11-B.
Tidak apa-apa, kataku dalam hati. Kamu bisa dekati ini dengan elegan. Terkontrol. Dewasa.
Tidak perlu panik.
"Eh, Hana."
Mutia menepuk lenganku.
Aku mengangkat kepala.
Dan di sana — melintas di depan kantin dengan seragam yang sedikit tidak rapi khas habis dari lapangan, membawa botol minum dan tertawa karena sesuatu yang dikatakan temannya — adalah Reza Mahendra.
Entah karena insting atau kebetulan atau konspirasi semesta, ia menoleh ke arah meja kami.
Melihatku.
Dan melambaikan tangan.
Santai. Ringan. Seperti kita sudah kenal lama.
BIP-BIP-BIP-BIP-BIP-BIP.
Mutia sudah meraih tisu dan pura-pura mengelap meja, menyembunyikan senyumnya.
Reza berlalu.
Aku tetap duduk dengan muka yang terasa seperti kompor yang lupa dimatikan.
Dan dari balik tisu itu, Mutia berbisik dengan nada paling santai di dunia:
"Elegan banget, Han."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar