Reza tidak pernah terlambat.
Bukan karena ia perfeksionis — ia hanya tahu bahwa kalau tepat waktu, segalanya lebih mudah dikontrol. Dan Reza sangat menyukai hal-hal yang bisa dikontrol.
Perasaan, misalnya.
Ia sudah belajar mengontrol perasaannya dengan cukup baik. Terutama soal satu hal tertentu yang sudah ia simpan rapi dalam kotak di sudut paling aman di kepalanya selama setahun terakhir.
Risa Amelia.
---
Kalau Juned bertanya — dan Juned selalu bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu ia tanyakan — Reza tidak akan mengakui bahwa ia memperhatikan Risa jauh sebelum mereka sama-sama masuk OSIS. Sejak kelas sepuluh, waktu mereka kebetulan ditugaskan panitia MOS yang sama.
Risa itu tipe orang yang rapi dalam segala hal. Caranya bicara rapi. Caranya berpikir rapi. Bahkan caranya menolak pendapat orang lain pun rapi — tidak kasar, tidak menyerang, tapi jelas dan tidak bisa dibantah.
Reza tidak tahu kapan tepatnya ia mulai memperhatikan itu semua lebih dari seharusnya.
Yang ia tahu: sudah setahun lebih ia di sana. Diam. Mengamati. Menunggu momen yang tidak pernah datang — karena Risa selalu memandangnya dengan cara yang sama: teman yang bisa diandalkan. Tidak kurang, tidak lebih.
Ia sudah berdamai dengan itu.
Sudah, tegasnya dalam hati setiap kali pikiran itu muncul. Sudah berdamai.
---
Yang tidak ia antisipasi adalah hari Senin ini.
Lebih tepatnya: anak baru yang tersandung di ambang pintu kelas 11-B dengan cara yang entah kenapa tidak terlihat memalukan, melainkan... menarik perhatian.
Reza duduk di pojok dan menyaksikan seluruh pertunjukan itu dari awal.
Gadis itu — nama panjangnya diumumkan Pak Gunawan beberapa menit kemudian: Hana Maharani — tidak jatuh. Itu yang pertama ia perhatikan. Tersandung, ya. Sempoyongan, jelas. Tapi ia langsung tegak, senyum, dan menatap ke depan kelas dengan ekspresi orang yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh.
Itu kepercayaan diri, atau ia memang tidak punya sensor malu?
Reza belum bisa memutuskan mana yang lebih tepat.
Kemudian gadis itu berdiri di depan kelas untuk perkenalan. Dan gelangnya berbunyi.
Bunyi yang cukup keras untuk menghentikan semua percakapan di kelas. Bunyi yang cukup khas untuk membuat orang bertanya-tanya.
Tapi yang paling menarik perhatian Reza bukan bunyinya.
Melainkan ekspresi gadis itu sesudahnya.
Ia tidak menutup wajah. Tidak minta maaf berulang kali. Tidak pura-pura gelang itu tidak ada. Ia hanya menjelaskan dengan singkat — gelang monitor jantung, nervous — dan melanjutkan perkenalan.
Dan kemudian ia bilang hobinya makan, dan satu kelas tertawa, dan gadis itu tertawa juga. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tawa yang terdengar seperti memang begitu adanya.
Reza tidak mengerti kenapa itu membuatnya memperhatikan lebih lama dari yang seharusnya.
---
Waktu istirahat, Juned sudah duduk di sebelahnya bahkan sebelum Reza sempat buka bekal.
"Eh, si cewek baru tadi." Juned mengangguk ke arah Hana yang sedang berjalan ke kantin bersama Risa. "Dramatis amat ya masuknya."
"Tersandung," kata Reza datar.
"Ya itu maksudnya dramatis." Juned menggigit rotinya. "Tapi dia nggak keliatan malu. Aneh ya."
Reza tidak menjawab.
"Za."
"Apa."
"Lo liatin dia dari tadi."
"Enggak."
"Lo liatin dari pas dia masuk pintu."
"Itu namanya reflek. Semua orang noleh."
Juned menatapnya dengan ekspresi yang terlalu cerdas untuk ukuran orang yang biasanya tidak cerdas. "Tapi semua orang udah balik liatin ke depan dari tadi. Lo masih."
Reza menutup tempat bekalnya. "Tutup mulut, Ned."
Juned cengengesan. Tapi diam.
---
Masalahnya bukan di situ.
Masalahnya terjadi di kantin, waktu Reza melintas bersama anggota tim basket setelah sesi latihan singkat. Ia melewati meja Risa — dan di sana ada gadis itu juga, duduk di sebelah Risa, sedang ngobrol dengan seorang cewek lain yang Reza tahu adalah Mutia.
Ia berniat lewat begitu saja.
Tapi entah kenapa ia menoleh.
Dan gadis itu — Hana — menatapnya balik dengan ekspresi yang sepenuhnya normal, seperti tidak ada yang perlu diawkward-kan dari situasi ini.
Reza melambaikan tangan. Refleks. Ia tidak terlalu yakin kenapa.
Dan gelang itu berbunyi lagi.
Keras. Jelas. Tiga meter antara mereka cukup untuk membuatnya yakin ia mendengar itu dengan benar.
Teman-temannya terus berjalan. Reza ikut, tapi ia tidak langsung bisa fokus ke percakapan setelahnya.
Gelang itu bunyi waktu ia lihat aku, pikirnya. Sama seperti tadi di kelas.
Ia tidak tahu harus merasa apa soal itu.
---
Malam itu, Reza duduk di meja belajarnya. Buku Fisika terbuka di depannya tapi sudah tiga puluh menit ia belum balik satu halaman pun.
Kepalanya sibuk.
Dan yang sibuk di kepalanya bukan rumus gerak melingkar beraturan.
Ia mencoba memilah ini dengan logis — karena Reza selalu berusaha memilah segala sesuatu dengan logis.
Gadis itu baru. Jadi wajar kalau menarik perhatian karena novelty effect.
Gelangnya bunyi dua kali waktu ketemu aku. Itu bukan urusanku — itu kondisi medisnya.
Aku tidak kenal dia. Tidak ada alasan untuk memikirkannya.
Logis. Rapi. Beres.
Ia kembali ke buku Fisika.
Dua halaman kemudian, pikirannya kembali ke tawa gadis itu yang tidak dibuat-buat.
Reza menutup buku.
Menaruh kepala di tangan.
Ini apa.
Pintu kamarnya diketuk. Juned mengintip dari balik pintu — entah kenapa cowok itu sering ada di rumah ini sampai jam malam. Mama Reza sudah menyerah mempertanyakan itu sejak kelas sepuluh.
"Za, mau main game nggak? Bosen nih—"
Ia berhenti.
Karena Reza, yang biasanya duduk tegak di depan buku dengan ekspresi konsentrasi atau tidur di atas buku dengan ekspresi menyerah, sekarang duduk menatap dinding dengan ekspresi yang tidak masuk ke kategori mana pun.
Juned pelan-pelan masuk. "Lo kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Lo melamun."
"Lagi istirahat."
"Lo nggak pernah istirahat sambil melamun. Lo istirahat sambil tidur."
Reza tidak menjawab.
Juned duduk di tepi kasur. Diam sebentar — yang merupakan rekor baru untuknya. Kemudian: "Ini soal Risa lagi?"
"Bukan."
"Soal apa dong?"
Reza membalik badan ke meja belajarnya. Membuka buku lagi. "Nggak ada. Pergi main game sendiri."
Juned menatapnya dari belakang. Kemudian senyum pelan muncul di wajahnya — senyum yang tidak dilihat Reza.
"Oke, Za." Ia berdiri. "Oke."
Tapi sebelum keluar, ia berhenti di depan pintu.
"Za."
"Apa."
"Cewek baru itu... namanya Hana ya?"
Reza tidak menjawab.
"Lo tadi nyebut namanya sendiri waktu gue nanya siapa yang tersandung di pintu."
Reza tidak mengingat itu. Tapi ia juga tidak bisa menyangkal dengan cukup meyakinkan.
"Tidur sana, Ned."
Juned keluar sambil masih senyum. Reza mendengar langkahnya menjauh — tapi tidak mendengar suara tawa yang biasanya menyertai Juned saat ia merasa menang dalam suatu percakapan.
Yang justru lebih mengganggu dari kalau ia tertawa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar